Tuesday, July 3, 2007

Petualangan di Taman Nasional Batang Gadis



Petualangan di Taman Nasional Batang Gadis
Menyapa Keramahan Bumi Mandailing

Panyabungan – Sumatera Utara masih menyisakan koridor hutan yang menarik dijelajahi. Coba saja pergi ke Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal ini menyuguhkan medan yang beragam, dari dataran rendah, bukit hingga puncak gunung berapi. Asyiknya, di beberapa titik terdapat rimba lebat, tempat hidup aneka satwa dan tumbuhan. Sayang, penebangan liar menjadi musuh utama kawasan ini.

”Silakan masuk. Ayo kita tunggu teman-teman di dalam saja,” ajak Sayuti Nasution, ramah. Kepala Desa Sibanggor Tonga ini tak sekadar basa-basi. Keramahan itu terus berlanjut dengan undangan buka puasa bersama keluarganya. Dengan senang hati, kami tak melewatkan undangan itu.

”Di sini, nebang-nebang kayu tidak ada. Dari dulu, masyarakat sudah tahu akibatnya. Mereka takut longsor, seperti daerah lain,” ujar Sayuti membuka obrolan. Bila ada yang nekat tebang pohon, sanksi hukum adat telah menunggu sang pelaku. Karena itu Sayuti bangga, hutan di sekitar wilayah Sibanggor Tonga masih terlihat hijau.

Sibanggor Tonga adalah salah satu daerah penyangga kawasan TNBG. Kawasan ini ditetapkan menjadi taman nasional ke-43 berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. 126/ Menhut-11/ 2004 pada 29 April 2004. Tak seberapa jauh dari daerah Sayuti terdapat sumber air panas dan belerang alami. Di belakang, Gunung Sorik Marapi berdiri gagah. Ini gunung berapi setinggi 2.145 mdpl.

”Sepengetahuan saya gunung ini terakhir kali meletus tahun 1986,” cerita Sayuti. Bapak 13 anak ini menjadi saksi atas peristiwa meletusnya gunung tersebut. Ledakan yang terjadi tak besar, hanya memuntahkan debu dan lahar panas mengalir ke daerah Kabupaten Pasaman.

Menurut literatur, Gunung Sorik Marapi juga telah diidentifikasi sebagai salah satu tempat yang memiliki panorama tercantik di dunia. Karena dekatnya dengan sistem magma, danau vulkanik juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkirakan terjadinya letusan gunung dengan cara yang unik. Sementara itu, menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2004) kawasan Sorik Marapi juga memiliki potensi sumber panas bumi total sebesar 400 megawat yang merupakan satu dari lima daerah berpotensi terbesar di Sumatera.

”Kalau ke puncaknya cuma 4 jam saja,” kata Sayuti, enteng. Secepat itu? Kami lantas tak percaya. Maklum, gunung ini miskin jalur ”bonus”, alias jalan datar. Seluruhnya jalur mendaki yang curam, mirip-mirip jalur Gunung Putri kalau kita mau naik Gunung Gede-Pangrango. Resep pendakian Sayuti terbongkar, ”Saya sering ke puncak untuk ngambil belerang untuk pabrik belerang di sini.” Lima tahun lalu, pabrik ini masih ada. Dari pekerjaan mengangkut belerang, Sayuti mendapat upah Rp 40.000. ”Sekali angkut bisa dapat 40 kg.”

Atap Ijuk

Usai menikmati keramahan Sibanggor Tonga, kami segera pergi ke beberapa sumber air panas. Salah satunya, berada di pinggir jalan raya wilayah Sibanggor. Di tempat ini, beberapa fasilitas sudah terbangun, seperti kolam pemandian air panas, kamar mandi dan musala. Sayang, fasilitas ini perlu perawatan lanjutan.

Kalau mau mendapat pengalaman yang lebih, ada beberapa sumber air panas yang letaknya di dalam hutan. Jalan setapak yang naik turun dan melintas sungai menjadi suguhan utama. Asyik kan?

Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung beratapkan ijuk. Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak Gunung Sorik Marapi.

Bicara rumah dengan atap ijuk, Bupati Madina Amru Daulay akan mengeluarkan keputusan yang mewajibkan penduduk untuk memakai ijuk sebagai atap rumah. ”Tahun ini kami akan mengeluarkan peraturan daerah yang melarang pembangunan atap rumah dari bahan seng,” tandas Amru.

Bunga Jenis Baru

Tim survei Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Museum Zoologi-LIPI, Peneliti Conservation International Indonesia, Dinas Kehutanan Madina — yang dilakukan pada 6 Februari - 20 Maret 2004 – berhasil menemukan jenis bunga padma (Rafflesia sp.) yang diduga sebagai jenis baru. Bunga tersebut ditemukan di daerah yang relatif datar di Gunung Sorik Mas Kecil (Anak Gunung Sorik Marapi), sekitar 3 km atau 2 jam jalan kaki dari Desa Sibangor Julu.

Lokasi tempat penemuan tergolong hutan primer yang tidak terganggu, memiliki tutupan kanopi yang rapat, sekitar 75 persen. Tanah di lokasi tersebut berwarna hitam dengan kondisi yang tampak lembab. Ditemukan banyak liana yang menjalar ke atas kanopi dan di atas tanah.

Bunga padma yang ditemukan tumbuh di liana pada elevasi sekitar 1.500 meter dpl. Berbeda dengan bunga padma pada umumnya yang berwarna kemerahan, bunga yang ditemukan berwarna hitam, meski dalam kondisi segar dan yang belum mekar.

Pada batang liana yang sama, terdapat bolep (bulb) lain berukuran sebesar jambu (diameter sekitar 5 cm) sudah mekar, yang kemungkinan berbeda jenis. Jenis yang lebih kecil ini memiliki warna kulit agak kecoklatan, dan bagian atas merah. Diameter lubang tengah sekitar 2 - 3 cm.

Menurut beberapa anggota masyarakat, di lokasi tersebut terdapat tiga macam bunga padma. Jenis yang ketiga memiliki warna merah muda, berukuran lebih besar dari yang pernah ditemukan. Dalam satu akar biasanya ditemukan enam hingga delapan bolep. Berdasar keterangan warga, bunga yang mekar biasanya dapat bertahan hingga tiga bulan.

Tak jauh dari Sopotinjak - sering disebut sebagai kawasan Puncak Mandailing Natal - masuk ke hutan kemudian naik sedikit sekitar 30 m terdapat danau yang sangat cantik. Masyarakat desa mengenalnya dengan danau setan, karena menurut masyarakat danau ini terkenal angker, tempat berkumpulnya para makhluk halus, sehingga jarang didatangi masyarakat.

Danau tersebut cantik sekali dan masih terdapat banyak satwa yang mampir untuk melepas dahaga di danau ini. ”Terbukti dari camera trap (kamera perangkap) yang dipasang tim fauna pada survei kehati di TNBG beberapa waktu lalu, hampir seperempatnya ditemukan di sini,” kata Sunarto, peneliti biologi dari Conservation International Indonesia.

Bagi penggemar petualangan alam bebas tempat ini cukup memberikan tantangan. Bukan saja medan yang beragam, pacet (binatang kecil penghisap darah)juga jadi ”musuh” bersama. Baru menapak saja, beragam jenis pacet sudah menghampiri, dari yang berwarna coklat sampai hijau, siap untuk menikmati setetes darah Anda.

TNBG seluas 108.000 ha keseluruhannya berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina, Sumatera Utara). Kawasan itu memberikan jasa lingkungan yang besar, khususnya bagi masyarakat Madina dan Sumatera Utara umumnya. Sebagai daerah tangkapan air dan hulu dari beberapa sungai besar di Madina, kelestarian kawasan ini sangat penting untuk menjamin pasokan air. Terpenuhinya kebutuhan air sangat vital bagi kegiatan perekonomian masyarakat agraris di kawasan itu. (SH/bayu dwi mardana/darma lubis)

1 comment:

dunia petualangan alam bebas said...

kayaknya asyik lho berpetualang di situ, tapi kok kayaknya kurang terpublikasikan di daerah jawa apa ya? masih kalah dengan TN Gunung Leuser..