SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN
PEMBANGUNAN TAMAN NASIONAL BATANG GADIS DI PROVINSI SUMATERA UTARA
Oleh : Menteri Kehutanan
Yang terhormat Gubernur Sumatera Utara dan para pejabat pemerintah provinsi Sumatera Utara,Yang terhormat Bupati Mandailing Natal dan para pejabat pemerintah kabupaten Mandailing Natal,Yang terhormat para tokoh agama dan pemuka masyarakat Kabupaten Mandailing Natal,Hadirin undangan yang berbahagia,
Assalamualaikum Wr.Wb.
Salam sejahtera,
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Illahi, karena berkat rahmat dan karuniaNya, maka pada hari ini, kita bersama-sama dapat hadir untuk mengikuti peresmian pembangunan Taman Nasional Batang Gadis di Panyabungan ini.
Hadirin yang terhormat,
Sebagaimana saudara-saudara maklum bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kenanekaragaman hayati dan tingkat endemisme (keunikan) yang sangat tinggi sehingga dimasukkan ke dalam salah satu negara mega-biodiversity. Keanekaragaman hayati termasuk di dalamnya jenis-jenis satwa dan tumbuhan serta ekosistemnya, telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Namun demikian Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan laju pengurangan luas hutan alam yang terbesar di dunia. Data menunjukkan laju pengurangan luas hutan tersebut di pulau Sumatera mencapai 2 % per tahun, di pulau Jawa mencapai 0,42 % per tahun, di pulau Kalimantan mencapai 0,94 % per tahun, di pulau Sulawesi mencapai 1 % per tahun dan di Irian Jaya mencapai 0,7 % per tahun. Pengurangan luas hutan tersebut terjadi akibat proses laju penurunan mutu hutan (degradasi) dan penggundulan hutan (deforestasi). Beberapa studi menunjukkan laju degradasi dan deforestasi hutan di Indonesia mencapai rata-rata 1-1,5 juta hektar per tahunnya.
Terjadinya degradasi dan deforestasi hutan tersebut telah memberikan implikasi yang sangat luas dan mengkhawatirkan bagi kehidupan masa depan manusia. Fungsi-fungsi lingkungan yang sangat mendasar untuk mendukung kehidupan manusia terabaikan, beranekaragam kehidupan flora dan fauna yang membentuk mata rantai kehidupan yang bermanfaat bagi manusia menjadi rusak dan hilang dan yang terjadi saat ini adalah banjir di beberapa daerah serta kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap.
Selain itu masalah kehutanan di perparah dengan terjadinya penyelundupan dan pembalakan kayu ilegal di berbagai daerah. Hal ini merupakan keprihatinan nasional dan telah menjadi perhatian Presiden. Presiden telah menyampaikan sejumlah indikasi keterlibatan aparat pemerintah dalam kasus penyelundupan kayu di berbagai daerah dan telah memberikan instruksi kepada tim operasi gabungan yang diketuai oleh Kapolri RI agar dalam dua minggu ini tim operasi terpadu sudah harus melaporkan progress berkaitan dengan target memproses pihak-pihak yang terkait dalam permasalahn tersebut
Hadirin yang terhormat,
Melihat pentingnya kelestarian hutan, pemerintah Indonesia telah mempunyai komitmen untuk melindungi 10% area daratan, dan 20 juta Ha habitat pesisir dan laut sebagai kawasan konservasi. Selain itu berkaitan dengan konservasi, telah dimiliki berbagai peraturan perundangan dan telah pula diratifikasi konvensi internasional yaitu konvensi tentang konservasi keanekaragaman hayati sebagai konsensus nasional, telah disusun suatu Biodiversity Action Plan for Indonesia pada tahun 1993. yang sekarang telah diperbaharui menjadi Indonesian Biodiversity Strategy & Action Plan pada tahun 2003.
Secara garis besar konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dilakukan melalui kegiatan-kegiatan antara lain :
Konservasi in-situ pada kawasan konservasi (in-situ conservation in terresterial parks and protected areas).
Konservasi in-situ di luar kawasan konservasi (in-situ conservation outside parks and reserve), di areal produksi, HTI dan sebagainya.
Konservasi pesisir dan laut (coastal and marine conservation)
Konservasi ex-situ di kebun botani, kebun binatang dan sebagainya.
Pembangunan Taman Nasional merupakan salah satu model dalam menjalankan kebijaksanaan pembangunan kehutanan khususnya di bidang pelestarian konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya tersebut. Didasari oleh lajunya tingkat kerusakan hutan di pulau sumatera khususnya di provinsi sumatera Utara dan sekitarnya, masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal, telah memprakarsai pembentukan taman nasional Batang Gadis untuk tetap dapat melestarikan keanekaragaman hayati yang masih dimiliki di kawasan hutan tersebut, sehingga masyarakat di sekitarnya masih dapat menikmati air sungai yang bersih, udara yang sejuk yang saat ini sudah jarang dijumpai masyarakat perkotaan, disamping melestarikan flora dan fauna khas di wilayah ini. Untuk itu kami sangat menghargai dan mendukung program pembangunan Taman Nasional Batang Gadis yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal ini.
Hadirin yang kami hormati,
Pembangunan dan pengelolaan taman nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan serta saling terkait dan menunjang dengan kepentingan pembangunan wilayah di sekitarnya (Integrated Conservation and Development Programme), sehingga diharapkan mampu menjamin upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Mengingat semakin meningkatnya kepedulian para pemangku kepentingan (stakeholder), maka kedepan untuk pengelolaan kawasan konservasi khususnya taman nasional berkembang adanya tuntutan untuk mengembangkan kolaborasi manajemen, untuk itu kami telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2004, untuk dijadikan pedoman dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Kolaboratif Pengelolaan merupakan suatu kebutuhan dalam rangka mengurangi atau menghilangkan konflik serta menampung berbagai aspirasi atau keinginan berbagai pihak untuk ikut berbagi peran, manfaat dan tanggungjawab dalam pengelolaan taman nasional. Keberhasilan pelaksanaan kolaboratif pengelolaan sangat ditentukan adanya komitmen dan kesepakatan para pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat, sehingga tidak terulang kasus perambahan kawasan Padang Lawas di Sumatra utara.
Penetapan Taman Nasional Batang Gadis bukan merupakan akhir dari perjalanan namun merupakan langkah awal yang penuh tantangan bagi para pihak yang berkepentingan untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan keutuhan ekosistem Taman Nasional Batang Gadis, agar dapat mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar taman nasional.
Akhir kata, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Pembangunan Taman Nasional Batang Gadis, kami nyatakan secara resmi dimulai.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Panyabungan, 24 Pebruari 2005
Menteri Kehutanan,
ttd.
M.S. KABAN
Disampaikan dalam rangka peresmian pembangunan Taman Nasional Batang Gadis di Kabupaten Mandailing Natal Tanggal 24 Pebruari 2005
Wednesday, July 25, 2007
Sunday, July 15, 2007
Sepuluh Hari Mencari Harimau

Sepuluh hari MENCARI HARIMAU
Seiring dengan adanya program monitoring keanekaragaman hayati khususnya spesies Harimau (Phantera tigris sumatrae) di Taman Nasional Batang Gadis, dilakukanlah kunjungan di beberapa program konservasi Harimau di Sumatera.
Oleh: Anton Ario
GGNP Biodiversity Research Coordinator
Sugesti
GIS Technical Assistant for NSC program
Kunjungan dilakukan di seluruh kegiatan beberapa lembaga yang meneliti harimau antara lain di Lampung yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society -Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (WCS-TNBBS), di Jambi: Zoological Society of London (ZSL-Asiatic Persada) dan di Riau: World Wide Fund For Nature (WWF-Tesso Nilo) yang menjadi target kunjungan.
Ombak di jalanan
Perjalanan dimulai dari Jakarta mengendarai mobil milik NSC program. Sesekali kaki kiri dengan reflek mencari pedal kopling di kendaraan tersebut, maklum belum terbiasanya kami menggunakan kendaraan yang tidak ada pedal koplingnya alias automatic transmition car. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, kendaraan dapat segera dikuasi dan dipacu dengan mulus menuju penyeberangan Merak, Banten.
Dua jam terombang lautan—Selat Jawa-- akhirnya roda kendaran mendarat mulus di tanah Sumatera. Kendaran dipacu menuju lokasi pertama yaitu program konservasi harimau WCS di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Dilanjutkan ke lokasi kedua yaitu program harimau ZSL di Asiatic Persada. Kemudian pada etape terakhir yaitu program harimau WWF di Taman Nasional Tesso Nilo.
Tidak disangka bahwa kondisi jalan lintas Sumatera saat ini mengalami kerusakan yang parah. Diputuskan untuk menempuh lintas timur. Tetapi apa lacur, jalan lintas timurpun mengalami hal serupa, rusak, bergelombang dan bolong-bolong. Akibatnya kendaraan yang kami kemudikan secara bergantian itu harus sering mengalami perhentian mendadak karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi. Tetapi dalam kondisi jalan seperti itu, kami masih diuntungkan dengan transmisi mobil yang automatic sehingga tidak menyebabkan kami kelelalahan dalam mengemudi.
Menjadi offroader
Dalam setiap kunjungan, kami sempatkan untuk turun ke lapangan. Artinya menyaksikan dan mengikuti kegiatan camera trapping yang dilakukan masing-masing program harimau.
Hampir setiap lokasi yang kami kunjugi ke lapangan, selalu melalui jalan-jalan yang dalam kondisi parah. Lumpur yang melompat-lompat hingga memasuki kabin mobil, selalu menemami kami setiap perjalanan ke lapangan. Tidak mengherankan dalam setiap kegiatan ini mereka menggunakan kendaraan-kendaraan Four-wheel drive untuk aktivitasnya. Sebut saja kendaraan double cabin Mistubhisi Strada dan Toyota Landcruiser keluaran tahun 1980 yang dipergunakan ZSL. Begitu juga di TNBBS dan Tesso Nilo, Kendaraan Taft Hi-Line menjadi tunggangan keseharian mereka dalam kelapangan.
Sunarto, koordinator program harimau WWF sengaja menunjukkan kepada kami kondisi mobil operasionalnya yang penuh lumpur tidak tercuci. “Sengaja gue nggak cuci tuh mobil ton..sampe elu dateng,”.. canda Sunarto dengan bangga.
Dilihat kondisi medannya memang sebagian besar merupakan jalan-jalan bekas HPH yang tentunya kondisinya parah seperti di Asiatic persada dan Tesson Nilo. Tetapi terdapat keunikan tersendiri mencoba track berlumpur, cocok untuk menguji ketangguhan berkendara di medan yang rusak berat. Pemandangan seperti ini seakan membawa kami menjadi offroader yang selalu bergelimang lumpur.
“Berburu” harimau
Kegiatan pertama kami lakukan di Lampung tepatnya di program WCS. Dengan panjang lebar Untung “Tiung”, koordinator program Harimau di WCS mejelaskan kepada kami tentang kegiatan penelitian harimau dengan camera trapping di TNBBS. Selain metodelogi, teknis operasional lapangan hingga pengembangan database kami dapatkan informasi tersebut. Program harimau di WCS tergolong sudah cukup lama berlangsung. Program di WCS ini, merupakan salah satu referensi untuk kegiatan serupa di Taman Nasional Batang Gadis nantinya.
Di program harimau ZSL di PT Asiatic Persada – Jambi, kami juga mendapatkan informasi dari Dolly Priatna, koordinator program Harimau ZSL. Dolly juga memberikan informasi dan masukan-masukan kepada kami tentang kegiatan harimau di Sumatera. Dia juga menjelaskan kegiatan harimau di lokasi yang merupakan perkebunan kelapa sawit dan berbatasan dengan HPH Asialog tersebut. Walaupun penelitian bukan dikawasan konservasi tetapi manajemen Asiatic Persada memiliki komitmen dalam kegiatan konservasi khususnya Harimau, Dolly menjelaskan.
Lain halnya di program harimau WWF-Tesso Nilo. Lokasi ini merupakan target lokasi terakhir kami. Sunarto menjelaskan dengan gamblang dan banyak membantu kami dalam memberikan masukan-masukan untuk kegiatan di Taman Nasional Batang Gadis. Karena kebetulan Sunarto juga pernah terlibat dalam perencanaan tersebut.
Penggunaan camera trap setiap lokasi berbeda-beda tipenya. WCS menggunakan tipe Camtrakker dalam operasionalnya, sedangkan ZSL menggunaakan tipe Photo Scout dan Camtrakker. Di WWF menggunakan jenis kamera tipe Deer Cam. Walaupun berbeda tipe, secara prinsip tidak ada perbedaan. Perbedaannya hanya pada komponen dan sedikit dalam pengoperasiannya.
Begitu juga dalam penggunaan metodelogi pada ketiga lokasi tersebut hampir sama, hanya saja dalam penetapan dan tekniknya yang mengalami pengembangan dalam teknis, datasheet maupun database-nya. Selain itu dalam pemilihan lokasi pemasangan di tiga lokasi juga ada yang berdasarkan sistem acak (random) dan ada juga yang berdasarkan dari lokasi potensial keberadaan harimau.
Tujuan dari penelitian harimau yang dilakukan pada masing-masing lokasi kunjungan tersebut, selain mengetahui estimasi populasi dan distribusi dan kelimpahan mangsa (prey), juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat melalui awareness / campaign dan pendidikan. Selain itu ada juga yang ingin mengetahui home range harimau dengan menggunakan radio collar seperti yang dilakukan di ZSL. Pemantauan melalui kegiatan anti poaching seperti yang dilakukan ZSL dan WWF tidak ketinggalan dilakukan untuk memonitor keberadaan dan ancaman terhadap satwa belang ini. Intinya dari kesemua aktivitas tesebut memiliki satu tujuan yaitu konservasi Harimau sumatra yang tingkat ancamannya tidak pernah berkurang. (Anton.doc)
HARIMAU SUMATRA (Panthera tigris sumatrae)
di Taman Nasional Batang Gadis
By:
Anton Ario
GGNP Biodiversity Research Coordinator
Taman Nasional Batang Gadis yang berada di kabupaten Mandailing Natal (Madina) propinsi Sumatera Utara, memiliki luasan lebih kurang 108.000 ha. Hasil kegiatan RAP (Rapid Assessment Program), buah kejasama antara CII, PHKA, Litbang Kehutanan dan LIPI, mengemukakan bahwa Taman Nasional Batang Gadis menyimpan potensi keanekaragamn hayati yang tergolong tinggi, termasuk Harimau sumatra (Panthera tigirs sumatrae).
Harimau Sumatera merupakan satu-satunya dari subspesies Harimau yang masih tersisa di Indonesia. Keberadaannya hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Kehilangan habitat dan mangsa (Bovidae dan Cervidae) menyebabkan satwa yang hidup di pulau sumatera ini semakin terancam keberadaannya. Saat ini diperkirakan berkisar 400-500 ekor yang masih tersisa di alam (Seidenstiker,1999). Keadaan yang mengkhawatirkan inilah yang menyebabkan Harimau sumatera berstatus critically endangered (IUCN 2004). Selain itu juga, dengan maraknya perburuan dan perdagangan menjadikan Harimau sumatera tergolong Appendix I (CITES) artinya satwa yang dilarang keras untuk diperdagangkan dengan alasan apapun.
Harimau merupakan satwa yang menempati posisi puncak dalam rantai makanan di hutan tropis. Peranannya sebagai top predator, menjadikan harimau menjadi salah satu satwa yang berperan penting dalam keseimbangan ekosistem. Kepunahan akan terjadi pada Harimau sumatera apabila ancaman terhadap kehidupan satwa ini terus berlangsung, seperti halnya yang terjadi pada Harimau bali (Pantera tigris balica) dan Harimau jawa (Pantera tigris sondaica) yang mengalami kepunahan sejak tahun 1940-an dan 1980-an.
Keberadaan harimau di Taman Nasional Batang Gadis, diketahui berdasarkan pemasangan perangkap kamera (Camera trap) di beberapa lokasi. Kegiatan ini telah dilakukan seiring penetapan kawasan tersebut menjadi Taman Nasional. Berdasarkan temuan keberadaan harimau tersebut, dilakukanlah program konservasi harimau untuk lebih memaksimalkan program konservasi di Taman Nasional Batang Gadis. Melalui program konservasi Harimau tersebut, sekiranya dapat menjadi salah satu program yang akan mendapatkan keluaran penting dalam konservasi spesies dan habitat dalam pengelolaan taman nasional Batang Gadis. Selain itu kegiatan pendidikan dan awareness, diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat di sekitar kawasan taman nasional terhadap Harimau.
Hingga saat ini telah dioperasikan tujuh camera trap (kemungkinan besar bertambah menjadi 20 kamera) yang tersebar di beberapa lokasi penempatan kamera yang selama ini dilakukan oleh NSC team. Selama pengoperasian Camera trap di dapat 2 individu harimau. Selain itu satwa lain yang juga terekam diantaranya burung Kuau (Argusianus argus), Tapir (Tapirus indicus), Kambing hutan (Naemorhedus sumatrae), Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing hutan ( Felis bengalensis), Kucing emas ( Catopuma temminckii), dan lain-lain (Anton).
http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=250&page=g_tropika.index
Kucing Emas (Golden Cat) Yang Hampir Terhapus Ditemui di TNBG

A camera installed by researchers once captured an extremely rare golden cat (Catopuma temminekii) in the forest. "It's a very rare and almost extinct cat species globally," said, Mandailing Natal forestry office Budi Ismoyo.
KUCING EMAS (Catopuma temminckii)
Tim peneliti Conservation International (CI) Indonesia berhasil mendokumentasikan keberadaan kucing emas lewat kamera perangkap. Kucing langka ini ditemukan di Taman Nasional Batang Gadis, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Binatang ini lebih mirip puma ketimbang spesies kucing yang hidup di hutan Asia. Golden cat punya perbedaan mendasar dibandingkan lima jenis kucing penghuni Taman Nasional Kerinci Seblat yang kulitnya polos. Selain berwarna kuning keemasan, kulit kucing emas ada pula yang berwarna cokelat tua atupun abu-abu. Warna yang paling langka ialah melanistic alias hitam tulen. Kucing emas yang satu ini kerap disangka macan kumbang oleh masyarakat Sumatera. Jejak kaki kucing domistik. Tentunya tanpa cakar seperti pada jari kaki anjing. Satwa yang panjang tubuhnya bisa mencapai 1,3 meter ini memiliki berat sekitar 15 kilogram. Ia biasa hidup di dataran rendah.
Animal Info - Asiatic Golden Cat
(Other Names: Asiatische Goldkatze, Chat de Temminck, Chat Doré d'Asie, Gato Dorado Asiatico, Golden Cat, Harimau Anjing, Hso Hpai, Huang Hu, Jin Mao, Kuching Mas, Kucing Emas, Kucing Tulap, Kya Min, Kyaung Min, Miao Thon, Shonali Biral, Sua Fai, Sua Meo, Sua Pa, Temminck's Cat, Zhi Ma Bao)
Catopuma temminckii (Felis t.)
Status: Vulnerable
--------------------------------------------------------------------------------
Contents
1. Profile (Picture)
2. Tidbits
3. Status and Trends (IUCN Status, Countries Where Currently Found, Taxonomy, Population Estimates, Distribution, Threats)
4. Data on Biology and Ecology (Size and Weight, Habitat, Age to Maturity, Gestation Period, Birth Season, Birth Rate, Maximum Age, Diet, Behavior (Activity, Movement, Denning, Hunting and Feeding), Social Organization, Range)
5. References
--------------------------------------------------------------------------------
Profile
Pictures: Asiatic Golden Cat #1 (24 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Asiatic Golden Cat #2 (21 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Asiatic Golden Cat #3 (31 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Asiatic Golden Cat #4 (48 Kb JPEG) (Cat Surv. Trust)
The Asiatic golden cat is about twice the size of a large house cat. Its head and body are up to 1 m (3.3') long and it weighs about 14 kg (30 lb). Its coat color is variable - it can be golden brown to dark brown, pale cinnamon, bright red, or gray. The fur is usually uniform in color, but it can also be marked with spots and stripes. The fur is moderately long, dense, and rather harsh to the touch. The Asiatic golden cat has short, rounded ears, and in all color phases its head is distinctly marked with white lines bordered with black running across each cheek and from the inner corner of each eye up to the crown.
The Asiatic golden cat usually inhabits tropical and subtropical evergreen lowland and dry deciduous forest. It has been recorded up to 3,050 m (10,000') in the Himalayas. The Asiatic golden cat does not adapt well to areas settled by humans. It has a wide ranging diet, composed mainly of small mammals (e.g. rats and mice), but also including birds, reptiles and larger mammals such as deer. In some areas the Asiatic golden cat is thought to be nocturnal, while in other areas it appears to be active during the day and at night. Young golden cats are raised in hollow trees, in rock hollows, and in holes in the ground. The Asiatic golden cat is primarily a terrestrial hunter, but it can climb trees when it needs to. Males and females often hunt in pairs, and the male is thought to play an active role in rearing the young.
The Asiatic golden cat is found from Tibet (China), Nepal, and Sikkim (India) through southern China, Myanmar, Thailand, and peninsular Malaysia and Sumatra (Indonesia). Areas of good habitat still exist in Bhutan, parts of northeastern India, and China. It is thought to be uncommon. The Asiatic golden cat is threatened primarily by habitat loss due to deforestation and loss of its prey due to illegal hunting. It is also hunted for its pelt, and its bones are used as a substitute for tiger bone in traditional Asian medicines.
--------------------------------------------------------------------------------
Tidbits
*** Cat Tidbit #2: It has been a mystery for years why domestic cats, along with big cats like lions, tigers, leopards and jaguars, don’t like sweet-tasting foods. This is unusual in mammals. Scientists have discovered why cats prefer eating meat and fish instead - they can’t taste sugary foods due to a defect in a key gene for tasting. Molecular analysis shows that big cats also have the faulty gene. (Cat News 2004) (See Cat Tidbit #3.)
*** In Thailand, the forest people believe that the Asiatic golden cat is extremely fierce, and that it's the master of all other cats. The Karen, a local tribe, believe that carrying a single hair of the Asiatic golden cat on your person will keep tigers away. (Sunquist & Sunquist 2002)
*** In China, the Asiatic golden cat is thought to be a kind of leopard and is known as the rock cat or yellow leopard. Different color phases have different names; those with dark fur are called inky leopards, and those with spotted coats are called sesame leopards. (Sunquist & Sunquist 2002)
--------------------------------------------------------------------------------
Status and Trends
IUCN Status:
[The IUCN (International Union for the Conservation of Nature; also called the World Conservation Union) is the world’s largest conservation organization. Its members include countries, government agencies, and non-governmental organizations. The IUCN determines the worldwide status of threatened animals and publishes the status in its Red List.]
1986 - 1994: Indeterminate
1996: Lower Risk/near threatened
2002 - 2005: Vulnerable; (Criteria: C2a(i)) (Population Trend: Decreasing) (IUCN 2005)
Countries Where the Asiatic Golden Cat Is Currently Found:
2005: Occurs in Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia (Sumatra), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, and Vietnam. (IUCN 2005).
Taxonomy:
Recent genetic analyses have lead to the proposal that all modern cats can be placed into eight lineages which originated between 6.2 - 10.8 million years ago. The Asiatic golden cat is placed in the "bay cat lineage," which diverged from its ancestors as a separate lineage 10.8 million years ago. The bay cat lineage also includes the bay cat and the marbled cat. (Johnson et al. 2006)
Population Estimates:
[Note: Figures given are for wild populations only.]
WORLD
The Asiatic golden cat’s total effective population size is estimated at below 10,000 mature breeding individuals (IUCN 2005).
Distribution:
The Asiatic golden cat is found from Tibet (China), Nepal, and Sikkim (India) through southern China, Myanmar, Thailand, and peninsular Malaysia and Sumatra (Indonesia). Areas of good habitat still exist in Bhutan, parts of northeastern India, and China. It is thought to be uncommon. (Sunquist & Sunquist 2002, IUCN 2005)
Distribution Map (2 Kb GIF) (Big Cats Online)
Threats:
The Asiatic golden cat is threatened primarily by habitat loss due to deforestation and loss of its prey due to illegal hunting. It is also hunted for its pelt, and its bones are used as a substitute for tiger bone in traditional Asian medicines (Grassman et al. 2005, IUCN 2005).
--------------------------------------------------------------------------------
Data on Biology and Ecology
Size and Weight:
Head and body length: 66 - 105 cm (26 - 41") (n = 15+); Weight: 12 - 16 kg (26 - 35 lb) (n = ?) except for 2 adult females that weighed 7.9 and 8.5 kg (17.4 and 18.7 lb) (Sunquist & Sunquist 2002, Grassman 2003).
Habitat:
The Asiatic golden cat inhabits tropical and subtropical evergreen lowland and dry deciduous forest. Less frequently it is found in more open habitats such as shrub and grasslands and sometimes in more open rocky areas. It has been recorded from lowlands up to 3,050 m (10,000') (Sikkim, India, in the Himalayas). Two radio-collared Asiatic golden cats in Thailand used habitat (95% - closed forest, and 5% - open forest-grassland) in proportion to occurrence, rather than favoring one type of habitat over the other, and locations were uniformly distributed. The Asiatic golden cat does not adapt well to or prefer areas settled by humans. (Humphrey & Bain 1990, Nowell & Jackson 1996, Holden 2001, Sunquist & Sunquist 2002, Grassman et al. 2005, IUCN 2005)
The Asiatic golden cat is found in both the Himalaya, Indo-Burma, Mountains of Southwest China, and Sundaland Biodiversity Hotspots (Cons. Intl. 2005) and the Kayah-Karan/Tenasserim Moist Forests and Peninsular Malaysian Lowland and Montane Forests Global 200 Ecoregions (Olson & Dinerstein 1998, Olson & Dinerstein 1999).
Age to Maturity:
The Asiatic golden cat attains sexual maturity by 18 - 24 months (Sunquist & Sunquist 2002).
Gestation Period:
Thought to be 78 - 80 days (Sunquist & Sunquist 2002).
Birth Season:
Litters are born throughout the year in captivity (Sunquist & Sunquist 2002). In the wild, a male and female pair was photographed with a small cub in late August in Sumatra, Indonesia (Holden 2001).
Birth Rate:
1 - 3 kittens are born (average = 1.11) (captivity) (Nowell & Jackson 1996). If a litter is lost, the mother may produce another litter within 4 months (Humphrey & Bain 1990).
Maximum Age:
Up to 20 years (n = 12) (captivity) (Nowell & Jackson 1996).
Diet:
The Asiatic golden cat has a wide ranging diet mainly composed of small mammals (e.g. rats, mice, voles, ground squirrels), but also probably including amphibians, insects, birds (e.g. pheasants), reptiles (e.g. grass snake) and small ungulates (e.g. muntjacs and chevrotains). It will kill domestic poultry as well as sheep, goats, and buffalo calves. (Humphrey & Bain 1990, Nowell & Jackson 1996, Sunquist & Sunquist 2002, Grassman et al. 2005, IUCN 2005)
Behavior:
Activity - Published information on the activity patterns of the Asiatic golden cat displays varying results. A number of authors state that the Asiatic golden cat is primarily nocturnal (Nowell & Jackson 1996, Sunquist & Sunquist 2002, IUCN 2005). However, a study using photo-trapping in Sumatra, Indonesia (Holden 2001) indicated that the Asiatic golden cat was cathemeral. Forty-seven percent of the photographs showed the golden cats moving during daylight hours, with no particular bias towards crepuscular activity, and 53% of the photographs showed them active during the night. Finally, in a study in Thailand that followed 2 radio-collared Asiatic golden cats (1 female and 1 male) for 12 - 16 months (Grassman et al. 2005), daily activity levels indicated that the cats exhibited arrhythmic activity dominated by crepuscular and diurnal patterns, with activity peaks occurring between 0801 - 1000 h and 1601 - 1800 h (average activity = 69 %). The greatest numbers of inactive periods were scattered throughout late night (0001 - 0200 h and 0401 - 0600 h, average activity = 40 %) time periods. Overall the two cats were active during 56% of activity readings.
Movement - A male and a female golden cat, which were radio-tracked in Thailand, traveled an average of 1,600 m/day (56 - 9,300 m/day) (5200 ft/day (180 - 30,500 ft/day)). The average daily movement of the male was 2,300 m/day (640 - 9,300 m/day) (7500 ft/day (2100 - 30,500 ft/day)), while for the female the average daily movement was 1,100 m/day (56 - 3000 m/day) (3600 ft/day (180 - 9800 ft/day)). (Grassman 2003)
Denning - The Asiatic golden cat raises its young in hollow trees, in rock hollows, and in holes in the ground (Humphrey & Bain 1990).
Hunting and Feeding - The Asiatic golden cat is primarily a terrestrial hunter, but it can climb trees when it needs to. In captivity, Asiatic golden cats kill small prey with a bite on the back of the neck, as is typical of small cat species generally. They also pluck birds larger than pigeons before beginning to feed. (Sunquist & Sunquist 2002)
Social Organization:
The Asiatic golden cat often hunts in pairs, and the male is said to play an active role in rearing the young (Nowak 1999).
In the study in Thailand mentioned above, where one male and one female Asiatic golden cat were radio-collared and radio-tracked. It was found that there was a significant overlap in the home ranges of the male and the female. Fifty-three percent of the range of the male encompassed 78% of the range of the female. (Grassman et al. 2005)
Range:
In the study of radio-tracked Asiatic golden cats mention above, the resulting estimates of home range sizes were: F - 33 sq km (13 sq mi) and M - 48 sq km (19 sq mi). Their movements were not clustered around small core areas and space use within the home ranges was relatively uniform. (Grassman 2003, Grassman et al. 2005)
--------------------------------------------------------------------------------
References
Big Cats Online, Cat News 2004, Cat Surv. Trust, Cons. Intl. 2005, Grassman 2003, Grassman et al. 2005, Holden 2001, Humphrey & Bain 1990, IUCN 2005, IUCN Cat Spec. Gr., Johnson et al. 2006, Nowell & Jackson 1996, Olson & Dinerstein 1998, Olson & Dinerstein 1999, Sunquist & Sunquist 2002
http://www.animalinfo.org/species/carnivor/catotemm.htm
A Trip Down Memory Lane in Papan, Perak
Members of the Perak Heritage Society visiting Rumah Besar Raja Bilah in Papan
Anggota Persatuan Warisan Perak mengunjungi Rumah Besar Raja Bilah di Papan
A trip down memory lane
By CHAN LI LEEN
Photos by SAIFUL BAHRI and CHAN LI LEEN
Saturday September 13, 2003
THE hosts of Papan, one of the oldest towns in the Kinta Valley, were revisited during the Papan Open Day organised by the Perak Heritage Society recently.
Hundreds of visitors travelled from near and far to this almost forgotten pioneer town to relive the times of the early Chinese and Mandailing settlers and to retrace events of the Japanese Occupation during World War II.
The open day was also organised to introduce the God of the Earth, the second book by former resident Ho Thean Fook, 83.
Since early morning, the main road of the town, which is located off the Lumut Highway, 16km from Ipoh, was packed with history buffs who had also come to visit Papan and the sites mentioned in Ho's book.
Visitors for Papan looking at articles and old pictures of the town at Sybil Kathigasu's old house.
Ho's book is a fictional and partly biographical novel set in Papan during the rise of the affluent tin and rubber industries in Perak at the beginning of the 20th century.
It was launched on Aug 22 by lawyer Pamela Ong during a dinner talk organised by the Perak Academy at the Syuen Hotel in Ipoh.
Former principal of SMK St Michael's Institution Ipoh Brother Vincent Corkery said: It's a wonder how much a story can do to bring a town back to life. Papan is no longer neglected or forgotten because of the beautiful stories Ho has brought to life in his book.
Kicking off the memorable open day in Papan on Aug 24 was a lion dance by a troupe from nearby Batu Gajah.
This was followed by a talk about the novel by retired teacher Ong Su-Ming and state librarian Mohd Taib Mohamed at the Hakka Tsen Lung Fui Kuon Association, where hordes of people clamoured around Ho to get their books autographed.
A foreign visitor, J. Vanderbilt-Sloane, was so impressed by the town's historical essence and ambience that he donated 62 copies of Ho's book to the teachers and students of Papan, hoping that they would learn their history and roots.
French tourist Jennifer Gay, 36, who was first introduced to Papan two years ago, said the open day was a good way of getting people to be aware of the town and hopefully to preserve it.
A former teacher, Ho taught at the Khai Meng Chinese School in 1940 and, a year later, at the Kinta School of Commerce when war broke out.
He was 21 when he was roped in to fight the Japanese by the Malayan People's Anti-Japanese Army agents who used nationalism and patriotism as their selling points.
During one of the meetings, he was asked to approach Sybil Kathigasu, a brave Eurasian woman reputedly known to be anti-Japanese, for medical aid for the resistance fighters.
She was caught and tortured by the Japanese and died from the injuries she sustained at the hands of her captors.
"She was a divine lady and until today, I have not met any other woman like her,"Ho recounted.
"People have commented that I am a brave man because of the experiences I have gone through but, given a chance, I would prefer to lead a quiet and uneventful life. I still get nightmares from the past," said Ho.
His exploits with the resistance fighters were recorded in his first book, Tainted Glory, published in 2001.
For those who turned up at Papan, an open day would not be complete without a heritage walk of the town.
Society members Chye Kooi Loong, Law Siak Hong, Chong Fong Loon and Cheah Chee Ming, guided visitors on the Ho Thean Fook Trail mapped out by Law, Chong and Ho.
Visitors were also taken to the backroom of Kathigasu's house where she risked her life to provide medical aid for the resistance fighters.
Kathigasu would let the injured fighters in through the back door of the house when Ho knocked three times.
"There are also two secret compartments in the house, one under the staircase and another in the backroom, where Kathigasu hid her transistor radios that were codenamed Josephine 1 and 2," said Chong.
The entourage also stopped by at Rumah Besar Raja Bilah, a century-old Mandailing double-storey mansion made of bricks and cengal timber with eight-sided columns to symbolise that the building was erected with the support of people from the eight directions of the compass.
The house was mostly used for ceremonies such as weddings, feasts and other receptions, rather than as a residence for the late local chieftain, Raja Bilah.
A few metres away, some young children tried to peep into the old 1888 Papan Mosque, believed to be the last remaining large-scale 19th century mosque of traditional Mandailing architecture found in the country and Sumatra, Indonesia.
Among those taking the trail was a group of 37 pupils from SMJK Ave Maria Convent in Ipoh.
Papan has not been mentioned in our history textbooks and I felt it would be beneficial for my pupils to expose themselves to the town, not just by reading but by experiencing the place first hand,?said teacher Tai Mei Kim.
By noon, many had retired from the walk while the more adventurous ones went on to view the former mansions of the rich in the town like Yap See, Hew Ng, Chang Sin Sang, Loke Wan Toh and Cheah Kooi Chun, who had lent a hand in giving Papan its illustrious background.
http://allmalaysia.info/news/story.asp?file=/2003/9/13/state/6253503&sec=mi_perak
Sisa Kerajaan Buddha di Tapanuli Selatan

Sisa Kerajaan Budha di Tapanuli Selatan
Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Tak tanggung, dari sekitar 728.799 ribu penduduknya, sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat, mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji.
Kebanyakan masyarakatnya, selalu menggunakan pakaian yang juga mencerminkan nilai-nilai Islam. Lelaki mengenakan peci, atau sekedar lebai saat duduk di warung-warung kopi, bahkan hingga ke Padang Sidempuan, ibukota Tapsel. Sementara kaum ibu mengenakan kebaya atau kain terusan berikut mengenakan selendang. Padahal, arus modrenisasi juga mendera salah satu dari 25 kabupaten dan kota di Sumut ini.
Di setiap sudut, gampang dijumpai bangunan musholla atau mesjid dengan air untuk wuduk yang berasal dari air pancuran gunung. Maklum saja, sebagian besar dari 11.677 kilometer persegi luas wilayah Tapsel merupakan dataran tinggi.
Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha! Tidak main-main, ada 16 candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak.
Candi Bahal I
Jangan membayangkan candi-candi itu seperti candi Prambanan atau Borobudur yang masih dipergunakan hingga sekarang. Candi-candi di Situs Padang Lawas masa kini hanya sebagai monumen sejarah dan sudah tidak dipergunakan lagi sebagai sarana beribadat. Misalnya Candi Bahal I.
Candi Bahal I yang berada di Desa Bahal, Kec. Padang Bolak, sekitar 450 kilometer barat daya Medan, ibukota Sumut, merupakan candi terbesar yang telah dipugar. Dikitari ilalang, Candi Bahal I terlihat bagai tugu batas desa. Beberapa pohon rimbun serta sebuah pos jaga di depannya sedikit menutupi papan nama candi di dekat gapura. Bangunan purbakala dari bata merah itu semakin memerah disengat matahari.
Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung.
Candi itu memang sepi pengunjung. Bisa dimaklumi sebab angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak - Desa Bahal, dengan jarak tempuh sekitar 12 jam.
"Candi ini hanya ramai saat Lebaran atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, biasanya dikutip Rp 2 ribu per orang. Kalau hari biasa, paling anak-anak muda sekitar kampung, pacaran. Pengunjung dalam sebulan paling banyak 20 orang saja. Kalau turis asing sudah lama tidak ada,” tutur Nashiruddin (28), seorang penduduk setempat.
Kendati merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar 50 meter di bawahnya.
Menghadap Tenggara
Berbeda dengan posisi menghadap barat pada candi-candi di Jawa Timur atau menghadap timur pada candi-candi di Jawa Tengah, Bahal I justru dibangun menghadap Tenggara dengan sudut 135 derajat. Tidak diketahui alasannya.
Selain kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi, di dalam masih ada pagar sepanjang 59 meter berupa susunan bata, mulai dari empat hingga 22 lapis. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat perwara-nya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar.
Perwara pertama luasnya 4,9 x 4,9 m dengan tinggi 1,5 m, berada enam meter sebelah timur laut bangunan induk. Perwara kedua merupakan perwara terluas, berada enam meter sebelah tenggara atau berhadapan dengan candi induk. Ukurannya 9,5 x 9,5 m dengan tinggi dua meter. Perwara ketiga terletak 2,20 m sebelah barat daya perwara kedua. Ukurannya 4,65 x 4,65 m dengan tinggi dua meter. Sedangkan perwara keempat ada di barat daya perwara ketiga, tinggi 1,5 meter dengan ukuran paling kecil, yakni 4 x 4 meter.
Sementara bangunan induk candi itu sendiri berdenah bujur sangkar. Di pintu masuk terdapat delapan anak selebar 2,25 meter. Sepasang arca singa terlihat mengapit tangga. Pada bagian tengah bangunan utama terdapat ruang kosong seluas 2,5 m x 2,5 m yang fungsi awalnya diperkirakan sebagai tempat pemujaan.
Kilasan Sejarah
Arkeolog asal Jerman F.M Schnitger yang berkunjung tahun 1935 menyimpulkan, candi itu peninggalan Kerajaan Pannai. Sumber sejarahnya berasal dari prasasti berbahasa Tamil berangka tahun 1025 dan 1030 Saka yang dibuat Raja Rajendra Cola I, di India Selatan. Rajendra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan beberapa kerajaan lainnya temasuk Kerajaan Pannai. Keberadaan Kerajaan Pannai tercatat dalam Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca tahun 1365 Saka.
Dari temuan sejumlah artefak, analisa konstruksi bangunan beserta materialnya yang dominan bata merah dengan ukuran beragam, batuan tuff (batuan sungai) untuk arca dan batuan kapur, memunculkan dugaan kuat bahwa candi ini berkaitan dengan agama Budha beraliran Wajrayana.
“Diperkirakan pembangunan Candi Bahal I beserta candi-candi di sekitarnya, sejaman dengan pembangunan Candi Muara Takus di Riau sekitar abad ke XII Masehi. Bahkan mungkin sama juga dengan sebuah Komplek Candi Mahligai dan Candi Putri Sangkar Bulan di Kab. Pariaman, Sumatera Barat yang sampai sekarang masih belum direnovasi,” kata Kepala Bidang Muskala, Kanwil Depdikbud Sumut, Syaiful A Tanjung.
Alasannya, kata Tanjung, karena proses pemugaran Candi Bahal masih mengikutsertakan arkeolog saja, sedangkan ahli sejarah tidak. Sehingga belum bisa disimpulkan kapan waktu berdirinya. Proses pemugaran masih berlangsung sampai sekarang.
Penulis yang sempat berkunjung ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, memang melihat ada kemiripan dari segi konstruksi maupun penggunaan batu bata sebagai bahan utama bangunan. Bata juga menjadi bahan bangunan dominan 61 candi di Komplek Situs Kepurbakalaan Muarajambi di Jambi.
Sebenarnya di Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) masih berdiri satu candi bata, yakni Candi Indrapuri. Candi Hindu ini berada di Indrapuri, sekitar 25 kilometer arah timur Banda Aceh, ibukota NAD. Setelah berubah jadi Masjid Jami’ Indrapuri, terjadi beberapa perubahan bentuk.
Tembok tebal pemagar masjid merupakan bagian asli candi yang masih tersisa. Candi Indrapuri awalnya merupakan sebuah candi khusus untuk peribadatan kaum wanita. Kerajaan Lamori membangun Candi Indrapuri sekitar abad XII bersama Candi Indrapatra dan Indrapurwa. Namun dua candi terakhir sudah tidak terlihat lagi.
Relief tak Utuh
Satu hal yang agak memprihatinkan mengenai Candi Bahal I adalah pemugarannya, karena tidak begitu berhasil menunjukkan bagaimana ujud candi itu sebelumnya. Misalnya renovasi terhadap relief Yaksa dalam posisi sedang menari, di sebelah kiri pipi tangga candi. Bagian kepalanya sudah hilang.
Batu bata baru terlihat dipasang rata seperti membangun rumah! Tak ada ukiran baru mengikuti garis kepala Yaksa yang telah hilang! Untungnya 3 relief Yaksa di pipi kanan tangga masih asli. Kendati ada sedikit perbedaan pada tatahannya, namun dapatlah menjadi bahan perbandingan.
Sebenarnya relief terdapat pada setiap sisi candi. Ada enam relief singa pada dinding-dinding candi. Namun kini hanya beberapa bagian saja yang masih terlihat. Selebihnya berupa susunan batu bata baru. Ketika diresmikan Gubernur Raja Inal Siregar pada 26 Desember 1991, pemugaran itu tidak berhasil meniru aslinya.
Pemugaran terlihat lebih baik pada bagian dalam atas (atap) candi. Bentuknya lapik tiga lapis berupa susunan 21 batu bata. Berdenah bujur sangkar pada beberapa puluh centimeter pertama dan mengkerucut di bagian dalam. Sedangkan dari luar, atap berbentuk lingkaran. Renovasi keempat perwara tampak lebih baik, mungkin karena tak ada relief yang harus direkonstruksi.
http://khairulid.multiply.com/journal/item/23
Saturday, July 14, 2007
Natal Duka Buat Orang Mandailing Kristian Pakatan
.jpg)
Mandailing Kristian di Pakantan
Korban Gempa
Natal Dibayangi Harap-harap Cemas
Kompas Minggu, 24 Desember 2006
Natal tinggal dua hari lagi. Namun, tak ada persiapan khusus yang dilakukan umat Kristen di Pakantan, Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
"Tak ada jamuan Natal tahun ini. Masuk gereja saja kami takut keruntuhan bangunan jika gempa terjadi," kata Tiroma boru Tupang (74), warga Dusun Huta Padang, Desa Pakantan.
Bangku-bangku gereja berjajar dalam tenda terpal biru di depan Gereja Kristen Protestan Angkola, Pakantan. Sudah sepekan terakhir puluhan warga tidur dalam tenda itu.
Gempa berkekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Muara Sipongi, Mandailing Natal, Senin lalu, membuat warga trauma. Hingga kini, lebih dari 6.000 warga Muara Sipongi mengungsi. Sementara 2.000 warga lainnya menumpang di rumah sanak famili.
Pada malam hari tak terhitung warga yang tinggal di tenda-tenda. Lebih dari 700 rumah rusak dan tak layak ditempati lagi. Meskipun frekuensinya menurun, gempa susulan masih terjadi, termasuk di Pakantan.
Pakantan terletak 12 kilometer dari pusat gempa. Baru hari Kamis lalu akses masuk ke Pakantan terbuka setelah jalan terkubur longsoran tebing. Bagi masyarakat Mandailing Natal, Pakantan dikenal karena tradisi Kristen-nya yang sudah tua, sejak tahun 1834.
Hal itu bermula dari kedatangan seorang misionaris Belanda bernama Verhuven di daerah itu untuk mendirikan gereja. Verhuven datang dari Padang setelah berlangsung Perang Paderi tahun 1822.
Menurut sejarawan Mandailing, Pangaduan Lubis, misionaris Belanda itu kemudian bekerja di Angkola, daerah Padang Sidempuan, lalu ke Sipirok dan Tarutung. Di tengah masyarakat Mandailing Natal yang sebagian beragama Islam, terselip sedikit pemeluk Kristen di Pakantan. Kehidupan gereja di Pakantan berlangsung baik dengan komunitas yang mencakup 15 keluarga.
"Tahun 1940-an, jumlah jemaat mencapai 300-an orang. Tapi kini tinggal sedikit karena banyak yang pergi," kata Saut Nauli Nasution (43), warga Pakantan. Kerukunan dengan warga Muslim sangat guyub sebab mereka masih satu garis keturunan. "Kalau ada tetangga yang hajatan, semua membantu ramai-ramai," kata Saut.
Kebanyakan penduduk hidup sebagai petani. Jika mereka membutuhkan uang, barulah beras simpanan dijual. Makan bersama adalah sesuatu yang lumrah. Jika satu orang punya beras, yang lain punya lauk, mereka makan bersama-sama. Namun, Natal kali ini makan bersama belum direncanakan. Semua masih waswas adanya gempa susulan.
Meskipun rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu tak berubah saat diguncang gempa, warga masih takut masuk rumah, apalagi masuk gereja yang merupakan bangunan permanen. Kecemasan terutama menghantui para ibu dan anak- anak. Jika gempa datang saat acara kebaktian, kekhidmatan bisa buyar.
"Belum ada orang yang tengok kami," kata Tiroma. Menurut warga, baru Kepala Desa Pakantan yang memberi satu dus mi instan. Dalam sekejap, makanan itu habis meski sekitar 60 warga belum kebagian.
Tahun ini mereka merayakan Natal di bawah ancaman bahaya. (WSI/MHD)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/24/Natal/3196496.htm
Gordang Sambilan Populer Hingga Eropah dan Amerika Syarikat

Gordang Sambilan Populer
Hingga Eropa Dan AS
WASPADA Online
20 Des 06 09:43 WIB
GORDANG SAMBILAN salah satu pesona wisata di Kab. Mandailing Natal (Madina), salah satu warisan budaya bangsa Indonesia. Bahkan diakui pakar etnomusikologi sebagai satu ensambel musik teristimewa di dunia.
Sebagai alat musik adat dan sakral, Gordang Sambilan terdiri dari sembilan gendang. Ukuran besar dan panjang ke sembilan gondang itu bertingkat, mulai paling besar sampai paling kecil.
Tabung resonator Gordang Sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi, dan salah satu ujung lobangnya ditutup dengan membran terbuat dari kulit lembu dan ditegangkan dengan rotan sebagai alat pengikat.
Untuk membunyikan alat kesenian itu digunakan pemu-kul terbuat dari kayu. Masing-masing gondang mempunyai nama sendiri. dan tidak sama di semua tempat di seluruh Madina, karena masyarakat Mandailing yang hidup dengan tradisi adat punya kebebasan untuk berbeda.
Instrumen musik tradisional ini dilengkapi dua buah ogung, satu doal dan tiga salem-pong atau mong-mongan. Juga dilengkapi alat tiup terbuat dari bambu dinamakan sarune atau saleot dan sepasang simbal kecil yang dinamakan tali sasayat.
Belakangan ini, Gordang Sambilan sudah ditempatkan sebagai alat musik kesenian yang merupakan salah satu warisan budaya tradisional Mandailing, serta sudah mulai populer di Indonesia bahkan di Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Karena dalam beberapa lawatan kesenian tradisional Indonesia ke sejumlah negara, diperkenalkan Gordang Sambilan. Sedangkan orang Man-dailing yang banyak bermukim di Malaysia sudah mulai pula menggunakan Gordang Sam-bilan untuk berbagai upacara.
Dengan ditempatkannya Gordang Sambilan sebagai instrumen musik kesenian tradisional Mandailing, maka alat musik ini sudah digunakan untuk berbagai keperluan di luar konteks upacara adat Mandailing. Misalnya menyambut kedatangan tamu agung, pe-rayaan nasional dan acara pem-bukaan berbagai upacara besar serta haru raya Idul Fitri.
Bagi orang Mandailing, Gordang Sambilan merupakan adat sakral, bahkan dipandang berkekuatan gaib yang dapat mendatangkan roh nenek mo-yang untuk memberi pertolo-ngan melalui medium atau se-macam shaman yang dinama-kan Sibaso
Pada zaman animisme, Gordang Sambilan digunakan untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diper-lukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan Paturuan Sibaso (memanggil roh untuk menyurupi medium Sibaso).
Tujuannya meminta perto-longan roh nenek moyang, me-ngatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat, seperti penyakit menular. Juga digunakan untuk upacara meminta hujan atau menghentikan hujan yang turun terlalu lama dan menimbulkan kerusakan.
Selain itu dipergunakan pula untuk upacara perkawinan yang dinamakan Horja Godang Markaroan Boru dan untuk upacara kematian yang di-namakan Horja Mambulungi
Penggunaan Gordang Sambilan untuk kedua upacara tersebut, karena untuk kepentingan pri-badi harus terlebih dahulu men-dapat izin dari pemimpin tradisional dinamakan Namora Natoras dan Raja sebagai kepala pemerintahan.
Oleh karena itu pada masa lalu, di setiap kerajaan di Man-dailing harus ada satu ensambel Gordang Sambilan yang ditem-patkan di Sopo Godang (balai sidang adat dan pemerintahan kerajaan), atau disatu bangunan khusus terletak di dekat Bagas Godang (istana raja).
Permohonan izin itu dilaku-kan melalaui suatu musyawarah adat yang disebut Markobar Adat yang dihadiri tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja berserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara. Selain harus mendapat izin dari Namora Natoras dan Raja, untuk penggunaan Gordang Sambilan dalam kedua upacara harus disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa.
Jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka Gordang Sambilan tidak boleh diguna-kan untuk upacara kematian (Orja Mambulungi) hanya dua buah yang terbesar dari in-strumen Gordang Sambilan yang digunakan, yang dinama-kan Jangat. Tapi dalam konteks penyelenggaraan upacara ke-matian dinamakan Bombat.
Penggunaan Gordang Sam-bilan dalam upacara adat diser-tai peragaan benda-benda ke-besaran adat, seperti bendera adat yang dinamakan tonggol, payung kebesaran dinamakan Payung Raranagan dan berbagai jenis senjata seperti pedang dan tombak yang dinamakan Podang dan Tombak Sijabut.
Gordang Sambilan juga dapat digunakan mengiringi tari yang dinamakan Sarama Penyatarama (orang yang melakukan tari sarama), kadang-kadang mengalami kesurupan pada waktu menari karena di-masuki oleh roh nenek moyang.
* Munir Lubis
http://www.waspada.co.id/cetak/index.php?article_id=81258
Semangat Mandailing Sekental Gordang Sembilan

Gordang Sambilan diperdengarkan pada sambutan perayaan Merdeka 2005
SEMANGAT MANDAILING SEKENTAL GORDANG SEMBILAN
IRAMA (Gordang Sembilan, salah sau kesenian masyarakt Mandailing dari Tapanuli Selatan, sumatera, yang memenuhi setiap ruang auditoriam Memorial Tunku Abdul Rahman Putra al-Haj, menyimpan pelbagai rahsia tersirat suku kaum ini.
Paluan sembilan gendang panjang, sebuah sesayak, gong (dua), canang (1) dan cak lempong (3) oleh guru pelatih Institut Bahasa Melayu Malaysia (IBMM) perempuan dan lelaki di bawah pemimpinan Mohd. Sharifudin Yusof, yang begitu bersemangat, seolah-olah mewakili kekentalan hubungan sesama orang Mandailing.
Tidak sia-sia, IBMM, menjadikan Gordang Sembilan sebagai salah satu program angkat-nya kerana nyata persembahan guru pelatih IBMM itu memikat tetamu.
Daya tarikan tersendiri, Godang Sembilan ini sehingga berjaya memikat seorng kanak-kanak berusia sekitar dua tahun untuk sama tenggelam dalam irama yang penuh bertenaga manakala khalayak dewasa pula tidak kedekut dengan tepukan.
Persembahan pembuka majlis Pengkisahan Sejarah Masyarakat Mandailing di Malaysia, Sabtu lalu, membuka peluang kepada kalangan generasi muda suku kaum berkenaan untuk mengenali khazanah warisan budaya mereka.
Lalu tidak pelik apabila Kerajaan negeri Selangor Darul ehsan memilih Gordang Sembilan sebagai sebahagian daripada kesenian rasminya kerana ia turut membawa lambang perpaduan yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Mandailing. Salah seorang ahli panel majlis Pengkisahan sejarah Masyarakat Mandailing di Malaysia, Ashari Mohd Yakub, berkata hubungan sesama orang Mandailing begitu rapat biar di mana mereka berada.
"Orang Mandailing amat mementingkan hubungan sesama mereka dan tidak seperti orang Melayu yang akan bersifat seperti enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing," katanya.
Masyarakat Mandailing dikatan bertumpu ke Tanah Melayu kerana mereka adalah suku kaum yang suka merantau sama ada untuk mencari ilmu atau rezeki dan lazimnya mereka berpindah secara berkelompok berserta dengan pemimpinnya sekali.
Ramai juga orang Mandailing yang berpindah ke Tanah Melayu selepas tamat Perang Paderi (1816-1833M) kerana enggan berada di bawah telunjuk Belanda yang mahukan mereka mengusahakan ladang kopi.
"Mereka enggan menjual hasil tuaian kopi pada harga yang ditetapkan Belanda kerana dianggap merugikan dan kemelut itu memaksa sebahagian daripada masyarakat mandailing berpindah ke Klang," katanya.
Masyarakat Mandailing meskipun berasal daripada keluarga tani tetapi apabila berpindah ke Tanah Melayu turut muncul sebagai peniaga berjaya selain meneroka perlombongan bijih dan emas.
Ashari berkata, maklumat lisan yang beliau perolehi turut menunjukkan bahawa orang mandailing lebih dahulu menguasai bidang perlombongan bijih dan emas dan bukannya Yap Ah Loy.
"Yap ah Loy dikatakan merompak bijih milik orang Mandailing yang menjalankan kegiatan perlombongan di Perak ketika mereka membawa turun hasil dagangan ke Kuala Lumpur untuk dijual," katanya.
Seorang lagi ahli panel, Ahmad Mahidin Ulong Shaban, berkata Raja Alang dan Raja Asal adalah di antara pemimpin masyarakat Mandailing yang menguasai perlombongan bijih dan emas.
Taukeh bijih dan emas itu dikatakan mengambil Yap ah Loy bekerja dengan mereka bai memudahkan bekalan buruh pada harga yang murah diperolehi dari Tiongkok.
Ahmad Mahidin juga mendakwa masyarakat mandailing di awal perpindahan mereka di Tanah melayu, tidak berani mendedahkan jati diri suku kaumnya bagi menjamin peluang pendidikan di sekolah yang sama rata kepada anak masing-masing.
"Jika kami mengaku sebagai marga Mandailing, kami akan dilayan sebagai warga kelas kedua oleh penduduk tempatan dan tidak berpeluang untuk menghantar ana ke sekolah," ujarnya.
Seorang lagi ahli panel, Tengku salaturrahim Tengku alias dari Kampung kerangai, negeri Sembilan, pula berkata hubungan suku kaum mandailing yang begitu erat menyebabkan 'orang luar' tidak berani meminang anak-anak mereka.
Keadaan itu dikatakan berlaku diperingkat awal masyarakat mandailing bermukim di kampung terbabit dan mereka sendiri pula tidak akan meminang orng luar untu diterima sebagai ahli keluarga mereka.
"Bagaimanapun fenomena itu sudah berubah sekaran dan penduduk mandailing di Kampung Kerangai lebih kerap menerima menantu dari kalangan orang luar dan juga sebaliknya." Ujarnya.
Sungguhpun demikian, masyarakat Mandailing di kampung Kerangai sehingga hari ini masih mempertahan bahawa suku-kaum mereka dan menerima pendedahan bahasanya sejak dri tangisan pertma lagi.
Kanak-kanak mandailing di kampung terbabit hanya mula berkomunikasi secara meluas dalam bahasa melayu baku apabila mereka memulakan alam persekolahan dan peringkat awal akan dibantu oleh adik-beradik yang lebih dewasa.
Sementara itu, Ketua Pengarah Arkib negara, Datuk Habibah Zon, yang juba berasal dari marga Mandailing berkata sejarah suku kaum penting sebagai sumber pengetahuan, kefahaman dan mengingatkan asal usul sesuatu marga itu.
"Arkib Negara bersedia menerima mana-mana persatuan yang mahu menyumbang rekod mempunyai nilai sejarah tanpa mengira mereka dari suku kaum mana sekalipun," katanya ketika merasmikan pengkisahan berkenaan.
Majlis Pengkisahan Sejarah Masyarakat Mandailing di Malaysia anjuran arkib Negara dengan kerjasama Ikatan kebajikan Mandailing Malaysia (Iman Malaysia) itu bertujuan merekodkan maklumat tidak bertulis mengenai marga berkenaan.
Habibah yakin bahawa sejarah suku kaum boleh membantu sesuatu marga itu untuk membina kekuatan diri dan rasa bangga kepada apa yang mereka warisi sekalipun ketika berada dalam era siber.
"Rekod ini membolehkan berlangsungnya kesinambungan budaya dan bersifat kekal selain dapat membantu orang Melayu membina kekuatan jati diri sebagaimana yang dimanfaatkan bangsa lain.
Usaha memelihara warisan budaya bangsa perlu diperhebat memandangkan semakin ramai generasi muda yang tidak lagi mengenalinya, apalagi ketika budaya dari Barat begitu hebat melanda.
"Arkib negara kini sudah mempunyak koleksi Raja Bilah, salah seorang pemimpin masyarakat Mandailing yang berhijrah ke Tanah Melayu dan ia dipamerkan di pejabat kami, cawangan Papan," katanya.
Berita Harian 23 Mei, 2000
Kopi Mandheling

Mandheling
1945. Sebagai acara perpisahan, beberapa Tentara Jepang (TJ) mampir di kedai kopi pak Regar (PR).
TJ: Umai! (Enak) Kore doko kara? Dari, mana?
PR: (menyangka pak tentara menyebut Omae = kamu)
PR: Sahaja? Dari Mandailing, Tuan...
TJ: E? Nani? Mandeeringgu?
PR: Ya tuan. Mandailing tuan.
TJ: Ah, sou... (sambil manggut-manggut).
Sepuluh tahun kemudian, telepon luar negeri untuk Pwani, seorang makelar beken di tanah Sumatra, berdering di meja operator. Terjadilah transaksi mengapalkan 15 ton Kopi Arabika bermutu tinggi dari Sumatra ke Jepang, sebagai tonggak keberhasilan ekspor besar-besaran pertama, dengan label yang menginternasional sejak saat itu: Mandheling (yang sebenarnya bukan nama tempat, melainkan semata-mata plesetan nama kelompok etnik yang kebetulan paling terlibat dalam produksi kopi, Mandailing, yang saya masih penasaran apa hubungannya dengan Mandarin dan alat musik Mandolin).
Di Indonesia malah paling juga tahunya kopi Medan...
BTW: Ini hanya gosip dari Sumatra. Pada kenyataannya, jauh sebelum perang dunia II, dalam katalog grosir kodian Sears tahun 1903 tercatat "Java Mandailing" for sale. Saat itu, sudah umum untuk memanggil semua kopi Indonesia dengan Java-ini dan-anu (bukan berarti berasal dari Jawa).
... Terkenang sekaleng Mandheling,
mendukungku bergadang di lab saat-saat genting...
Sebagai makhluk yang
tak mampu membedakan Nescafe dengan Kapal Api,
ibarat menghadiahi mutiara kepada seekor sapi
(^-^; Belum paham apa enaknya...
Pahit gila! Tapi manjur lah...
There is a story, it might be myth or it might be true, about the origin of Mandheling coffee. It explains why if you are ever in Sumatra looking for these coffee fields on a map, you may never find them, because Mandheling is an ethnic group, not a town.
The story goes that during the Japanese occupation a soldier asked a shop owner what the excellent coffee was that he was being served. Misunderstanding the question and thinking he was being asked what HE was, the owner's reply was "Mandheling". After the war the soldier contacted a broker in Sumatra asking if the excellent coffee "Mandheling" was commercially available, and they shipped 15 tons of coffee to Japan that year. The rest, as they say, is history.
Of course Sumatra did not start producing coffee just because of this encounter. Coffee production began there in the 18th century under colonial domination in the northern region of Aceh before spreading to Lake Toba, Lintong, Nihuta, Sumbul and Takengon. The Mandheling are the Indonesian ethic group that is most involved in coffee production.
Over time Mandheling has gained a reputation for its consistent quality and its very specific cup qualities which include a desirable deep husky flavour.
Friday, July 13, 2007
Mandailing Natal Nikmati Sejuknya Atap Ijuk
Rumah Atap Ijok di Tamiang, Mandailing Julu
9 Juli 2007 Mandailing Natal, Sumut; Nikmati Sejuknya Atap Ijuk
Usia Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara memang baru seumur jagung. Namun sang ”bayi” punya cita-cita besar: menggali potensi ekowisata dari daerah seluas 662.070 hektare dan berpenduduk sekitar 370.000 jiwa ini. Ini sengaja dipilih karena pemkab Madina tak ingin memakai konsep pariwisata massal untuk mengelola obyek wisata daerah ini.
Bila kita melihat statistik mengenai lahan di wilayah Kabupaten Madina, sebagian besar memang masih berupa hutan. Rinciannya, hutan negara seluas 317.825 hektare (48 persen) yang hingga kini masih merupakan bagian terluas dari total lahan di daerah itu. Sisanya, yakni berupa hutan rakyat seluas 42.176 hektare atau hanya sekitar enam persen dari luas seluruh lahan, perkebunan sekitar 67.707 hektare, rawa-rawa 59.976 hektare, dan selebihnya merupakan areal persawahan, perladangan, tambak, permukiman, dan lain-lain.
Pengembangan ekowisata di daerah ini akan memanfaatkan zona penyangga dari Taman Nasional Batanggadis. Upaya ini diharapkan akan membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal/sekitar kawasan. Namun, proses paling penting adalah menghargai usaha mereka mempertahankan kearifan lokal.
Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung beratapkan ijuk.
Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak Gunung Sorik Marapi (2.142 mdpl).
Dengan ijuk semuanya akan terlihat alami dan sekaligus mendukung cita-cita ekowisata. Untuk itu, pemkab Madina juga akan mengembangkan penanaman pohon enau. Tentu saja akibat dikeluarkan aturan itu harga ijuk akan melonjak. Hunian ijuk nan sejuk itu dapat dikembangkan sebagai pendukung cita-cita ekowisata Madina. Pemandangan deretan rumah penduduk amat sedap dipandang dari puncak bukit. Ini akan memancing minat para wisatawan.
Bila pengelola daerah jeli, masyarakat dapat membuka homestay di rumah-rumah mereka. Tak perlu dilengkapi fasilitas mewah yang bergaya metropolis, macam pendingin ruangan, lemari es atau lainnya. Namun, kunci utama homestay ini justru pada prinsip sanitasi dan keasrian yang dijunjung tinggi.
Bila sanitasi dan keasrian sudah dikantungi, jangan lupakan pula persoalan tarif. Sebagai promosi, hitung-hitungan hunian jangan terburu-buru untuk mematok harga tinggi. Itu sebabnya riset ekonomi wajib dilakukan pihak pemerintah kabupaten. Langkah berikut, tinggal membina masyarakat agar terbiasa menerima kunjungan turis – terutama, turis berselera ekowisata.
Di wilayah Sibanggor, kita dapat menemukan sumber-sumber air panas alami. Air panas yang kaya dengan kandungan belerang itu sangat bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Penyakit kulit macam panu, kadas dan kurap kabarnya bisa diobati di sini.
Saat ini, tempat yang paling nyaman untuk menikmati air panas alami itu terletak di daerah Sibanggor Julu. Lokasinya ada di pinggir jalan. Di belakang sumber air panas menghampar pemandangan ”karpet hijau”. Dari sawah sampai rimba dan puncak Gunung Sorik Marapi. Bila cuaca mendukung, kita dapat memuaskan diri untuk memainkan kamera atau alat perekam gambar.
Di sini sudah terbangun beberapa fasilitas, seperti kolam pemandian, sarana mandi uap, WC umum, dan tempat ibadah. Sayang bangunan-bangunan ini tak mendapat perawatan khusus hingga kondisinya amat memprihatinkan, kecuali untuk tempat ibadah.
Saat ini kamar mandi uap dikelola oleh masyarakat sekitar. Tak ada retribusi khusus, tetapi cukup bayar sukarela kepada warga yang bertugas menjaga fasilitas ini.
Menurut Ilham Tanjung (43), fasilitas yang ada di tempat ini dibangun atas swadaya masyarakat dengan bantuan pemkab. Karena banyak yang berkunjung, masyarakat kedodoran untuk memelihara fasilitas yang ada.
Masalah sampah juga menjadi perhatian khusus. Di sekitar tempat berpotensi wisata ini tak tersedia tempat sampah. Jadi jangan kaget bila sisa buangan kegiatan manusia ini berceceran di tiap sudut. Paling kentara, ceceran plastik. Memang, sampah jenis ini butuh waktu yang lama untuk hancur. Mau tak mau supaya cita-cita ekowisata dapat terwujud, semua pihak harus turun tangan menangani masalah ini. Ekowisata boleh jadi cita-cita. Untuk mewujudkannya pekerjaan rumah telah menanti untuk diberesi. Bila serius cita-cita pun bisa tergapai dan paling penting punya nilai keberlanjutan tinggi. Selamat bekerja Madina. (rn)
http://www.perempuan.com/?ar_id=9078
Jelajahi Rimba Batang Gadis

Jelajahi Rimba Batanggadis
SH/bayu dwi mardana
Penentuan titik menarik di rimba Batanggadis.
BATANGGADIS – Rimba alami Batanggadis selalu menarik gairah petualangan siapa saja. Dengan bentang alam cukup lengkap—hutan hujan dataran rendah perbukitan, hutan pegunungan rendah dan hutan pegunungan tinggi—Batanggadis menyimpan keanekaragaman hayati cukup tinggi. Jadi penjelajahan pun dimulai dari sini.
”Stop! Stop, Bang!” seru Diah Rahayuningsih (26) memecah keheningan. Lengkingan suaranya jelas mengejutkan seisi mobil. Edi, supir perjalanan kami, segera memarkir mobil di tepi jalan. Seperti tak mau kehilangan waktu, Diah segera menyeruak keluar.
”Pelan-pelan, ya…. Coba itu lihat di pucuk dahan pohon buah,” bisik dara yang akrab disapa Sulis itu. Di sebelahnya, Ahmad Zulkani segera membidikkan kamera digital. Sedikit disimak lewat layar LCD, wartawan Kompas itu pun segera mengabadikan gambar. Tak lama ia tersenyum puas.
Ahmad pantas berbangga sebab posisi sepasang Rangkong di pucuk dahan tergolong langka. Apalagi sepasang burung rangkong (hornbill) yang sedang bercumbu itu cuma bertengger beberapa menit saja. Agaknya kedatangan membuat mereka merasa ”risih”. Maklum, karena jarang melihat kejadian ini kami sedikit ribut saat keluar dari dalam mobil.
”Di kawasan ini tercatat sembilan dari sepuluh jenis burung rangkong yang ada di Sumatera,” sebut Erwin Parbatakusuma dari Conservation International (CI) Indonesia yang ikut menemani penjelajahan ini. Ia cuma senyum-senyum saja melihat tingkah kami tadi. Rangkong memang menarik sebab ia punya paruh besar yang mirip tanduk. Di hutan alami kawasan Sumatera, burung-burung ini relatif mudah dijumpai – termasuk di kawasan Batanggadis.
Bakal Taman Nasional
Batanggadis adalah kawasan rimba alami yang berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Kabupaten ini berpusat pemerintahan di kota Panyabungan.
Rencananya, awal tahun ini Batanggadis ditunjuk sebagai taman nasional. ”Targetnya, Februari. Kami cukup optimis kok,” tegas Ismayadi Samsoedin, Northern Sumatra Corridor Project Manager CI Indonesia sebelum kami memulai penjelajahan.
Perjalanan menuju rimba Batanggadis amat mengasyikkan. Perbedaan kontur ketinggian dengan jalan aspal berliku mengingatkan kita pada kawasan wisata Puncak, Cianjur, Jawa Barat. Hanya saja bedanya, perjalanan ke Batanggadis terasa kental dengan nuansa petualangan. Apalagi bila menembusnya dengan kendaraan gardan ganda, macam Land Rover. Wuih, gairahnya terasa sampai ubun-ubun.
Betapa tidak, di kiri-kanan jalan masih dominasi tutupan vegetasi hijau. Walau ada yang terlihat bolong-bolong oleh konversi lahan dan illegal logging, rimba Batanggadis termasuk kawasan alami yang masih tetap terjaga.
Saat menjelajahi rimba Batanggadis, Sulis bercerita soal kepedulian masyarakat untuk memproteksi kawasan yang masih tersisa itu. Jadi tak perlu heran bila usulan kawasan Batanggadis sebagai taman nasional justru datang dari masyarakat. Menariknya, pemerintah kabupaten merespons dengan bagus.
”Itu cerita yang bagus sebetulnya. Di Indonesia, usulan sebuah kawasan sebagai taman nasional kebanyakan datang dari (pemerintah) pusat. Jadi nggak usah heran kalau sering terjadi konflik dengan masyarakat sekitar kawasan,” papar Sulis yang bekerja sebagai Communication Specialist CI Indonesia.
Sorik Marapi
Petualangan lainnya adalah mendaki gunung Sorik Marapi (2.145 mdpl). Gunung ini masih termasuk rangkaian Bukit Barisan. Menurut catatan, gunung ini terakhir meletus pada 1982. Dalam perjalanan ke Batanggadis, kami sempat singgah ke kawasan Sorik Marapi.
Kalau ingin melakukan pendakian, disarankan melapor pada petugas Badan Meteorologi dan Geofisika yang berkantor di Sibanggor Tonga. Selain untuk keamanan kita, para petugas akan memberikan petunjuk jalur dan lainnya. Jalur paling enak lewat Sibanggor Julu. Kawah akan tergapai dalam tempo tiga jam perjalanan.
Walau tak begitu tinggi, pendakian ke puncak Sorik Marapi akan memberikan pengalaman menarik bagi wisatawan. Terlebih pemandangan hutan di kaki gunung masih terpelihara dengan baik dan kaya dengan beragam jenis satwa liar.
Kekayaan satwa liar rimba Sorik Marapi pernah didata oleh Mistar (Fakultas Biologi Universitas Medan Area) dan Sri Eva Meyli (Yayasan Kanopi, Medan) pada awal 2003. Lewat sebuah survei di desa Sibanggor Julu, Kecamatan, Aek Nopan – terletak pada 0o42’ 29. LU, 99o 34’ 03. BT dan tinggi 920-1500 mdpl – mereka menemukan sejumlah reptilia dan amfibi. Jumlahnya ada 8 famili, 13 marga, 15 spesies, dari dua bangsa (ordo) yaitu amfibia dan reptilia.
Pada bangsa amfibi diperoleh lima jenis dari tiga famili: Bufonidae (Bufo asper, Pelophryne sp.), Ranidae; (Fejervaria limnocharis, Rana erythraea, Rana nicobariensis), Rhacophoridae (Polypedates leucomystax). Sedang reptilia lima famili: Agamidae (Bronchocella chrystatella, Aphaniotis fusca), Gekkonidae (Cyrtodactylus lateralis), kadal Scincidae (Mabuya multifasciata), Ular Colubridae (Ahaetulla prasina, Pareas laevis, Ular sp1), Elapidae (Maticora bivirgata), Viperidae (Trimeresurus popeorum).
Survei itu juga menemukan satwa liar lain, seperti simpai (Presbytis melalophos), ungko (Hylobates agilis), siamang (Hylobates syndactylus), bajing kebun (Callosciurus notatus), Babi alang-alang (Sus scrofa) dan kijang (Muntiacus muntjac).
Kabarnya, penduduk masih menjumpai harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan orangutan (Pongo abelii). Yang terakhir ini konon sudah 30 tahun tak pernah dijumpai lagi. Survei terakhir (Wich, Utami & Singleton, 2000) tak menjumpai tanda-tanda kehadiran orangutan di sekitar Sungai Batanggadis.
Djojoasmoro (2003) melaporkan bahwa orangutan masih dijumpai di Cagar Alam Dolok Sibualbuali dalam kondisi yang kritis karena mengalami tekanan habitat dari penebangan dan perburuan liar.
Burung-burung juga banyak dijumpai di antaranya beberapa jenis elang melintas terutama di sekitar puncak belerang (Ictinaetus malayensis, Spizaetus kienerii), satu jenis rangkong juga sering terlihat melintas. (Lihat Boks: Burung-burung di Gunung Sorik Marapi)
Kini, kawasan gunung Sorik Marapi sebelah timur bagian utara atau sebelah barat desa Sibanggor Julu mengalami tekanan untuk penanaman jeruk. Di daerah tersebut telah dibuka lebih dari 25 hektar. Ini dilakukan atas inisiatif dan kesepakatan antarpemuka adat desa. Pasalnya, kebun jeruk di sekitar permukiman desa Sibanggor Julu telah rusak dan lahan telah mencapai kritis hara.
Menurut Nasution, warga Sibanggor Julu, jeruk memang tak lagi jadi primadona. Beberapa tahun belakang, kualitas hasil panen dirasakan terus menurun. Ia sendiri mengaku menelantarkan kebun jeruk di bekalang rumahnya. ”Ya, saya hidup dari uang pensiun saja,” tukas veteran perang kemerdekaan RI ini, tersenyum.
(SH/bayu dwi mardana/ darma lubis)
http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0107/hob1.html
Sunday, July 8, 2007
Asal Usul Nagari Cubadak
ASAL USUL NAGARI CUBADAK
Oleh : Welina
Selasa, 13 Februari 07 - oleh : admin | x dibaca
NAGARI Cubadak Kecamatan Duo Koto adalah satu dari 32 Nagari di Kabupaten Pasaman. Nagari ini mempunyai luas wilayah 23.207 KM yang berbatasan dengan Nagari Simpang Tonang sebelah Utara, sebelah Selatan dengan Kecamatan Talamau Kab. Pasaman Barat, sebelah Timur dengan Kecamatan Panti dan Kecamatan Lubuk Sikaping, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Tuleh.
Nagari ini memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak dimiliki oleh nagari lain. Penduduknya mayoritas Mandahiling. Bahasa yang digunakan Bahasa Mandahiling pula dengan logat terkenalnya kanen. Sementara dalam adatnya mereka memakai adat Minang Kabau. Dalam sistem perkawinan memakai adat sumando.
Hal ini sejarahnya diawali dari Pemerintahan pertama Raja Sontang beserta kaumnya di koto tinggi terletak 1,5 Km dari Ulu Sontang sekarang.
Raja pertama bernama Raja Gunung Maleha di Koto Tinggi selanjutnya Raja Sipahutar, kemudian Raja Labiah dan barulah sejak itu bernama Raja Sontang.
Raja-raja ini beserta kaumnya berbahasa Mandahiling dan adat istiadatnya Manjujur yaitu mengambil garis keturunan dari Bapak. Kata Sontang berasal dari kata Ontang yang berarti yang dibawa bersama-sama dan kemudian berubah menjadi kata Sontang dan rajanya pada waktu itu disebut Raja Sontang atau Raja yang disamakan.
Raja Sontang disamakan dgn Raja Lelo di Sikaduduk dan berubah adat istiadat menjadi adat istiadat Minang yang disaksikan oleh utusan khusus Raja Pagaruyung yang sengaja diutus kedaerah itu. Dan merubah adat istiadat dari Manjujur keadat istiadat Minang yaitu Sumando sementara bahasanya tetap bahasa mandahiling dengan logat yang khas.
Perpindahan Raja Sontang ke Cubadak dimulai setelah mendapatkan daerah temuan baru oleh pegawai raja yang bernama Sigadumbang. Bukit Sontang yang kemudian bernama Cubadak seterusnya Simpang Tonang, Silalang, Lanai Sinuangon dan lainnya. Karena wilayah baru lebih luas dari wilayah Sontang maka Tengku Raja Sontang pindah ke Cubadak. Maka jadilan Cubadak sebagai perkampungan besar, saat ini dengan jumlah penduduk 14.357 jiwa. Namun demikian Raja Sontang tetap datang ke Sontang. Saat ini yang menjabat Raja Sontang bertempat tinggal di Pasar Cubadak.
Karena Cubadak merupakan daerah temuan, maka Sontang adalah daerah “Natoras” dalam bahasa Indonesia artinya yang tua.
Nagari Cubadak secara topografi merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 600 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 25 s/d 270c.
Dari 14.357 jiwa penduduk terdiri dari 6.756 jiwa laki-laki, dan 7.601 jiwa perempuan dengan jumlah Kepala keluarga 3.361 KK, umumnya bekerja sebagai petani sawah, ladang dan dagang.
Dari Lubuk Sikaping Ibu Kota Kabupaten Pasaman menuju daerah ini sepanjang 56 Km dapat dilalui dengan jalan darat, waktu tempuh + 1 jam dengan kendaran roda empat dan roda dua.
Kesejukan udara di nagari ini seakan membuat masyarakatnya hidup tenang berkorong berkampung. Nagari ini terkenal dengan keramah tamahan penduduknya, suka bergotong royong dan kekerabatan antara satu dengan yang lain selalu terjalin dengan baik.
Adat istiadat yang diwariskan para pendahulu nagari ini masih terus terlestarikan. Sebut saja bahasa, tetap menggunakan bahasa Mandailing dan adat perkawinan sistem Sumando.
Sementara jika dilihat dari kesenian masyarakat setempat yang cukup terkenal Ronggeng, Dikia Rapano dan Silat, masih ditampilkan dan terlestarikan. Kesenian Ronggeng, Silat selalu tampil setiap ada penutupan lebaran hari raya idul fitri.
Kesenian tradisional yang selalu terlestarikan juga berimbas pada tetap terpertahankannya generasi muda setempat akan bahaya narkoba dan jenis penyakit masyarakat lainnya. Sehingga kehidupan sosial, ekonomi masyarakat di Nagari Cubadak yang dipadukan adat Mandahiling dan Minang masih berjalan dengan baik.
(***)
http://www.pasaman.go.id/?pilih=lihat&id=215
Sejarah
Nama Kabupaten Pasaman diambil dari nama sebuah gunung yang terdapat di daerah ini, yaitu gunung Pasaman. Selain itu juga terdapat sebuah sungai yang diberi nama Batang Pasaman. Kata Pasaman sendiri berasal dari kata PASAMOAN yang berarti kesepakatan dan atau kesamaan pendapat antar golongan etnis penduduk yang mendiami wilayah Pasaman yaitu Minangkabau, Mandahiling dan Jawa (Merah Putih di persada Pasaman, Pemda Pasaman, Agustus 1955)
Sebenarnya secara kultural cukup banyak perbedaan antar suku Minangkabau dan suku Mandahiling yang mendiamai daerah Pasaman. Perbedaan ini dibidang adat istiadat, bahasa, sikap dan perilaku hidup. Namun dibalik perbedaan itu terdapat pula banyak kesamaan dalam visi dan persepsi sehingga mereka dapat hidup berdampingan dalam kerukunan dan kedamaian.
Pasaman dalam usia lebih setengah abad telah dimekarkan menjadi 2 Kabupaten yakni Kabupaten Pasaman (Kabupaten Induk) dan Kabupaten Pasaman Barat (Kabupaten Pemekaran) berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2003. Sebelum pemekaran 3 kabupaten dalam Propinsi Sumatera Barat, Pasaman merupakan Kabupaten terluas dari 16 Daerah Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Barat yakni dengan luas 7.835,4 Km2 atau sekitar 18,55 % dari luas Propinsi Sumatera Barat yang luasnya 42.229,64 Km2. Setelah pemekaran luas Kabupaten Pasaman menjadi 3.947,63 Km2 yang terdiri dari 12 Kecamatan, 32 Nagari dengan jumlah penduduk tahun 2004 sebanyak 243.451 jiwa (Pasaman Dalam AngkaTahun 2004).
http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_kabupaten&id=72&dt=sejarah&nama_kab=Kab.Pasaman
Oleh : Welina
Selasa, 13 Februari 07 - oleh : admin | x dibaca
NAGARI Cubadak Kecamatan Duo Koto adalah satu dari 32 Nagari di Kabupaten Pasaman. Nagari ini mempunyai luas wilayah 23.207 KM yang berbatasan dengan Nagari Simpang Tonang sebelah Utara, sebelah Selatan dengan Kecamatan Talamau Kab. Pasaman Barat, sebelah Timur dengan Kecamatan Panti dan Kecamatan Lubuk Sikaping, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Tuleh.
Nagari ini memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak dimiliki oleh nagari lain. Penduduknya mayoritas Mandahiling. Bahasa yang digunakan Bahasa Mandahiling pula dengan logat terkenalnya kanen. Sementara dalam adatnya mereka memakai adat Minang Kabau. Dalam sistem perkawinan memakai adat sumando.
Hal ini sejarahnya diawali dari Pemerintahan pertama Raja Sontang beserta kaumnya di koto tinggi terletak 1,5 Km dari Ulu Sontang sekarang.
Raja pertama bernama Raja Gunung Maleha di Koto Tinggi selanjutnya Raja Sipahutar, kemudian Raja Labiah dan barulah sejak itu bernama Raja Sontang.
Raja-raja ini beserta kaumnya berbahasa Mandahiling dan adat istiadatnya Manjujur yaitu mengambil garis keturunan dari Bapak. Kata Sontang berasal dari kata Ontang yang berarti yang dibawa bersama-sama dan kemudian berubah menjadi kata Sontang dan rajanya pada waktu itu disebut Raja Sontang atau Raja yang disamakan.
Raja Sontang disamakan dgn Raja Lelo di Sikaduduk dan berubah adat istiadat menjadi adat istiadat Minang yang disaksikan oleh utusan khusus Raja Pagaruyung yang sengaja diutus kedaerah itu. Dan merubah adat istiadat dari Manjujur keadat istiadat Minang yaitu Sumando sementara bahasanya tetap bahasa mandahiling dengan logat yang khas.
Perpindahan Raja Sontang ke Cubadak dimulai setelah mendapatkan daerah temuan baru oleh pegawai raja yang bernama Sigadumbang. Bukit Sontang yang kemudian bernama Cubadak seterusnya Simpang Tonang, Silalang, Lanai Sinuangon dan lainnya. Karena wilayah baru lebih luas dari wilayah Sontang maka Tengku Raja Sontang pindah ke Cubadak. Maka jadilan Cubadak sebagai perkampungan besar, saat ini dengan jumlah penduduk 14.357 jiwa. Namun demikian Raja Sontang tetap datang ke Sontang. Saat ini yang menjabat Raja Sontang bertempat tinggal di Pasar Cubadak.
Karena Cubadak merupakan daerah temuan, maka Sontang adalah daerah “Natoras” dalam bahasa Indonesia artinya yang tua.
Nagari Cubadak secara topografi merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 600 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 25 s/d 270c.
Dari 14.357 jiwa penduduk terdiri dari 6.756 jiwa laki-laki, dan 7.601 jiwa perempuan dengan jumlah Kepala keluarga 3.361 KK, umumnya bekerja sebagai petani sawah, ladang dan dagang.
Dari Lubuk Sikaping Ibu Kota Kabupaten Pasaman menuju daerah ini sepanjang 56 Km dapat dilalui dengan jalan darat, waktu tempuh + 1 jam dengan kendaran roda empat dan roda dua.
Kesejukan udara di nagari ini seakan membuat masyarakatnya hidup tenang berkorong berkampung. Nagari ini terkenal dengan keramah tamahan penduduknya, suka bergotong royong dan kekerabatan antara satu dengan yang lain selalu terjalin dengan baik.
Adat istiadat yang diwariskan para pendahulu nagari ini masih terus terlestarikan. Sebut saja bahasa, tetap menggunakan bahasa Mandailing dan adat perkawinan sistem Sumando.
Sementara jika dilihat dari kesenian masyarakat setempat yang cukup terkenal Ronggeng, Dikia Rapano dan Silat, masih ditampilkan dan terlestarikan. Kesenian Ronggeng, Silat selalu tampil setiap ada penutupan lebaran hari raya idul fitri.
Kesenian tradisional yang selalu terlestarikan juga berimbas pada tetap terpertahankannya generasi muda setempat akan bahaya narkoba dan jenis penyakit masyarakat lainnya. Sehingga kehidupan sosial, ekonomi masyarakat di Nagari Cubadak yang dipadukan adat Mandahiling dan Minang masih berjalan dengan baik.
(***)
http://www.pasaman.go.id/?pilih=lihat&id=215
Sejarah
Nama Kabupaten Pasaman diambil dari nama sebuah gunung yang terdapat di daerah ini, yaitu gunung Pasaman. Selain itu juga terdapat sebuah sungai yang diberi nama Batang Pasaman. Kata Pasaman sendiri berasal dari kata PASAMOAN yang berarti kesepakatan dan atau kesamaan pendapat antar golongan etnis penduduk yang mendiami wilayah Pasaman yaitu Minangkabau, Mandahiling dan Jawa (Merah Putih di persada Pasaman, Pemda Pasaman, Agustus 1955)
Sebenarnya secara kultural cukup banyak perbedaan antar suku Minangkabau dan suku Mandahiling yang mendiamai daerah Pasaman. Perbedaan ini dibidang adat istiadat, bahasa, sikap dan perilaku hidup. Namun dibalik perbedaan itu terdapat pula banyak kesamaan dalam visi dan persepsi sehingga mereka dapat hidup berdampingan dalam kerukunan dan kedamaian.
Pasaman dalam usia lebih setengah abad telah dimekarkan menjadi 2 Kabupaten yakni Kabupaten Pasaman (Kabupaten Induk) dan Kabupaten Pasaman Barat (Kabupaten Pemekaran) berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2003. Sebelum pemekaran 3 kabupaten dalam Propinsi Sumatera Barat, Pasaman merupakan Kabupaten terluas dari 16 Daerah Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Barat yakni dengan luas 7.835,4 Km2 atau sekitar 18,55 % dari luas Propinsi Sumatera Barat yang luasnya 42.229,64 Km2. Setelah pemekaran luas Kabupaten Pasaman menjadi 3.947,63 Km2 yang terdiri dari 12 Kecamatan, 32 Nagari dengan jumlah penduduk tahun 2004 sebanyak 243.451 jiwa (Pasaman Dalam AngkaTahun 2004).
http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_kabupaten&id=72&dt=sejarah&nama_kab=Kab.Pasaman
Saturday, July 7, 2007
Kenali Si Calon Taman Nasional

Kenali si Calon Taman Nasional
PANYABUNGAN – Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara pantas berbangga. Kawasan rimba alami Batanggadis ternyata menarik perhatian sejumlah kalangan. Dari peneliti, pemerintah sampai petualang alam bebas ramai-ramai mendukung cita-cita melindungi kawasan ini. Rencananya akan menjadi taman nasional baru.
”Saya cukup takjub sebab masyarakat Madina ngotot dengan usulan kawasan (Batanggadis) sebagai taman nasional. Wah, ini termasuk langka,” ujar Ahmad Zulkani, rekan jurnalis dari Medan. Selama perjalanan menembus rimba Batanggadis, ia terus saja memandangi panorama sekitar.
Rasanya penobatan Batanggadis harus buru-buru diwujudkan. Tekanan illegal logging juga melanda kawasan ini. Kami sempat beberapa kali menemukan jalur pembalak liar tersebut. ”Ini harus kita laporkan ke Bupati (Amru Daulay) nih,” tegas Ahmad saat kami menemukan satu titik yang masih terdapat olahan kayu yang terlihat masih baru.
Menurut Ismayadi Samsoedin - Northern Sumatra Corridor Project Manager Conservation International (CI) Indonesia, kawasan yang diusulkan sebagai taman nasional termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanggadis. Luasnya sekitar 386.455 hektar atau 58,8% dari luas Kabupaten Madina.
Bagi masyarakat Madina, kawasan DAS Batanggadis sangat penting artinya sebagai water supply untuk mendukung kelangsungan hidup dan kegiatan perekonomian warga di 13 kecamatan. Warga lokal kebanyakan menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Itu dapat terlihat bahwa sebanyak 35% dari seluruh nilai PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) kabupaten disumbangkan dari sektor pertanian.
Tentu saja, kawasan alami itu amat penting untuk menjaga kualitas dan kelancaran pasokan air untuk keperluan air minum seluruh warga. Ketersediaan air juga menjamin untuk mengairi sawah rakyat 34.500 hektar maupun perkebunan rakyat. ”Itu sebabnya kawasan ini menjadi faktor yang krusial untuk dijaga fungsi hidrologinya,” timpal Diah Rahayuningsih, Communication Specialist CI Indonesia.
”Areal hutan alam yang masih asli seluas 108.000 hektar telah dialokasikan untuk dikelola secara intensif dan tersendiri lewat sistem pengelolaan taman nasional,” sebut Ismayadi. Diharapkan, hutan alam yang tersisa lebih dapat terkelola dengan baik dan terlindungi dari ancaman kegiatan-kegiatan manusia yang kontra-produktif dan tidak selaras dengan perlindungan kekayaan keanekaragaman hayati serta fungsi ekologis lainnya yang terkandung di dalamnya.
Dari rona fisik Kabupaten Madina yang terdiri 36% dari luas wilayahnya merupakan daerah pegunungan sampai ketinggian 2.145 meter dpl, jenis tanah yang rawan erosi dan longsor, curah hujan yang tinggi, dilalui patahan/sesar semangko, sehingga menjadikan kawasan ini rawan terjadi bencana alam, ketika terjadi perluasan hilangnya tutupan hutan alam.
Datang dari ”bawah”
Pengusulan kawasan rimba Batanggadis sebagai taman nasional sebetulnya datang dari ”bawah”. Masyarakat Madina didukung pemerintah kabupaten sama-sama bertekad untuk melindungi hutan alami yang masih tersisa. Apalagi beberapa waktu lalu terjadi tragedi Bahorok, di Kabupaten Langkat. Tragedi yang telah menewaskan lebih dari 140 jiwa manusia dengan kerugian finansial yang luar biasa makin membuka mata siapa saja.
”Sebetulnya jauh sebelum tragedi Bahorok terjadi rakyat kami sudah melihat pentingnya menjaga fungsi hutan alami,” ujar Amru Daulay, Bupati Kabupaten Madina saat ditemui beberapa waktu lalu. Rakyat selalu marah bila kawasan lindung itu diusik oleh kegiatan kontra produktif. Sebagai buktinya, Amru berkisah,” Pernah suatu ketika camat saya di Panyabungan membuka hutan untuk lahan pertanian, rakyat marah. Mereka protes soal pembukaan lahan karena bisa terjadi banjir.”
Walau proses penetapan taman nasional butuh waktu lama, Amru dan warga Madina sudah bertekad: sama-sama melindungi Batanggadis. Ini dibuktikan saat melewati malam pergantian tahun baru, mereka mendeklarasikan kawasan ini sebagai kawasan yang dilindungi. ”Yang jelas, hutan Batanggadis tak boleh dikonversi sebagai apa pun, termasuk oleh campur tangan pemerintah pusat,” tegas Amru bersemangat.
Calon Taman Nasional Batanggadis mempunyai bentang alam cukup lengkap, dari hutan hujan dataran rendah perbukitan (300 meter dpl), hutan pegunungan rendah dan hutan pegunungan tinggi sampai 2145 meter dpl di Puncak Sorik Merapi. Adanya variasi habitat yang tinggi punya konsekuensi tingginya kandungan keanekaragaman hayati.
Menurut riset biologi oleh Wich, et al. (2000) dan temuan peneliti lainnya, kawasan hutan alam yang diusulkan menjadi Taman Nasional di Kabupaten Madina punya nilai konservasi alam yang tinggi dan bernilai global. Ada beberapa alasan yang menyertainya. Yang pertama, ditemukan jenis mamalia langka dan dilindungi seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Tapir (Tapirus indicus), dan kemungkinan Badak Sumatera (Dicerorhinus s sumatransis) atau Gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus). Jenis-jenis primata yang dapat ditemukan, seperti Siamang (Hylobates syndactylus), Lutung (Presbytis cristata), Gibon (Hylobates agilis), Beruk (Macaca nemestrina) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca facscicularis).
Nilai konservasi kawasan tersebut semakin penting, karena ditemukan sembilan dari sepuluh jenis burung Rangkong (Hornbill) (Buceros spp, Anthracoceros spp, Anorrhinus spp, Aceros spp, Anthoceros spp,) yang ada di Sumatera. Itu mengindikasikan kesesuaian habitat bagi satwa pemakan buah. Selain itu dapat ditemukan pula 99 jenis burung.
”Memang, semua kekayaan keanekaragaman hayati Batanggadis masih bersifat kualitatif. Sampai sekarang, investasi riset keanekaragaman hayati secara kuantitatif belum pernah dilakukan di calon Taman Nasional Batanggadis,” sebut Erwin Parbatakusuma dari CI Indonesia. Itu sebabnya, dalam waktu dekat CI Indonesia akan menjelajahi rimba alami Batanggadis. Dan petualangan pun dimulai dari sini.
(SH/bayu dwi mardana/ darma lubis)
http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0107/hob2.html
Marbled Cat Found in Batang Gadis National Park, Mandailing

Marbled cat (Pardofelis marmorata), Batang Gadis, Mandailing-Natal, Sumatra
Photograph by Jeremy Holden
Why is Marbled cat important to cat conservation?
The Marbled cat seems to be rare wherever it occur in its
geographic range that is Southeast Asia, Sumatra, and
Borneo. Rarely seen in the wild, all camera trap pictures
show the cat with its tail held stiffly and in a horizontal
position. It seems to occur in lowlands and in mountains
and is believed to be arboreal.
Virtually nothing is know of its habits in the wild. We have
far more information about Sumatran tigers that are thought
to be rare but in fact show up in more camera trap pictures
than Marbled cats.
www.smallcats.org/MarbledCatProject.html
Animal Info - Marbled Cat
(Other Names: Chat Marbré, Gato Jaspeado, Kucing Batu, Kucing Dahan, Kyaung Tha Lin, Machan Akar, Maew Laey Hin On, Marbel Biral, Marmorkatze, Shi Ban Mao, Shi Mao, Xiao Yun Bao)
Pardofelis marmorata (Felis m.)
Status: Vulnerable
--------------------------------------------------------------------------------
Contents
1. Profile (Picture)
2. Tidbits
3. Status and Trends (IUCN Status, Countries Where Currently Found, Taxonomy, Population Estimates, Distribution, Threats)
4. Data on Biology and Ecology (Size and Weight, Habitat, Age to Maturity, Gestation Period, Birth Season, Birth Rate, Early Development, Maximum Age, Diet, Behavior, Range)
5. References
--------------------------------------------------------------------------------
Profile
Pictures: Marbled Cat #1 (17 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Marbled Cat #2 (38 Kb JPEG) (Cat Act. Treas.); Marbled Cat #3 (39 Kb GIF) (Tigerhomes); Marbled Cat #4 (46 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Marbled Cat #5 (47 Kb JPEG) (Fauves du Monde)
The marbled cat is about the size of a domestic cat. Its head and body length is 45 - 62 cm (18 - 24") and it weighs 2 - 5 kg (4 - 11 lb). Its tail is extremely long and bushy. The background color of its fur varies from dark gray-brown through yellowish gray to red-brown. The flanks and back are strikingly marked with large, irregular, dark-edged blotches. The legs and underparts are marked with black dots, and the tail is marked with black spots and rings. There are spots on the forehead and crown, which merge into narrow longitudinal stripes on the neck and irregular stripes on the back.
The marbled cat is primarily an animal of moist tropical forest, but there is only anecdotal information on the specificity of its habitat requirements. The range of habitat types the species has been recorded in includes mixed deciduous-evergreen forest areas, mountainous evergreen forest, secondary forest, clearings, six-year-old logged forest, and Dipterocarp forest. It has been found from sea level to 3000 m (10,000'). Birds and/or rodents have been reported as likely forming a major part of its diet. Although previously the marbled cat was considered to be primarily nocturnal (Nowell & Jackson 1996), recent studies have shown that it can be cathemeral, with observations of the cat having been made throughout the day. Observations of marbled cats in the wild have indicated arboreal and terrestrial habits.
The marbled cat is found in northern India, Nepal, Guangxi and Yunnan provinces in China, and south through Cambodia, Laos, Myanmar, Thailand, Viet Nam, peninsular Malaysia, Sumatra (Indonesia), and Borneo. Throughout its range it is thought to be rare, although it has also been suggested that the perception of the marbled cat's rarity may be caused by its secretive nature and its preference for remote forest areas. Because of its dependence on forest habitat, the major threat to the marbled cat is habitat destruction caused by felling of trees and the traditional, shifting, "jhum" method of local cultivation. The marbled cat is also thought to be intolerant of human disturbance, abandoning a forest that is even moderately disturbed. Poaching for skins, bones and meat may also be a threat.
--------------------------------------------------------------------------------
Tidbits
*** Cat Tidbit #8: Cats can hear in the 65 - 70 kHz range, well above the human limit of 15 - 20 kHz. Cats do not produce ultrasonic calls, so their ability to detect these high-frequency sounds is probably related to hunting. Rodent ultrasound communication occurs in the 20 - 50 kHz range, so small cats are well equipped to detect the sounds of their prey. (Sunquist & Sunquist 2002) (See Cat Tidbit #9.)
*** Superficially, the marbled cat looks like a house cat, but it possesses an odd mixture of small cat and big cat characteristics. For example, with its enlarged canines, blotched coat pattern, and broad feet, it resembles the larger clouded leopard, (Sunquist & Sunquist 2002)
--------------------------------------------------------------------------------
Status and Trends
IUCN Status:
[The IUCN (International Union for the Conservation of Nature; also called the World Conservation Union) is the world’s largest conservation organization. Its members include countries, government agencies, and non-governmental organizations. The IUCN determines the worldwide status of threatened animals and publishes the status in its Red List.]
1986 - 1990: Indeterminate
1994: Insufficiently Known
1996: Data Deficient
2002 - 2005: Vulnerable; (Criteria: C2a(i)) (Population Trend: Decreasing) (IUCN 2005)
Countries Where the Marbled Cat Is Currently Found:
2005: Occurs in Brunei, Cambodia, China, India, Indonesia (Kalimantan, Sumatra), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand and Viet Nam. May occur in Bangladesh and Bhutan. (IUCN 2005)
Taxonomy:
Recent genetic analyses have lead to the proposal that all modern cats can be placed into eight lineages which originated between 6.2 - 10.8 million years ago. The marbled cat is placed in the "bay cat lineage," which diverged from its ancestors as a separate lineage 10.8 million years ago. The bay cat lineage also includes the Asiatic golden cat and the bay cat. (Johnson et al. 2006)
Population Estimates:
[Note: Figures given are for wild populations only.]
WORLD
The marbled cat’s total effective population size is estimated at below 10,000 mature breeding individuals (IUCN 2005).
Distribution:
The marbled cat is found in northern India, Nepal, Guangxi and Yunnan provinces in China, and south through Cambodia, Laos, Myanmar, Thailand, Viet Nam, peninsular Malaysia, Sumatra (Indonesia), and Borneo. Throughout its range it is thought to be rare, although it has also been suggested that the perception of the marbled cat's rarity may be caused by its secretive nature and its preference for remote forest areas. It is rarely seen in the wild. (Nowell & Jackson 1996, Sunquist & Sunquist 2002, IUCN 2005)
Distribution Map #1 (2 Kb GIF) (Big Cats Online)
Distribution Map #2 (Showing the areas where the two subspecies of the marbled cat are found: 1) P.m. marmorata - Southeast Asia, 2) P.m. charltoni - Nepal) (24 Kb GIF) (Fauves du Monde)
Threats:
Because of its dependence on forest habitat, the major threat to the marbled cat is habitat destruction caused by felling of trees and the traditional, shifting, "jhum" method of local cultivation. The marbled cat is also thought to be intolerant of human disturbance, abandoning a forest that is even moderately disturbed. Poaching for skins, bones and meat may also be a threat. Other conservation issues include insurgency, straying into human habitation, and various developmental activities. (Sunquist & Sunquist 2002, Choudhury 2003)
--------------------------------------------------------------------------------
Data on Biology and Ecology
Size and Weight:
The head and body length of the marbled cat is 45 - 62 cm (18 - 24") and it weighs 2 - 5 kg (4 - 11 lb) (Sunquist & Sunquist 2002).
Habitat:
The marbled cat is primarily an animal of moist tropical forest, but there is only anecdotal information on the specificity of its habitat requirements. The range of habitat types the species has been recorded in includes mixed deciduous-evergreen forest areas, mountainous evergreen forest, secondary forest, clearings, six-year-old logged forest, Dipterocarp forest, and one animal that was described as living on a river cliff, which consisted of rocks overgrown with scrub and low bush. It has been found from sea level to 3000 m (10,000'). (Sunquist & Sunquist 2002, IUCN 2005)
The marbled cat is found in the Himalaya, Indo-Burma, and Sundaland Biodiversity Hotspots (Cons. Intl. 2005).
Age to Maturity:
21 - 22 months (captivity) (Sunquist & Sunquist 2002).
Gestation Period:
Estimated to vary from 66 - 82 days (captivity) (Sunquist & Sunquist 2002).
Birth Season:
Two litters were born in January and February; another in September (Sunquist & Sunquist 2002).
Birth Rate:
Litter size: 1 - 4 (captivity) (Nowell & Jackson 1996).
Early Development:
Captive kittens begin accepting meat at 121 days (Humphrey & Bain 1990).
Maximum Age:
At least 12 years and 3 months (captivity) (Sunquist & Sunquist 2002).
Diet:
Birds and/or rodents (such as squirrels and rats) have been reported as likely forming a major part of its diet, and possibly lizards and frogs are consumed (Sunquist & Sunquist 2002, Scott et al. 2004).
Behavior:
Although previously the marbled cat was considered to be primarily nocturnal (Nowell & Jackson 1996), recent studies have shown that it can be cathemeral, with observations of the cat having been made throughout the day and not indicating a crepuscular bias (Holden 2001). Observations of marbled cats in the wild have indicated arboreal and terrestrial habits (Grassman et al. 2005).
Range:
A female marbled cat who was radio-tracked for a brief period in the Phu Khieo Wildlife Sanctuary in Thailand was using an area of 5.8 sq km (2.2 sq mi) (Sunquist & Sunquist 2002).
http://www.animalinfo.org/species/carnivor/pardmarm.htm
Wednesday, July 4, 2007
Harimau Dimata Orang Mandailing

'Nabetengi' dihormati orang Madina. Foto : ©CI, camera trap.
Harimau Dimata Orang Mandailing
Oleh : Ikror Amin Lubis
Ketika rakyat mendaulat agar sebagian hutan di Mandailing Natal dijadikan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), sesungguhnya hal ini seperti mengingatkan kembali kepada orang-orang Mandailing terhadap ajaran-ajaran leluhurnya tentang alam sekitar. Para pendahulu lembah Mandailing adalah orang yang memiliki kearifan-kearifan terhadap alam. Penggunaan nama dedaunan (bulung-bulung) untuk intreaksi komunikasi telah menempatkan suku bangsa ini sebagai satu-satunya pemilik bahasa daun (bladerentaal) berdasarkan tulisan Prof. Ch. A. Van Ophuysen pada tahun 1886.
Disamping bahasa daun, proses terciptanya ‘gordang sambilan’ dengan sembilan ukuran dan suara yang berbeda-beda sebagai manifestasi suara-suara alam merupakan bukti lain tentang eratnya hubungan para leluhur daerah ini dengan pepohonan dan hewan-hewan disekitarnya.
Dan kini, di saat rakyat Mandailing Natal menjadikan hutannya sebagai kawasan taman nasional, hal itu bukan saja untuk kesejahteraan masyarakat di daerah ini. Lebih dari itu akan bermanfaat bagi orang lain, baik yang pernah sekedar singgah, mengetahui lewat peta atau buku, dan juga bagi yang tidak mengetahui sama sekali yang berada di belahan bumi lain.
Dengan terbentuknya taman nasional ini akan melindungi biodiversitas flora dan fauna, yang merupakan kekayaan untuk ilmu pengetahuan, dan juga secara makro tutupan hutan Mandailing Natal berperan mempertahankan keseimbangan iklim dunia yang semakin tak terkendali.
Taman nasional yang baru berusia beberapa tahun ini menyimpan kekayaan luar biasa terutama dari fauna yang dimilikinya. Ada tiga jenis hewan yang termasuk dalam lampiran I CITES yang masih berkeliaran bebas dihutan Mandailing Natal. Lampiran ini mengindikasikan hewan-hewan ini berada pada situasi sangat berbahaya atau nyaris punah.
Adapun ketiga jenis hewan itu adalah harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ), kucing emas ( Catopuma temminckii ), dan tapir ( Tapirus indicus ). Khusus untuk harimau Sumatera, saat ini jumlahnya diperkirakan tinggal 500 ekor saja yang berada di Indonesia. Dengan rincian 400 ekor mendiami kawasan-kawasan taman nasional seperti Batang Gadis, Bukit Barisan Selatan, maupun di Gunung Leuser. Sedangkan 100 ekor lagi berada diluar kawasan taman nasional dengan kondisi setiap saat berada dalam bahaya karena aktifitas perburuan liar dan wilayah hutan yang semakin sempit.
Berdasarkan penelitian Conservation International Indonesia, kepadatan populasi harimau Sumatera di Taman Nasional Batang Gadis adalah 1,1 ekor dalam 100 Km2.
( Luas keseluruhan TNBG adalah 108.000 Ha ). Penelitian ini dilakukan baru pada satu tempat saja di seputaran hutan Sopo Tinjak, sisi utara Gunung Sorik Marapi. Pada tempat lain seperti sisi selatan gunung bertinggi 2.145 m ini yang termasuk juga kawasan TNBG, kemungkinan belum diteliti. Disamping itu, penulis juga yakin diluar kawasan taman nasional. Harimau Sumatera sebagai satu-satunya spesies harimau yang masih tersisa di Indonesia —Setelah harimau Jawa dan Bali punah— masih banyak berkeliaran bebas. Karena apa, karena masyarakat Mandailing Natal menghormati hewan ini. Jadi kalau ada yang memburu dan membunuh harimau di wilayah ini, pelakunya bukanlah orang Mandailing Natal, tetapi adalah ‘orang luar’.
Harimau Mandailing, Kuat dan Beradat
Harimau dalam pandangan masyarakat Mandailing Natal adalah hewan yang beradat, memiliki aturan hidup tertentu dalam berhubungan dengan masyarakat sekitar habitatnya. Hewan penguasa hutan yang bisa menjelajahi 15 - 30 km dalam semalam untuk mencari mangsa ini memiliki banyak julukan di hati masyarakat Mandailing Natal. Makna sebutan untuk si raja hutan inipun tidak ada yang merendahkan, tetapi sebaliknya memiliki arti untuk mengagumi atau menghormati.
Hewan bertenaga luar biasa ini dinamai ‘ Na Betengi ‘ atau ‘ Yang Kuat’ . Zaman dahulu ketika kehidupan para leluhur Mandailing masih jauh dari peradaban moderen seperti sekarang. Mereka telah menyimpulkan bahwa tidak ada hewan yang paling kuat dan berkuasa di tengah hutan selain harimau. Dalam bahasa Mandailing ‘Na Betengi’ dalam konteks kehidupan sosial masyarakat lebih dimaknai pada kekuasaan yang dimiliki seseorang. Disamping itu kata ini juga bermakna tenaga yang kuat. Sehingga gelar ini terasa pantas diberikan untuk harimau. Berdasarkan penelitian para ilmuwan masa sekarang, daerah jelajah hewan ini bisa mencapai angka 500 km.
Julukan yang kedua, ‘Na Maradati’ atau ‘Yang Beradat’. Maksudnya, hewan ini memiliki aturan atau adat kapan dia harus memperlihatkan diri kepada manusia, dan kapan harus berada di hutan belantara. Keluarnya harimau dari sarangnya untuk muncul di pinggir perkampungan atau pada perladangan penduduk adalah indikator adanya orang yang berzina. Selama sipelaku belum ditangkap atau ditegur oleh masyarakat, maka sang raja hutan ini akan tetap memunculkan diri.
Sesungguhnya tabiat harimau tidaklah sembarangan menyerang orang. Sangat jarang terdengar di seantero Mandailing Natal, orang yang mati diterkam harimau. Padahal hampir semua penduduk pedesaan didaerah ini keluar masuk hutan setiap hari. Hal ini mungkin terkait juga nasehat orangtua sejak dini, agar tidak takut terhadap harimau ketika berjumpa di hutan. Ketika sudah saling berhadap-hadapan, jangan memalingkan muka dan lari. Tapi berjalanlah seperti biasa, sambil bergumam “ Ompung, au bolus jolo ( kakek, mohon lewat ) “ sambil menyebutkan keperluan kita disitu. Sang raja hutan inipun akan diam saja sambil mengibas-ngibaskan ekornya, pertanda kita dibolehkan lewat di tempat itu.
Sebutan lain adalah ‘Ompung’ atau ‘kakek ‘. Dalam kaidah bahasa Mandailing, kata ompung biasanya ditujukan kepada orang yang sudah lanjut usia. Namun bisa juga dialamatkan pada seseorang yang memiliki kematangan berfikir, sehingga diangkat sebagai pemimpin ( orang yang dituakan ).—misalkan pada sebuah organisasi kepemudaan—.
Julukan ini sedikit sulit dijelaskan. Tetapi sedikit gambaran, ditanah Mandailing Natal jarang ditemukan harimau mati ditengah hutan yang dilalui masyarakat. Sepertinya hewan ini tidak meninggalkan bekas apabila mati, seperti hilang ditelan bumi. Atau bisa jadi hewan liar ini mati ditengah hutan belantara yang tidak pernah dilalui masyarakat.
Besar kemungkinan hewan berbelang ini mendapatkan julukan ompung adalah karena hewan ini dituakan atau dengan kata lain dianggap sebagai pemimpin hewan-hewan lainnya. Ataupun bisa juga karena harimau ditempat ini rata-rata berusia lanjut, disebabakan tidak ada yang memburu, dan hanya mati karena dimakan usia. Berdasarkan penelitian para ahli hewan, usia harimau yang berada di penangkaran kebun binatang bisa mencapai 20-30 tahun. Dengan siklus melahirkan kira-kira dua tahun sekali, dengan jumlah anak mencapai tujuh ekor, walaupun yang selamat biasanya empat sampai lima ekor saja.***
Gordang Sambilan Sound Chamber in Ohio

Children enjoying Sound Chamber, which was repainted and moved to a city park in Troy, Ohio.
From: Sculpture Magazine-September / October 1992
Michael Bashaw, Sound Chamber
Troy, Ohio
To commemorate its 75th anniversary, the Hobart Brothers Company commissioned a participatory sound piece for its welded metal sculpture park in Troy, Ohio. Sculptor / musician Michael Bashaw created Sound Chamber in five months, with the help of Hobart engineers and welders. He modeled the $50,000 work on the geometric bamboo and tyvek paper structure he built at Paul Winter's Living Music Village in Connecticut in 1989. Bashaw explains that the structure, a "hybrid of cultures," is related visually to pagodas and conceptually to ceremonial drum huts (Sopo Gandag)of the Mandailing people of North Sumatra. Visitors to Sound Chamber animate drum gongs and kalimbas with their hands; they use mallets and sticks to draw music from tone rods, musical rasps and mbira ("tongues"), flat steel strips clamped to a resonating surface. A tide of 3,800 ball bearings rolling within an ocean drum adds to the percussive symphony. Bashaw intends the sculpture to bring people together, "celebrating the communal spirit in sound." Concerned about the work's proximity to residences, he softened volume and tuned the instruments to a melodic five-tone scale. Since Bashaw and his ensemble demonstrated the work's musical potential in a dedication concert, it has attracted neighborhood residents daily. Even without visitors, Sound Chamber's four wind harps and 360 chimes still emit an "unearthly" music in the presence of wind. -- Elizabeth Broadrup
http://www.puzzleoflight.com/sculpmag.html
Tuesday, July 3, 2007
Strategi Pengelolaan TNBG Secara Kolaboratif

STRATEGI PENGELOLAAN TNBG SECARA KOLABORATIF
Bagaimana mengelola TNBG ? Jawabnya bisa beraneka, dan tulisan ini tidak bermaksud mendesakkan suatu model yang dianggap paling baik dari yang lain. Hanya saja, menurut hemat saya, pengelolaan yang bersifat kolaboratif adalah sebuah keniscayaan sehingga semua pihak yang memiliki kepentingan dengan TNBG terakomodasikan kepentingannya secara adil dan proporsional. Para inisiator yang menggagas dan menghela gagasan tentang TNBG ini sudah barang tentu sudah memiliki kerangka yang menjadi rujukan pengelolaan ke depan.
Sekedar untuk memperkaya gagasan yang sudah ada dari para inisiator, di sini ingin disampaikan pelajaran yang bisa dipetik dari sistem pengelolaan Lubuk Larangan, sebuah sistem pengelolaan sumberdaya alam milik bersama yang boleh dikatakan sudah ajeg secara sosial budaya, ekonomis dan sampai batas-batas tertentu ajeg secara ekologis. Praktik-praktik pengelolaan Lubuk Larangan ini terdapat di banyak desa di Kecamatan Kotanopan, Muara Sipongi, dan Batang Natal, dan sebagian di antaranya tergolong cukup persisten dan berhasil. Dari penelitian yang pernah dilakukan mengenai pendayagunaan modal sosial dalam sistem pengelolaan Lubuk Larangan di Mandailing (lihat Zulkifli Lubis, 2001), diperoleh kesimpulan bahwa untuk bisa menumbuhkan dan membangun suatu kearifan dalam pengelolaan sumber daya alam seperti kasus lubuk larangan diperlukan adanya paling sedikit delapan langkah pengelolaan, yaitu :
(1) Menetapkan sumberdaya yang kongkrit sebagai subjek pengelolaan, yang bersifat aksesibel bagi suatu komunitas.
(2) Mengembangkan ide atau gagasan untuk pengelolaan sumberdaya tadi melalui proses partisipatif dan kemudian menetapkan sebuah pilihan cara mengatasi masalah
(3) Menemukan konsensus di antara para pihak (stakeholder) untuk mendapatkan komitmen dan dukungan atas pengelolaan sumberdaya
(4) Merumuskan tujuan pengelolaan, yang mungkin untuk dicapai dan dapat memenuhi kebutuhan bersama warga kolektif
(5) Menetapkan jaringan/satuan sosial yang menjadi konstituen pengelolaan, yaitu mereka yang akan menjadi partisipan aktif dalam proses pengelolaan dan pemanfaatan hasilnya
(6) Merajut pranata/institusi, baik berupa sistem nilai bersama, norma-norma dan sanksi-sanksi maupun aturan-aturan yang lebih teknis
(7) Membangun hubungan saling percaya (trust relation), berlandaskan adanya jaminan keadilan bagi semua pihak
(8) Melakukan siklus pendayagunaan modal sosial dengan membangun kekompakan atau kesatupaduan (cohesiveness) di kalangan jaringan/satuan sosial yang menjadi konstituen, yaitu meneguhkan pelaksanaan institusi, memupuk kepercayaan, dan seterusnya secara berulang/siklikal.
Pengelolaan Lubuk Larangan yang berhasil dan bertahan lama (persistent) dicirikan oleh kemampuan warga komunitas desa pengelola Lubuk Larangan untuk membangun hubungan saling percaya, mengembangkan pranata/aturan main yang adil, serta membangun jaringan sosial yang kompak; yang kesemuanya memberikan peluang bagi warga komunitas untuk mendapatkan manfaat dari pengelolaan. Siklus pendayagunaan modal sosial itu dapat dilihat dalam skema di bawah ini :
Skema 1. Hubungan antar elemen modal sosial
PRANATA
* nilai-nilai bersama
* norma & sanksi
* aturan-aturan
Kemurahan hati * * Keadilan
Toleransi* * Kolaborasi/Kerjasama
Sikap egaliter * * Solidaritas
* Kewajaran Resiprositas*
Kejujuran * * Partisipasi
KEPERCAYAAN JARINGAN SOSIAL
Berikut ini disajikan kerangka hipotetik hubungan siklikal pendayagunaan modal sosial dalam konteks Pengelolaan Kolaboratif TNBG, sebagai berikut:
(a) Kepercayaan (trust) dalam pengelolaan TNBG akan tumbuh apabila semua elemen sosial yang terlibat di dalamnya memiliki kejujuran, kewajaran, sikap egaliter, sikap toleran dan kemurahan hati.
(b) Dengan tumbuhnya kepercayaan di kalangan elemen sosial yang menjadi stakeholder, pengelolaan TNBG maka akan mudah pula digerakkan partisipasi, yang dilandasai oleh hubungan yang bersifat timbal balik (resiprositas), dan karena itu akan tumbuh pula solidaritas, dan dengan tumbuhnya solidaritas akan terbangunlah kerjasama (kolaborasi).
(c) Ketika sebuah kolaborasi mulai terwujud, ia harus dibingkai dengan pranata yang berisi nilai-nilai bersama berkenaan dengan TNBG, norma-norma, aturan-aturan dan sanksi-sanksi atas pelanggaran norma dan aturan. Dengan penegakan yang konsisten dan berkeadilan terhadap aturan yang disepakati bersama, maka akan semakin menguat pula hubungan saling percaya. Selanjutnya akan semakin kompak pula satuan/jaringan sosial yang menjadi konstituen pengelolaan, dan seterusnya.
Penutup
Masyarakat Mandailing memiliki khasanah kearifan budaya yang bisa didayagunakan dalam rangka pengelolaan kolaboratif TNBG. Filosofi dasar budaya Mandailing adalah holong (kasih sayang) dan domu (persatuan). Perjalanan waktu dalam menghadapi berbagai problem dan tantangan hidup, memang, membuat nilai-nilai budaya holong dan domu mulai tergerus dan terkikis sehingga sebagian masyarakat Mandailing mulai gamang untuk mengembangkan kolaborasi dalam mengelola sumberdaya milik bersama. Hubungan saling percaya menipis, dan semangat kebersamaan dan kekompakan berangsur pudar. Beriringan dengan itu, kepatuhan terhadap pranata berupa nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan yang ada juga cenderung mengendur. Bagaimanakah masa depan pengelolaan TNBG dalam siatuasi sosial budaya yang demikian ?
Tentu saja optimisme harus selalu dihidupkan. Kita masih mempunyai stok modal sosial yang bisa diinvestasikan ke depan, salah satunya yang masih dengan mudah terlihat dalam praktik pengelolaan Lubuk Larangan yang persisten. Mereka yang mengelola Lubuk Larangan juga tiba pada kemampuan untuk memupuk modal sosial justru dari langkah yang tertatih-tatih, kemampuan mereka bukan sesuatu yang given, melainkan diusahakan dengan penuh kesabaran dan kerja keras. Mereka memulai usahanya dengan menghidupkan kembali rasa kasih sayang (holong) dan persatuan atau kebersamaan (domu), lalu diimplementasikan dengan wujud partisipasi “ra-ro,ro-ra”. Kemudian dikuatkan dengan bangunan modal sosial yang berintikan kepercayaan, jaringan sosial yang kompak, dan pranata yang kuat, yang kesemuanya itu mewujud dalam bentuk pengelolaan yang berkeadilan bagi semua. Semua elemen modal sosial itu merupakan unsur-unsur substantif yang selaras dengan kebudayaan Mandailing maupun ajaran Islam, sehingga tidak akan menghadapi resistensi jika diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Mandailing, termasuk ketika mereka akan menjadi bagian penting dalam pengelolaan TNBG ke depan.
Apapun bentuk atau kerangka organisasi pengelolaan TNBG yang akan kita buat dan implementasikan, hendaknya mesin organisasi itu selalu harus dilumasi dengan elemen-elemen modal sosial seperti disebutkan di atas. Menurut para ahli, modal material akan dengan mudah habis jika terus digunakan, tetapi sebaliknya modal sosial akan semakin banyak justru ketika ia digunakan terus-menerus. Modal sosial itu ada di dalam diri kita masing-masing, dan akan tumbuh subur apabila kita senantiasa memupuk rasa kasih sayang sesama, rasa kebersamaan, dan kemauan serta tindakan untuk bekerjasama.*****
Mengurus TNBG Dari Perspektif Budaya Mandailing

MENGURUS TNBG DARI PERSPEKTIF BUDAYA MANDAILING
Kalau di awal tulisan ini dikutip Willem Iskander yang menjadi guru bagi orang-orang Mandailing dan Tapanuli pada pertengahan abad ke-19, tiada maksudnya kecuali untuk mengajak kita melakukan refleksi sejauh mana kita sudah lebih maju dari yang digambarkan oleh Willem Iskander di masa ia hidup ? Dalam tulisan-tulisannya ia banyak mengajarkan pentingnya pendidikan, pentingnya kebersamaan dan kasih sayang antar sesama manusia, pentingnya mencintai sang Pencipta Alam Semesta, yang semuanya sesungguhnya selaras dengan nilai-nilai budaya Mandailing dan ajaran Islam, maka pertanyaan yang perlu kita jawab hari ini adalah : apakah kita masih hidup dengan nilai-nilai budaya Mandailing dan ajaran Islam ? Lebih lanjut, apakah nilai-nilai budaya Mandailing dan ke-Islam-an dapat kita revitalisasikan dalam konteks pengelolaan TNBG ke depan ?
Menurut hemat saya, jika unsur-unsur ke-Mandailing-an dan ke-Islam-an akan diintegrasikan dalam pengelolaan kolaboratif TNBG, pada tahapan awal masih diperlukan sebuah pra-kondisi sosial budaya yang kondusif untuk tujuan tersebut. Hal itu penting mengingat dalam bilangan tahun atau puluhan tahun harus diakui bahwa nilai-nilai budaya Mandailing telah mengalami pengeroposan, antara lain karena tergerus oleh derasnya budaya kapitalisme yang melanda dunia, tak terkecuali juga telah melindas kehidupan masyarakat Mandailing yang dulu dikenal sangat guyub. Paling sedikit ada tiga aspek budaya yang sangat mendasar dan saling berkaitan satu sama lain yang memerlukan upaya revitalisasi sebelum kita melangkah kepada tindakan-tindakan kolaboratif dalam pengelolaan TNBG.
(1). Revitalisasi nilai budaya HOLONG dan DOMU
Holong artinya kasih sayang; domu berarti persatuan. Holong merupakan filosofi dasar budaya Mandailing. Holong menjadi landasan dasar bagi terciptanya masyarakat hukum adat (Nasution, 2001:75). Kasih sayang sesama manusia atau antar warga masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat dikenal istilah “holong manjalahi domu, domu manjalahi holong” (kasih sayang akan menumbuhkan rasa persatuan, dan persatuan akan menumbuhkan rasa kasih sayang). Kasih sayang dalam konteks budaya Mandailing bukan hanya sebatas antara manusia dengan manusia, tetapi juga antara manusia dengan makhluk lain dan manusia dengan Sang Pencipta. Dengan holong itulah terbangun sistem sosial Dalihan Na Tolu dan segenap relasi-relasi yang melingkupinya; dengan holong itu pula lahir aturan-aturan adat bagaimana memperlakukan makhluk-makhluk lain, termasuk hewan dan tumbuhan; dan dengan holong itu pula ditata hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya.
Kerusakan alam yang terjadi di daerah Mandailing selama ini, khususnya yang terjadi karena ulah warganya sendiri, adalah wujud menghilangnya nilai budaya holong. Terjadinya konflik antar kampung karena memperebutkan penguasaan atas sumberdaya alam juga sebagai pertanda memudarnya rasa kasih sayang antar sesama. Perkelahian antar warga yang terjadi karena satu pihak mencegah pihak lain yang merusak lingkungan alam, juga pertanda lunturnya kasih sayang terhadap kekayaan lingkungan alam. Sikap membiarkan terjadinya perusakan terhadap hutan dan sumber daya alam lainnya juga merupakan bentuk hilangnya rasa kasih sayang antar sesama. Dengan hilangnya holong, maka tidak terwujud lagi domu. Fenomena-fenomena sosial yang dicirikan oleh hilangnya holong dan domu sudah makin menguat dalam kehidupan kemasyarakatan di daerah Mandailing Natal.
Dalam lingkup paling ekstrem, peristiwa bencana alam bisa sangat efektif untuk menguatkan kembali rasa kasih sayang dan persatuan. Lihatlah betapa orang sedemikian cepat terharu dan mau mengulurkan tangan untuk membantu korban gempa dan tsunami di Aceh, maupun dalam peristiwa-peristiwa bencana lainnya. Tetapi dalam keadaan normal, orang mudah lupa untuk menolong sesamanya. Mengapa kita tidak bersegera mengulurkan tangan untuk sebuah tujuan yang akan menghindari orang tertimpa bencana ? Di sinilah diperlukan kembali reorientasi dan revitalisasi nilai-nilai budaya holong. Bagi orang Mandailing upaya ke arah itu sesungguhnya bisa lebih mudah mengingat mereka sangat dekat dengan ajaran Islam. Orang Mandailing mengenal ungkapan “ombar do adat dohot ugamo” (adat dan agama berjalan selaras). Usaha menguatkan kembali nilai-nilai budaya holong dan domu yang menjadi filosofi dasar budaya Mandailing bisa berjalan selaras dengan menguatkan kembali ajaran agama Islam tentang kasih sayang.
(2). Menghidupkan kembali kata (hi)TA dalam kehidupan sosial.
Hilangnya holong dan domu dalam ranah kognitif dan spritualitas masyarakat Mandailing berimplikasi pada menghilangnya suku-kata TA dalam kamus bahasa mereka. Suku-kata TA yang berasal dari kata hita (kita) adalah bentuk posesif yang biasa melekat kepada kata benda lain dan membentuk makna kepemilikan. Misalnya aman-ta (ayah kita), anak-ta (anak kita), saban-ta (sawah kita), hutan-ta (kampung kita), dan lain sebagainya. Penggunaan akhiran TA yang bermakna posesif tersebut bukanlah dalam arti kepemilikan yang sesungguhnya (formal), melainkan sebagai bentuk ungkapan rasa kebersamaan. Dengan menggunakan suku-kata TA, seorang penutur mengaktualisasikan empati, simpati, kebersamaan dan solidaritas kepada lawan bicaranya; yang kemudian akan mendapatkan umpan balik yang sama dari si penerima. Karena itu tumbuhlah kebersamaan, dan kebersamaan adalah wujud sosial dari kasih sayang (holong).
Semangat kebersamaan itulah yang semakin melemah/memudar dalam kehidupan masyarakat Mandailing, sehingga mereka tidak lagi bisa bersatu dalam menangani suatu permasalahan. Banyak faktor yang menyebabkan rasa kebersamaan itu semakin memudar, diantaranya karena hilangnya hubungan saling percaya (trust). Rasa saling percaya hilang biasanya terkait dengan hubungan-hubungan sosial yang tidak dilandasi keterbukaan (transparency) dan keadilan (equity). Bagaimana kebersamaan bisa tumbuh, misalnya dalam pengelolaan dana pembangunan desa, kalau para pihak yang mengelolanya tidak transparan, dan tidak memberikan rasa keadilan kepada mereka yang berhak mendapatkannya ?
Oleh karena itu, untuk mengembalikan semangat kebersamaan, yang secara verbal bisa terwujud dalam komunikasi interpersonal menggunakan kata HITA (kita) --bukan dominan HAMI (kami), AU (aku) atau HO (kau)—dibutuhkan hubungan yang dilandasi saling percaya, keterbukaan dan keadilan dalam konteks kehidupan yang melibatkan perlunya kebersamaan. Dalam konteks pengelolaan TNBG, tentu saja kita semua yang sudah, sedang dan akan terlibat di dalamnya harus mulai dengan memaknai secara sama TNBG tersebut, yaitu memposisikannya sebagai “milik kita bersama”, bukan hanya milik pemerintah, atau milik para inisiator yang mengurusnya, atau hanya milik desa-desa yang berbatasan atau bersinggungan dengan areal TNBG itu. Objek holong (kasih sayang) kita adalah TNBG dan segala isinya, serta para pihak yang terkait kepentingan dengan keberadaannya baik orang Mandailing sendiri maupun saudara-saudara kita yang datang ke Mandailing. Prinsip dasarnya adalah keadilan, keterbukaan dan hubungan saling percaya dalam seluruh tahapan pengelolaan, sehingga semua pihak merasa TNBG sebagai milik bersama.
(3). Mewujudkan prinsip partisipasi “RA-RO, RO-RA”.
Rasa holong dan domu serta rasa kebersamaan (hita) baru terlihat manifestasinya dalam bentuk tindakan apabila warga kolektif mewujudkan apa yang disebut “RA-RO, RO-RA” (mau-datang, datang-mau). Kalau kita sudah memiliki kemauan (RA) untuk saling menolong sesama, maka kemauan itu baru bermakna apabila kita mewujudkannya dengan benar-benar datang (RO), dalam arti hadir dan memberikan sesuatu yang bisa menolong orang lain. Sebaliknya, apabila kita sudah datang (RO) ke suatu acara atau rencana, maka kehadiran kita baru akan bermakna apabila kita mau (RA) berpartisipasi aktif di dalamnya, bukan sekedar datang menyetor muka (patarida bohi).
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan orang-orang dengan penuh semangat mengatakan akan mendukung sesuatu rencana, tetapi ketika kita menagih wujud partisipasi aktifnya (dalam bentuk pikiran, tenaga, atau materi) justru kemudian berusaha mengelak. Rasa kasih sayang dan kebersamaan baru akan terwujud apabila kita menunjukkan kemauan (RA) sekaligus tindakan (RO) yang mencerminkan wujud kebersamaan dan kasih sayang itu. Dalam konteks pengelolaan TNBG, kehadiran kita dalam pertemuan-pertemuan yang akan membahas strategi dan mekanisme pengelolaannya baru akan berarti apabila kita benar-benar mau berpartisipasi aktif di dalamnya, bukan sekedar hadir. Kehadiran kita harus lah merupakan implementasi dari semangat kebersamaan kita dalam mengelola TNBG, dan semangat kebersamaan yang menghinggapi diri kita haruslah merupakan implementasi dari rasa kasih sayang yang tumbuh dari kesadaran kita yang dalam, bukan karena terpaksa atau sikap pura-pura.*** (Gading Muda)
Taman Nasional Batang Gadis: Momentum Mengukir Sejarah

Taman Nasional Batang Gadis : momentum mengukir sejarah
Berbagai bencana yang terjadi di Indonesia maupun di belahan dunia lain beberapa tahun terakhir ini tidak lepas dari kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh ulah manusia. Peristiwa banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, dan sejenisnya telah berulang kali terjadi dan menjadi rekaman-rekaman peristiwa pilu yang terus menambah album dan arsip sejarah penderitaan akibat bencana. Bencana silih berganti terjadi, lembaran kisah pilu akibat bencana semakin menebal, tetapi sayangnya, ingatan kita yang teramat pendek membuat banyak di antara kita cepat lupa, semakin kebal dan bebal, sehingga tak lagi punya kemauan dan daya untuk melakukan refleksi, introspeksi, maupun aksi bersama untuk mencegah berulangnya bencana. Kerusakan lingkungan hidup akibat pembalakan hutan di Mandailing Natal beberapa tahun terakhir ini juga menyimpan potensi bencana yang sewaktu-waktu akan menggilas kehidupan kita. Apakah kita kembali mengikuti pola umum yang biasa berlaku, yaitu harus menunggu bencana itu datang dulu, baru berbuat sesuatu untuk mengatasinya ?
Adanya inisiatif Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal yang telah didukung oleh pemerintah pusat maupun organisasi-organisasi non-pemerintah untuk membentuk Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) di atas areal seluas 108.000 ha, bisa menjadi momentum bagi kita, khususnya orang-orang Mandailing, untuk kembali mengukir sejarah kepeloporan. Dukungan dari berbagai pihak, NGO dan lembaga donor internasional, untuk mewujudkan sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal, dilihat dari konteks budaya kita, sama sekali tak pantas jika tak disambut dan didukung pula. Kita selalu menjunjung budaya malu, yaitu malu kalau kita tak berpartisipasi (patarida bohi) dalam hal berbuat kebaikan dan kebajikan. TNBG adalah sebuah wujud kebajikan untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup, yang manfaatnya bukan saja untuk kita yang tinggal di daerah Mandailing Natal tetapi juga bagi kehidupan manusia sejagad. Karena itu, sesuai dengan budaya Mandailing dan ajaran agama Islam, kita pasti malu jika tak ikut mendukung sebuah usaha yang akan mencegah kita melakukan perusakan di muka bumi. Sepenggal cerita berjudul “Sada Alak Pulon Ta on Na Mabiar di Ahaila” (Seseorang Dari Pulau Kita ini Yang Takut Malu) dalam buku Sibulus-Bulus Sirumbuk-Rumbuk, kiranya menjadi cermin betapa kita harus malu kepada sesama jika kita tak mau menolong orang lain.
Bagaimana seharusnya kita (orang-orang Mandailing) merspon kehadiran TNBG ? Pertama, menurut hemat saya, respon yang harus kita berikan tiada lain adalah mendukung sepenuh hati dan kemampuan kita untuk mewujudkannya sehingga memberikan kemaslahatan dan manfaat bagi kehidupan. Kalau 150 tahun lalu Willem Iskander telah berjuang di bidang pendidikan untuk memberikan pencerahan bagi masyarakatnya, dan ia telah menoreh tinta emas di bidangnya; maka tiba giliran kita untuk menjadi pejuang penyelamat lingkungan di tengah-tengah arus derasnya kapitalisasi yang berwujud eksploitasi habis-habisan terhadap kekayaan alam di sekeliling kita bahkan di dunia. Kita masih beruntung karena masih memiliki sedikit lagi sisa hutan alam yang tersisa di Pulau Sumatera, dan karena itu masih punya kesempatan untuk menjaganya baik-baik dan mencegahnya dari kepunahan total sebagaimana yang sudah dialami daerah-daerah lain di Indonesia. Kita masih punya waktu untuk membiarkan anak cucu kita mengenal berbagai jenis burung seperti kak (rangkong) yang sudah hampir punah, sebelum semuanya hanya bisa kita saksikan sebagai sebuah produk animasi komputer seperti dinosaurus. Tetapi lebih dari itu, kita juga mempunyai peluang untuk menjaga agar sumber-sumber mata air bagi kehidupan kita tidak segera mati, yang apabila ia mati akan sekaligus mematikan peluang hidup bagi anak cucu kita. Sudah barang tentu kita tidak ingin tercatat dalam sejarah sebagai generasi yang rakus dan menghabiskan segala kekayaan alam yang ada sehingga tak tersisa sama sekali untuk bekal hidup generasi yang akan kita lahirkan; kecuali kita tidak berniat lagi untuk mengembang-biakkan atau meneruskan keturunan kita. Dengan kata lain, kita bertanggung jawab untuk menyisakan dan memberi ruang hidup bagi generasi-generasi mendatang yang akan menempati ruang hidup yang kita tempati dan “kuasai” sekarang.
Kedua, secara substantif, kehadiran TNBG sesungguhnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru bagi kita. Fungsi dan tujuan konservasi yang melekat dalam TNBG sudah menjadi bagian dari budaya kita di masa yang lalu, bahkan dalam konteks yang terbatas masih dipraktikkan oleh sebahagian dari masyarakat kita hingga sekarang dalam bentuk pengelolaan Lubuk Larangan. Kita mengenal istilah “rarangan” untuk menyebut apa yang sekarang sangat populer dengan istilah konservasi. Kita telah lama mengenal istilah “arangan rarangan” (hutan larangan), “lubuk rarangan” (lubuk larangan) dan lain sebagainya, yang oleh para pendahulu kita telah diatur sedemikian rupa dengan berbagai ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan adat. Ada ketentuan mengenai pemanfaatan kayu, perburuan binatang, pemanfaatan bahan tambang di dalam sungai, dan sebagainya dalam bentuk bungo ni padang, bungo ni hayu, bongo pasir, dll. Semua itu sudah pernah berlaku dan menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat kita di masa lampau. Oleh karena itu, TNBG hanyalah replikasi atau wujud revitalisasi dari konsep “rarangan” yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Mandailing.
Ketiga, kehadiran TNBG yang akan dikelola secara kolaboratif dengan melibatkan warga masyarakat dan berbagai pihak yang berkepentingan secara setara dan adil, juga memberi peluang besar bagi kita untuk mengasah dan menguatkan kembali solidaritas sosial yang dalam istilah populer sekarang ini disebut dengan modal sosial (social capital). Kemajuan dalam pembangunan dapat dicapai dengan baik tidak hanya sebatas pengelolaan modal material. Kajian-kajian mutakhir memperlihatkan bahwa kelanggengan sebuah program pembangunan hanya dimungkinkan apabila di dalamnya juga diinvestasikan apa yang disebut modal sosial. Modal sosial itu terwujud dalam kemampuan kita untuk membina hubungan saling percaya satu sama lain, kemampuan kita untuk mengembangkan partisipasi yang setara dan adil, dan kemampuan kita merajut pranata atau aturan-aturan main dan menegakkannya secara adil dan konsisten. Komunitas-komunitas desa yang mengelola Lubuk Larangan di daerah Mandailing Natal sejak awal 1980-an, khususnya dalam kasus-kasus desa yang bertahan lama, membuktikan ampuhnya pendayagunaan modal sosial dalam pengelolaan sumberdaya alam milik bersama.
Model pengelolaan lubuk larangan oleh desa-desa yang ada di sekitar aliran sungai, terutama aliran Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Natal, yang sudah berlangsung apik sejak 1980-an, menjadi contoh teladan untuk direplikasi dalam pengelolaan sumberdaya lain. Sistem pengelolaan lubuk larangan yang berintikan pendayagunaan modal sosial itu bisa menjadi rujukan bagi kita dalam mengelola TNBG. Kalau pengelolaan lubuk larangan masih bersifat parsial, dan eksklusif dalam suatu desa, maka TNBG memberikan peluang bagi kita untuk mengembangkan sistem pengelolaan berbasis modal sosial dalam lingkup komunitas yang lebih luas, yaitu melibatkan komunitas-komunitas desa di lingkungan taman nasional, yang mencakup kurang lebih 70 desa. Karena pada intinya pengelolaan sumber daya alam berbasis modal sosial seperti yang dipraktikkan melalui Lubuk Larangan adalah implementasi dari kehidupan kemasyarakatan yang madani (civic community), maka dengan mewujudkan mozaik kehidupan masyarakat madani dalam konteks pengelolaan TNBG akan sekaligus bermakna sebagai kontribusi kita dalam mewujudkan “Kabupaten Madina yang Madani” sebagaimana yang selama ini dijadikan slogan.
Alam Mandailing Dalam Catatan Willem Iskander

The Mandailing realm from Adian Bania, Wllem Iskander's corner of contemplation
Alam Mandailing dari Adian Bania, sudut renungan Willem Iskander
Foto Arbain Rambey
ALAM MANDAILING DALAM CATATAN WILLEM ISKANDER
Bagi kita yang pernah membaca buku Sibulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk karangan seorang tokoh pendidikan asal Mandailing dari abad ke-19, Willem Iskander (1840-1876), tak habis-habis kagum kita tentang kecintaan beliau terhadap “tanah air”-nya tano-rura Mandailing, yang tersurat indah dalam bait-bait puisinya. Simaklah salah satu puisinya yang berjudul MANDAILING yang mungkin ia tuliskan saat beristirahat di Adian Bania dalam perjalanan menuju Natal ketika akan berangkat studi ke Negeri Belanda pada 1857 : ” O Mandailing godang!/Tano inganan ku sorang/Na ni atir ni dolok na lampas/Na ni joling ni dolok na martimbus/Ipul na na laing bubus….Muda u tindo tingon Bania/U tatap ma aek ni Batanggadis/Mangelduk elduk dalan nia/Atir kamun jior mar baris”. (“O Mandailing Raya!/tanah tumpah darahku/yang diapit gunung yang tinggi/yang ditatap gunung berasap/asapnya mengepul terus! …Jika kupandang dari Bania/Kulihat air Batang Gadis/mengalir berliku-liku/Kiri kanan juar berbaris”.)
Dalam bait-bait berikutnya ia juga tak menyembunyikan kegalauan hatinya melihat “keterbelakangan” anak negerinya, namun begitu, ia tak akan menyia-nyiakan karena di sanalah pertama kali ia melihat matahari terbit. Ia mengucapkan selamat berpisah, entah berapa lama ia tak tahu, sembari berharap ketika bertemu kembali nanti anak negerinya tak lagi bodoh!.
Hampir 150 tahun yang lalu Willem Iskander telah mengingatkan kita tentang banyak hal, bagaimana mencintai negeri, bagaimana mencintai alam, mencintai Tuhan, mengasihi sesama, dan juga mendidik anak-anak untuk mencapai kemajuan. Ia juga tak sekedar memberi nasihat, melainkan bukti nyata dengan mendirikan sekolah guru di Tano Bato (1862). Apa yang ia lakukan satu setengah abad yang lalu telah memberikan sumbangan sangat besar bagi kemajuan orang Mandailing khususnya, sehingga sejarah telah mencatat generasi di bawahnya yang sudah terdidik banyak menjadi pionir dalam berbagai bidang kehidupan di negeri ini.
Kalau Willem Iskander telah sedemikian rupa menggambarkan kecintaannya kepada alam Mandailing yang ia lukiskan sangat indah, diapit bukit dan gunung, subur disiram aliran sungai, maka pada hari ini patutlah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, khususnya sebagai warga Mandailing, apakah lingkungan alam dimana kita hidup dan menggantungkan kehidupan masih indah dan memberikan jaminan kehidupan bagi kita dan bagi anak cucu kita kelak ? Tor Sihite, Tor Barerang, Dolok Sigantang, Dolok Malea, dan Bania, nama-nama yang pernah disebutkan Willem Iskander dalam puisinya semuanya masih tegak, sebagaimana Sorik Marapi masih mengepulkan asapnya dan Batang Gadis masih mengalirkan airnya. Tapi bagaimanakah nasib hutan, pohon-pohon, tumbuhan obat, hewan-hewan, dan segala bentuk kehidupan yang ada di lingkungan alam pada semua bukit dan gunung yang ada di di daerah Mandailing Natal ? Bagaimana kualitas dan debit air sungai yang mengalir di sungai-sungai dan anak-anak sungai kita, apakah masih mampu menyangga kehidupan yang layak di masa yang akan datang ? Kita bisa menjawabnya sendiri, dengan coba merefleksi dan membuat bandingan keadaan hutan-hutan dan sungai-sungai kita, berikut dengan segala macam isinya dalam 5, 10, 15, atau 20 tahun terakhir; apakah masih bertahan atau justru sebaliknya sedang menuju kehancuran ?. Seandainya Willem Iskander hidup kembali hari ini, dan menyaksikan alam sekelilingnya yang ia pernah saksikan 150 tahun lalu, mungkin ia akan menangis pilu! *** (Gading Muda)
Menghormati Leluhur

Cemetary at Hutana Godang, Upper Mandailing
Kuburan di Hutana Godang, Mandailing Julu.
Foto Abdur-Razzaq Lubis
Menghormati Leluhur
Leluhur dalam kajian Antropologi Budaya adalah identik dengan nenek moyang. Secara umum dapat dimaknai sebagai kerabat (kin) yang berada pada struktur garis keturunan di atas seseorang (ego) baik pada masyarakat dengan pola patrilineal maupun matrilineal. Namun dalam keseharian kita leluhur atau nenek moyang lebih dimaksudkan kepada orang-orang dari garis keturunan linier di atas ayah-ibunya, dan kesannya jauh sebelum dia bahkan mungkin tertuju kepada mereka yang telah meninggal.
Penelusuran terhadap mata rantai leluhur adalah seperti piramida yang semakin ke atas semakin mengerucut, karena setiap kelompok kekerabatan yang ada sekarang akan bertemu dalam satu garis keturunan dan begitu seterusnya hingga akan berakhir pada satu tokoh legenda personal yang diyakini sebagai asal usul mereka. Sedang figur tersebut bisa saja berasal dari dunia lain seperti titisan dewa.
Menarik garis keturunan ke atas (leluhur) menjadi sangat penting bagi setiap anggota kelompok untuk berbagai tujuan, antara lain menyusun kembali hubungan historis antara orang-orang dalam berspekulasi untuk menelusuri asal usul pranata sosial (Herskovits, 1952). Seorang yang mengetahui garis keturunannya akan mempunyai kepercayaan diri dalam keberlangsungan hidupnya dan meneruskan generasi berikutnya. Setiap manusia pada dasarnya adalah mempunyai asal-usul (We are not dropped into the world without history), namun sebagian tidak mengetahuinya, atau hanya pada tingkat tertentu saja.
ARWAH LELUHUR
Pada masyarakat tradisional kepercayaan terhadap leluhur merupakan bagian penting dari sistem kebudayaannya, bahkan karakter nenek moyang selalu dijadikan identitas hidup, senjata primordial untuk menentukan status dalam komunitasnya. Sebab figur-figur dari tokoh yang ada dalam silsilahnya diyakini mempunyai ciri khas tersendiri baik secara fisik dan spritual, mempunyai keahlian khusus dibanding clan lain. Misalnya dalam hal keberanian, keperkasaan, magic dll. Yang terpenting bahwa mitos tentang asal mula hadirnya nenek moyang ke dunia ini selalu punya kisah unik tersendiri.
Sebagai contoh Raja Batak dipercaya berasal dari banua ginjang yang turun ke dunia ini, tepatnya di Pusuk Buhit Pulau Samosir. Guru Patimpus (Tukang sikat dan dibungkus dengan kain, disandang di bahu) yang merupakan pendiri kota Medan adalah cucu Raja Sisingamangaraja I, putra dari Tuan Siraja Hita Sinambela yang mempunyai keahlian di bidang pengobatan, kekebalan, silat, mahir berbahasa orang lain (Malau, 2000). Keyakinan-keyakinan seperti itu tampaknya tidak hanya trade mark masyarakat tradisional. Dalam masyarakat modern sekalipun mitos itu masih tetap lestari, dituturkan di hadapan kita.
Yang menarik untuk diperhatikan baik pada masyarakat sederhana yang bersahaja atau kita masyarakat modern yang hidup dalam era globalisasi sekarang ialah, bahwa keunikan, karakter dan sifat leluhur itu terkadang dipercaya bisa turun berupa warisan spritual kemudian dapat dimiliki oleh orang-orang tertentu. Pelestarian melalui budaya oral atau tulisan mengenai watak nenek moyang itu membuat seolah mereka masih “hidup” di dunia ini. Setidaknya arwah leluhur itu masih mempengaruhi jiwa bahkan mempunyai peran dalam kehidupan kita. Sifat-sifat mereka dititiskan, pantangan (Taboo) mereka juga menjadi larangan untuk keturunannya. Misalnya hubungan marga Lontung yang “bersahabat’ dengan Harimau, sehingga apabila mereka berada di hutan tidak akan diganggu oleh binatang buas tersebut. Kisah ini berawal dari masa kecilnya bersama ibu, Boru Pareme yang ditemani Harimau karena ditinggal ayahnya, Sariburaja.
Karena itu hampir dapat dipastikan bahwa setiap kelompok etnik memiliki pranata tersendiri tentang siklus hidup yang dilalui manusia, salah satu bagiannya adalah mengenai leluhur yang tercakup dalam upacara kematian, penguburan, dan penghormatan selanjutnya terhadap arwah kerabat atau nenek moyang. Menghormati leluhur adalah sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang. Hanya saja bentuknya berbeda-beda sesuai dengan kultur, geografis, mata pencaharian dan sistem religi yang mereka anut.
UPACARA KEMATIAN
Sebagai ilustrasi kita dapat melihat bagaimana etnik Batak Toba dalam menghormati leluhurnya sejak prosesi kematian hingga pasca penguburan. Dan sebagai komparasinya adalah varian terdekatnya yaitu Mandailing. Kematian adalah gerbang menuju alam spritual yang akan dilalui manusia. Sebelum kedatangan agama, lepasnya roh dari badan tersebut menurut keyakinan mereka disebabkan oleh dewa / Mula Jadi Nabolon yaitu sumber segala kekuatan dan kuasa pencipta langit dan bumi, atau karena kekuasaan begu/hantu yang banyak mengitari manusia. Untuk menghindari atau meredamnya cara pengobatan penyakit atau prosesi kematian biasanya dilakukan dengan berbagai upacara sesuai dengan klasifikasi orang yang meninggal.
Pada masyarakat Toba dikenal 8 tingkat kematian. Dari yang terendah: Pertama, Mate Tarposo (Mati dalam kandungan atau saat masih bayi). Kedua, Mate Poso (Mati kanak-kanak dan sebelum kawin). Ketiga, Mate Pupur (Mati tua tanpa pernah kawin). Keempat, Mate Punu (Mati sesudah kawin, tidak punya anak). Kelima, Mate Mangkar (Mati setelah ada anak yang kawin, tetapi belum punya cucu). Keenam, Mate Sarimatua (Mati sudah punya cucu, tetapi masih ada anaknya yang belum kawin). Ketujuh, Mate Saurmatua (Mati setelah semua anak kawin dan mempunyai cucu). Kedelapan, Mate Mauli Bulung (Mati setelah cucunya sudah punya cucu lagi dan status sosialnya baik serta tak ada seorang pun dari keturunannya meninggal mendahuluinya). Mulai dari Mate Tarposo hingga Mate Punu dapat dikatakan tidak dilakukan acara adat yang berarti, karena hal itu dianggap belum lengkap kehidupan seseorang. Acara adat dilakukan dan akan semakin besar serta memakan waktu lama dimulai dari jenis Mate Mangkar hingga kepada Mate Mauli Bulung.
Prosesi yang masih dapat disaksikan hingga saat ini ialah Pertama : Upacara kematian; setiap anggota kerabat yang meninggal sangat dihormati apalagi setelah berada di posisi Sarimatua, Saumatua dan Mauli Bulung. Pada tahap ini melepas mayat dilakukan dengan pesta besar, berhari-hari, lantunan musik dan lagu-lagu gembira, karena hidupnya telah dianggap sempurna. Secara umum mereka meyakini orang yang berpindah dari alam dunia menuju alam arwah, mesti dilepas dengan penuh kasih sebagai ungkapan penghormatan terakhir. Diantarkan dengan berbagai ritus dan kompenen adat Dalihan Na Tolu (Hula-hula, Dongan Tubu, Boru) bahkan sihal-sihal maupun aparat pemerintah setempat.
Dengan demikian kematian walaupun merupakan hal yang menyedihkan namun tidak semuanya menjadi duka. Lain halnya dengan Batak Angkola, Mandailing yang menganggap bahwa setiap kematian adalah duka mendalam (Siluluton). Tradisi yang berlaku dalam prosesi kematian dan pelepasan jenazah telah didominasi upacara keagamaan ketimbang adat, mayat hanya disemayamkan paling lama 1 hari setelah wafat, selanjutnya harus dikebumikan. Mereka tidak memandang tingkatan kematian, melainkan kehadiran anggota keluarga.
Kedua, penghormatan terhadap seorang leluhur yang berada di alam baka dapat kita lihat melalui bentuk kuburan yang ada. Bagi orang Batak Toba, kuburan terdiri dari tiga jenis yaitu 1. Kuburan umum tempat pemakaman satu kampung (Huta). 2. Tambak berupa tanah yang ditinggikan di atas kuburan seorang yang mati dalam peringkat Sarimatua/Saurmatua. Tanah yang ditinggikan tersebut terdapat rumput manis, diletakkan secara terbalik, bertingkat tiga, lima, tujuh (Simanjuntak, 2000). Di atas tanah yang ditinggikan itu ditanam pohon Hariara/Beringin atau Bintatar sebagai pertanda. Dengan berbagai variasi yang berkembang kemudian, Tambak digunakan sebagai kuburan/pusara bagi keluarga atau marga dan biasanya dibangun di kampung asal. 3. Tugu sebagai monumen, pembangunannya berkembang secara besar-besaran setelah Tugu Raja Sisingamangaraja XII dibuat. Tugu biasanya dibangun untuk persatuan marga di bona pasogit (kampung asal) dan di dalamnya terdapat tulang belulang leluhur.
MISI BUDAYA
Mungkin bagi sebagian orang yang melewati daerah Toba (Tobasa, Taput, Humbang Hasundutan, Dairi dan daerah lainnya) akan bertanya setidaknya dalam hati, kenapa di daerah ini banyak dijumpai tugu? Kemudian dibangun dengan megah dan aneka ragam ornamen? Tambak atau tugu adalah penuh dengan simbol dan pesan yang sudah berakar dari tradisi nenek moyangnya. Menurut Geertz (1973) merumuskan kebudayaan sebagai sistem nilai dalam bentuk simbol yang diwariskan secara historis, yang dinyatakan dalam bentuk perlambang, lewat mana manusia berkomunikasi, meneruskan dan mengembangkan pengetahuan tentang sikap atas kehidupan. Membuat simbol adalah ciri manusia yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan.
Melalui simbol tersebut seorang individu dapat berkomunikasi dengan yang lain (Baal, 1976)Masyarakat Toba percaya bahwa tingkat perawatan dilakukan keturunan terhadap kerabat yang sudah meninggal sangat mempengaruhi keadaan rohnya di alam selanjutnya. Disamping itu memelihara peninggalannya akan memperoleh Sahala (kekuatan) yang diyakini mampu diberikan orang yang telah tiada kepada orang yang masih hidup, apalagi Sahala dari orang yang berada di posisi Sarimatua/Saurmatua. Karena itu pembangunan Tambak atau tugu dimaksudkan untuk mengagungkan nenek moyang agar arwahnya senang. Walaupun Agama Kristen telah dominan di daerah ini namun kelihatannya tidak mampu meretas kuatnya tradisi yang berasal dari masa megalit ini. Bahkan pembangunan tugu sekarang malah disesuaikan dengan perkembangan gaya arsitektur, menampilkan benda-benda yang dimiliki Sang Leluhur di samping patung yang dibuat.
Pembangunan sebuah Tambak dan tugu dipenuhi tatacara sesuai aturan kosmologi mereka. Misalnya membuat Tugu harus dengan suatu pesta adat - sesuai nilai-nilai Dalihan Na Tolu - yang harus dihadiri seluruh Pomparan (keturunan) mempunyai aturan dalam memasukkan dan meletakkan tulang belulang ke dalam tugu. Selanjutnya posisi tugu juga harus diatur sedemikian rupa. Misalnya dibangun di tempat tinggi, menghadap jalan raya, menghadap Matahari terbit, dll. Sistem ini disamping untuk manfaat religius juga berdampak bagi kerabat yang masih hidup. Sesuai misi budaya Batak yaitu Hamoraon, Hagabeon, Hasangapan (kekayaan, keturunan, kehormatan), maka Tambak dan Tugu adalah simbol status sosial dalam mencapai tujuan bersama. Semakin megah sebuah tugu berarti juga pomparannya adalah orang yang sukses, kaya dan terhormat.
Sedemikian pentingnya misi budaya tersebut terlihat dari kenyataan bahwa mayoritas migran Batak Toba yang meninggal di perantauan akan dibawa dan dikebumikan di bona pasogit.
Lain halnya masyarakat Angkola Mandailing, meski masih berpegang pada sistem adat Dalihan Na Tolu, juga mempunyai misi budaya Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon, namun terkait dengan perawatan terhadap “leluhur” sepertinya kontradiktif dengan Toba, sebab telah bermetamorfosa akibat pengaruh Islam sebagai agama dominan di daerah ini. Pelepasan jenazah seperti yang disebutkan di atas telah mengalami proses penyederhanaan. Kendati kuburan keluarga masih bisa dijumpai, namun pemaikaian istilah Tambak apalagi Tugu hampir tidak dijumpai lagi, dan bagaimanapun bentuknya, tempat pemakaman itu tetap menggunakan istilah kuburan/pusara.
Hal lain yang bisa dilihat adalah adanya perubahan dalam memelihara hubungan dengan orang yang meninggal. Mereka tetap percaya bahwa nenek moyang mempunyai sahala dan bisa digapai mereka yang masih hidup dengan cara menghormatinya. Hanya saja bentuknya tidak membangun tugu, tetapi melalui kiriman doa dari tempatnya berdomisili, membersihkan, merenovasi kuburan, sering berziarah atau bernazar bahkan melakukan “ritus” tertentu di atasnya.
Oleh : Mukti Ali Harahap MSi
Sumber : Harian SIB
Mompang Julu, Panyabungan Utara, Mandailing Natal
Letak Geografis
Mompang julu terletak di kaki pegunungan bukit barisan, sehingga struktur tanahnya tidak sepenuhnya datar, tetapi bergelombang dan berbukit-bukit. Jika dilihat dari model dasarnya, seluruh kampung ini dan persawahannya berada pada sudut miring ± 10-40 , dengan medan dan perbukitan yang terjal hingga hampir 80 , bisa dipastikan bahwa mata air amat banyak di desa ini, terutama di rura (lembah) bukit-bukitnya.
Dengan luas ± 10 km , sebagian besar di dominasi oleh lahan perkebunan karet (35%), perkampungan (20%), persawahan dan ladang (30%) dan sisanya adalah hutan dan semak belukar yang terutama di bukit-bukit Barisan. Walau secara geografis terletak di dekat garis khatulistiwa (01 LU), musim hujannya adalah dari bulan Oktober-Maret dan kemarau di bulan April-September, namun seiring dengan pemanasan global sekarang ini, perubahan musim jadi tidak menentu. Pada 1998, kemarau yang hebat di hampir seluruh Sumatera khususnya di Mompang Julu menyebabkan debit air sungai Siala Payung tidak sampai ke sebagian besar sawah, dan karena tiadanya air tersebut, sawah-sawah menjadi kering, hingga penduduk mengubahnya menjadi kebun karet, hingga sekarang hampir semua sawah di dolok (utara) kampung ini telah menjadi karet, terutama karena harganya yang relatif tinggi.
Desa Mompang Julu berbatasan dengan :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Bukit Barisan (Dolok Malea)
- Sebelah Timur berbatasan dengan Sarak Matua
- Sebelah Selatan/Barat Daya berbatasan dengan persawahan desa Gn.Barani/Rumbio
- Sebelah Barat/Barat Laut berbatasan dengan Mompang Jae
Kehidupan sehari-hari
Mata pencaharian penduduk masyarakat Mompang Julu sebagian besar adalah Petani/usaha pertahian (75%), perekonomian (10%), jasa dan lain-lain (10%). Dengan mayoritas petani, karet meruopakan tanaman yang sangat penting, bahkan pada sebagian warga, karet adalah satu-satunya sumber penghasilan. Dengan harga relatif tinggi (Rp. 6.000,-), seharusnya kehidupan masyarakatnya pastilah bagus, atau setidak tidaknya diatas garis kemiskinan, tapi lihat saja waktu adanya pembagian dana BLT dari dana kompensasi kenaikan BBM, karena dirasa tidak adil, ada anggota masyarakat yang berkelahi atau hampir-hampir berkelahi. Kenapa hal ini terjadi ?
Hal itulah yang menyebabkan banyaknya para pemudanya yang memilih merantau seperti ke Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa bahkan ke Bali, Kalimantan dan Sulawesi, sedang kan dari segi pendidikan, rata-rata yang tamat / tidak tamat SD ± 45%, SMP ± 25%, SMA ± 15% dan Sarjana/Akademi kurang dari 5%. Setelah tamat SD, banyak anak-anak yang melanjutkan ke SLTP atau ke Pesantren atau tidak melanjutkan sama sekali, namun kebanyakan putus ditengah jalan, terutama anak laki-laki di pesantren. Memang dapat dilihat minat masyarakat untuk melanjutkan study anak-anaknya sangat kuran, bahkan bagi yang mamapu sekalipun. Merekan lebih suka anaknya dekat dengan mereka daripada belajar jauh-jauh seperti di Medan, Pekanbaru dan Padang. “Sekolahpun kalau mau nyari kerja tetap nyogok-nya” itulah ungkapan yang sering mereka lontarkan.
Beberapa orang dari mereka yang merantau diberbagai daerah, bahkan luar negeri banyak yang telah berhasil, atau setidak-tidaknya kehidupannya dirasakan lebih baik dari di Mompang Julu. Tapi banyak juga mereka terutama yang telah berhasil lupoa dengan kampung halamannya. Entah karena tidak mengenal kata “balas Budi” atau tidak peduli sama sekali untuk membangun kampungnya setidaknya membantu orang yang mau merantau ketempatnya.
Para perantau yang tidak lupa kampungnya, terutama keluaraganya, sering mengirimkan sejumlah uang sehingga sedikit banyak telah meningkatkan taraf hiduop masyarakat. Kehidupan sosialnya amatlah peka, dengan adanya ketimpangan ekonomi/sosial di sana sia, sering menimbulkan permusuhan diam (api dalam sekap) yang siap-siap kapan saja meledak bak bom waktu. Maka tak heran, bila tetanggan kita yang dua hari lalu makan dirumah kita hari ini bisa datang marah-marah bagai orang kesurupan.
Arus informasi yang mengalir deras dan tak mengenal sisi positif atau negatif (walau sebagian besar hanya efek negatif), baik dari TV/VCD terutama dari Parabola Digital, turut mengimbas kehidupan muda-mudinya. Dolu orang mengenal istilah pacaras hanya lewat markusip, tahukah anda markusip itu apa? Tanyakanlah kepada orang-orang tua anda. Sekarang walau mungkin istilah pergaulan bebas belum tepat dikenakan, tapi arah-arah kesana pastilah ada. Cobalah kalau anda jalan-jalan pada malam hari dan terutama di waktu sekolah Pesantren libur atau Fatayatnya banyak yang pulang (kami tidak bermaksud mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah anak pesantren), dan diantara jam 20.30 sampai 22.00, lihatlah di parik-parik (halaman belakang) rumah tertentu yang gelap atau agak gelap, kemungkinan anda melihat orang yang pacaran adalah 3:1. bisa ditebak apa pekerjaan orang yang bukan muhrim berduaan ditempat seperti itu. Walau secara umum kehidupan masyarakatnya religius (100 % Islam), tapi hal seperti ini tidak banyak mendapat perhatian, karena terutama wanitanya banya juga yang berlatar belakang pendidikan agama. Mungkin jika suatu saat anda disini dan ingin memperbaikinya, pastilah anda dibilang orang kurang kerjaan. Tapi didiamkan saja akan makin menyemakkan hati, karena kitapun kena dosanya. Memang kalau kita lihat semua ini, pastilah kita ingi pergi dari kampung ini, namun jika kita semua pergi, siapa lagi yang akan memperbaikinya ?
Sejarah
Sejarah awal Mompang Julu tidak diketahui dengan pasti. Pada salah satu buku “Turi-turian ni raja Gorga di langit” disebutkan bahwa pada tahun 1600-an di Mompang Julu telah lama berdiri sebuah kerajaan dan mungkin bukan bermarga Nasution seperti yang ada sekarang. Ketika terjadi perselisihan antara kerajaan Panyabungan Tonga dengan Lumban Kuayan, pihak Mompang membantu Lumban Kuayan. Kerajaan di sini adalah berupa suatu kampung dan daerah sekitarnya yang dipimpin oleh seorang raja (kepala desa sekarang). Raja ini dianggap sakti dan mempunyai pengaruh yang kuat di masyarakatnya dan merupakan hak turun-temurun. Karena hal itu, kerajaan Mompang diserang oleh Panyabungan Tonga, namun dapat ditangkis oleh Mompang terutama berkat kecakapan Hulubalangnya yang bernama Huting Jalang. Setelah itu pihak Panyabungan Tonga menawarkan perdamaian yang merupakan suatu muslihat untuk menaklukkan Mompang. Ketika perundingan berlangsung, pasukan dan rakyat Panyabungan Tonga sudah bersuap-siap di tepi Aek Siala Payung. Ketika bungkusan daun makanan penghulu Panyabungan Tingan hanyunt melewati pasukannya di tepi Aek Siala Payugn yang merupakan isyarat bahwa perundingan telah gagal, dengan segera rakyat dan pasukan PanyabunganTongan meyerbu Mompag. Seluruh penduduk yang ditemui dibunuh dan kampung itu dibakar. Hanya seorang putri raja yag berhasil melarikan diri dengan pengiringnya yang setia ke Dalu-Dalu. Dengan kemenangan ini, Mompang menjadi wilayah Kerajaan Panyaungan Tonga. Keturungan raja-raja di Mompang masih satu darah degan raja-raja di Panyabungan Tonga-Huta Siantar-Manyabar-Pidoli. Kata Mompang juga tidak jelas asal-muasalnya. Mungkin berasal dari kata mangompang (tanggul-tanggul penahan air) dan juga tidak diketahui persis sejak kapan kata itu dipakai. Kamung Mompang ada 2, yaitu Mompang Julu dan Mompang Jae. Dulu kampung ini satu, kemudian oleh raja Mompag di bagi 2 untuk putranya. Yang kita bicarakan disini adalah Mompang Julu. Kampung yang dulunya tempatnya bukan di perkampungan sekarang, tetapi di Saba Dolik/Saba Alasona di utara desa yang sekarang dengan nama Huta Lobu. Peninggalannya yang masih dapat dilihat sampai sekarang adalah komplek makam-makam kuno yang pernah beberapa diantaranya dibongkar orang untuk mengambil barang-barang berharga yang dikubur bersama mayat. Kepercayaan penduduknya waktu itu masih bersifat animisme/dinamisme. Walaupung agama Islam telah sampai di Sumatera (khususnya Barus dan Aceh) pada awal abad ke-10, agama ini baru sampai ke Mandailing khususnya Mompang Julu pada tahun 1820-an ketika berlangsungnya penyerbuan kaum Paderi dari Sumatera Tengah/Barat pimpinan Tuanku Tambusai. Penduduk yang ketakutan banyak yang melarikan diri ke hutan-hutan di sekitar kampung itu, karena konon kamu Paderi menangkapi wanita-wanitanya untuk dijual sebagai budak. Tempat pelarian itu sampai sekarang masih ada seperti Sianggunan (tempat mengayun anak), Tor Kubur dan lain-lain. Lama-kelamaan penduduk yang melarikan diri itu banyak yang balik lagi ke kampung dan mengubah kepercayaannya dengan sukarela. Memang tentang sejarah penyerbuang kaum Paderi ini sangat sedikit sekali diketahui (hanya dari mulut ke mulut). Tidak diketahui mengapa akhirnya Huta Lobu dipindahkan ke komplek Polres Madina sekarang dan berganti nama menjadi Mompag Julu dan kapan pula berlangsungnya tidak diketahui. Kehidupan masyarakatnya mungkin dari bercocok tanam, beternak dan mengambil hasil hutan. Walaupun Belanda masa itu menguasai Indonesia khususnya di Mandailing, namun pengaruhnya di Mompang Julu dan Mandailing Umumnya tidak begitu terasa seperti di pulau Jawa dengan adanya Tanam Paksa dan Kerja Paksa. Di jaman Jepang, kehidupan baru terasa sangat sulit dengan terpaksa mengenakan pakaian dari kulit kayu dan goni. Pada tahun 1937, banjir bandang melanda Mompang Julu, hingga memaksa penduduknya mengngs dan pindah ke tempat kampung yang ada sekarang. Mereka tidak balik lagi ketempat semula mungki karen takut banjir sisilan sewaktu-waktu akan datang lagi.
Objek Wisata
a. Bendungan Air
Tempat ini mungkin merupakan tempat paling populer dan paling banyak di kunjungi, terutama pada hari-hari liburan/menjelang liburan. Tempatnya berada di dekat kebun karet H. Atas (dahulu milik H. Abdurrahman/Kolol) di saba julu/saba bendungan. Selain tempatnya yang relatif mudah dicapai, baik dari Mompang maupun Aek Horsik. Ditempat ini kita bisa menikmati pemandangan yang bagus dengan latar belakang panorama Bukit Barisan, kebun karet, hamparan persawahan dan lekukan sungai Siala Payung sendiri. Selain itu kita tentunya dapat mandi-mandi sepuasnya dan bagi yang ingin ke sana sambil makan-makan (tentunya intu harus) tempat ini menyediakan tempat-tempat strategis, seperti di dekat puntu masuk/ngangga pertama ke bendungan itu tepatnya di bawah pohon karet, atau di bendungan itu sendiri, kayu bakarnya tinggal di amabidl rangting/dahan karet yang tyelah masak di dekat bendungan itu.
Tapi sayangnya, tempat ini nyaris tanpa terawatan. Sejak dibangun tahun 1990 dengan dana kira-kira 1 milyar, tempat ini seolah ditinggalkan begitusaja, shingga sekarang ditumbuhi semak-semak belukar yagn cukup lebat yang kadang menutupi bendungan itu sendiri. Lagi purla banyak masyarakat menganggap bendungan ini tidak efektif alias mubazir karena saluran airnya banyak yang tidak tepat sasaran. Tapi mudah-mudahan anda tidak kecewa saat berkunjung kesana, karena dibalik lebatnya semak-semak yang menutupinya, anda masih akan menemukan sepotong keindahannya.
2. Sampuran (Air Terjun)
Pada dasarnya, sampuran sangat banyak di Mompang Julu, yaitu di sepanjang aliran sungai Aek Siala Payung, hal ini dimungkinkan karena jalur sungai ini dari mata airnya di Dolok Malea yang tinggi, hingga alurnya harus melewati tempat-tempat yang kadang-kadang sangat curam, dan disinilah air terjun itu terbentuk. Diantara sekian banyak sampuran itu, yang paling terkenal adalah Sampuran na Donok (Air terjun yang dekat) dan Sampuran na Dao (Air terjun yang jauh), konon masih ada lagi sampuran yang tingginya ± 100 m di kaki Dolok Malean namun hal ini belum banyak diketahui orang, sehingga disini tidak dipublikasikan.
- Sampuran na Donok
Air terjun ini terletak di sebelah utara (dolok) Mompang Julu, yaitu di dekat Saba Opong/Saba Dolok. Tempat ini sangat indah dengan aliran sungai Siala Payung nan jernih diantara bebatuan sungai berwarna-warni dan berbagtai ukuran. Kita tetunya dapat mandi sepuasnya di tempat ini, terutama di air terjunnya yang pertama dengan tinggi ± 2 m, walaupun pendek namun derasnya aliran ait ditambah lekukan dua batu besar yang habis dikikis air, membuatnya (membentuk tembat bak kolam .
Tak jauh dari tempat ini nampaklah sampurannya (Sampuran pertama kadang disebut orang bukan sampuran). Sampuran ini sebenarnya tidak seperti air terjun pada umumnya karena sampuran ini terbentuk oleh apitan 2 batu besar, dan di celah antara keduanya, mengalirlah air sungai ini. Pernah pada bulan September 2004, celah antara kedua batuan itu dihalangi kayu besar yang hanyut dari hulu karena hujan deras, sehingga airnya meluap memanjang hingga lebarnya hampir 3 meter dan menimbukkan pemandangan yang indah. Dengan dikelilingi bermacam-macam pepihinan nan rindang diantara pepohonan kebun karet, suasanyanya tampak begitu indah dan alami.
Walaupun agak jauh dari kampung, namun sampuran ini dapat dicapai dengan jalan kaki selama ± ½ jam, dan tentunya bagi anda yang akan kesana pasti sambil makan-jmakan, yang mungkin telah disiapkan dari rumah, namun jika anda ingin masak rame-rame disana (dan tentunya lebih mengasyikkan), jangan lupa siapkan dengan lengkap dan bawa minyak tanah, karena kading ranting pohon atau karet yang kita ambil agak lembab, sehingga perlu pemancing api, dan kami ingatkan anda untuk tidak berteriak-teriak atau ketawa terlalu keras, karena sebagian orang percaya termpat ini dan sampuran-sampuran lainnya ada penunggunya, tapi hal ini hendaknya tidak mengurangi keceriaan anda di sana. Kalau sekiranya tempat in dikelola dengan baik dan professional, tentunya orang akan punya pilihan tidak hanya dengan Pintu Air Salambue yang terkenal itu, dan jangan lupa bawa kamera anda untuk foto-foto moment-moment anda yang pastinya indah dna menyenangkan bareng kawan-kawan anda.
- Sampuran na Dao
Tempatnya berada di Dolok Malea berjarak sekitar 4 km dari Mompang Julu. Jika Anda menyukai lintas alam, tempat ini pasti akan menantang anda. Jika disampuran na Donok anda hanya menjumpai 1 sampuran saja dan ituopun pendek, maka ditempoat ini anda akan menemukan banyak air terjun yang sangt indah. Jika ingin kesana sebaiknya anda lakukan sambil camping (bermalam), karena jika anda datang langsung menuju sampurannya, anda pasti akan sangat kelelahan, selain karena medan menuju tempat itu hampir terus-menerus menanjak hingga ± 80 , dan kadang hingga menurun hingga ± 70 , anda juga harus menyusuri sungai dengan berjalan kaki selama hampir ½ jam dan mau tidak mau anda harus melakukannya, karena jalan satu-satunya mungkin hanya dari situ. Sedangkan jika anda mencoba melawan arus dengandatang dari Sampuran na Donok, anda mungkin tidak akan berhasil, karena jalur sungai ini kadang-kadang harus melewati tebing hingga 10 m.
Saat camping, anda bisa bermalam di sopo-sopo (gubuk) yang berada di atas tebing sungai. Anda bisa minta izin untuk menginap di salah satu gubuk yang banyak di situ (sekitar 4 gubuk) pada orang-orang yang menjaga kebun. Salah satu gubuk yang tempatnya sangat bagus adalah yang terdapat di lembah tepi sungai Siala Payung. Dari sini, kita bisa melihat indahnya alam dengan kehijauan rimbunan pepohonan hutan yang masih asli diselingi gemericik derasnya air sungai nan jernih dengan hawa sejuk dan berlatar puncak-puncak Bukit Barisan (Dolok Malea). Kami sarankan anda membawa perlengakapan dan bekal yang cukup, karena setelah sampai di sana, anda mungkin tidak akan berpikir 2 kali untuk mengambilnya balik ke kampung jika ada yang tertinggal.
Saat malam, anda bisa membuat api unggun sebagai penerangan dan pertanda sopo tempat anda menginap ada orang. Selain itu anda harus memasak untuk makan malam. Masakan anda bawa bisa indomie atau ikan kering plus tempe/kentang. Persediaan beras yang anda bawa harus cukup untuk 3 kali makan. Malam yang dingin akan membuat anda menyesal kalau tidak membawa selimut, karena hawa dinginnya Dolok Malea mungkin hampir sama dengan Brastagi di waktu pagi.
Paginya setelah memasak, anda bisa langsung menyusuri sungai untuk menuju sampuran. Waktu menyusuri sungai anda akan menemukan berbagai sampuran baik yang pendek maupun tinggi yang mengharuskan anda melompat karena jalan lain tidak ada lagi. Setelah berjalan kaki selama hampir ½ jam, anda akan sampai di pertemuan cabang sungai Siala Payung dengan anak sungai itu, di pertemuan dua sungai ini, anda akan melihat Sampuran tiga tingkat dengan panjang total ± 25 m.
Indahnya sampuran ini mungkin setidak-tidaknya bisa membuat orang berpikir dua kali untuk pergi ke Aek Sijorni kalau saja jalan kesana dibuat. Tempat ini memang belum banyak dikunjungi orang dan kalau dikelola dengan baik, tempat ini pasti akan mendatangkan hasil yang banyak.
Pulangnya anda harus menyusuri sungai kembali, sebelum sampai di sampuran na Donok, anda punya pilihan jalan lain, yaitu naik ke kebun H. Atas dan lewat darat sampai ke bendungan, atau jika tidak anda lanjutkan saja terus sampai saba Opong lewat sampuran nadonok. Nah sekarang, tertarikkah anda mengunjungi tempat nan indah ini ?
- Sungai Siala Payung
Hampir seluruh aliran sungai ini merupakan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi buat rekreasi. Misalnya di sungai di daerah Saba Dolok dan Bendungan. Ini tergantung anda memilih tempatnya, dan pasti semuanya bebas pungutan alias gratis, karena seluruh tempat wisata di Mompang Julu untuk umum.
Terima kasih kepada Asharuddin Nasution, pendiri laman web/situs mompang.julu.com
Mompang julu terletak di kaki pegunungan bukit barisan, sehingga struktur tanahnya tidak sepenuhnya datar, tetapi bergelombang dan berbukit-bukit. Jika dilihat dari model dasarnya, seluruh kampung ini dan persawahannya berada pada sudut miring ± 10-40 , dengan medan dan perbukitan yang terjal hingga hampir 80 , bisa dipastikan bahwa mata air amat banyak di desa ini, terutama di rura (lembah) bukit-bukitnya.
Dengan luas ± 10 km , sebagian besar di dominasi oleh lahan perkebunan karet (35%), perkampungan (20%), persawahan dan ladang (30%) dan sisanya adalah hutan dan semak belukar yang terutama di bukit-bukit Barisan. Walau secara geografis terletak di dekat garis khatulistiwa (01 LU), musim hujannya adalah dari bulan Oktober-Maret dan kemarau di bulan April-September, namun seiring dengan pemanasan global sekarang ini, perubahan musim jadi tidak menentu. Pada 1998, kemarau yang hebat di hampir seluruh Sumatera khususnya di Mompang Julu menyebabkan debit air sungai Siala Payung tidak sampai ke sebagian besar sawah, dan karena tiadanya air tersebut, sawah-sawah menjadi kering, hingga penduduk mengubahnya menjadi kebun karet, hingga sekarang hampir semua sawah di dolok (utara) kampung ini telah menjadi karet, terutama karena harganya yang relatif tinggi.
Desa Mompang Julu berbatasan dengan :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Bukit Barisan (Dolok Malea)
- Sebelah Timur berbatasan dengan Sarak Matua
- Sebelah Selatan/Barat Daya berbatasan dengan persawahan desa Gn.Barani/Rumbio
- Sebelah Barat/Barat Laut berbatasan dengan Mompang Jae
Kehidupan sehari-hari
Mata pencaharian penduduk masyarakat Mompang Julu sebagian besar adalah Petani/usaha pertahian (75%), perekonomian (10%), jasa dan lain-lain (10%). Dengan mayoritas petani, karet meruopakan tanaman yang sangat penting, bahkan pada sebagian warga, karet adalah satu-satunya sumber penghasilan. Dengan harga relatif tinggi (Rp. 6.000,-), seharusnya kehidupan masyarakatnya pastilah bagus, atau setidak tidaknya diatas garis kemiskinan, tapi lihat saja waktu adanya pembagian dana BLT dari dana kompensasi kenaikan BBM, karena dirasa tidak adil, ada anggota masyarakat yang berkelahi atau hampir-hampir berkelahi. Kenapa hal ini terjadi ?
Hal itulah yang menyebabkan banyaknya para pemudanya yang memilih merantau seperti ke Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa bahkan ke Bali, Kalimantan dan Sulawesi, sedang kan dari segi pendidikan, rata-rata yang tamat / tidak tamat SD ± 45%, SMP ± 25%, SMA ± 15% dan Sarjana/Akademi kurang dari 5%. Setelah tamat SD, banyak anak-anak yang melanjutkan ke SLTP atau ke Pesantren atau tidak melanjutkan sama sekali, namun kebanyakan putus ditengah jalan, terutama anak laki-laki di pesantren. Memang dapat dilihat minat masyarakat untuk melanjutkan study anak-anaknya sangat kuran, bahkan bagi yang mamapu sekalipun. Merekan lebih suka anaknya dekat dengan mereka daripada belajar jauh-jauh seperti di Medan, Pekanbaru dan Padang. “Sekolahpun kalau mau nyari kerja tetap nyogok-nya” itulah ungkapan yang sering mereka lontarkan.
Beberapa orang dari mereka yang merantau diberbagai daerah, bahkan luar negeri banyak yang telah berhasil, atau setidak-tidaknya kehidupannya dirasakan lebih baik dari di Mompang Julu. Tapi banyak juga mereka terutama yang telah berhasil lupoa dengan kampung halamannya. Entah karena tidak mengenal kata “balas Budi” atau tidak peduli sama sekali untuk membangun kampungnya setidaknya membantu orang yang mau merantau ketempatnya.
Para perantau yang tidak lupa kampungnya, terutama keluaraganya, sering mengirimkan sejumlah uang sehingga sedikit banyak telah meningkatkan taraf hiduop masyarakat. Kehidupan sosialnya amatlah peka, dengan adanya ketimpangan ekonomi/sosial di sana sia, sering menimbulkan permusuhan diam (api dalam sekap) yang siap-siap kapan saja meledak bak bom waktu. Maka tak heran, bila tetanggan kita yang dua hari lalu makan dirumah kita hari ini bisa datang marah-marah bagai orang kesurupan.
Arus informasi yang mengalir deras dan tak mengenal sisi positif atau negatif (walau sebagian besar hanya efek negatif), baik dari TV/VCD terutama dari Parabola Digital, turut mengimbas kehidupan muda-mudinya. Dolu orang mengenal istilah pacaras hanya lewat markusip, tahukah anda markusip itu apa? Tanyakanlah kepada orang-orang tua anda. Sekarang walau mungkin istilah pergaulan bebas belum tepat dikenakan, tapi arah-arah kesana pastilah ada. Cobalah kalau anda jalan-jalan pada malam hari dan terutama di waktu sekolah Pesantren libur atau Fatayatnya banyak yang pulang (kami tidak bermaksud mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah anak pesantren), dan diantara jam 20.30 sampai 22.00, lihatlah di parik-parik (halaman belakang) rumah tertentu yang gelap atau agak gelap, kemungkinan anda melihat orang yang pacaran adalah 3:1. bisa ditebak apa pekerjaan orang yang bukan muhrim berduaan ditempat seperti itu. Walau secara umum kehidupan masyarakatnya religius (100 % Islam), tapi hal seperti ini tidak banyak mendapat perhatian, karena terutama wanitanya banya juga yang berlatar belakang pendidikan agama. Mungkin jika suatu saat anda disini dan ingin memperbaikinya, pastilah anda dibilang orang kurang kerjaan. Tapi didiamkan saja akan makin menyemakkan hati, karena kitapun kena dosanya. Memang kalau kita lihat semua ini, pastilah kita ingi pergi dari kampung ini, namun jika kita semua pergi, siapa lagi yang akan memperbaikinya ?
Sejarah
Sejarah awal Mompang Julu tidak diketahui dengan pasti. Pada salah satu buku “Turi-turian ni raja Gorga di langit” disebutkan bahwa pada tahun 1600-an di Mompang Julu telah lama berdiri sebuah kerajaan dan mungkin bukan bermarga Nasution seperti yang ada sekarang. Ketika terjadi perselisihan antara kerajaan Panyabungan Tonga dengan Lumban Kuayan, pihak Mompang membantu Lumban Kuayan. Kerajaan di sini adalah berupa suatu kampung dan daerah sekitarnya yang dipimpin oleh seorang raja (kepala desa sekarang). Raja ini dianggap sakti dan mempunyai pengaruh yang kuat di masyarakatnya dan merupakan hak turun-temurun. Karena hal itu, kerajaan Mompang diserang oleh Panyabungan Tonga, namun dapat ditangkis oleh Mompang terutama berkat kecakapan Hulubalangnya yang bernama Huting Jalang. Setelah itu pihak Panyabungan Tonga menawarkan perdamaian yang merupakan suatu muslihat untuk menaklukkan Mompang. Ketika perundingan berlangsung, pasukan dan rakyat Panyabungan Tonga sudah bersuap-siap di tepi Aek Siala Payung. Ketika bungkusan daun makanan penghulu Panyabungan Tingan hanyunt melewati pasukannya di tepi Aek Siala Payugn yang merupakan isyarat bahwa perundingan telah gagal, dengan segera rakyat dan pasukan PanyabunganTongan meyerbu Mompag. Seluruh penduduk yang ditemui dibunuh dan kampung itu dibakar. Hanya seorang putri raja yag berhasil melarikan diri dengan pengiringnya yang setia ke Dalu-Dalu. Dengan kemenangan ini, Mompang menjadi wilayah Kerajaan Panyaungan Tonga. Keturungan raja-raja di Mompang masih satu darah degan raja-raja di Panyabungan Tonga-Huta Siantar-Manyabar-Pidoli. Kata Mompang juga tidak jelas asal-muasalnya. Mungkin berasal dari kata mangompang (tanggul-tanggul penahan air) dan juga tidak diketahui persis sejak kapan kata itu dipakai. Kamung Mompang ada 2, yaitu Mompang Julu dan Mompang Jae. Dulu kampung ini satu, kemudian oleh raja Mompag di bagi 2 untuk putranya. Yang kita bicarakan disini adalah Mompang Julu. Kampung yang dulunya tempatnya bukan di perkampungan sekarang, tetapi di Saba Dolik/Saba Alasona di utara desa yang sekarang dengan nama Huta Lobu. Peninggalannya yang masih dapat dilihat sampai sekarang adalah komplek makam-makam kuno yang pernah beberapa diantaranya dibongkar orang untuk mengambil barang-barang berharga yang dikubur bersama mayat. Kepercayaan penduduknya waktu itu masih bersifat animisme/dinamisme. Walaupung agama Islam telah sampai di Sumatera (khususnya Barus dan Aceh) pada awal abad ke-10, agama ini baru sampai ke Mandailing khususnya Mompang Julu pada tahun 1820-an ketika berlangsungnya penyerbuan kaum Paderi dari Sumatera Tengah/Barat pimpinan Tuanku Tambusai. Penduduk yang ketakutan banyak yang melarikan diri ke hutan-hutan di sekitar kampung itu, karena konon kamu Paderi menangkapi wanita-wanitanya untuk dijual sebagai budak. Tempat pelarian itu sampai sekarang masih ada seperti Sianggunan (tempat mengayun anak), Tor Kubur dan lain-lain. Lama-kelamaan penduduk yang melarikan diri itu banyak yang balik lagi ke kampung dan mengubah kepercayaannya dengan sukarela. Memang tentang sejarah penyerbuang kaum Paderi ini sangat sedikit sekali diketahui (hanya dari mulut ke mulut). Tidak diketahui mengapa akhirnya Huta Lobu dipindahkan ke komplek Polres Madina sekarang dan berganti nama menjadi Mompag Julu dan kapan pula berlangsungnya tidak diketahui. Kehidupan masyarakatnya mungkin dari bercocok tanam, beternak dan mengambil hasil hutan. Walaupun Belanda masa itu menguasai Indonesia khususnya di Mandailing, namun pengaruhnya di Mompang Julu dan Mandailing Umumnya tidak begitu terasa seperti di pulau Jawa dengan adanya Tanam Paksa dan Kerja Paksa. Di jaman Jepang, kehidupan baru terasa sangat sulit dengan terpaksa mengenakan pakaian dari kulit kayu dan goni. Pada tahun 1937, banjir bandang melanda Mompang Julu, hingga memaksa penduduknya mengngs dan pindah ke tempat kampung yang ada sekarang. Mereka tidak balik lagi ketempat semula mungki karen takut banjir sisilan sewaktu-waktu akan datang lagi.
Objek Wisata
a. Bendungan Air
Tempat ini mungkin merupakan tempat paling populer dan paling banyak di kunjungi, terutama pada hari-hari liburan/menjelang liburan. Tempatnya berada di dekat kebun karet H. Atas (dahulu milik H. Abdurrahman/Kolol) di saba julu/saba bendungan. Selain tempatnya yang relatif mudah dicapai, baik dari Mompang maupun Aek Horsik. Ditempat ini kita bisa menikmati pemandangan yang bagus dengan latar belakang panorama Bukit Barisan, kebun karet, hamparan persawahan dan lekukan sungai Siala Payung sendiri. Selain itu kita tentunya dapat mandi-mandi sepuasnya dan bagi yang ingin ke sana sambil makan-makan (tentunya intu harus) tempat ini menyediakan tempat-tempat strategis, seperti di dekat puntu masuk/ngangga pertama ke bendungan itu tepatnya di bawah pohon karet, atau di bendungan itu sendiri, kayu bakarnya tinggal di amabidl rangting/dahan karet yang tyelah masak di dekat bendungan itu.
Tapi sayangnya, tempat ini nyaris tanpa terawatan. Sejak dibangun tahun 1990 dengan dana kira-kira 1 milyar, tempat ini seolah ditinggalkan begitusaja, shingga sekarang ditumbuhi semak-semak belukar yagn cukup lebat yang kadang menutupi bendungan itu sendiri. Lagi purla banyak masyarakat menganggap bendungan ini tidak efektif alias mubazir karena saluran airnya banyak yang tidak tepat sasaran. Tapi mudah-mudahan anda tidak kecewa saat berkunjung kesana, karena dibalik lebatnya semak-semak yang menutupinya, anda masih akan menemukan sepotong keindahannya.
2. Sampuran (Air Terjun)
Pada dasarnya, sampuran sangat banyak di Mompang Julu, yaitu di sepanjang aliran sungai Aek Siala Payung, hal ini dimungkinkan karena jalur sungai ini dari mata airnya di Dolok Malea yang tinggi, hingga alurnya harus melewati tempat-tempat yang kadang-kadang sangat curam, dan disinilah air terjun itu terbentuk. Diantara sekian banyak sampuran itu, yang paling terkenal adalah Sampuran na Donok (Air terjun yang dekat) dan Sampuran na Dao (Air terjun yang jauh), konon masih ada lagi sampuran yang tingginya ± 100 m di kaki Dolok Malean namun hal ini belum banyak diketahui orang, sehingga disini tidak dipublikasikan.
- Sampuran na Donok
Air terjun ini terletak di sebelah utara (dolok) Mompang Julu, yaitu di dekat Saba Opong/Saba Dolok. Tempat ini sangat indah dengan aliran sungai Siala Payung nan jernih diantara bebatuan sungai berwarna-warni dan berbagtai ukuran. Kita tetunya dapat mandi sepuasnya di tempat ini, terutama di air terjunnya yang pertama dengan tinggi ± 2 m, walaupun pendek namun derasnya aliran ait ditambah lekukan dua batu besar yang habis dikikis air, membuatnya (membentuk tembat bak kolam .
Tak jauh dari tempat ini nampaklah sampurannya (Sampuran pertama kadang disebut orang bukan sampuran). Sampuran ini sebenarnya tidak seperti air terjun pada umumnya karena sampuran ini terbentuk oleh apitan 2 batu besar, dan di celah antara keduanya, mengalirlah air sungai ini. Pernah pada bulan September 2004, celah antara kedua batuan itu dihalangi kayu besar yang hanyut dari hulu karena hujan deras, sehingga airnya meluap memanjang hingga lebarnya hampir 3 meter dan menimbukkan pemandangan yang indah. Dengan dikelilingi bermacam-macam pepihinan nan rindang diantara pepohonan kebun karet, suasanyanya tampak begitu indah dan alami.
Walaupun agak jauh dari kampung, namun sampuran ini dapat dicapai dengan jalan kaki selama ± ½ jam, dan tentunya bagi anda yang akan kesana pasti sambil makan-jmakan, yang mungkin telah disiapkan dari rumah, namun jika anda ingin masak rame-rame disana (dan tentunya lebih mengasyikkan), jangan lupa siapkan dengan lengkap dan bawa minyak tanah, karena kading ranting pohon atau karet yang kita ambil agak lembab, sehingga perlu pemancing api, dan kami ingatkan anda untuk tidak berteriak-teriak atau ketawa terlalu keras, karena sebagian orang percaya termpat ini dan sampuran-sampuran lainnya ada penunggunya, tapi hal ini hendaknya tidak mengurangi keceriaan anda di sana. Kalau sekiranya tempat in dikelola dengan baik dan professional, tentunya orang akan punya pilihan tidak hanya dengan Pintu Air Salambue yang terkenal itu, dan jangan lupa bawa kamera anda untuk foto-foto moment-moment anda yang pastinya indah dna menyenangkan bareng kawan-kawan anda.
- Sampuran na Dao
Tempatnya berada di Dolok Malea berjarak sekitar 4 km dari Mompang Julu. Jika Anda menyukai lintas alam, tempat ini pasti akan menantang anda. Jika disampuran na Donok anda hanya menjumpai 1 sampuran saja dan ituopun pendek, maka ditempoat ini anda akan menemukan banyak air terjun yang sangt indah. Jika ingin kesana sebaiknya anda lakukan sambil camping (bermalam), karena jika anda datang langsung menuju sampurannya, anda pasti akan sangat kelelahan, selain karena medan menuju tempat itu hampir terus-menerus menanjak hingga ± 80 , dan kadang hingga menurun hingga ± 70 , anda juga harus menyusuri sungai dengan berjalan kaki selama hampir ½ jam dan mau tidak mau anda harus melakukannya, karena jalan satu-satunya mungkin hanya dari situ. Sedangkan jika anda mencoba melawan arus dengandatang dari Sampuran na Donok, anda mungkin tidak akan berhasil, karena jalur sungai ini kadang-kadang harus melewati tebing hingga 10 m.
Saat camping, anda bisa bermalam di sopo-sopo (gubuk) yang berada di atas tebing sungai. Anda bisa minta izin untuk menginap di salah satu gubuk yang banyak di situ (sekitar 4 gubuk) pada orang-orang yang menjaga kebun. Salah satu gubuk yang tempatnya sangat bagus adalah yang terdapat di lembah tepi sungai Siala Payung. Dari sini, kita bisa melihat indahnya alam dengan kehijauan rimbunan pepohonan hutan yang masih asli diselingi gemericik derasnya air sungai nan jernih dengan hawa sejuk dan berlatar puncak-puncak Bukit Barisan (Dolok Malea). Kami sarankan anda membawa perlengakapan dan bekal yang cukup, karena setelah sampai di sana, anda mungkin tidak akan berpikir 2 kali untuk mengambilnya balik ke kampung jika ada yang tertinggal.
Saat malam, anda bisa membuat api unggun sebagai penerangan dan pertanda sopo tempat anda menginap ada orang. Selain itu anda harus memasak untuk makan malam. Masakan anda bawa bisa indomie atau ikan kering plus tempe/kentang. Persediaan beras yang anda bawa harus cukup untuk 3 kali makan. Malam yang dingin akan membuat anda menyesal kalau tidak membawa selimut, karena hawa dinginnya Dolok Malea mungkin hampir sama dengan Brastagi di waktu pagi.
Paginya setelah memasak, anda bisa langsung menyusuri sungai untuk menuju sampuran. Waktu menyusuri sungai anda akan menemukan berbagai sampuran baik yang pendek maupun tinggi yang mengharuskan anda melompat karena jalan lain tidak ada lagi. Setelah berjalan kaki selama hampir ½ jam, anda akan sampai di pertemuan cabang sungai Siala Payung dengan anak sungai itu, di pertemuan dua sungai ini, anda akan melihat Sampuran tiga tingkat dengan panjang total ± 25 m.
Indahnya sampuran ini mungkin setidak-tidaknya bisa membuat orang berpikir dua kali untuk pergi ke Aek Sijorni kalau saja jalan kesana dibuat. Tempat ini memang belum banyak dikunjungi orang dan kalau dikelola dengan baik, tempat ini pasti akan mendatangkan hasil yang banyak.
Pulangnya anda harus menyusuri sungai kembali, sebelum sampai di sampuran na Donok, anda punya pilihan jalan lain, yaitu naik ke kebun H. Atas dan lewat darat sampai ke bendungan, atau jika tidak anda lanjutkan saja terus sampai saba Opong lewat sampuran nadonok. Nah sekarang, tertarikkah anda mengunjungi tempat nan indah ini ?
- Sungai Siala Payung
Hampir seluruh aliran sungai ini merupakan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi buat rekreasi. Misalnya di sungai di daerah Saba Dolok dan Bendungan. Ini tergantung anda memilih tempatnya, dan pasti semuanya bebas pungutan alias gratis, karena seluruh tempat wisata di Mompang Julu untuk umum.
Terima kasih kepada Asharuddin Nasution, pendiri laman web/situs mompang.julu.com
Cita-cita Ekowisata dari Madina

SH/Darma Lubis
Pemandangan rumah beratap ijuk dengan latar belakang rimba Batanggadis.
Cita-cita Ekowisata dari Madina
MADINA – Usia Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara memang baru seumur jagung. Namun sang ”bayi” punya cita-cita besar: menggali potensi ekowisata dari daerah seluas 662.070 hektare dan berpenduduk sekitar 370.000 jiwa ini. Ini sengaja dipilih karena pemkab Madina tak ingin memakai konsep pariwisata massal untuk mengelola obyek wisata daerah ini.
”Saat ini kan tren yang sedang diminati adalah ekowisata dan orang makin jenuh dengan pariwisata massal,” ungkap Budi Ismoyo, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Madina. Rencananya prinsip ekowisata juga akan diterapkan untuk mengelola hutan yang mendominasi daerah ini.
Bila kita melihat statistik mengenai lahan di wilayah Kabupaten Madina, sebagian besar memang masih berupa hutan. Rinciannya, hutan negara seluas 317.825 hektare (48 persen) yang hingga kini masih merupakan bagian terluas dari total lahan di daerah itu. Sisanya, yakni berupa hutan rakyat seluas 42.176 hektare atau hanya sekitar enam persen dari luas seluruh lahan, perkebunan sekitar 67.707 hektare, rawa-rawa 59.976 hektare, dan selebihnya merupakan areal persawahan, perladangan, tambak, permukiman, dan lain-lain.
Ke depan, pemkab Madina Piha akan menyusun konsep pengelolaan pariwisata bersama masyarakat dan mitra, seperti Conservation International (CI) Indonesia – lembaga konservasi internasional papan atas. ”Yang pasti, pengelolaannya akan berkolaborasi dengan masyarakat,” timpal Erwin Perbatakusuma dari CI Indonesia.
Pengembangan ekowisata di daerah ini akan memanfaatkan zona penyangga dari (calon) Taman Nasional Batanggadis. Upaya ini diharapkan akan membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal/sekitar kawasan. Namun, proses paling penting adalah menghargai usaha mereka mempertahankan kearifan lokal.
Hunian Ijuk nan Sejuk
Untuk membuktikan potensi ekowisata Madina, kami sempat mengunjungi Sibanggor.
Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung beratapkan ijuk.
Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak Gunung Sorik Marapi (2.142 mdpl).
Bicara rumah beratap ijuk, Bupati Madina Amru Daulay akan mengeluarkan keputusan yang mewajibkan penduduk untuk memakai ijuk sebagai atap rumah. ”Tahun ini kami akan mengeluarkan peraturan daerah yang melarang pembangunan atap rumah dari bahan seng,” tandas Amru.
Dengan ijuk semuanya akan terlihat alami dan sekaligus mendukung cita-cita ekowisata. Untuk itu, pemkab Madina juga akan mengembangkan penanaman pohon enau. Tentu saja akibat dikeluarkan aturan itu harga ijuk akan melonjak. Amru sadar akan hal ini. Sebagai antisipasi, Amru berujar, ”Jangan khawatir, bagi masyarakat yang kurang mampu akan kami beri subsidi.”
Hunian ijuk nan sejuk itu dapat dikembangkan sebagai pendukung cita-cita ekowisata Madina. Pemandangan deretan rumah penduduk amat sedap dipandang dari puncak bukit. Ini akan memancing minat para wisatawan.
Bila pengelola daerah jeli, masyarakat dapat membuka homestay di rumah-rumah mereka. Tak perlu dilengkapi fasilitas mewah yang bergaya metropolis, macam pendingin ruangan, lemari es atau lainnya. Namun, kunci utama homestay ini justru pada prinsip sanitasi dan keasrian yang dijunjung tinggi.
Bila sanitasi dan keasrian sudah dikantungi, jangan lupakan pula persoalan tarif. Sebagai promosi, hitung-hitungan hunian jangan terburu-buru untuk mematok harga tinggi. Itu sebabnya riset ekonomi wajib dilakukan pihak pemerintah kabupaten. Langkah berikut, tinggal membina masyarakat agar terbiasa menerima kunjungan turis – terutama, turis berselera ekowisata.
Air Panas Sibanggor
Di wilayah Sibanggor, kita dapat menemukan sumber-sumber air panas alami. Air panas yang kaya dengan kandungan belerang itu sangat bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Penyakit kulit macam panu, kadas dan kurap kabarnya bisa diobati di sini.
Saat ini, tempat yang paling nyaman untuk menikmati air panas alami itu terletak di daerah Sibanggor Julu. Lokasinya ada di pinggir jalan. Di belakang sumber air panas menghampar pemandangan ”karpet hijau”. Dari sawah sampai rimba dan puncak Gunung Sorik Marapi. Bila cuaca mendukung, kita dapat memuaskan diri untuk memainkan kamera atau alat perekam gambar.
Di sini sudah terbangun beberapa fasilitas, seperti kolam pemandian, sarana mandi uap, WC umum, dan tempat ibadah. Sayang bangunan-bangunan ini tak mendapat perawatan khusus hingga kondisinya amat memprihatinkan, kecuali untuk tempat ibadah. Paling parah, WC umum yang tak lagi berfungsi, rusak dan kotor.
Fitri (17) siswi SMU Muara Sipongi - datang ke tempat ini bukan sekadar rekreasi. Bersama keluarganya, ia menikmati air panas itu sebagai terapi pengobatan pada bagian kulit. ”Kami pergi ke sini dengan menyewa mobil. Sekali jalan habis seratus ribu,” katanya. Pada dijumpai, Fitri asyik merebus telur ayam pada salah satu sumber air panas. Di dekatnya ada sekelompok remaja putri yang mengikuti jejak Fitri.
Saat ini kamar mandi uap dikelola oleh masyarakat sekitar. Tak ada retribusi khusus, tetapi cukup bayar sukarela kepada warga yang bertugas menjaga fasilitas ini. Menurut Ilham Tanjung (43), fasilitas yang ada di tempat ini dibangun atas swadaya masyarakat dengan bantuan pemkab. Karena banyak yang berkunjung, masyarakat kedodoran untuk memelihara fasilitas yang ada.
Masalah sampah juga menjadi perhatian khusus. Di sekitar tempat berpotensi wisata ini tak tersedia tempat sampah. Jadi jangan kaget bila sisa buangan kegiatan manusia ini berceceran di tiap sudut. Paling kentara, ceceran plastik. Memang, sampah jenis ini butuh waktu yang lama untuk hancur. Mau tak mau supaya cita-cita ekowisata dapat terwujud, semua pihak harus turun tangan menangani masalah ini.
Ekowisata boleh jadi cita-cita. Untuk mewujudkannya pekerjaan rumah telah menanti untuk diberesi. Bila serius cita-cita pun bisa tergapai dan paling penting punya nilai keberlanjutan tinggi. Selamat bekerja Madina.
(SH/bayu dwi mardana/darma lubis)
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0115/wis01.html
Gordang Sembilan Deel 5

GORDANG SEMBILAN - EEN VIDEO-VERHAAL
Rondom de video-opnames die zij maakte in Indonesi?schrijft Marietje Kuipers over levensbeschouwelijke betekenis van muziek en dans op Sumatra.
door Marietje E. Kuipers (videobewerking: Fatiha Bazi)
Pakantan: de rol van de gordang sembilan in de huidige samenleving
Op 23 juli 2006 is er weer feest in Huta Bargot. Met vereende krachten en met steun van familieleden uit andere plaatsen in Indonesi?zijn achter de kerk het lokaal voor de zondagsschool en de consistoriekamer gebouwd. Een reden om het geheel voltooide kerkgebouw feestelijk in gebruik te nemen.
In verband met de op handen zijnde reportage over de gordang sembilan is dit evenement als een geschenk uit de hemel. Met deze opnamen kan ik de offici螔e opening van 25 augustus 2003 in het kader van de oude gewoonten of adat beter begrijpen. Het blijkt echter geen exacte herhaling te zijn, hetgeen uit de adat volgt.
Adat is een Arabisch leenwoord (hadat of het terugkerende). Adat is in Indonesi?overgenomen in de betekenis van gewoonten, van overgeleverde gebruiken, van traditionele rituelen en voorschriften. Adat is een ongeschreven wet. Adat is als een referentiekader voor iedere persoon, dat zijn daden en zijn gedrag be鮦vloedt.
Volgens de adat zijn er verschillende gelegenheden waarbij de gordang sembilan gespeeld wordt. De belangrijkste voorbeelden zijn: tijdens een bruiloft, een begrafenis of tijdens een rituele ceremonie om de geest van een voorouder op te roepen, teruggaande tot oude gewoonten.
Andere gelegenheden zijn b.v. de viering van de Indonesische onafhankelijkheidsdag, het einde van de vastenmaand of de ontvangst van een belangrijke persoon. Men spreekt van nieuwe ontwikkelingen binnen de cultuur. Er hoeft in deze gevallen geen offer gebracht te worden. Klik hier voor deel vier van het interview.
Zondag 23 juli 2006, het loopt tegen elf uur. In afwachting van de ceremonie komen beelden van de inwijding van de kerk op 25 augustus 2003 in mijn gedachten terug. Op die dag stonden de gemeenteleden voor de kerk. Onder de tonen van de muziek van de gordang sembilan, kwamen zij met open handen, de handpalmen naar boven gericht, naar mij en de andere gasten toe. Om boze geesten die zich eventueel op het pad naar de kerk bevonden te verdrijven werd de dans, pencak silat, door twee mannen uitgevoerd. Na een welkomswoord door de kerkenraad werd als teken van dankbaarheid een ulos op mijn schouders gelegd. Vervolgens nodigden de gemeenteleden de gasten uit naar de kerk te gaan, achteruitlopende, met open handen, de handpalm naar boven gericht.
De betekenis van deze gebruiken worden door de predikant Ruminta Pohan en door een kerkenraadslid Firman Nasution uitgelegd. Klik hier om de 'Verklaring van ontvangst' te zien. ij deze gelegenheid, de inwijding van het nieuwe kerkgebouw, heten wij ibu Marietje en de andere gasten welkom. Wij reageren hierop met tortor, dit betekent om de gasten te verwelkomen en de zegen van ibu Marietje en van het bestuur van de GKPA te vragen.?e gemeente van Pakantan geeft een ulos aan Marietje ten einde haar tondi, levenskracht of ziel te beschermen, voor vrede en rust in Pakantan. Mede ook dat zij weer naar Pakantan zal terug komen; wij wensen haar gezondheid in Zwitserland en waar dan ook toe.?BR>Door een oproep via een luidspreker ben ik terug in de plechtigheid op 23 juli 2006. Dit maal kwamen de gemeenteleden mij en de andere gasten tegemoet, onder de tonen van het ensemble gordang sembilan. Na een welkom kregen de gasten een krans aangeboden. Volgens de adat kan iemand niet twee keer 澭nzelfde geschenk voor 澭n bepaald type gelegenheid krijgen. Gelukkig werd de pencak silat gedanst; om boze geesten te verdrijven? Klik hier voor een video over de inwijding van de kerk.
Na de kerkdienst volgde een selamatan makan, een feestelijke maaltijd. Om de ceremonie af te sluiten werden later op de middag verscheidene dansen, tortor, uit Pakantan uitgevoerd.
In deze dansen worden elementen, die in de adat genoemd zijn, tot uitdrukking gebracht. Volgens predikanten van de GKPA geeft de adat leefregels, hoe de mensen in een gemeenschap leven; deze regels gelden zowel voor de Chistenen als voor de Moslims. Er zijn speciale regels die alle mensen in een dorp verenigen, omdat de adat er voor iedereen is. De mensen zijn daarom automatisch verenigd. Er zijn geen grenzen, zelfs al heeft een ieder een eigen geloof. Adat betekent voor ons allen, niet alleen voor jou en voor mij, maar voor ons allen. Adat speelt een zeer belangrijke rol in de gemeenschap, in de dorpen van Mandailing.
Gordang Sembilan Deel 4

GORDANG SEMBILAN - EEN VIDEO-VERHAAL
Rondom de video-opnames die zij maakte in Indonesi?schrijft Marietje Kuipers over levensbeschouwelijke betekenis van muziek en dans op Sumatra.
door Marietje E. Kuipers (videobewerking: Fatiha Bazi)
Zendelingen en de gordang sembilan
Daar het eiland Sumatra aan verscheidene handelswegen in Zuid-Oost Azi?ligt, is het door de eeuwen heen onderhevig geweest aan invloeden van andere culturen. De kuststreken zijn door de handelaren uit het Arabische landen al in de 13e eeuw ge鮢lamiseerd, terwijl de bewoners in de binnenlanden van het eiland tot ver na 1800 leefden in hun geloofswereld van godenverering, animisme en voorouderverering.
Vanaf 1800 verspreidt de Islam zich van uit het zuiden tot aan het gebied van de Bataklanden. In diezelfde tijd hebben enkele zendelingen het noorden van het eiland doorkruisd. Vanaf 1861 is het noorden van Sumatra, de Bataklanden, door zendelingen van het Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) gekerstend, hetgeen in de twintiger jaren van de vorige eeuw geleid heeft tot de stichting van de zelfstandige Batak kerk, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
In samenspraak met de zendelingen van het RMG heeft de Doopsgezinde Zendingsvereniging in 1871 besloten zich in het zuiden van het Batakland, in Mandailing, in het dorp Pakantan, te vestigen. In 1928 is Pakantan overgegaan naar de HKBP; sinds 1975 maakt deze christengemeente deel uit van de Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA).
In het hoofdkantoor van de GKPA heb ik op 25 juli 2006 een gesprek met twee predikanten. Gedeelten uit dit interview zijn in de onderstaande tekst weergegeven.
Toen de zendelingen in Pakantan kwamen kantten zij tegen de traditionele uitingen van de Batak cultuur, in het bijzonder tegen de gordang sembilan en de tortor (dansen). In de plaats daarvan werden koperen blaasinstrumenten uit Europa gebruikt als ondersteuning bij het zingen van de Europese psalmen en gezangen. Op Europese melodi螚 werden Batak woorden gezet. Nog steeds worden deze liederen met veel enthousiasme gezongen. Klik hier voor een video over Batak kerkzang op Europese melodie.
Er is in de loop der jaren veel veranderd. Hoewel tijdens de kerkdiensten de traditionele liturgie nog steeds wordt gevolgd, tracht men tijdens speciale gebeurtenissen oude Angkola/Mandailing melodi螚 en liederen binnen het kader van de kerk te brengen. Klik hier om het interview te zien.
Als voorbeeld noemden de beide predikanten de ceremonie tijdens de sluiting van de GKPA synode op zondag 16 juli 2006 toen het nieuwe bestuur van de GKPA gekozen werden.
Na de offici螔e bevestiging tijdens de kerkdienst, volgens de liturgie, werd het nieuwe bestuur, de Ephorus en de Sekjend, op Batak wijze onthaald. Zij waren als raja, als belangrijke personen, gekleed, versierd met twee krissen en een hoofdtooi in de vorm van een hoorn van een karbouw. Onder begeleiding van muziek, dit maal van de gondang, werden zij door de gemeenteleden met open handen, de handpalmen naar boven gericht, naar het podium geleid. De gemeenteleden vroegen de zegen van het nieuwe bestuur die dit beantwoordde met een gebaar als van een zegen, de handpalmen naar beneden gericht.
De tekst is als een gezongen gebed tot God, als een offer, als een uitdrukking van de verwachtingen die de leden van de gemeente ten aanzien van het nieuwe bestuur hebben. De melodie is een traditionele melodie; de tekst is aangepast aan de verwachtingen die de mensen tijdens deze gebeurtenis hebben. Klik hier voor een video over de inwijding van het kerkbestuur.
Dit onthaal werd met een maaltijd besloten; de Ephorus en de Skejend kregen karbouw- en geitenvlees en eieren voorgeschoteld, symbolische gerechten, als een gift, als een offer, om de tondi, de levenskracht, van de Ephorus en de Skejend te beschermen en hen een lang leven toe te wensen. Tevens tipten zij aan zout dat in een zakje van gevlochten bananenbladeren werd aangeboden. Het bananenblad als symbool voor de productiviteit van de werkzaamheden, het zout als symbool voor kracht en energie. Zout verhoogt de smaak van het eten en drinken. Zoals zout oplost in water en zich geheel met het voedsel vermengt, is het zout als symbool voor de kracht waarvan men verwacht dat deze in de samenleving aanwezig is en de levenslust binnen het gemeenschapsleven kan opwekken. Klik hier voor een film van de afsluitende maaltijd.
http://www.zinprofiel.nl/eZine.asp?lStrAction=&lIntEzineId=870&lIntEzineMotherId=863
Gordang Sembilan Deel 3

GORDANG SEMBILAN - EEN VIDEO-VERHAAL
Rondom de video-opnames die zij maakte in Indonesi?schrijft Marietje Kuipers over levensbeschouwelijke betekenis van muziek en dans op Sumatra.
door Marietje E. Kuipers (videobewerking: Fatiha Bazi)
De instrumenten van het ensemble gordang sembilan
De spelers van het ensemble gordang sembilan en hun leider Bapak Burhan Nasution wonen in Huta Dolok, deze kampung wordt ook wel Huta Bukit, dorp op de heuvel, genoemd. In deze kampung wonen vandaag de dag nog nazaten van de raja Gumanti.
Vroeger woonde raja Gumanti in zijn huis, bagas na godang, op de heuvel van Huta Dolok/Huta Bukit. In de buurt van zijn huis stond de sopo gordang, een prachtig gedecoreerd gebouw, een open paviljoen zonder muren. In de sopo zat de raja op een verhoogd platform. Het was een uiting van democratie dat de ingezetenen direct getuige konden zijn van bijeenkomsten en vergaderingen die in de sopo gordang werden gehouden.
Een van de taken van de raja was het voorzitten van rituele bijeenkomsten of van vergaderingen van de marga. Alleen de raja kon toestemming geven tot het houden van een grote ceremonie gepaard gaande met het offeren van een karbouw en het spelen van de gordang sembilan. De instrumenten van de gordang sembilan waren in de sopo gordang geplaatst. Uit twee publicaties blijkt dat dit tot in de tachtiger jaren van de vorige eeuw dit het geval was. Tegenwoordig worden de instrumenten op de zolder van de sopo gordang bewaard.
De woorden gordang en sembilan betekenen trommel en negen. In Huta Dolok zijn negen gordangs omdat er negen marga, stammen, zijn.
Het ensemble gordang sembilan bestaat naast de negen trommels, uit gongs, cimbalen en een blaasinstrument. De trommels zijn uitgeholde stammen van bomen die in de buurt van Pakantan groeien. De onderkant van de trommel wordt afgesloten met een ronde houten schijf; aan de bovenkant is een stuk koehuid bevestigd dat door rotan gespannen wordt. De negen trommels zijn in vier paren en een enkele trommel ingedeeld. Gewoonlijk worden de negen trommels door vijf mannen bespeeld, vier spelers voor de vier paren en een speler voor de kleinere trommel. De trommelstokken zijn kleine houten balken van een boomsoort die ook in de bossen van Pakantan groeit. Klik hier voor een video over de afdeling etnomusicologie van de Universiteit Medan.
In het ensemble van Pakantan komen tevens kleinere trommels voor die gondang genoemd worden; de gondang heeft aan beide kanten van de trommel een geitenvel.
Bij de sopo gordang kom ik Bapak en Ibu Nasution tegen. Zij laten mij vol trots de sopo gordang zien. Volgens de verhalen is dit gebouw al generaties geleden gebouwd. Zendeling Johan Thiessen schrijft er over in 1910: e sopo gordang is het grootste sieraad van het dorp en de veelkleurige versieringen tonen dat men hier met een Bataks hoofd te doen heeft. Dit gebouw wordt bij bijzondere gelegenheden gebruikt, zoals b.v. in rechtszaken die door de vorst behandeld worden. (Noot: de drie beelden op de balustrade van het platform van de raja zijn symbolen voor de rechtspraak.) Wanneer er grote vorstelijke feesten of begrafenissen op handen zijn, wordt de na mora na toras, de raad van wijze mannen bestaande uit de raja en de ouderen van de kampung, samen geroepen om te overleggen hoe alles geregeld moet worden. Verder wordt dit gebouw als voorraadschuur voor rijst en voor gereedschappen gebruikt. Zoals alle Batakse huizen, rond 1900, is ook dit zo gebouwd dat de gevel van het huis naar het Oosten gericht is, anders zou dit huis het grootste ongeluk overkomen. De dakbedekking vervaardigd uit bladslippen van palmbomen.?
Via enkele traptreden kom ik op het eerste platform van de sopo gordang. Opvallend zijn de achthoekige houten stijlen die op grote stenen zijn geplaatst om schade bij aardbevingen te voorkomen. De achthoek is een symbool voor de acht windstreken. Op de stijlen rusten grote houten blokken om te voorkomen dat ratten en muizen naar boven klimmen en de rijst, die op zolder is opgeslagen, op eten. In 澭n van de hoeken is een tree hoger het platform van de raja. Ibu Nasution suggereert met enkele bewegingen het spel van de instrumenten; zij danst en zingt een oude Batak melodie. (Klik hier voor video)
Later op de middag woon ik een repetitie van het ensemble in het huis van de familie Nasution bij. Men vertelt mij dat muziek en dans mondeling van de ene op de andere generatie wordt doorgegeven. Kinderen kijken met veel aandacht naar de spelers en dansers. Jonge kinderen spelen met de ouderen mee; zij leren op deze wijze de muziek en het ritme van de gordang sembilan kennen. Klik hier om een repetitie van de familie Nasution te bekijken.
Literatuur:
Kartomi MJ, Dualism in unity: the ceremonial music of the Mandailing raja tradition, Asian Music 1981;12(2):74-108.
Purba M, Gordang sembilan, social function and rhythmic structure, Wesleyan University, Middleton, Conn., USA, 1988.
Thiessen J, Pakantan, een belangrijk gedeelte van Sumatra, Apeldoorn, 1914.
http://www.zinprofiel.nl/eZine.asp?lStrAction=&lIntEzineId=854&lIntEzineMotherId=863
Gordang Sembilan Deel 2
.jpg)
GORDANG SEMBILAN - EEN VIDEO-VERHAAL
Rondom de video-opnames die zij maakte in Indonesi?schrijft Marietje Kuipers over levensbeschouwelijke betekenis van muziek en dans op Sumatra.
door Marietje E. Kuipers (videobewerking: Fatiha Bazi)
De rol van de gordang sembilan in de samenleving voor 1800
Tijdens de opening van de nieuwe kerk in Pakantan werd de gordang sembilan bespeeld door bewoners van Huta Dolok, 澭n van de kampungs in Pakantan. Hoe kan het dat tijdens een festiviteit van Christenen de gordang sembilan door Moslims wordt bespeeld? In de literatuur heb ik het antwoord op deze vraag gevonden. De betekenis en de toepassing van deze muziek gaat terug tot de tijd voordat er Christenen en voordat er Moslims in het Pakantan woonden, tot de periode voor 1800, toen de rol van de raja, de vorst, politiek gezien belangrijk was en de mensen in een wereld van bovennatuurlijke wezens leefden.
Voor 1800 gold in hun belevingswereld de erkenning van een eeuwig en almachtig opperwezen, onder de naam van debata. Een aantal goede en boze goden waren aan hem ondergeschikt. De goden woonden in de boven-, midden- en onderwereld. Deze werelden worden gesymboliseerd door de kleuren wit, rood en zwart; deze kleuren komen in alle aspecten van de cultuur en samenleving van Mandailing terug.
Naast de goden in de drie hemelen zijn er geesten die de aarde bewonen en in de bergen, bossen, spelonken, weilanden en verschillende rivieren verblijven. Zij worden verdeeld in voor de mens gunstige (goede) en vijandige (slechte) geesten. Deze geesten kunnen de levensloop van de mens be鮦vloeden.
In de belevingswereld van de Bataks neemt de verering van de voorouders ook een belangrijke plaats in.
Deze godsdienst kent noch tempels, noch priesters, noch instellingen van regelmatige of openbare godsverering.
Hoewel er geen priesters zijn spelen de datu, een schriftgeleerde, en de sibaso, een medium tot de geesten, een gelijkwaardige rol. Zij worden verondersteld beter bekend te zijn met de voornemens van de goden dan de gewone mens.
De datu krijgt deze kennis door het lezen van teksten die in de pustaha geschreven zijn; deze teksten zijn op bambu geschreven. Zij verwijzen naar traditionele medicijnen, astrologie en voorspellingen over goede en slechte dagen/tijden en over de wijze van oorlog voeren. Over andere aspecten van de samenleving b.v. de geschiedenis van Mandailing is niets vermeld. De datu heeft door de uitoefening van de geneeskunde toegang tot de huisgezinnen; hij geniet door zijn kennis groot gezag bij de mensen.
De sibaso treedt als tolk voor de gewone mensen op en fungeert als medium tussen de wereld van de goden, geesten en voorouders en de huidige gemeenschap. Hij kan in trance gaan waarbij de geesten bezit van zijn lichaam nemen.
Tijdens een vraaggesprek met twee predikanten van de Gereja Kristen Protestan Angkola, GKPA, worden deze aspecten op 25 juli 2006 belicht.
De gordang sembilan speelde een belangrijke rol in de belevingswereld van de mens in zijn verering van de goden, in de relatie van mens tot de goden; tevens hoe de mens de goden vroegen met hem te zijn. De mens dacht dat de goden/geesten overal aanwezig is, b.v. in bomen en in huizen; tevens meende hij dat de goden/geesten die hem te aller tijden omringen een beslissende invloed op zijn leven uitoefenen. De muziek van de gordang sembilan is als een groet om met hem te zijn. De mens dacht ook dat de voorouders in zijn geest voortleefden, maar ergens anders wonen. Door de muziek van de gordang sembilan kon de mens de geesten van zijn voorouders vragen tijdens een bijeenkomst aanwezig te zijn. (klik hier voor videofragment)
Om de gordang sembilan muziek te spelen moesten er verscheidene besluiten genomen worden, ten aanzien van het thema van de bijeenkomst, van de dag en van het tijdstip. Allereerst werd binnen de familie gepraat; wanneer zij het eens waren, kon de dalihan na tolu uitgenodigd worden. Tekst samenleving Mandailing. Wanneer deze drie partijen tot een overeenstemming kwamen, vroegen zij toestemming aan de na mora na toras, de raad van de raja en de ouderen van het dorp. De raja gaf aanwijzingen over de datum; er waren goede en slechte dagen; deze zijn in de kalender, de parkalahan vermeld.
De samenleving in Mandailing berust van oudsher op twee beginselen: marga en dalihan na tolu.
Marga is een groep van personen die hun afkomst uitsluitend via de mannelijke lijn van 澭nzelfde stamvader komen. De marga is exogaam; huwelijk binnen de eigen marga is verboden.
Dalihan na tolu betekent het samenvoegen van drie elementen. Dalihan na tolu is een complex en een belangrijk element in de samenleving en geeft een ingewikkelde regeling van de huwelijkskeuze. De drie pijlers van de samenleving zijn: kahanggi of de marga waartoe men behoort, mora of de marga van de bruid gever en anak boru of de marga van de bruid nemer. Dalihan na tolu is voor een ieder bepaald door zijn eigen marga en door zijn relatie tot de andere marga (bruid nemer of bruid gever) door huwelijk met zijn eigen marga.
Dalihan no tolu wordt in de weefkunst en in de architectuur als een driehoek uitgebeeld.
Wanneer de gordang sembilan wordt bespeeld moet een karbouw of een geit geofferd worden. Dit is noodzakelijk voor het oproepen van de geesten van de voorouders en ook van de geesten van de mensen die met hen eten. Een andere denkwijze is dat men offert om te voorkomen dat slechte geesten iemand kunnen binnen dringen en door deze geest bezeten kan worden. (klik hier voor videofragment)
Als illustratie van het bovenstaande komen in de dans et verhaal van de datu?enkele belangrijke aspecten naar voren. De datu draagt een wit kleed waarin driehoeken geweven zijn. De driehoeken verwijzen naar de drie eenheden waarop de dalihan na tolu berust. Wit, rood en zwart zijn de kleuren van de drie werelden waarin de goden wonen. Klik hier voor het verhaal van de datu.
http://www.zinprofiel.nl/eZine.asp?lStrAction=&lIntEzineId=851&lIntEzineMotherId=863
Gordang Sembilan Deel 1

GORDANG SEMBILAN - EEN VIDEO-VERHAAL
GORDANG SEMBILAN - EEN VIDEO-VERHAAL
Rondom de video-opnames die zij maakte in Indonesi?schrijft Marietje Kuipers over levensbeschouwelijke betekenis van muziek en dans op Sumatra.
door Marietje E. Kuipers (videobewerking: Fatiha Bazi)
Mijn eerste bezoek aan Pakantan
Mijn eerste kennismaking met de bewoners van Pakantan was begin juli 2001, toen ik als toerist op het eiland Sumatra in de Indonesische archipel vertoefde. Tekst Sumatra. Naast het bezoeken van allerlei bezienswaardigheden, wilde ik naar Pakantan gaan, naar het dorp waar mijn oudoom en oudtante Gerhard en Anna Nikkel-Kuipers van 1888 tot 1900 als zendelingen gewerkt hadden.
Sumatra is het meest westelijke eiland in de Indonesische archipel; het is begrensd door de Indische oceaan, de Straat Malakka en de Straat Sunda. De oppervlakte, inclusief de omringende eilanden is 473 600 km2; de lengte is 1760 km en de breedte 400 km. Het eiland ligt aan weerszijden van de evenaar.
Omringd door zee螚 ligt Sumatra aan vele handelsrouten in Zuidoost Azi? Door handelaren uit verscheidene streken kwam het hindoe鮢me in de 8e eeuw en de Islam in de 13e eeuw naar de kuststreken van Sumatra.
Over de gehele lengte van het eiland loopt een ketengebergte, de Bukit Barisan. Het gebied is onderhevig aan aardbevingen en landverschuivingen. Aan weerszijden van Bukit Barisan zijn laagvlakten.
Sumatra telt ongeveer 20 miljoen inwoners, die staatkundig in provincies zijn ingedeeld. Er zijn een aantal etnische groeperingen, met als voornaamste: de Maleiers, de Minangkabauers, de Atjee褰s en de Bataks. Alle groeperingen hebben hun eigen cultuur, hun eigen taal en geschiedenis waardoor er grote regionale verschillen zijn.
In de provincie Noord-Sumatra wonen de Bataks, een uit verschillende stammen bestaand volk: zij zijn over zes verschillende gebieden verspreid: Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, Angkola en Mandailing. Iedere groepering heeft zijn eigen taal. De twee gebieden Angkola en Mandailing vertonen veel overeenkomsten.
De plaats Pakantan ligt in het zuidelijke gedeelte van Mandailing in het gebergte van de Bukit Barisan op een hoogte van meer dan 1000 m. De temperatuur/relatieve vochtigheid vari褰en van 15-18 C/90-95% in de vroege ochtend tot ongeveer 30 C/60-65% in de middag.
De weg van Medan naar Padang leidde mij over de Sumatraanse heuvelrug, de Bukit Barisan, naar het plaatsje Muara Sipongi; midden in dit dorp volgde ik de weg naar rechts met als aanwijzing: Pakantan 15 km. Over een smalle weg in het dal van de rivier de Batang Gadis kwam ik na een uur, hobbelend door kuilen, in een prachtige groene vallei omringd door bergen aan. Hier ligt het dorp Pakantan.
Het dorp Pakantan is een agglomeratie van zeven dorpen, kampungs of huta: Huta Dolok (98), Huta Gambir (72), Huta Lombang (123), Huta Toras (98), Huta Padang (61), Huta Lancat (44) en Huta Julu (17), met een totaal van 513 huizen. Dit aantal berust op een mondelinge mededeling. In Indonesi?geeft men vaak het aantal huizen of gezinnen aan; het aantal inwoners is veelal niet bekend. In een deel van Huta Padang, Huta Bargot, wonen van oudsher de Christenen (ongeveer 20 huizen).
Bij aankomst in Pakantan werd ik door de Christenen met een ferm oras?hartelijk welkom geheten.
Het woord horas wordt in Batak land vaak gebruikt. Men begroet elkaar met horas, wanneer men komt, wanneer men gaat en ook wanneer men elkaar onderweg tegenkomt. Het woord horas wordt gebruikt als aanhef van een brief. Iedere min of meer offici螔e bijeenkomst of feest wordt afgesloten met het uitspreken van horas; zo ook na de Batak dans en het spel van het ensemble gordang sembilan hoort men als slot het woord horas. In de literatuur kent men het woord horas verscheidene betekenissen toe: geluk, gezondheid, voorspoed, zekerheid, behoud, ongedeerd zijn, met zorg omgeven, gezegend of behoud.
In het huis van de jonge vrouwelijke dominee, Ruminta Pohan, was het een komen en gaan van de gemeenteleden, als een zoete inval. Wij spraken over de tijd van de zendelingen; er waren verhalen, anekdotes en grappige voorvallen die ik al eerder in het archief van de Doopsgezinde Zendingsvereniging in Amsterdam had gelezen. Opvallend was de waardering van deze Christenen over het werk dat destijds door de zendelingen verricht is: onder hen en hun arbeid zouden wij ons geloof niet hebben? Naast evangelisatie verrichtten de zendelingen vele andere werkzaamheden: zij bouwden ziekenhuizen, weeshuizen, scholen en huizen voor bejaarden. Verder ontgonnen zij landbouwgronden en onderwezen zij nieuwe landbouwmethoden. Als voorbeeld moet genoemd worden dat de koffie uit deze plantages offie uit Pakantan,?in het begin van de 20e eeuw tegen hoge prijzen naar de Verenigde Staten werd uitgevoerd.
Door de jaren heen hebben de zendelingen en de Christenen steeds in een goede verstandhouding met de Moslims geleefd. Een aardige anekdote is de volgende. Raja Gumanti van Huta Dolok was al enige jaren getrouwd. Helaas was het huwelijk, 1905, kinderloos gebleven. Raja Gumanti vroeg de zendeling of hij zijn huwelijk wilde zegenen en wilde bidden voor de komst van een nakomeling. E幯 jaar later werd er een zoon geboren. In het videofragment vertelt de dominee, Ruminta Pohan, dit verhaal.
Zij staat voor zijn graf: Boengkoelan Loebis gelar Soetan Mompang Soripada, geboren in Pakantan 17 oktober 1906, gestorven in Jakarta 29 april 1985, herbegraven in Pakantan op dinsdag 15 juli 1997. Volgens de verhalen is dit kind door de zendeling gedoopt. Nadat de zendeling naar Europa was teruggekeerd, is dit kind tot de islam overgegaan.
Na een korte kerkdienst met veel toespraken, stond ik achter het graf van tante Anna. Zij is in 1899 tijdens een aardbeving voortijdig van een tweeling bevallen en overleden. Een gevoel van ontroering ging door mij heen toen ik achter de drie graven stond en over de sawa, de rijstvelden, keek. Bij het afscheid nemen beloofde ik, mede uit pi褮eit voor de zendelingen die hier gewerkt hebben, te helpen bij de renovatie van het kerkgebouw.
Na dit bezoek werd in overleg met de Christenen van Pakantan besloten op de plaats van de houten kerk uit 1975 een nieuwe, stenen kerk te bouwen op een degelijk fundament. Gedurende 2002 en 2003 kreeg ik regelmatig foto van het verloop van de bouw activiteiten. Het was als vanzelfsprekend dat ik in 2003 de nieuwe kerk zou bezichtigen.
Op 25 augustus 2003 kwam ik langs dezelfde kronkelige weg in Pakantan terug ter gelegenheid van de inwijding van de nieuwe kerk. Voor de kerk stonden de Christenen, de dames keurig gekleed in sarong en kabaja, klaar om mij te ontvangen. Onder tonen van muziek en met dansen kwamen de Christenen naar mij toe, met open handen, hun handpalmen naar boven gericht. Na een welkomstgroet werd een los?op mijn schouders gelegd. De drie mannen, op de foto, die voor mij stonden, waren van links naar rechts: een ouderling van de gemeente, het oudste lid van de gemeente en een inwoner van 澭n van de Moslim kampungs.
De ulos is een belangrijk element in de Batak cultuur; men geeft een ulos b.v. bij geboorte, huwelijk en overlijden. Tijdens de huwelijksceremonie wordt de ulos over de schouders van het bruidspaar gelegd. Bij overlijden wordt het lichaam bedekt met een ulos, een teken dat er een karbouw geslacht zal worden. Wanneer een nieuw huis betrokken wordt krijgen de bewoners een ulos. Een ulos kan tevens gegeven worden om iemand eer te bewijzen.
Tijdens het dansen (tortor) dragen de Bataks altijd een ulos. In de ulos is een tekst geweven die aangeeft bij welke gelegenheid deze gegeven wordt. Een ulos is een op een ambachtelijk geweven doek, van 230-250 cm lang en 95 cm breed. De hoofdkleuren zijn wit, rood en zwart, kleuren die op de Batak mythologie betrekking hebben.
In de ulos die op mijn schouders werd gelegd zijn de woorden oras tondi madingin, sayur manua bulung?geweven. Deze woorden worden in het Engels letterlijk vertaald met: eart in peace, long life? of in de vrije interpretatie e happy and safe, may have a long life? in het Nederland vertaald: wees gelukkig en veilig, moge je een lang leven leiden.
Met een horas verwelkomden zij mij in Huta Bargot. Vervolgens liepen de Christenen steeds met open handen op de maat van de muziek achteruitwaarts naar de kerk terug. Bij de kerk gekomen besefte ik dat de muziek gespeeld werd door het ensemble ordang sembilan? bestaande uit negen gordangs, een blaasinstrument en nog enkele slaginstrumenten. Twee mannen voerden een dans met heftige en krachtige bewegingen uit. Hoewel ik op dat ogenblik nog niets de achtergrond van dit feestelijke onthaal wist, begreep ik dat dit een bijzondere plechtigheid voor de Christenen moest zijn. Na de gebruikelijke foto voor de kerk, werd het kerkgebouw met offici螔e toespraken door kerkelijke en bestuurlijke autoriteiten ingewijd.
Avonds kwam het oudste lid van de Christen gemeente langs; hij vertelde dat de dans die hij tijdens de opening van de kerk uitvoerde encak silat?heet. Het is een dans waarbij de geesten, die op mijn pad naar de kerk aanwezig konden zijn, verjaagd zouden worden. Hoewel het in de kamer donker was, heb ik deze opnamen gemaakt. Het zijn prachtige opnamen, temeer daar deze man al 77 jaar oud is. Zonder muziek maakte hij snelle en felle bewegingen alsof hij weerstand aan een tegenstander bood. Video 2. Pencak silat.
Na deze feestelijke dag ben ik nog een ruime week in Pakantan gebleven. Op veel vragen heb ik antwoord gekregen, die in de volgende episoden worden verhaald.
http://www.zinprofiel.nl/eZine.asp?lStrAction=artikel&lIntEzineId=847
Taman Nasional Batang Gadis, Surga Burung di Sumatra

Taman Nasional Batang Gadis
Surga Burung di Sumatera
Survai Burung di Taman Nasional Batang Gadis menyimpulkan bahwa kawasan hutan ini merupakan bagian potensial habitat burung yang perlu dilindungi.
Kekayaan burung ini juga bisa dimanfaatkan sebagai arena wisata alam ‘bird waching’.
Sore itu agak redup, dari kejauhan tampak mobil beriring-iringan masuk ke suatu kota kecil yang diapit oleh dua pegunungan. Kota kecil itu sangat unik karena perkembangannya nampak hanya terlihat di bagian jalan besar yang lurus memanjang membelah kota tersebut. Kota ini dinamakan Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal yang letaknya di Propinsi Sumatera Utara.
Salah satu pegunungan besar yang mengapit kota kecil tersebut adalah Taman Nasional Batang Gadis yang kini menarik perhatian internasional karena selain usulan kawasan tersebut merupakan kawasan kosnervasi yang diajukan secara sungguh-sungguh oleh masyarakat Mandailing Natal.
Sesampai di sebuah penginapan, seluruh penumpang di dalamnya turun dengan membawa sebukit tas, alat-alat dan barang-barang perbekalan penelitian.
Mereka yang menamakan diri ‘Tim Flora dan Fauna’ merencanakan untuk membuat berbagai riset singkat di wilayah bakal taman nasional tersebut terutama aspek keanekaragaman hayatinya. Menariknya, aspek keanekaragaman hayati di kawasan usulan taman nasional tersebut (kini sudah resmi menjadi taman nasional-red) belum pernah digali sebelumnya dan hanya ada satu atau dua catatan pengamatan kecil dari organisasi lingkungan yang pernah melakukan kegiatan pemantauan di sana.
Keesok harinya, saat makan pagi usai, mulai tim flora dan fauna melakukan kegiatan survey awal kondisi lokasi bakal taman nasional tersebut. Banyak hal yang menarik terutama tim tersebut terdiri dari berbagai latar belakang keilmuan dan institusi. Ada yang berasal dari institusi Litbang Kehutanan, LIPI dan saya sendiri (Wishnu) lalu staff CI Indonesia yang lain Sunarto, Abu Hanifah, Hamid dan Hasbi dan beberapa penduduk lokal yang diantaranya belum saling kenal satu sama lain.
Mandailing Natal merupakan lokasi yang elok dikunjungi, suasananya yang tidak ramai, pegunungan yang masih banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tinggi dan alami dan keindahan Gunung Sorik Merapi yang seringkali cemerlang pada pagi hari dan saat itu sangat cocok bagi mereka yang senang fotografi.
Satu hal lagi, air terjun panas yang terletak di samping jalan Kayu laut - Sopotinjak. Sungguh luar biasa dan tidak pernah dijumpai di daerah manapun.
Mimpi yang sangat indah kalau daerah tersebut benar-benar dijaga dan
dikelola secara baik dan profesional. Dari segi pemerintahan, kabupaten ini termasuk kabupaten baru pecahan dari Tapanuli Selatan. Dengan diangkatnya menjadi kabupaten baru, otomatis para pemangku kepentingan atau stakeholder di sana berusaha keras untuk mendapatkan sumber dana atau pendapatan buat daerahnya. Hal ini kadang menjadi dilema bagi kelestarian alam. Banyak contoh bahwa otonomi daerah mengakibatkan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam karena bagian inilah yang paling mudah untuk mendapatkan pendapatan, tetapi bagi Kabupaten Mandailing Natal ternyata tidak demikian.
Pemerintah Daerah justru berkeinginan untuk memiliki salah satu kawasan lindung yang bisa menjadi kebanggaan daerah. Menariknya lagi, kawasan lndung tersebut merupakan usulan dari masyarakat yang berada di sekitar desa yang diwakili oleh beberapa kepala desa.
Bagi pemda dan masyarakat sebenarnya dapat memanfaatkan hutan tersebut
secara lestari dan dapat diambil keuntungan atau benefit yang nyata yaitu dengan melakukan pengelolaan yang ramah lingkungan dan berkesinambungan.
Misalnya dengan menumbuhkan kegiaran ekowisata. Potensi ekowisata di sekitar Batang Gadis itu sangat besar. Tim flora dan fauna yang berkunjung ke desa-desa sekitar kawasan (walau belum seluruh desa dijelajahi), banyak menemukan keunikan di sana seperti di daerah Sibanggor, Sopotinjak, Aek Nangali, Hutabargot dan Natal (lihat artikel: Potensi Wisata Alam di Taman Nasional Batang Gadis). Di Sibanggor saja, keunikan rumah-rumah masyarakat yang beratap ijuk dan letaknya yang teratur, merupakan aset daerah yang dapat dilestarikan dan merupakan daya tarik wisatawan. Oleh karen itu perlu dipikirkan meningkatkan kualitas rumah-rumah tersebut.
Surga Burung
Kegiatan kunjungan ke desa juga diikuti dengan penelitian flora dan fauna dan efektifnya pengamatan flora dan fauna pada pertengahan minggu pertama survai. Beberapa titik diambil sebagai lokasi penelitian dan selama proses berjalannya waktu, banyak sekali hasil yang diperoleh. Untuk tumbuhan saja diperkirakan ratusan jenis dapat teridentifikasi dan ditemukan pula jenis Raflesia sp. di wilayah Sorik Merapi yang katanya menjadi daerah keramat.
Serunya lagi untuk satwa, 200-an burung teridentifikasi padahal ketinggian lokasi pengamatan antara 0 - 1300 m dpl dan belum mencapai ketinggian 1500an. Jadi, Batang Gadis merupakan surganya burung, karena jarang sekali pengamatan satwa waktunya hampir sebulan bisa mendapatkan 200 jenis burung.
Dari 200 spesies yang tercatat, 6 jenis rangkong dipastikan terdapat di kawasan tersebut, jadi tinggal 3 ekor lagi dari 9 spesies rangkong di sumatera, jenis ‘finfoot’ yang dikenal migran dan datanya sangat jarang ditemukan di Indonesia, juga tercatat di situ. Dari 200 spesies burung, 38 spesies diantaranya dalam status dilindungi dan 5 diantaranya adalah endemik Sumatera. Tim fauna juga menemukan banyak spesies elang, kutilang, pelatuk, bahkan burung-burung yang sulit ditemukan dan hanya dijumpai di daerah-daerah yang sulit terjamah manusia, seperti seperti jenis burung luntur gunung atau ‘trogon’.dan burung cirik-cirik kumbang –Nyctyornis amictus.
Dalam survai tersebut tim burung juga menjumpai spesies paling eksotik dan menarik yaitu enggang gading Rhinoplax vigil. Burung berwarna hitam dan putih ini selain bentuknya unik dan memiliki bulu ekor di bagian tengah yang jauh lebih panjang dari bulu ekor tepi, juga memiliki suara seperti orang sedang tertawa terbahak-bahak.
Selain itu adapula burung yang unik selalu di jalan dan kadangkala ingin bercanda dengan kita yaitu kicuit batu Motacilla cinerea. Burung ini seringkali berjalan di tanah dan menungging-nunggingkan ekornya naik turun untuk mencari perhatian. Adalagi jenis Tepekong rangkang Hemiprochne comata dengan cirri khas dua garis putih melintang di atas dan bawah bagian matanya, selalu mengamati gerak-gerik kita pada saat pengamatan. Lucunya burung ini dapat dengan cuek nya hinggap di dahan kering lalu terbang berputar dan hinggap lagi di dahan yang kering tanpa merasa terganggu oleh kehadiran manusia. Berung di Batang Gadis memang terasa jinak, adalagi burung yang lebih cuek yaitu burung luntur gunung. Pernah tim fauna menjumpai burung tersebut hinggap dekat dengan pengamat tanpa bergerak walau pengamat tersebut lalu lalang berjalan. Seolah berkata: “segera lindungi habitat kami”.
Sangat indahnya kawasan hutan dan fauna burung di Batang Gadis, menjadikan kawasan ini cocok dan potensial untuk dijadikan kawasan ekowisata ‘Birdwatching’.Nah, tinggal bagaimana semua pihak atau pemangku kepentingan (stakeholder) memiliki komitmen untuk merencanakan dan membangun ini semua.
http://catros.wordpress.com/2007/06/29/taman-nasional-batang-gadis/
Lubuk Larangan: Community-Based Ecological Resource Management Practise in Mandailing

Title: Lubuk Larangan: community-based ecological resource management practise in Mandailing
(Foto: Erwin A. Perbatakusuma/CI)Abstract: The transitional period following the euphoria of ‘reformasi’ that sweep throughout Indonesia in the 1990s is marked by the collapsed of social cohesion which forms the basis of a harmonious society; instead it has led to the strengthening of suspicion in all sections of the Indonesian society. This phenomenon can be described as a deficiency in ‘social capital’. Social capital functions effectively when social relationship collaborates to create a collective cooperation in facing a common challenge.
Since independence in 1945, local communities in kabupaten (district of) Madina in the province of North Sumatra, in Indonesia, have been overseeing the implementation of the river protection (lubuk larangan) program. The origin of this program stems from the traditional concept of protected areas known as rarangan in the Mandailing language that is areas protected by adat (customary laws). The rarangan covers watershed, forested areas and grazing grounds.
The practice of lubuk larangan prohibits the harvesting of fisheries resources close to human settlements for a period of between 6 months to a year. Implemented in 70 settlements, the district of Madina has the largest river protection scheme in the province of North Sumatra. A small fee is charged to residents and visitors alike to catch the fishes. The income derived there from is in turn used to pay for the development of social facilities such as schools, roads and mosques, providing educational scholarships and administrative salaries, charity towards orphans, poor and invalids, etc.. The income generated by this community-based ecological resource management program benefits the community directly. In view of the current Indonesian economic and political situation, where remote communities can no longer count on the government for ‘development’ funding, the program instills confidence and financial self-reliance.
However, the rivers and watersheds are now facing two threats – illegal logging and pollution. The root causes of the destruction of habitats in Indonesia generally are corruption and weak local governance. Illegal logging carried out by national lumber companies, with the tacit collusion of the civil, police and military establishments, has ravaged the countryside. With increased consumption, pollution caused by the careless disposal of non-biodegradable domestic wastes, human wastes, and agricultural wastes, is degrading the water quality and river fisheries.
These activities have left an adverse impact on the watershed and consequently water quality and fisheries resources that the communities living in the area depend on. The well-being and health of the people living in the watersheds, as well as the benefits of the river protection scheme, are at stake. A process of re-education and visioning with the participation of the invigorated ‘village parliament' is in place to engage and promote participatory planning and decision-making to the newly constituted pemda (district authority); and ultimately strengthen the position of the Mandailing people as a stakeholder in national and regional development, which will allow them to better realize their options in the face of regionalism and globalization.
Mr Abdur-Razzaq Lubis
Mandaiilng All Clans Assembly
120 Armenian Street10200 Penang, Malaysia
Phone: +6 04 2633985Fax :+6 04 2633970
The Global Biodiversity Forum
http://www.gbf.ch/ab_received.asp?no=36&lg=EN&app=&now=1
Lubuk Larangan dan Mata Air Kehidupan Warga Mandailing

Sungai Batang Gadis yang mengaliri kawasan Mandailing Natal
(Foto: Erwin A. Perbatakusuma/CI)
(Foto: Erwin A. Perbatakusuma/CI)
Lubuk Larangan dan Mata Air Kehidupan Warga Mandailing
Orang yang bermarga Lubis, tentu mengenal betul hikayat Namora Pande Bosi yang menasihatkan anaknya Silangkitang dan Sibaitang, ketika mereka harus meninggalkan kampung Hatongga, agar menyusuri Sungai Batang Gadis untuk membuka tempat pemukiman baru. Sebab itulah, kebanyakan perkampungan warga Mandailing hingga sekarang selalu didirikan berdekatan dengan sumber-sumber air.
Ada beberapa istilah yang diberikan pada sumber air di kawasan Mandailing: sungai disebut batang, anak sungai, aek, atau ranting sungai rura dan mata air yang disebut mual. Nama-nama sungai atau muaranya bahkan banyak dijadikan sebagai acuan nama pemukiman orang-orang Mandailing.
Pada masyarakat Mandailing, eksistensi air sungai maupun anak sungai yang ada di sekitar pemukiman mereka berperan multi-fungsi, sebagai air minum dan mandi cuci kakus (MCK), mengairi lahan pertanian, mendukung fungsi sosial budaya (misalnya dalam ritus patuaekkon boru), relijius (mendukung pelaksanaan ibadah), dan juga ekonomi (mencari emas/manggore, ikan, bahan bangunan berupa pasir, kerikil dan juga batu). Dengan kata lain, bagi orang Mandailing air merupakan "mata air kehidupan" yang sekaligus bertali-temali dengan institusi sosial, budaya, ekonomi dan ekologis.
Lubuk Larangan
Oleh karena banyak sekali kepentingan orang Mandailing terhadap sumber daya air, maka tidak heran, sejak tahun 1980-an bermunculan gagasan di 70 desa Kabupaten Mandailing Natal untuk menyelenggarakan sistem pengelolaan sungai dengan model lubuk larangan (river protected area).
Memang mayoritas desa di Mandailing berdekatan dengan aliran sungai. Keberadaan desa tersebut dapat ditelusuri mulai dari Kecamatan Muara Sipongi -- hulu Sungai Batang Gadis ke arah hilir Kecamatan Kotanopan hingga ke Kecamatan Penyambungan. Selain itu terdapat juga desa di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai yang ada di Kec. Batang Natal, serta sepanjang sungai Batang Selai sampai Danau Rinaete di Tapanuli Selatan.
Ada beberapa istilah yang diberikan pada sumber air di kawasan Mandailing: sungai disebut batang, anak sungai, aek, atau ranting sungai rura dan mata air yang disebut mual. Nama-nama sungai atau muaranya bahkan banyak dijadikan sebagai acuan nama pemukiman orang-orang Mandailing.
Pada masyarakat Mandailing, eksistensi air sungai maupun anak sungai yang ada di sekitar pemukiman mereka berperan multi-fungsi, sebagai air minum dan mandi cuci kakus (MCK), mengairi lahan pertanian, mendukung fungsi sosial budaya (misalnya dalam ritus patuaekkon boru), relijius (mendukung pelaksanaan ibadah), dan juga ekonomi (mencari emas/manggore, ikan, bahan bangunan berupa pasir, kerikil dan juga batu). Dengan kata lain, bagi orang Mandailing air merupakan "mata air kehidupan" yang sekaligus bertali-temali dengan institusi sosial, budaya, ekonomi dan ekologis.
Lubuk Larangan
Oleh karena banyak sekali kepentingan orang Mandailing terhadap sumber daya air, maka tidak heran, sejak tahun 1980-an bermunculan gagasan di 70 desa Kabupaten Mandailing Natal untuk menyelenggarakan sistem pengelolaan sungai dengan model lubuk larangan (river protected area).
Memang mayoritas desa di Mandailing berdekatan dengan aliran sungai. Keberadaan desa tersebut dapat ditelusuri mulai dari Kecamatan Muara Sipongi -- hulu Sungai Batang Gadis ke arah hilir Kecamatan Kotanopan hingga ke Kecamatan Penyambungan. Selain itu terdapat juga desa di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai yang ada di Kec. Batang Natal, serta sepanjang sungai Batang Selai sampai Danau Rinaete di Tapanuli Selatan.
Pada sebagian aliran sungai yang melintasi wilayah suatu desa-desa itulah, penduduk desa bersepakat untuk menetapkan sebuah wilayah yang terlarang untuk diambil hasil ikannya selama jangka waktu tertentu (berkisar 6-12 bulan). Kawasan terlarang itu disebut ‘lubuk larangan’. Hasil pengelolaan lubuk larangan tersebut akan digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa. Jadi konsep “larangan” yang ada dalam khasanah budaya Mandailing dan Angkola telah ditransformasikan ke dalam bentuk baru yang lebih rasional oleh komunitas-komunitas desa di sepanjang aliran sungai-sungai Batang Gadis, Batang Natal dan Batang Selai.
Paling tidak ada dua hal yang istimewa dari munculnya fenomena pengelolaan sungai dengan sistem lubuk larangan tersebut. Pertama, kemampuan komunitas setempat di kawasan Mandailing melakukan perubahan radikal dalam konsepsi penguasaan sumberdaya alam (sungai), dari yang semula dipahami sebagai sumberdaya yang bisa diakses secara bebas oleh siapapun menjadi sumberdaya yang dimiliki secara komunal (communally owned resources). Dengan perubahan konsepsi tersebut, maka kecenderungan eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya alam menjadi terkurangi, sehingga gejala "tragedi milik bersama" (tragedy of the common) dalam pengelolaan sumberdaya yang bersifat akses terbuka tidak terjadi, khususnya dalam konteks pengelolaan sumberdaya yang ada di sungai.
Kedua, komunitas-komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal mampu menanam dan mengembangkan investasi modal sosial (social capital) diantara mereka dalam pengelolaan sumberdaya 'milik bersama'. Komunitas desa pengelola lubuk larangan di Mandailing samapi batas-batas tertentu mampu menyiasati kondisi yang tidak sehat itu, yang terlihat dari tetap kukuhnya mereka membangun sistem pengelolaan lubuk larangan yang relatif terbebas dari 'campur tangan penguasa.
Kedua, komunitas-komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal mampu menanam dan mengembangkan investasi modal sosial (social capital) diantara mereka dalam pengelolaan sumberdaya 'milik bersama'. Komunitas desa pengelola lubuk larangan di Mandailing samapi batas-batas tertentu mampu menyiasati kondisi yang tidak sehat itu, yang terlihat dari tetap kukuhnya mereka membangun sistem pengelolaan lubuk larangan yang relatif terbebas dari 'campur tangan penguasa.
Hasilnya cukup mengagetkan, ketika setiap tahun pemerintah menyalurkan dana Bangdes ke desa-desa melalui jalur formal, kita sudah banyak mengetahui apa hasil pembangunan yang bisa dicapai di desa-desa itu; tetapi pengelolaan lubuk larangan yang dibangun dengan mengandalkan modal sosial (bukan modal material/finansial), mampu menghasilkan banyak hal di desa, misalnya mendirikan gedung madrasah (seperti di Desa Hutarimbaru dan desa Singengu, Kec.Kotanopan), masjid (di banyak desa di Kec. Muara Sipongi, Kotanopan dan Batang Natal), menggaji guru SD Negeri (di Batang Natal), menyantuni anak yatim dan fakir miskin ( di banyak desa Kec. Batang Natal), membangun titi/rambin dan jalan desa (di desa Koto Baringin, Kec. Muara Sipongi, desa Husor Tolang, Kotanopan ), dan banyak lagi contoh lainnya.
Ketika dana Bangdes dan dana-dana pembangunan lainnya masuk ke desa, yang sering terjadi adalah sikut-sikutan antar elit desa (bahkan konflik terbuka), dalam sistem pengelolaan dan pemanfaatan hasil lubuk larangan hal itu tidak ditemukan. (Erwin A. Perbatakusuma, Policy Analist, NSC Project)
Ketika dana Bangdes dan dana-dana pembangunan lainnya masuk ke desa, yang sering terjadi adalah sikut-sikutan antar elit desa (bahkan konflik terbuka), dalam sistem pengelolaan dan pemanfaatan hasil lubuk larangan hal itu tidak ditemukan. (Erwin A. Perbatakusuma, Policy Analist, NSC Project)
Taman Nasional Batang Gadis Buat Anak Cucu Kita

Taman Nasional Batang Gadis, di mana manusia dan alam hidup bersama secara harmoni
Foto Arbain Rambey
Taman Nasional Batanggadis
Upaya Mewariskan Hutan bagi Anak-Cucu
Taman Nasional Batanggadis
Upaya Mewariskan Hutan bagi Anak-Cucu
Ada petuah lama berbunyi "Alam terkembang, jadikanlah guru." Maksudnya, alam pemberian Tuhan yang terhampar luas ini sepatutnya dijadikan guru. Petuah itu rasanya pantas direnungkan karena dari alam manusia bisa membaca isyarat dan berkaca diri.
Lihat saja berbagai bencana alam di Tanah Air akhir-akhir ini. Mulai kekeringan panjang di Jawa, banjir dan tanah longsor di mana-mana, serta terakhir paling aktual banjir bandang di Bukit Lawang Bohorok, Sumatera Utara, yang menelan lebih 150-an korban tewas. Itu merupakan wujud nyata betapa alam sudah marah atas ulah manusia.
Barangkali, berangkat dari kesadaran untuk berguru dari alam itulah yang menjadikan masyarakat Kabupaten Mandailing Natal, Sumut, sehingga mereka telah berbulat tekad untuk melestarikan kawasan hutan alam di daerahnya. Upaya ke arah pelestarian hutan itu melalui usulan ke pemerintah pusat agar kawasan hutan di kampung mereka hendaknya ditetapkan sebagai Taman Nasional Batanggadis.
Menariknya, usulan untuk mempertahankan keberadaan hutan alam tersebut, seperti diakui Bupati Madina Amru Daulay, bukan berasal dari Pemkab Madina, tetapi murni usulan dari bawah, yakni masyarakat adat daerah ini. Peran pemkab sendiri hanya mendukung dan memberikan rekomendasi, sebagai salah satu syarat formal dalam administrasi pemerintahan.
"Tidak ada rekayasa sedikit pun terkait dengan usulan penetapan kawasan hutan alam Batanggadis menjadi taman nasional. Ini betul-betul murni aspirasi masyarakat sekitar hutan, karena mereka sudah terlalu ngeri melihat bencana alam di mana-mana," ungkap Daulay. Ia menambahkan, usulan ini dianggap sangat logis dan tepat karena sekitar 70 persen penduduk Madina merupakan petani yang hidupnya sangat tergantung pada alam.
Di tengah maraknya aksi penjarahan hutan di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini, usulan penetapan TN Batanggadis mungkin terasa "aneh". Soalnya, yang ngotot menggarap hutan untuk dikonversi menjadi lahan perkebunan dan pertanian, biasanya kalau tidak masyarakat, justru pemerintah kabupaten sendiri.
Erwin Perbata Kusuma, dari Conservation International (CI) Indonesia di Medan, menyatakan, "Sejak April 2003, jauh sebelum bencana banjir bandang Bohorok meluluhlantakkan Bukit Lawang, masyarakat dan Pemkab Madina malah sudah memberi perhatian serius terhadap sumber daya hutan setempat. Langkah konkretnya adalah dengan mengusulkan hutan alam di Madina dijadikan kawasan pelestarian alam TN Batanggadis. Ini langkah terpuji dan sangat layak didukung semua pihak."
Erwin menambahkan, CI sebagai organisasi internasional nonprofit, yang menerapkan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan murni, ekonomi, serta kebijakan dan partisipasi masyarakat untuk melindungi wilayah dengan keanekaragaman hayatinya, ikut mendukung terwujudnya rencana Taman Nasional Batanggadis.
Dikatakan, kalau rencana TN Batanggadis ini berhasil direalisasi, maka pengelolaannya nanti akan sangat khas karena melibatkan masyarkat yang bermukim di sekitar hutan secara langsung. Pemkab Madina dan Pemprov Sumut pun akan ikut berperan sebagai salah satu komponen penting. Selama ini, kewenangan pengelolaan taman nasional di Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah pusat semata.
DAERAH Aliran Sungai (DAS) Batanggadis ini tercatat mencapai luas 386. 455 ha, atau sekitar 58,8 persen dari seluruh luas Kabupaten Madina. Kawasan yang diusulkan menjadi taman nasional dengan luas 108.000 ha, sepenuhnya berada di DAS Batanggadis.
"Bagi masyarakat Madina, keberadaan DAS Batanggadis bernilai sangat penting. Sebagai sumber air, DAS ini amat mendukung kelangsungan hidup masyarakat sejak dulu. Oleh karena itu, Pemkab Madina mendukung TN Batanggadis karena ada sebanyak 66 desa pada 13 kecamatan yang masyarakatnya bersentuhan langsung dengan keberadaan DAS dan calon TN Batanggadis," ungkap Bupati Amru Daulay.
Lembaga CI mencatat, sektor pertanian di kabupaten ini merupakan pilar utama karena lebih 35 persen dari total produk domestik regional bruto (PDRB) daerah ini ditopang sektor pertanian.
Kualitas dan kelancaran pasokan air menjadi faktor yang sangat menentukan bagi keperluan sehari-hari warga masyarakat dan areal persawahan seluas 34.500 ha serta ribuan hektar areal perkebunan rakyat setempat. Karena itu, dipandang penting untuk menjaga keutuhan fungsi hidrologis DAS Batanggadis.
Secara fisik, sekitar 36 persen dari luas wilayah Kabupaten Madina terdiri dari pegunungan hingga ketinggian 2.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jenis tanah sebagian besar rawan erosi dan longsor, curah hujan tinggi, serta dilalui patahan semangko. Dengan keadaan fisik seperti ini, Kabupaten Madina rawan bencana alam, seperti tanah longsor, banjir, maupun gempa. Ini terutama bila tutupan hutan alam di wilayah DAS Batanggadis berkurang.
Menurut Erwin Perbata, daerah Batanggadis mempunyai keragaman bentang alam yang cukup lengkap, dari hutan hujan dataran rendah perbukitan (300 mdpl), hutan pegunungan rendah dan hutan pegunungan tinggi di puncak Sorik Merapi (2.145 mdpl). Variasi tipe habitat yang tinggi tersebut mempunyai konsekuensi tingginya keanekaragaman hayati.
Berdasarkan riset biologi dan temuan beberapa peneliti, kawasan hutan alam Batanggadis memiliki nilai konservasi alam yang sangat tinggi dan bernilai global.
Di kawasan hutan ini ditemukan jenis mamalia langka yang dilindungi, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan tapir (Tapirus indicus). Jenis-jenis primata yang ditemukan di sini adalah siamang (Hylobates syndactylus), lutung kelabu (Presbytis cristata), owa ungko (Hylobates agilis), monyet beruk, dan monyet ekor panjang.
Nilai konservasi hutan alam Batanggadis makin lengkap karena di kawasan ini ditemukan sembilan dari 10 jenis burung rangkong yang mewakili seluruh marga yang ada di Sumatera. "Semua itu mengindikasikan kesesuaian habitat bagi satwa pemakan buah. Sebanyak 99 jenis burung pun telah tercatat menghuni kawasan hutan alam ini," papar Erwin.
Bagi Pemkab Madina, seperti diakui Bupati Madina Amru Daulay, DAS Batanggadis tak hanya sekadar mengandung nilai konservasi dan potensi alam yang besar. Akan tetapi, kawasan sekitar hutan alam ini pun memiliki potensi wisata, baik untuk wisata alam maupun petualangan.
Beberapa potensi wisata alam dan budaya yang bakal bisa dipasarkan, antara lain, gua-gua alam yang sangat memesona, sumber air panas alami, puncak gunung Sorik Merapi, dan Desa Sibangor yang menampilkan rumah khas tradisional beratap ijuk.
Kampung khas Mandailing ini persis terletak di kaki Sorik Merapi, dekat kawasan hutan alam, sekitar 20-an km dari kota kabupaten di Panyabungan yang mudah diakses lewat jalan negara lintas tengah Sumatera. (Ahmad Zulkani).
Dikutip dari Kompas Jan 6 2004
Menyingkap Tabir Kekayaan Bumi Mandailing Natal

Batang Gadis watershed, a well kept treasure
Daerah Aliran Batang Gadis, perbendahaan yang terpelihara baik
Foto Arbain Rambey
Menyingkap Tabir “Kekayaan” Bumi Mandailing Natal
Kawasanyang baru saja ditunjuk sebagai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), MandailingNatal (Madina), Sumatera Utara, seluas 108.000 Ha ternyata memiliki kekayaan hayati yang tinggi. Fakta ini terungkap lewat survei awal yang dilakukan Conservation International (CI) Indonesia bersama Lembaga Ilmu PengetahuanIndonesia (LIPI), Pusat Penelitian dan Pengembangan (PusLitBang) Hutan danKonservasi Alam-Departemen Kehutanan dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing-Natal. Survei ini dilakukan selama kurang lebih 6 minggu, dari 2 Februari hingga 20 Maret2004.
Survei terpadu ini berhasil memberikan gambaran yang dapat dijadikan sebagai masukan awal dalam menentukan model pengelolaan, cakupan wilayah, zonasi dan hal-hal terkait lainnya. “Kawasan Taman Nasional Batang Gadis inimerupakan harta yang paling berharga bagi masyarakat di sekitarnya. Selain dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti terjaminnya suplai air bersih, masyarakat juga terhindar dari bencana alam seperti yang belum lama ini terjadi di Bahorok,tetapi dengan catatan jika masyarakat Madina menjaga hutannya dengan baik,”tutur Dr. Endang Sukara, Deputi Ketua LIPI Bidang Ilmu PengetahuanHayati.
Berdasarkanhasil penelitian flora, dalam plot seluas 200 meter persegi terdapat 222 jenistumbuhan berpembuluh (vascular plant) atau sekitar 0,9% dari flora yang ada di Indonesia (terdapat sekitar 25.000 jenis tumbuhan berpembuluh diIndonesia). Sementara dalam plot seluas 1 Ha, terdapat 184 jenis pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm dengan jumlah pohon sebanyak 583. Survei ini juga berhasil menemukan bunga Padma (Raffesiasp.) jenis baru. Hingga kini, bunga tersebut belum diberi nama ilmiah dan masih diteliti oleh pakar di Herbarium Bogoriense, Pusat PenelitianBiologi-LIPI.
“KawasanTaman Nasional Batang Gadis ini ternyata mempunyai kekayaan hayati flora yangtinggi, sehingga harus tetap dijaga kelestariannya. Sebab, masih banyakjenis-jenis tumbuhan yang secara ilmiah belum dikenal serta belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia dan ini perlu dikaji lebih lanjut,” imbuh Dr.Kuswata Kartawinata, pakar hutan tropis yang juga adviser CIIndonesia.
Disisi lain, tim survei fauna mengidentifikasi berbagai jenis mamalia di daerahTNBG dan sekitarnya pada ketinggian 50-1350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melalui perangkap kamera, tim ini berhasil merekam gambar harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Naemorhedussumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopumatemminckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitisbinturong), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjac) dan landak (Hystix brachyura).
“Halini sangat luar biasa, hanya dalam enam minggu saja kami sudah berhasilmengidentifikasi beberapa satwa langka, padahal di lokasi lain butuh waktutahunan. Selain itu, kami juga mengidentifikasi adanya empat jenis primata dankeragaman jenis tikus hutan yang tinggi,“ jelas Dr. H. M. Bismark, Ahli PenelitiUtama (APU) Biologi Satwa Liar dan Konservasi dari PusLitBang Hutan dan Konservasi Alam-DepHut. Hal ini, lanjutnya, menandakan fungsi satwa sangat mendukung untuk proses regenerasi dan suksesi hutan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Disisi lain, tim yang dipimpin Drs. Boeadi, pakar reptil dan amfibi LIPI berhasil menemukan amfibi tak berkaki (Ichtyopis glutinosa) -merupakan jenis satwapurba- dan katak bertanduk tiga (Megophyris nasuta) yang sudah langkahanya dapat dijumpai (endemik) di Sumatera.
Catatanjenis burung di kawasan ini juga bertambah dari 140 menjadi 242 jenis. Dari 242 jenis tersebut, 45 merupakan jenis burung yang dilindungi di Indonesia, 8 jenis secara global terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah. Ditemukan juga dua jenis burung yang selamaini dikategorikan sebagai ‘kekurangan data’ (data deficient) oleh IUCN karena sedikitnya catatan. Dari total jenis burung tersebut 13 jenis masuk kedalam kategori Burung Sebaran Terbatas yang berkontribusipada terbentuknya Daerah Burung Endemik dan Daerah Penting bagi Burung (DPB). “Ada satu jenis burung yang keberadaannya di Sumatera masih diragukan dan timkami menemukannya, bahkan dengan bukti foto, yaitu pedendang kaki sirip (Heliopais personata),” ujar Sunarto, ahli keanekaragaman hayati CI Indonesia. Tambahnya, kawasan ini merupakan salah satu lokasi transit burung-burung migran yang datang dari belahan bumi utara.
Selaintumbuhan dan hewan tingkat tinggi, CI Indonesia dan Bioteknologi-LIPI juga mencoba melakukan hal baru yaitu mengidentifikasi mikroba hidup dalam jaringan tumbuhan (endopyte) yang ada di hutan tropis Mandailing Natal, guna menyelamatkan jenis mikroba tersebut dari kepunahan. Konservasi mikroba dari hutan tropis Indonesia belum pernah dilakukan oleh lembaga mana pun. Hinggakini, tim survei telah berhasil mengumpulkan 1500 jenis mikroba yang terdiri dari bakteri, kapang dan jamur. Mikroba ini banyak memberikan manfaat antara lain sebagai sumber obat-obatan, pupuk organik, bio-insektisida ataupun bio-fungisida yang menunjang sektor pertanian maupun penghasil enzim dan hormon yang dibutuhkan oleh sektor industri. Sekali potensinya terkuak, Indonesia dapat membangun bioindustri bernilai tinggi tanpa harus mengorbankan kekayaan bumi Madina.
“Kamiberharap hasil penemuan awal ini menjadi sumber acuan bagi pengelolaan kawasan taman nasional yang dikelola secara kolaboratif berdasarkan keselarasan antara kepentingan pelestarian keanekaragaman hayati dan kepentingan masyarakat lokal, nasional dan global” tukas Dr. Jatna Supriatna, Regional Vice President CIIndonesia.
Keteranganlebih lanjut hubungi:
DiahR. Sulistiowati (Sulis)
CIIndonesia-Kantor Medan
Jl.Rajawali No. 38, Sei Sikambing B, Medan, Sumatera Utara,20122
Telp.061-8454534,08128078472
Email:sulis@conservation.or.id
AmaliaFirman
CIIndonesia-Kantor Jakarta
Jl.Pejaten Barat No. 16A
Jakarta12550
Telp.021-78838624, ext 114, Fax.021-7896723
Email:amalia@conservation.or.id
______________________________________________________
ConservationInternational (CI) adalah organisasi non-profit internasional yang menerapkan inovasi dalam bidang ilmupengetahuan murni, ekonomi, kebijakan dan partisipasi masyarakat untukmelindungi wilayah wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi di dunia. CIbekerja di lebih dari 30 negara. Untukinformasi lebih lanjut kunjungihttp://www.conservation.org/atauhttp://www.conservation.or.id/.
Pakantan, Wista Mandheling Coffee
Mandheling Coffee being grounded by a water wheel.Kopi Mandheling dikisar oleh kincir air.
Foto Arbain Rambey
Pakantan, Wisata Kebun Kopi Tua Mandailing
Kebun kopi Mandailing berusia ratusan tahun, berpotensi sebagai kawasan ekowisata.
Abdul Hamid Damanik, Affan Surya dan Erikson Sinaga
Pakantan, pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas. Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942. Ini terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandailing waktu itu. Tetapi, julukan sebagai gunung mas kemudian berakhir seiring dengan masuknya Jepang pada tahun 1942.
Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabica-nya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya juga sangat tinggi. Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa. Banyak diantaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.
Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot. Secara adminisratif, ketujuh desa tersebut saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal. Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabica sampai Tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering. Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah Haji. Pada waktu itu, Ongkos Naik Haji hanya Rp 600.
Akan tetapi setelah Jepang kemudian menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Sutan Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula. Meskipun saat ini kebun kopi itu masih dikelola oleh beberapa pewarisnya namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektar per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5000 per kilogram. Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.
Sisa-sisa kebun kopi arabica yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane di wilayah bekas kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektar.
Objek Wisata
Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh. Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali. Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan. Hal itu penulis rasakan ketika berkesempatan berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu.
Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut. Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang. "Itu waktu yang sangat lama", kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam.
Menurut pengakuan seorang penggila minuman kopi asal Medan yang pernah dua kali berkunjung ke sana, melihat kebun kopi tua Pakantan sangatlah menarik. Sepanjang perjalanan dari desa ke kebun kopi banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Burung-burung yang beragam jenis, primata, kijang, rusa dan tumbuhan aneh kerap dapat dilihat selama perjalanan. Apalagi dalam setengah perjalanan yakni di Bukit Tincuk, kita disuguhi pemandangan alam yang menawan berupa hamparan sawah dan perkampungan tradisonal Pakantan, kata penggila minuman kopi ini. Penulis sendiri membuktikan hal itu. Bahkan, ketika berada di tengah kebun kopi tersebut penulis seakan terhipnotis dan merasa berada di dunia lain.
Sebagai kawasan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), menurut para pemerhati industri pariwisata, Pakantan memang layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Abu Hanifah Lubis, Field Coordinator Conservation International Indonesia (CII) untuk TNBG mendukung hal tersebut. Menurutnya, Pakantan memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan tujuan wisata minat khusus. Pendapat Abu cukup beralasan, sebab kampungnya Diana Nasution itu memang memiliki prospektif bagus karena objek daya tariknya. ***
Tropika, Hidup Harmonis Dengan Alam
http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=333&page=g_tropika.index
Kebun kopi Mandailing berusia ratusan tahun, berpotensi sebagai kawasan ekowisata.
Abdul Hamid Damanik, Affan Surya dan Erikson Sinaga
Pakantan, pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas. Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942. Ini terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandailing waktu itu. Tetapi, julukan sebagai gunung mas kemudian berakhir seiring dengan masuknya Jepang pada tahun 1942.
Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabica-nya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya juga sangat tinggi. Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa. Banyak diantaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.
Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot. Secara adminisratif, ketujuh desa tersebut saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal. Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabica sampai Tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering. Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah Haji. Pada waktu itu, Ongkos Naik Haji hanya Rp 600.
Akan tetapi setelah Jepang kemudian menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Sutan Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula. Meskipun saat ini kebun kopi itu masih dikelola oleh beberapa pewarisnya namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektar per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5000 per kilogram. Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.
Sisa-sisa kebun kopi arabica yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane di wilayah bekas kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektar.
Objek Wisata
Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh. Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali. Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan. Hal itu penulis rasakan ketika berkesempatan berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu.
Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut. Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang. "Itu waktu yang sangat lama", kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam.
Menurut pengakuan seorang penggila minuman kopi asal Medan yang pernah dua kali berkunjung ke sana, melihat kebun kopi tua Pakantan sangatlah menarik. Sepanjang perjalanan dari desa ke kebun kopi banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Burung-burung yang beragam jenis, primata, kijang, rusa dan tumbuhan aneh kerap dapat dilihat selama perjalanan. Apalagi dalam setengah perjalanan yakni di Bukit Tincuk, kita disuguhi pemandangan alam yang menawan berupa hamparan sawah dan perkampungan tradisonal Pakantan, kata penggila minuman kopi ini. Penulis sendiri membuktikan hal itu. Bahkan, ketika berada di tengah kebun kopi tersebut penulis seakan terhipnotis dan merasa berada di dunia lain.
Sebagai kawasan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), menurut para pemerhati industri pariwisata, Pakantan memang layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Abu Hanifah Lubis, Field Coordinator Conservation International Indonesia (CII) untuk TNBG mendukung hal tersebut. Menurutnya, Pakantan memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan tujuan wisata minat khusus. Pendapat Abu cukup beralasan, sebab kampungnya Diana Nasution itu memang memiliki prospektif bagus karena objek daya tariknya. ***
Tropika, Hidup Harmonis Dengan Alam
http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=333&page=g_tropika.index
Petualangan di Taman Nasional Batang Gadis

Petualangan di Taman Nasional Batang Gadis
Menyapa Keramahan Bumi Mandailing
Panyabungan – Sumatera Utara masih menyisakan koridor hutan yang menarik dijelajahi. Coba saja pergi ke Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal ini menyuguhkan medan yang beragam, dari dataran rendah, bukit hingga puncak gunung berapi. Asyiknya, di beberapa titik terdapat rimba lebat, tempat hidup aneka satwa dan tumbuhan. Sayang, penebangan liar menjadi musuh utama kawasan ini.
”Silakan masuk. Ayo kita tunggu teman-teman di dalam saja,” ajak Sayuti Nasution, ramah. Kepala Desa Sibanggor Tonga ini tak sekadar basa-basi. Keramahan itu terus berlanjut dengan undangan buka puasa bersama keluarganya. Dengan senang hati, kami tak melewatkan undangan itu.
”Di sini, nebang-nebang kayu tidak ada. Dari dulu, masyarakat sudah tahu akibatnya. Mereka takut longsor, seperti daerah lain,” ujar Sayuti membuka obrolan. Bila ada yang nekat tebang pohon, sanksi hukum adat telah menunggu sang pelaku. Karena itu Sayuti bangga, hutan di sekitar wilayah Sibanggor Tonga masih terlihat hijau.
Sibanggor Tonga adalah salah satu daerah penyangga kawasan TNBG. Kawasan ini ditetapkan menjadi taman nasional ke-43 berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. 126/ Menhut-11/ 2004 pada 29 April 2004. Tak seberapa jauh dari daerah Sayuti terdapat sumber air panas dan belerang alami. Di belakang, Gunung Sorik Marapi berdiri gagah. Ini gunung berapi setinggi 2.145 mdpl.
”Sepengetahuan saya gunung ini terakhir kali meletus tahun 1986,” cerita Sayuti. Bapak 13 anak ini menjadi saksi atas peristiwa meletusnya gunung tersebut. Ledakan yang terjadi tak besar, hanya memuntahkan debu dan lahar panas mengalir ke daerah Kabupaten Pasaman.
Menurut literatur, Gunung Sorik Marapi juga telah diidentifikasi sebagai salah satu tempat yang memiliki panorama tercantik di dunia. Karena dekatnya dengan sistem magma, danau vulkanik juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkirakan terjadinya letusan gunung dengan cara yang unik. Sementara itu, menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2004) kawasan Sorik Marapi juga memiliki potensi sumber panas bumi total sebesar 400 megawat yang merupakan satu dari lima daerah berpotensi terbesar di Sumatera.
”Kalau ke puncaknya cuma 4 jam saja,” kata Sayuti, enteng. Secepat itu? Kami lantas tak percaya. Maklum, gunung ini miskin jalur ”bonus”, alias jalan datar. Seluruhnya jalur mendaki yang curam, mirip-mirip jalur Gunung Putri kalau kita mau naik Gunung Gede-Pangrango. Resep pendakian Sayuti terbongkar, ”Saya sering ke puncak untuk ngambil belerang untuk pabrik belerang di sini.” Lima tahun lalu, pabrik ini masih ada. Dari pekerjaan mengangkut belerang, Sayuti mendapat upah Rp 40.000. ”Sekali angkut bisa dapat 40 kg.”
Atap Ijuk
Usai menikmati keramahan Sibanggor Tonga, kami segera pergi ke beberapa sumber air panas. Salah satunya, berada di pinggir jalan raya wilayah Sibanggor. Di tempat ini, beberapa fasilitas sudah terbangun, seperti kolam pemandian air panas, kamar mandi dan musala. Sayang, fasilitas ini perlu perawatan lanjutan.
Kalau mau mendapat pengalaman yang lebih, ada beberapa sumber air panas yang letaknya di dalam hutan. Jalan setapak yang naik turun dan melintas sungai menjadi suguhan utama. Asyik kan?
Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung beratapkan ijuk. Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak Gunung Sorik Marapi.
Bicara rumah dengan atap ijuk, Bupati Madina Amru Daulay akan mengeluarkan keputusan yang mewajibkan penduduk untuk memakai ijuk sebagai atap rumah. ”Tahun ini kami akan mengeluarkan peraturan daerah yang melarang pembangunan atap rumah dari bahan seng,” tandas Amru.
Bunga Jenis Baru
Tim survei Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Museum Zoologi-LIPI, Peneliti Conservation International Indonesia, Dinas Kehutanan Madina — yang dilakukan pada 6 Februari - 20 Maret 2004 – berhasil menemukan jenis bunga padma (Rafflesia sp.) yang diduga sebagai jenis baru. Bunga tersebut ditemukan di daerah yang relatif datar di Gunung Sorik Mas Kecil (Anak Gunung Sorik Marapi), sekitar 3 km atau 2 jam jalan kaki dari Desa Sibangor Julu.
Lokasi tempat penemuan tergolong hutan primer yang tidak terganggu, memiliki tutupan kanopi yang rapat, sekitar 75 persen. Tanah di lokasi tersebut berwarna hitam dengan kondisi yang tampak lembab. Ditemukan banyak liana yang menjalar ke atas kanopi dan di atas tanah.
Bunga padma yang ditemukan tumbuh di liana pada elevasi sekitar 1.500 meter dpl. Berbeda dengan bunga padma pada umumnya yang berwarna kemerahan, bunga yang ditemukan berwarna hitam, meski dalam kondisi segar dan yang belum mekar.
Pada batang liana yang sama, terdapat bolep (bulb) lain berukuran sebesar jambu (diameter sekitar 5 cm) sudah mekar, yang kemungkinan berbeda jenis. Jenis yang lebih kecil ini memiliki warna kulit agak kecoklatan, dan bagian atas merah. Diameter lubang tengah sekitar 2 - 3 cm.
Menurut beberapa anggota masyarakat, di lokasi tersebut terdapat tiga macam bunga padma. Jenis yang ketiga memiliki warna merah muda, berukuran lebih besar dari yang pernah ditemukan. Dalam satu akar biasanya ditemukan enam hingga delapan bolep. Berdasar keterangan warga, bunga yang mekar biasanya dapat bertahan hingga tiga bulan.
Tak jauh dari Sopotinjak - sering disebut sebagai kawasan Puncak Mandailing Natal - masuk ke hutan kemudian naik sedikit sekitar 30 m terdapat danau yang sangat cantik. Masyarakat desa mengenalnya dengan danau setan, karena menurut masyarakat danau ini terkenal angker, tempat berkumpulnya para makhluk halus, sehingga jarang didatangi masyarakat.
Danau tersebut cantik sekali dan masih terdapat banyak satwa yang mampir untuk melepas dahaga di danau ini. ”Terbukti dari camera trap (kamera perangkap) yang dipasang tim fauna pada survei kehati di TNBG beberapa waktu lalu, hampir seperempatnya ditemukan di sini,” kata Sunarto, peneliti biologi dari Conservation International Indonesia.
Bagi penggemar petualangan alam bebas tempat ini cukup memberikan tantangan. Bukan saja medan yang beragam, pacet (binatang kecil penghisap darah)juga jadi ”musuh” bersama. Baru menapak saja, beragam jenis pacet sudah menghampiri, dari yang berwarna coklat sampai hijau, siap untuk menikmati setetes darah Anda.
TNBG seluas 108.000 ha keseluruhannya berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina, Sumatera Utara). Kawasan itu memberikan jasa lingkungan yang besar, khususnya bagi masyarakat Madina dan Sumatera Utara umumnya. Sebagai daerah tangkapan air dan hulu dari beberapa sungai besar di Madina, kelestarian kawasan ini sangat penting untuk menjamin pasokan air. Terpenuhinya kebutuhan air sangat vital bagi kegiatan perekonomian masyarakat agraris di kawasan itu. (SH/bayu dwi mardana/darma lubis)
Sunday, July 1, 2007
Eduard Douwes Dekker @ Multatuli

Max Havelaar oleh Multatuli
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), penulis roman kontroversial Max Havelaar yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah bertugas di Natal sebagai controleur kelas dua. Multatuli dalam bahasa Latin bererti "Aku telah banyak menderita". Douwes Dekker hanya berdinas satu tahun di Natal. Sewaktu dia sampai di Natal , Douwes Dekker masih muda, umarnya kira-kira 20 tahun. Dalam novelnya Max Havelaar, diceritakan kisah percintaannya dengan Upik Ketek yang waktu itu baru berusia 13 tahun, putri seorang datuk yang sering berurusan dengan Douwes Dekker.
Douwes Dekker bertemu dengan Upik Ketek pertama kali pada tahun 1842, ketika terjadi kecelakaan di laut di mana Douwes Dekker menyelamatkan gadis itu dari bahaya maut. Ketika itu dia baru saja menepati posnay di Natal. Di Tanjung Balai yang terletak di sebelah utara Natal terdapat perkebunan lada yang luas. Seperti kita ketahui, lada merupakan barang dagangan maha penting bagi Belanda dan Inggris pada masa itu. Sebenarnya dia tidak begitu senang dengan pekerjaannya, apalagi dia masih awam dalam masalah lada dan perkebunan. Tetapi tugas itu dilakukannya juga. Oleh karena itu dia sering meminta bantuan seorang datuk yang mengerti masalah lada dan perkebunan. Dalam melakukan tugasnay, datuk sering ditemani oleh putrinay, Upik Ketek. Melalui kehadiran Upik Ketek inilah hati Douwes Dekker yang gundah dapat terobati.
Di Natal, Douwes Dekker kerapkali menyaksikan bagaimana pemerintah Belanda menindas penduduk setempat. Perasaan keadilannya tersentuh sehingga dia ingin membela orang-orang yang tertindas tersebut. Di kemudian hari, pengalaman batin yang dialaminya itu yang didapat di berbagai tempat di Indonesia, dimulai dari Natal, Sulawesi Utara dan Jawa Barat, dituangkanya dalam buku Max Havelaar. Diceritakan pula tentang pelabuhan Natal yang tidak dapat “disinggahi” perahu pada bulan Juli, karena angin kencang. Dia beberapa kali mengusulkan kepada atasannya untuk membangun dinding penahan ombak atau membuat pelabuhan buatan di muara sungai Batang Natal agar perdagangan dapat berjalan lancar sepanjang tahun, sehingga setengah juta penduduk di pedalaman tetap dapat menjual hasil bumi mereka, walau musin badai tiba. Tentu saja atasannya tidak setuju, dengan maksud Douwes Dekker yang hendak memperbaiki taraf hidup penduduk. Dia dicaci maki.
Kadang kala, Douwes Dekker harus bepergian ke tempat-tempat yang jauh dari Natal, seperti ke Barus, Tapus dan Singkel di utara. Daerah-daerah tersebut belum lagi aman ketika baru dikuasai Belanda karena masih terpengaruh perang Padri, apalagi daerah kediaman orang Batak yang benar-benar kacau dan banyak menimbulkan dampak buruk bagi Natal. Kendaraan Douwes Dekker ketika itu hanyalah kuda, sehingga perjalanan menjadi sangat lambat. Selama dalam perjalanan, dia selalu tidur dengan pakaian lengkap agar selalu siap menghadapi keadaan darurat, lagi pula ketika itu terdengar desas-desus tentang adanya komplotan yang hendak membunuh pejabat Belanda dan semua bangsa Eropah di Mandailing. Konon, awal pergerakan tersebut terjadi di Natal karena di sana banyak tinggal orang-orang kulit putih. Apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi, tidaklah dapat dipastikan karena Douwes Dekker hanya membaca keterangan-keterangan tertulis dari saksi-saksi.
Karena adanya pengkhiantan, komplotan yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Mandailing terbongkar. Pemimpinnya ditangkap dibawa ke Padang dan dianggap sebagai penjahat yang bersalah terhadap Belanda. Anehnya, Yang Dipertuan Mandailing tidak diperiksa di sana, tetapi dibawa ke rumah pejabat tinggi Belanda dengan kereta kebesaran. Tak lama kemudian dia dikembalikan ke kampung halamannya.
Di antara pemuka-pemuka masyarakat di daerah Mandailing dan Natal sering terjadi perang dingin yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk kepentingannya. Douwes Dekker sering melihat proses peradilan yang curang dan kecurangan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah Belanda yang mencelakakan penduduk, sehingga dia semakin tidak suka menjalani sisa masa dinasnya. Sebagai contoh, dia menyebutkan kasus si Pamaga.
Si Pamaga, anak angkat Sutan Salim didakwa mencoba membunuh Tuanku Natal dan controleur Belanda di Natal. Menurut cerita, percobaan pembunuhan yang tidak berhasil itu terjadi di rumah Yang Dipertuan Mandailing. Tuanku Natal terlempar dari jendela sehingga terlepas dari bahaya maut. Si Pamaga melarikan diri dan bersembunyi di hutan, tetapi dia ditangkap polis Natal. Dalam pemeriksaan, Si Pamaga mengaku diupah oleh Sutan Adam. Hukuman berat lalu dijatuhkan kepada Si Pamaga. Dia dibuang ke Jawa atas perintah Residen Belanda. Kelak diketahu, Si Pamaga belum pernah bertemu, baik dengan Sutan Adam maupun dengan abang/kakaknya, Yang Dipertuan Mandailing. Dia jgua tidak pernah menyerang Tuanku Natal dan Tuanku Natal pun tidak pernah terlempar dari jendela untuk menghindari seorang pembunuh. Dia terpaksa membuat pengakuan ini oleh para pejabat Belanda.
Pada pertengahan tahun 1843, Douwes Dekker dipangil menghadap Jenderal Michiels, Gubernur Belanda saat itu, di peristirahatannya di Padang. Dia langsung dimarahi dan dicaci maki sebagai pegawai yang tidak setia karena menggelapkan uang dinas. Dia juga dituduh memeras beberapa orang Cina dan tokoh pribumi serta sejumlah serdadu Belanda di Natal. Selain itu Douwes Dekker dianggap congkak dan sering meninggalkan posnya pada saat diperlukan. Douwes Dekker tidak dapat membela diri karena Gubernur tidak berminat mendengarkan keterangannya. Dia juga tidak diinjinkan menghadirikan saksi-saki untuk membuktikan, bahwa tuduhan Gubernur tidak benar. Selanjutnya, dia diskors dan tidak diperbolehkan kembali ke Natal. Untuk sementara, dia diperbantukan kepada residen Padang. Kemudian dia dipindahkan lagi ke pegunungan sampai pemeriksaan perkaranya selesai. Yang lebih menyakitkan hatinya, gajinya hanya dibayar separuh. Pada bulan Ogos/Augustus tahun 1843, dia dikirim ke Batavia (Jakarta hari ini).
Kemudian, kepada Douwes Dekker yang masih mudah itu diserahi tanggungjawab yang besar dan berat. Dia harus mengatur dan menjaga keamanan di daerah jajahan yang belum lama diduduki oleh Belanda seperti Lebak, Rangkas Bitung di wilayah Jawa bahagian barat. Mengapa bisa terjadi demikian? Mungkin itulah yang dimaksud oleh Douwes Dekker sebagai “permainan tingkat atas.”
Puncak pengamatannya terhadi di Lebak. Dia melihat sendiri, bagaimana Belanda, Bupati dan sanak saudara mereka bersama-sama memeras rakyat. Sama seperti di Natal, dengan terus terang Douwes Dekker menentang kebijaksanaan atasannya. Akibatnya, pada tahun 1856, dia diberhentikan dari jabatannya. Dia lalu diajukan ke pengadilan dan kalah dalam perkara. Douwes Dekker lalu dipulangkan ke Eropah.
Di Eropah, Douwes Dekker tidak bisa “menutup mulut” terhadap ketimpangan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Dia menulis ketimpangan tersebut dalam sebuah novel yang berjudul Max Havelaar yang diterbitakan pada tahun 1860 dengan menggunakan nama samaran Multatuli. Novel karangannya sangat laris dan menggemparkan masyarakat tetapi tidak disukai oleh kalangan pemerintah di sana. Walaupun Douwes Dekker menjadi terkenal karena buku-bukunya, dia hidup dalam kemiskinan dan mati tersia-sia di negerinya sendiri.
Novel Max Havelaar telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Karya tulis tersebut sangat populer di kalangan cendekiawan dan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia sebelum perang dunia kedua. Anehnya, terjemahan dalam bahasa Indonesia baru terbit pada tahun 1972 yang dialih-bahasa oelh H. B. Jassin.
Tapak Gedung Pusat Kesehatan Masyarakat di Natal pernah menjadi tempat kediaman Douwes Dekker sewaktu dia menjadi controleur (pegawai pemerintah Belanda tertinggi) di daerah itu. Sangat disayangkan gedung aslinya telah dibongkar semata-mata karena bangunannya sudah tua dan di atas tanah kosong tersebut didirikan gedung yang baru. Kalau gedung itu masih ada, ia bisa dijadikan tarikan pariwisata di Natal.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), penulis roman kontroversial Max Havelaar yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah bertugas di Natal sebagai controleur kelas dua. Multatuli dalam bahasa Latin bererti "Aku telah banyak menderita". Douwes Dekker hanya berdinas satu tahun di Natal. Sewaktu dia sampai di Natal , Douwes Dekker masih muda, umarnya kira-kira 20 tahun. Dalam novelnya Max Havelaar, diceritakan kisah percintaannya dengan Upik Ketek yang waktu itu baru berusia 13 tahun, putri seorang datuk yang sering berurusan dengan Douwes Dekker.
Douwes Dekker bertemu dengan Upik Ketek pertama kali pada tahun 1842, ketika terjadi kecelakaan di laut di mana Douwes Dekker menyelamatkan gadis itu dari bahaya maut. Ketika itu dia baru saja menepati posnay di Natal. Di Tanjung Balai yang terletak di sebelah utara Natal terdapat perkebunan lada yang luas. Seperti kita ketahui, lada merupakan barang dagangan maha penting bagi Belanda dan Inggris pada masa itu. Sebenarnya dia tidak begitu senang dengan pekerjaannya, apalagi dia masih awam dalam masalah lada dan perkebunan. Tetapi tugas itu dilakukannya juga. Oleh karena itu dia sering meminta bantuan seorang datuk yang mengerti masalah lada dan perkebunan. Dalam melakukan tugasnay, datuk sering ditemani oleh putrinay, Upik Ketek. Melalui kehadiran Upik Ketek inilah hati Douwes Dekker yang gundah dapat terobati.
Di Natal, Douwes Dekker kerapkali menyaksikan bagaimana pemerintah Belanda menindas penduduk setempat. Perasaan keadilannya tersentuh sehingga dia ingin membela orang-orang yang tertindas tersebut. Di kemudian hari, pengalaman batin yang dialaminya itu yang didapat di berbagai tempat di Indonesia, dimulai dari Natal, Sulawesi Utara dan Jawa Barat, dituangkanya dalam buku Max Havelaar. Diceritakan pula tentang pelabuhan Natal yang tidak dapat “disinggahi” perahu pada bulan Juli, karena angin kencang. Dia beberapa kali mengusulkan kepada atasannya untuk membangun dinding penahan ombak atau membuat pelabuhan buatan di muara sungai Batang Natal agar perdagangan dapat berjalan lancar sepanjang tahun, sehingga setengah juta penduduk di pedalaman tetap dapat menjual hasil bumi mereka, walau musin badai tiba. Tentu saja atasannya tidak setuju, dengan maksud Douwes Dekker yang hendak memperbaiki taraf hidup penduduk. Dia dicaci maki.
Kadang kala, Douwes Dekker harus bepergian ke tempat-tempat yang jauh dari Natal, seperti ke Barus, Tapus dan Singkel di utara. Daerah-daerah tersebut belum lagi aman ketika baru dikuasai Belanda karena masih terpengaruh perang Padri, apalagi daerah kediaman orang Batak yang benar-benar kacau dan banyak menimbulkan dampak buruk bagi Natal. Kendaraan Douwes Dekker ketika itu hanyalah kuda, sehingga perjalanan menjadi sangat lambat. Selama dalam perjalanan, dia selalu tidur dengan pakaian lengkap agar selalu siap menghadapi keadaan darurat, lagi pula ketika itu terdengar desas-desus tentang adanya komplotan yang hendak membunuh pejabat Belanda dan semua bangsa Eropah di Mandailing. Konon, awal pergerakan tersebut terjadi di Natal karena di sana banyak tinggal orang-orang kulit putih. Apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi, tidaklah dapat dipastikan karena Douwes Dekker hanya membaca keterangan-keterangan tertulis dari saksi-saksi.
Karena adanya pengkhiantan, komplotan yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Mandailing terbongkar. Pemimpinnya ditangkap dibawa ke Padang dan dianggap sebagai penjahat yang bersalah terhadap Belanda. Anehnya, Yang Dipertuan Mandailing tidak diperiksa di sana, tetapi dibawa ke rumah pejabat tinggi Belanda dengan kereta kebesaran. Tak lama kemudian dia dikembalikan ke kampung halamannya.
Di antara pemuka-pemuka masyarakat di daerah Mandailing dan Natal sering terjadi perang dingin yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk kepentingannya. Douwes Dekker sering melihat proses peradilan yang curang dan kecurangan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah Belanda yang mencelakakan penduduk, sehingga dia semakin tidak suka menjalani sisa masa dinasnya. Sebagai contoh, dia menyebutkan kasus si Pamaga.
Si Pamaga, anak angkat Sutan Salim didakwa mencoba membunuh Tuanku Natal dan controleur Belanda di Natal. Menurut cerita, percobaan pembunuhan yang tidak berhasil itu terjadi di rumah Yang Dipertuan Mandailing. Tuanku Natal terlempar dari jendela sehingga terlepas dari bahaya maut. Si Pamaga melarikan diri dan bersembunyi di hutan, tetapi dia ditangkap polis Natal. Dalam pemeriksaan, Si Pamaga mengaku diupah oleh Sutan Adam. Hukuman berat lalu dijatuhkan kepada Si Pamaga. Dia dibuang ke Jawa atas perintah Residen Belanda. Kelak diketahu, Si Pamaga belum pernah bertemu, baik dengan Sutan Adam maupun dengan abang/kakaknya, Yang Dipertuan Mandailing. Dia jgua tidak pernah menyerang Tuanku Natal dan Tuanku Natal pun tidak pernah terlempar dari jendela untuk menghindari seorang pembunuh. Dia terpaksa membuat pengakuan ini oleh para pejabat Belanda.
Pada pertengahan tahun 1843, Douwes Dekker dipangil menghadap Jenderal Michiels, Gubernur Belanda saat itu, di peristirahatannya di Padang. Dia langsung dimarahi dan dicaci maki sebagai pegawai yang tidak setia karena menggelapkan uang dinas. Dia juga dituduh memeras beberapa orang Cina dan tokoh pribumi serta sejumlah serdadu Belanda di Natal. Selain itu Douwes Dekker dianggap congkak dan sering meninggalkan posnya pada saat diperlukan. Douwes Dekker tidak dapat membela diri karena Gubernur tidak berminat mendengarkan keterangannya. Dia juga tidak diinjinkan menghadirikan saksi-saki untuk membuktikan, bahwa tuduhan Gubernur tidak benar. Selanjutnya, dia diskors dan tidak diperbolehkan kembali ke Natal. Untuk sementara, dia diperbantukan kepada residen Padang. Kemudian dia dipindahkan lagi ke pegunungan sampai pemeriksaan perkaranya selesai. Yang lebih menyakitkan hatinya, gajinya hanya dibayar separuh. Pada bulan Ogos/Augustus tahun 1843, dia dikirim ke Batavia (Jakarta hari ini).
Kemudian, kepada Douwes Dekker yang masih mudah itu diserahi tanggungjawab yang besar dan berat. Dia harus mengatur dan menjaga keamanan di daerah jajahan yang belum lama diduduki oleh Belanda seperti Lebak, Rangkas Bitung di wilayah Jawa bahagian barat. Mengapa bisa terjadi demikian? Mungkin itulah yang dimaksud oleh Douwes Dekker sebagai “permainan tingkat atas.”
Puncak pengamatannya terhadi di Lebak. Dia melihat sendiri, bagaimana Belanda, Bupati dan sanak saudara mereka bersama-sama memeras rakyat. Sama seperti di Natal, dengan terus terang Douwes Dekker menentang kebijaksanaan atasannya. Akibatnya, pada tahun 1856, dia diberhentikan dari jabatannya. Dia lalu diajukan ke pengadilan dan kalah dalam perkara. Douwes Dekker lalu dipulangkan ke Eropah.
Di Eropah, Douwes Dekker tidak bisa “menutup mulut” terhadap ketimpangan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Dia menulis ketimpangan tersebut dalam sebuah novel yang berjudul Max Havelaar yang diterbitakan pada tahun 1860 dengan menggunakan nama samaran Multatuli. Novel karangannya sangat laris dan menggemparkan masyarakat tetapi tidak disukai oleh kalangan pemerintah di sana. Walaupun Douwes Dekker menjadi terkenal karena buku-bukunya, dia hidup dalam kemiskinan dan mati tersia-sia di negerinya sendiri.
Novel Max Havelaar telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Karya tulis tersebut sangat populer di kalangan cendekiawan dan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia sebelum perang dunia kedua. Anehnya, terjemahan dalam bahasa Indonesia baru terbit pada tahun 1972 yang dialih-bahasa oelh H. B. Jassin.
Tapak Gedung Pusat Kesehatan Masyarakat di Natal pernah menjadi tempat kediaman Douwes Dekker sewaktu dia menjadi controleur (pegawai pemerintah Belanda tertinggi) di daerah itu. Sangat disayangkan gedung aslinya telah dibongkar semata-mata karena bangunannya sudah tua dan di atas tanah kosong tersebut didirikan gedung yang baru. Kalau gedung itu masih ada, ia bisa dijadikan tarikan pariwisata di Natal.
Natal, Alam dan Tokohnya
Natal, Alam dan Tokohnya.School children pose in front of a English or Dutch cannon at Natal.
Anak-anak sekolah bergambar bersama meriam Inggeris atau Belanda di Natal.
Foto Arbain Rambey
Sebenarnya kata Natal bukanlah istilah daerah yang asli… Dalam percakapan sehari-hari lebih dikenal dan dibiasakan dengan kata NATAR. Sehingga orangnya pun disebut “HALAK BATANG NATAR”, atau orang Batang Natar. Dan yang mula-mula dikatakan Natal itu adalah “KAMPUNG BUKIT”. Kemudian setelah Perang Padri, maka pidah ke tepi pantai, itulah Natal yang disebut sekarang.
Kerajaan di pantai ini dipimpin oleh Tengku Sintan. Inilah Raja yang berjumpa dengan Company Inggris. Dan inilah yang menjadi Tengku Besar atau Raja Besar. Kerajaan ini berbatas dengan Raja Lingga Bayu, yang menjadi Tengku Sembah di Tapus. Batas daerahnya disebut “PINANG BABARIH”. Perjanjing daerah dan kuasa kerajaan ini, diadakan di BATU GAJAH, di tepi sungai Batang Natal, di kampong Lancat sekarang. Batu Gajah ialah suatu penjelmaan yang terjadi, seekor gajah besar dan beberapa anaknya, dan seekor harimau yang sedang minum bersama-sama menjadi hantu.
Di Natal rumah kerajaan disebut “UJUNG GAJAH MAHARAM”. Daerah ini alamnya indah, dan kekayaannya membuat Natal cukup terkenal pada masa lalu. Adat istiadat pembawaan rakyat terutama anak-anak gadis, cukup mengasikkan orang-orang yang berkunjung ke daerah itu. Pernah seorang Belanda, terpikat dan jatuh cinta kepada gadis Natal; orang Belanda tersebut bernama Dowaes[1] Dekker atau Multatuli. Cuma kekayaan alam ini belum diolah. Watak rakyatnya pintar-pintar, cuma mereka jauh dari tempat pendidikan, bagi yang berkesempatan merantau meluaskan pandangan hidupnya, tidak sedikit menjadi orang penting, ahli politik, militer, sastrawan, dan hartawan di seluruh pelosok tanah air. Mengenai silsilah kerajaan Natal, di sini diuraikan sedikit:
Tengku Sintan
Tengku Muhammad Natal
Tengku Raja Hidayat
Tengku Muhammad Arrif
Tengku Haji Sutan Sri Dewa
Di daerah Natal sepanjang pantai, banyak suku-suku lain yang berdatangan ke sana. Seperti di Teluk Sikara-kara, penduduknya berasal dari Aceh Melabuh, begitu di Jambur Aceh. Kedatangan Inggris dan Belanda sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalannya seperti meriam, gudang tempat penukaran uang (bank) Inggris, penyimpanan mesiu pada masa company, dan sebua sumur, yang disebut SUMUR MULTATULI.
Di samping kekayaan dan keindahan alam, ala lagi kekayaan yang paling besar pada masa dahulu, yaitu seorang Ulama Islam terbesar pada masa itu, yang tidak sedikit jasanya mengajarkan ajaran Islam sampai ke Mandailing, Angkola Sipirok, Pargarutan, Padangansidempuan, Batangtoru, Marancar, sampai ke perbatasan Tapanuli Utara dan Padanglawas. Ulama Besar tersebut bernama Syekh Abdul Malik gelar BALEO NATAR. Murid dari Guru Besar – Ulama terbesar Syekh Abdul Fatah dari Surau Tambak. Boleh dikatakan yang berjasa dan secara diplomat tanpa pertumpahan darah dan pengrusakan harta, beliau inilah yang memantapkan Agama Islam di seluruh Tapanuli Selatan. Beliau adalah seorang Ulama Ahli Fikih dan Tarikat Nakasabandiyah.[2]
Menurut sejarah yang dituturkan kekluarganya Syekh Abdul Malik, bersasal dari Muara Mais Kotanopan. Beliau datang ke Natal, belajar di Surau Tambak kepada Syekh Abdul Fatah Ulama Besar pada masa itu. Beliau ini belajar bersama-sama dengan kawan-kawan beliau yang semuanya jadi ulama terkenal juga seperti Tuan Tamang dan Tuan Benteng. Syekh Abdul Malik ditugaskan oleh guru beliau Syekh Abdul Fatah, untuk mengajarkan Agama Islam keseluruhan Tapanuli Selatan. Setelah Syekh Abdul Fatah meninggal, hari Ahad 12 Rabiul Awal 1282 H, maka Syekh Abdul Malik menetap di Surau Tambak sekarang, untuk melanjutkan pengajaran Agama Islam. Kemudian beliau berpulang pada pada hari Jum’at 12 Romadon 1320 H…
Daerah Natal satu-satunya yang menganut sistem matrilineal, menurut hukum keibuan, dengan perkawinan semenda atau menjapui. Berbeda dengan daerah Batang Natal, di sana yang utama adalah Adat dan bahasa Mandailing. Dan garis darah menurut keturunan ayah (patrilineal). Daerah Batang Natal juga kaya dengan emas sepanjang sungai Batang Natal. Usaha rakyat banyak juga yang mendulang emas. Udaranya sejuk, penduduknya ramah-ramah, terutama gadis-gadisnya cantik dan bersih-bersih karena perkempungan mereka boleh dikatakan di sepanjang pinggir sungai Batang Natal. Pemandangan di Singgah Sejenak cukup mengharukan, rumah Makan di Sopo Tinjak cukup terkenal, setiap penumpang bus tidak dapat melewatkannya untuk singgah makan di sana. Di pinggir sungai Aek Guo, ada batu berlobang.
Menurut cerita lobang batu itu sangat panjang, berpuluh-puluh kilo meter, yaitu dari Aek Guo sampai ke Roburan Mandaling. Menurut keyakinan di dalam lobang itu, ada orang halus atau jin penunggu. Dari beberapa desa dari Batang Natal ini, telah banyak mempunyai putra-putri yang maju dan berpendidikan tinggi, serta memegang peranan penting dalam negara kita ini, seperti dari Muara Soma, Aek Nangali, Rao-rao, Kase dan lain-lain. Keempat daerah ini, Angkola, Padanglawas, Mandailing dan Pesisir Natal-Batang Natal di Tapanuli Selatan, mayoritas penduduknya beragama Islam.
G. Siregar Baumi glr. Ch. Sutan Tinggibarani Perkasa Alam, Surat Tumbaga Holing, Adat Batak Angkola-Sipirok-Padangbolak-Barumun-Mandailing-Batang Natal-Natal, Padangsidimpuan, 1984, hlm. 33-37.
[1] Sebetulnya Douwes. Nama penuhnya ialah Eduard Douwes Dekker.
[2] Nakshabandiah.
Subscribe to:
Posts (Atom)