Wednesday, July 4, 2007

Harimau Dimata Orang Mandailing


'Nabetengi' dihormati orang Madina. Foto : ©CI, camera trap.

Harimau Dimata Orang Mandailing

Oleh : Ikror Amin Lubis

Ketika rakyat mendaulat agar sebagian hutan di Mandailing Natal dijadikan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), sesungguhnya hal ini seperti mengingatkan kembali kepada orang-orang Mandailing terhadap ajaran-ajaran leluhurnya tentang alam sekitar. Para pendahulu lembah Mandailing adalah orang yang memiliki kearifan-kearifan terhadap alam. Penggunaan nama dedaunan (bulung-bulung) untuk intreaksi komunikasi telah menempatkan suku bangsa ini sebagai satu-satunya pemilik bahasa daun (bladerentaal) berdasarkan tulisan Prof. Ch. A. Van Ophuysen pada tahun 1886.

Disamping bahasa daun, proses terciptanya ‘gordang sambilan’ dengan sembilan ukuran dan suara yang berbeda-beda sebagai manifestasi suara-suara alam merupakan bukti lain tentang eratnya hubungan para leluhur daerah ini dengan pepohonan dan hewan-hewan disekitarnya.

Dan kini, di saat rakyat Mandailing Natal menjadikan hutannya sebagai kawasan taman nasional, hal itu bukan saja untuk kesejahteraan masyarakat di daerah ini. Lebih dari itu akan bermanfaat bagi orang lain, baik yang pernah sekedar singgah, mengetahui lewat peta atau buku, dan juga bagi yang tidak mengetahui sama sekali yang berada di belahan bumi lain.

Dengan terbentuknya taman nasional ini akan melindungi biodiversitas flora dan fauna, yang merupakan kekayaan untuk ilmu pengetahuan, dan juga secara makro tutupan hutan Mandailing Natal berperan mempertahankan keseimbangan iklim dunia yang semakin tak terkendali.

Taman nasional yang baru berusia beberapa tahun ini menyimpan kekayaan luar biasa terutama dari fauna yang dimilikinya. Ada tiga jenis hewan yang termasuk dalam lampiran I CITES yang masih berkeliaran bebas dihutan Mandailing Natal. Lampiran ini mengindikasikan hewan-hewan ini berada pada situasi sangat berbahaya atau nyaris punah.

Adapun ketiga jenis hewan itu adalah harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ), kucing emas ( Catopuma temminckii ), dan tapir ( Tapirus indicus ). Khusus untuk harimau Sumatera, saat ini jumlahnya diperkirakan tinggal 500 ekor saja yang berada di Indonesia. Dengan rincian 400 ekor mendiami kawasan-kawasan taman nasional seperti Batang Gadis, Bukit Barisan Selatan, maupun di Gunung Leuser. Sedangkan 100 ekor lagi berada diluar kawasan taman nasional dengan kondisi setiap saat berada dalam bahaya karena aktifitas perburuan liar dan wilayah hutan yang semakin sempit.

Berdasarkan penelitian Conservation International Indonesia, kepadatan populasi harimau Sumatera di Taman Nasional Batang Gadis adalah 1,1 ekor dalam 100 Km2.

( Luas keseluruhan TNBG adalah 108.000 Ha ). Penelitian ini dilakukan baru pada satu tempat saja di seputaran hutan Sopo Tinjak, sisi utara Gunung Sorik Marapi. Pada tempat lain seperti sisi selatan gunung bertinggi 2.145 m ini yang termasuk juga kawasan TNBG, kemungkinan belum diteliti. Disamping itu, penulis juga yakin diluar kawasan taman nasional. Harimau Sumatera sebagai satu-satunya spesies harimau yang masih tersisa di Indonesia —Setelah harimau Jawa dan Bali punah— masih banyak berkeliaran bebas. Karena apa, karena masyarakat Mandailing Natal menghormati hewan ini. Jadi kalau ada yang memburu dan membunuh harimau di wilayah ini, pelakunya bukanlah orang Mandailing Natal, tetapi adalah ‘orang luar’.

Harimau Mandailing, Kuat dan Beradat

Harimau dalam pandangan masyarakat Mandailing Natal adalah hewan yang beradat, memiliki aturan hidup tertentu dalam berhubungan dengan masyarakat sekitar habitatnya. Hewan penguasa hutan yang bisa menjelajahi 15 - 30 km dalam semalam untuk mencari mangsa ini memiliki banyak julukan di hati masyarakat Mandailing Natal. Makna sebutan untuk si raja hutan inipun tidak ada yang merendahkan, tetapi sebaliknya memiliki arti untuk mengagumi atau menghormati.

Hewan bertenaga luar biasa ini dinamai ‘ Na Betengi ‘ atau ‘ Yang Kuat’ . Zaman dahulu ketika kehidupan para leluhur Mandailing masih jauh dari peradaban moderen seperti sekarang. Mereka telah menyimpulkan bahwa tidak ada hewan yang paling kuat dan berkuasa di tengah hutan selain harimau. Dalam bahasa Mandailing ‘Na Betengi’ dalam konteks kehidupan sosial masyarakat lebih dimaknai pada kekuasaan yang dimiliki seseorang. Disamping itu kata ini juga bermakna tenaga yang kuat. Sehingga gelar ini terasa pantas diberikan untuk harimau. Berdasarkan penelitian para ilmuwan masa sekarang, daerah jelajah hewan ini bisa mencapai angka 500 km.

Julukan yang kedua, ‘Na Maradati’ atau ‘Yang Beradat’. Maksudnya, hewan ini memiliki aturan atau adat kapan dia harus memperlihatkan diri kepada manusia, dan kapan harus berada di hutan belantara. Keluarnya harimau dari sarangnya untuk muncul di pinggir perkampungan atau pada perladangan penduduk adalah indikator adanya orang yang berzina. Selama sipelaku belum ditangkap atau ditegur oleh masyarakat, maka sang raja hutan ini akan tetap memunculkan diri.

Sesungguhnya tabiat harimau tidaklah sem­barangan menyerang orang. Sangat jarang terdengar di seantero Mandailing Natal, orang yang mati diterkam harimau. Padahal hampir semua penduduk pedesaan didaerah ini keluar masuk hutan setiap hari. Hal ini mungkin terkait juga nasehat orangtua sejak dini, agar tidak takut terhadap harimau ketika berjumpa di hutan. Ketika sudah saling berhadap-hadapan, jangan memalingkan muka dan lari. Tapi berjalanlah seperti biasa, sambil bergumam “ Ompung, au bolus jolo ( kakek, mohon lewat ) “ sambil menyebutkan keperluan kita disitu. Sang raja hutan inipun akan diam saja sambil mengibas-ngibaskan ekornya, pertanda kita dibolehkan lewat di tempat itu.

Sebutan lain adalah ‘Ompung’ atau ‘kakek ‘. Dalam kaidah bahasa Mandailing, kata ompung biasanya ditujukan kepada orang yang sudah lanjut usia. Namun bisa juga dialamatkan pada seseorang yang memiliki kematangan berfikir, sehingga diangkat sebagai pemimpin ( orang yang dituakan ).—misalkan pada sebuah organisasi kepemudaan—.

Julukan ini sedikit sulit dijelaskan. Tetapi sedikit gambaran, ditanah Mandailing Natal jarang ditemukan harimau mati ditengah hutan yang dilalui masyarakat. Sepertinya hewan ini tidak meninggalkan bekas apabila mati, seperti hilang ditelan bumi. Atau bisa jadi hewan liar ini mati ditengah hutan belantara yang tidak pernah dilalui masyarakat.

Besar kemungkinan hewan berbelang ini mendapatkan julukan ompung adalah karena hewan ini dituakan atau dengan kata lain dianggap sebagai pemimpin hewan-hewan lainnya. Ataupun bisa juga karena harimau ditempat ini rata-rata berusia lanjut, disebabakan tidak ada yang memburu, dan hanya mati karena dimakan usia. Berdasarkan penelitian para ahli hewan, usia harimau yang berada di penangkaran kebun binatang bisa mencapai 20-30 tahun. Dengan siklus melahirkan kira-kira dua tahun sekali, dengan jumlah anak mencapai tujuh ekor, walaupun yang selamat biasanya empat sampai lima ekor saja.***