Saturday, July 7, 2007

Kenali Si Calon Taman Nasional



Kenali si Calon Taman Nasional

PANYABUNGAN – Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara pantas berbangga. Kawasan rimba alami Batanggadis ternyata menarik perhatian sejumlah kalangan. Dari peneliti, pemerintah sampai petualang alam bebas ramai-ramai mendukung cita-cita melindungi kawasan ini. Rencananya akan menjadi taman nasional baru.

”Saya cukup takjub sebab masyarakat Madina ngotot dengan usulan kawasan (Batanggadis) sebagai taman nasional. Wah, ini termasuk langka,” ujar Ahmad Zulkani, rekan jurnalis dari Medan. Selama perjalanan menembus rimba Batanggadis, ia terus saja memandangi panorama sekitar.

Rasanya penobatan Batanggadis harus buru-buru diwujudkan. Tekanan illegal logging juga melanda kawasan ini. Kami sempat beberapa kali menemukan jalur pembalak liar tersebut. ”Ini harus kita laporkan ke Bupati (Amru Daulay) nih,” tegas Ahmad saat kami menemukan satu titik yang masih terdapat olahan kayu yang terlihat masih baru.

Menurut Ismayadi Samsoedin - Northern Sumatra Corridor Project Manager Conservation International (CI) Indonesia, kawasan yang diusulkan sebagai taman nasional termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanggadis. Luasnya sekitar 386.455 hektar atau 58,8% dari luas Kabupaten Madina.

Bagi masyarakat Madina, kawasan DAS Batanggadis sangat penting artinya sebagai water supply untuk mendukung kelangsungan hidup dan kegiatan perekonomian warga di 13 kecamatan. Warga lokal kebanyakan menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Itu dapat terlihat bahwa sebanyak 35% dari seluruh nilai PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) kabupaten disumbangkan dari sektor pertanian.

Tentu saja, kawasan alami itu amat penting untuk menjaga kualitas dan kelancaran pasokan air untuk keperluan air minum seluruh warga. Ketersediaan air juga menjamin untuk mengairi sawah rakyat 34.500 hektar maupun perkebunan rakyat. ”Itu sebabnya kawasan ini menjadi faktor yang krusial untuk dijaga fungsi hidrologinya,” timpal Diah Rahayuningsih, Communication Specialist CI Indonesia.

”Areal hutan alam yang masih asli seluas 108.000 hektar telah dialokasikan untuk dikelola secara intensif dan tersendiri lewat sistem pengelolaan taman nasional,” sebut Ismayadi. Diharapkan, hutan alam yang tersisa lebih dapat terkelola dengan baik dan terlindungi dari ancaman kegiatan-kegiatan manusia yang kontra-produktif dan tidak selaras dengan perlindungan kekayaan keanekaragaman hayati serta fungsi ekologis lainnya yang terkandung di dalamnya.

Dari rona fisik Kabupaten Madina yang terdiri 36% dari luas wilayahnya merupakan daerah pegunungan sampai ketinggian 2.145 meter dpl, jenis tanah yang rawan erosi dan longsor, curah hujan yang tinggi, dilalui patahan/sesar semangko, sehingga menjadikan kawasan ini rawan terjadi bencana alam, ketika terjadi perluasan hilangnya tutupan hutan alam.

Datang dari ”bawah”

Pengusulan kawasan rimba Batanggadis sebagai taman nasional sebetulnya datang dari ”bawah”. Masyarakat Madina didukung pemerintah kabupaten sama-sama bertekad untuk melindungi hutan alami yang masih tersisa. Apalagi beberapa waktu lalu terjadi tragedi Bahorok, di Kabupaten Langkat. Tragedi yang telah menewaskan lebih dari 140 jiwa manusia dengan kerugian finansial yang luar biasa makin membuka mata siapa saja.

”Sebetulnya jauh sebelum tragedi Bahorok terjadi rakyat kami sudah melihat pentingnya menjaga fungsi hutan alami,” ujar Amru Daulay, Bupati Kabupaten Madina saat ditemui beberapa waktu lalu. Rakyat selalu marah bila kawasan lindung itu diusik oleh kegiatan kontra produktif. Sebagai buktinya, Amru berkisah,” Pernah suatu ketika camat saya di Panyabungan membuka hutan untuk lahan pertanian, rakyat marah. Mereka protes soal pembukaan lahan karena bisa terjadi banjir.”

Walau proses penetapan taman nasional butuh waktu lama, Amru dan warga Madina sudah bertekad: sama-sama melindungi Batanggadis. Ini dibuktikan saat melewati malam pergantian tahun baru, mereka mendeklarasikan kawasan ini sebagai kawasan yang dilindungi. ”Yang jelas, hutan Batanggadis tak boleh dikonversi sebagai apa pun, termasuk oleh campur tangan pemerintah pusat,” tegas Amru bersemangat.

Calon Taman Nasional Batanggadis mempunyai bentang alam cukup lengkap, dari hutan hujan dataran rendah perbukitan (300 meter dpl), hutan pegunungan rendah dan hutan pegunungan tinggi sampai 2145 meter dpl di Puncak Sorik Merapi. Adanya variasi habitat yang tinggi punya konsekuensi tingginya kandungan keanekaragaman hayati.

Menurut riset biologi oleh Wich, et al. (2000) dan temuan peneliti lainnya, kawasan hutan alam yang diusulkan menjadi Taman Nasional di Kabupaten Madina punya nilai konservasi alam yang tinggi dan bernilai global. Ada beberapa alasan yang menyertainya. Yang pertama, ditemukan jenis mamalia langka dan dilindungi seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Tapir (Tapirus indicus), dan kemungkinan Badak Sumatera (Dicerorhinus s sumatransis) atau Gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus). Jenis-jenis primata yang dapat ditemukan, seperti Siamang (Hylobates syndactylus), Lutung (Presbytis cristata), Gibon (Hylobates agilis), Beruk (Macaca nemestrina) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca facscicularis).

Nilai konservasi kawasan tersebut semakin penting, karena ditemukan sembilan dari sepuluh jenis burung Rangkong (Hornbill) (Buceros spp, Anthracoceros spp, Anorrhinus spp, Aceros spp, Anthoceros spp,) yang ada di Sumatera. Itu mengindikasikan kesesuaian habitat bagi satwa pemakan buah. Selain itu dapat ditemukan pula 99 jenis burung.

”Memang, semua kekayaan keanekaragaman hayati Batanggadis masih bersifat kualitatif. Sampai sekarang, investasi riset keanekaragaman hayati secara kuantitatif belum pernah dilakukan di calon Taman Nasional Batanggadis,” sebut Erwin Parbatakusuma dari CI Indonesia. Itu sebabnya, dalam waktu dekat CI Indonesia akan menjelajahi rimba alami Batanggadis. Dan petualangan pun dimulai dari sini.
(SH/bayu dwi mardana/ darma lubis)

http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0107/hob2.html