Wednesday, September 19, 2007

Jeruk Sibanggor di Mandailing Kini Hampir Punah

Jeruk Sibanggor Mandailing Natal Kini Hampir Punah

Panyabungan, Kompas - Jeruk sibanggor yang memenangkan beberapa kali lomba buah tingkat nasional, keberadaannya kini hampir punah. Jeruk lokal dari lereng Gunung Sorik Merapi, persisnya di Desa Sibanggor, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, itu hancur karena terserang penyakit dan hama yang tak mampu ditanggulangi petani.

Di tiga desa asal jeruk itu, yaitu di Desa Sibanggor Julu, Sibanggor Tongah, dan Sibanggor Jae, pohon jeruk sibanggor kini sudah sulit ditemui. Saat Kompas ke Sibanggor, Rabu (11/5), hanya bisa menemukan beberapa batang pohon yang tak terawat lagi. Sebagian tanaman tinggal pokok pohon setinggi setengah meter, terlihat bekas ditebang. Sebagian petani di sana mengganti tanaman jeruk dengan coklat dan karet.
Sejumlah petani yang ditemui mengaku enggan lagi mengurus tanaman jeruk karena banyaknya penyakit. Pohon jeruk yang rata-rata memiliki ketinggian sekitar 3-5 meter itu kondisinya menyedihkan. Beberapa pohon memang terlihat berbuah, namun buahnya sangat kecil dan busuk. Padahal, dulu jeruk sibanggor besar-besar dan rasanya khas sehingga memenangkan berbagai lomba buah tingkat nasional.

Basaruddin Nasution, Ketua Kelompok Tani Suka Mulia Desa Sibanggor Julu, mengatakan, berbagai penyakit menyerang batang dan hama menyerang buah jeruk Sibanggor sejak lima tahun terakhir ini, dan keadaannya kian parah dari tahun ke tahun.
Penyakit yang menyerang tanaman, menurut Basaruddin, di antaranya virus CVPD, jamur merah, dan jamur api. Serangan berbagai penyakit itulah yang menyebabkan banyak tanaman kering dan mati. Adapun hama yang menyerang pada buah, yaitu lalat buah yang menyebabkan buah membusuk sehingga tak laku dijual.

Basaruddin mengatakan, petani telah mencoba mengobati tanaman yang sakit dengan berbagai fungisida maupun pestisida, namun serangan penyakit tetap tidak teratasi.
"Di samping terserang penyakit, jeruk sibanggor juga kebanyakan sudah tua dan butuh penanaman kembali. Namun, di sini tidak ada pembibitan sehingga tanaman jeruk yang tua dan mati tidak ada penggantinya. Beberapa tahun lagi, jeruk sibanggor ini mungkin akan musnah," katanya.

Areal terus menyusut

Basaruddin mengatakan, pada masa jayanya, yaitu sekitar sepuluh tahun silam, hampir semua warga di desanya memiliki tanaman jeruk sibanggor. Luas area tanam jeruk sibanggor di Desa Sibanggor Julu saat itu diperkirakan mencapai lebih dari 100 hektar. Total luas areal tanam jeruk Sibanggor di tiga desa mencapai 250 hektar. Pada tahun 2001, jeruk sibanggor masih memenangkan lomba buah tingkat nasional di Jakarta.

"Kejayaan jeruk sibanggor sudah habis. Kini, kalau ditotal luas lahan yang ditanami jeruk tidak akan sampai satu hektar. Sebagian petani kini beralih menanam coklat dan karet yang lebih menjanjikan," katanya.

Pada tahun 2003, menurut Basaruddin, desanya mendapat bantuan bibit jeruk siam dari Dinas Perkebunan Mandailing Natal yang ditanam di areal seluas 25 hektar. Namun, ribuan batang jeruk tersebut juga terserang penyakit. (aik)

http://kompas.com/kompas-cetak/0505/13/sumbagut/1747365.htm

Safari Ramadhan Taman Nasional Batang Gadis

Safari Ramadhan Taman Nasional Batang Gadis

Ramadhan memang bulan yang paling baik di antara semua bulan. Bukan hanya penuh berkah, Ramadhan juga merupakaan momen yang sangat pas untuk menyebarkan pesan konservasi dari sudut pandang Islam. Terlebih untuk daerah yang mayoritas penduduknya memeluk Islam.

Atas dasar itulah kami mengadakan acara safari Ramadhan di seputar kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Kami pun urun rembuk untuk menyatukan visi dan mencari cara yang enak dalam menyampaikan pesan konservasi ini ke masyarakat.

Kegiatan ini dimulai dari desa sasaran, kami sepakat untuk menuju desa-desa yang berbatasan dengan TNBG. Tetapi ada 68 desa yang berbatasan langsung dengan TNBG, maka kami pun memilih desa yang relatif mudah di jangkau dan punya konflik yang tinggi. Tak hanya itu kami pun berencana untuk menjadi satu tim dengan Dinas Kehutanan Mandailing Natal (Madina) yang memang punya agenda yang sama: sosialisasi TNBG. “Kolaborasi dengan Pemda Madina,” ucap Edy Hendras, Education Specialist Conservation International Indonesia.

Berbekal tekad baja dan semangat juang yang tinggi kami pun berangkat menuju Madina dari Medan pada 27 Oktober sekitar pukul 21.00 WIB. Perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam. Tim pertama terdiri dari lima personil (Edy Hendras, Affan Surya, Diah R.S plus dua relawan (volunteer): Ferdinand dan Arma). Sedangkan tim kedua: Abdul Hamid dan Agus (relawan) menyusul kemudian.

Tak terasa, waktu sahur pun tiba. Kami segera mencari warung makan yang menyediakan makan sahur. Beruntung, masih ada warung makan yang buka di Tarutung. Usai santap sahur, perjalanan dilanjutkan.

Semburat merah mentari pagi yang menyembul dari ufuk timur mengiringi perjalanan kami. Lanskap ciamik khas Sumatera (bukit dan pegunungan) seperti tak lepas mata memandang. Tak terasa akhirnya kami tiba di kantor CII di Panyabungan pukul 11.00 WIB. Badan terasa “remuk” dan penat, tanpa komando masing-masing personil langsung “kabur” mencari peraduan nan empuk dan nyaman. Sorenya, saya dan Edy Hendras menyempatkan diri bertemu Pak Cardi, staf Dinas Kehutanan Madina untuk membahas rencana esok hari.

TNBG Punya Siapa?
Keesokan harinya, 29 Oktober, kami memulai acara pemberian materi ke Desa Sibanggor Julu. Dengan didampingi dua orang ustadz dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Dinas Kehutanan Madina kami segera pergi menuju desa sasaran. Layaknya hari Jumat, para laki-laki wajib menunaikan ibadah shalat Jumat, momen inilah yang dipakai untuk menyampaikan materi TNBG.

Usai shalat Jumat disepakati untuk ceramah tentang Perda 5, 6 dan 7 kemudian disambung materi TNBG. Sayangnya, hanya para lelaki yang mengikuti ibadah Jumat ini, kaum hawa desa hanya mendengar ceramah dari bagian luar masjid saja. Kali ini Kang Edy - sapaan akrab Edy Hendras - yang kebagian job, memberikan materi TNBG.

Ada pertanyaan yang menarik sekaligus menusuk dari masyarakat: “TNBG ini sebenarnya punya siapa ? punya Madina, Sumatera Utara, Indonesia atau ada tekanan dari Amerika?” Dijelaskan oleh Kang Edy, TNBG ini jelas punya masyarakat Madina. Karena masyarakat Madina lah yang terkena dampak langsung jika hutannya habis. Sedangkan masyarakat di Medan hanya dapat melihatnya dari tayangan televisi saja.

Ada pula pertanyaan tentang pergantian tanah, sebab mereka punya kebun karet di dalam taman nasional. Dijelaskan bahwa bila memang punya kebun di dalam taman nasional tak bakal disita oleh pemerintah. Tetapi justru yang paling penting masyarakat tak menebang pohon di sekitar taman nasional. Tak ketinggalan, dijelaskan pula kepada masyarakat bahwa taman nasional ini hanya sebagai perubahan status saja dari hutan lindung dan masyarakat tetap boleh beraktifitas di dalamnya. Mengapa hal ini patut dijelaskan? Ternyata, masih banyak masyarakat yang beranggapan perubahan status hutan akan menghambat akses mereka ke dalam hutan. Padahal, gantungan hidup mereka ada di dalam hutan.

Pada 30 Oktober, kami pergi ke Desa Aek Nangali. Desa ini menjadi kemah induk (base camp) saat dilakukan survei biodiversitas beberapa waktu lalu. Di dalam hutan di wilayah Aek Nangali masih banyak terdapat satwa langka seperti harimau Sumatera, tapir dan kucing hutan. Pada hari ini, tim mulai bergerak sekitar pukul 11.30 WIB. Tim melewati Masjid Jami Sopotinjak. Sayang, tim gagal bertemu dengan Kepala Desa Sopotinjak. Kepala desa tak bisa ditemui lantaran hari pekan (hari pasar). Meski tak berjumpa kepala desa, tim tetap meninggalkan jam dinding yang bertuliskan TNBG di Masjid Jami’ Sopotinjak.

Perjalanan diteruskan menuju desa Aek Nangali. Di sini, tim bertemu Kepala Desa Sundut Dalimunthe. Tim menyampaikan poster “Hutan Hilang Bencana Datang” dan poster “TNBG”. Perjalanan dari Panyabungan ke Aek Nangali memakan waktu sekitar 2 jam.

Jika ingin melihat Camp Rangkuti – tempat merupakan bekas HPH kita harus meneruskan perjalanan sekitar 30 menit. Yang pasti, kita harus memakai mobil bergardan ganda untuk menempuh perjalanan tambahan ini. Maklum, medan yang dilalui bukanlah jalur aspal mulus, melainkan lintasan berbatu-batu dengan beberapa lubang besar.

Minggu 31 Oktober. Tim dibagi menjadi dua. Pertama, tim Mawas (Sulis, Hamid, Ferdinand, Agus) berkunjung ke Hutabargot Nauli, menemui Kepala Desa. Desa ini merupakan wilayah dengan konflik tertinggi karena hampir semua mata pencaharian penduduk adalah penebang kayu.

Setelah bertemu, tim memberikan poster dan jam dinding dua buah. Satu untuk dipasang di rumah kepala desa dan satu jam dinding untuk dipasang di mushalla. Pada pertemuan ini direncanakan untuk melakukan putar film. Namun soal waktunya belum ditentukan karena harus meminta surat dari dinas kehutanan.

Dalam pertemuan tersebut muncul beberapa pertanyaan. Tim Mawas bertanya, “Apakah perlu ijin dari pemuka adat?” Menurut kepala desa hal tersebut tak diperlukan. Cukup mendapat ijin dari kepala desa saja.

Obrolan terus berlanjut. Kepala desa bertanya, “Apakah taman nasional ini cuma di sisi kiri- kanan sungai Batang Gadis saja?” Tim menjelaskan bahwa taman nasional adalah kawasan hutan di sekitar Madina dan batasnya pun belum ada karena belum ada penentuan batas dari Badan Planologi Departemen Kehutanan.

Kepala desa juga menanyakan perkembangan camera trap yang dipasang pada waktu survei biodiversitas. Tim menerangkan bahwa survei tersebut menghasilkan beragam data tentang kekayaan alam Mandailing Natal, dari flora hingga fauna. Dijelaskan pula di wilayah hutan Madina masih terdapat harimau, tapir, rusa dan lain-lain. Disampaikan juga poster TNBG dan Inform.

Pada saat yang sama tim kedua Kang Edy, Affan dan dua relawan -Arma, Safrin- menuju Desa Batahan. Namun, karena lokasi jalan jelek (turun hujan dan licin) maka tim hanya sampai ke Desa Pagar Gunung. Begitu bertemu kepala desa, tim memberikan poster dan jam dinding untuk dipasang di rumah kepala desa dan mushalla. Penerimaan masyarakat terhadap tim ini sangat baik. Masyarakat sangat terbuka terhadap pendatang.

Tim melanjutkan kegiatan dengan memutar film di sebuah desa,katakanlah desa x pada Rabu, 3 November. Tim dengan kekuatan penuh (dua tim) tiba di desa sekitar pukul 18.00 WIB dan langsung menuju ke rumah kepala desa.

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, tim mengadakan obrolan santai. Begitu waktu berbuka tiba, tim segera menikmati makanan yang dihidangkan oleh kepala desa. Menunya, ikan gulai dan sambal. Berikutnya, shalat maghrib berjamaah di masjid di sambung dengan shalat isya dan tarawih. Usai tarawih 23 rakaat, dilanjutkan dengan pemutaran film.

Sebelumnya kepala desa sudah menyiapkan lokasi berupa tenda biru tetapi karena hari turun hujan maka lokasi pemutaran film dipindah ke madrasah Tsanawiyah Islam.

Pemutaran film dimulai pukul 21.30 WIB, pengunjung mulai berdatangan. Jumlah pengunjung diperkirakan sekitar 200 orang. Dimulai pembukaan oleh kepala desa dan diteruskan dengan ceramah agama. Ceramah ini bertemakan konservasi alam dengan penciptaan Allah SWT.

Sebelumnya diadakan diskusi di warung kopi yang di sampaikan oleh Hamid yang menjelaskan TNBG. Setelah ceramah agama di teruskan oleh penyampaian informasi oleh Pak Cardi –staff dinas kehutanan Madina- informasi ini berupa taman nasional, keanekaragaman hayati dan lain-lain.

Dari situ, muncul pertanyaan, seperti manakah batas-batas taman nasional? Jika taman nasional ini menyengsarakan masyarakat diharapkan pemerintah daerah mau meninjau ulang. Jangan sampai taman nasional ini mengurangi lapangan pekerjaan anak cucu kami dan manakah wilayah taman nasional, apakah pegunungan yang di sekitar sungai Batang Gadis saja?
Pertanyaan tersebut dijawab lancar oleh Pak Cardi bahwa batas-batasnya belum di tentukan. Nantinya ada tim tersendiri yang menentukan batas wilayah taman nasional.

Dari analisis pertemuan ini, banyak masyarakat yang khawatir dengan adanya taman nasional. Sebab, beberapa orang di desa tersebut punya ladang atau sawah di dalam hutan yang sudah di buka.

Dari obrolan dengan masyarakat diketahui bahwa desa ini mata pencaharian utama (bagi pemuda) adalah mengambil kayu. Tetapi hanya sebagai pembawa kayu dari hutan ke bawah sedangkan orang yang memotong kayu dengan chainshaw kebanyakan berasal dari Besitang. Ongkos membawa kayu satu balok (ukuran empat meter) Rp 3500. Satu kali jalan bisa membawa 3 balok. Harga jual balok tersebut sekitar Rp. 12.500. Pengumpul balok adalah penduduk lokal juga.

Dalam satu minggu, sedikitnya empat mobil bak terbuka (jenis pick up) mengambil kayu dari desa tersebut. Itu jika tidak musim penghujan. Jika musim penghujan hanya ada satu mobil bak terbuka yang jalan. Ternyata, hasil penjualan kayu ini disisakan untuk kemajuan desa. Ada satu orang yang ditunjuk sebagai koordinator dana untuk desa tersebut.

Dalam satu bulan, mereka bisa mengumpulkan sekitar Rp 30 juta (dibagi dalam 5 desa, jadi satu desa mendapat 6 juta). Biasanya masyarakat menyebutnya dengan bunga desa. Koordinator bunga desa ini kerap berganti karena beberapa kali terjadi kasus korupsi dan uangnya dilarikan. Terkadang hasil dari bunga desa dilaporkan tidak sesuai dengan semestinya, misalnya dapat 25 juta yang dilaporkan hanya ada 15 juta, atau balok kayu yang di dapat tidak terhitung dalam pajak bunga desa.

Dari informasi tersebut juga didapatkan bahwa sudah ada dua korban meninggal akibat kegiatan illegal logging ini. Satu orang tertimpa kayu. Satu orang lagi terkena chainshaw. Hati kami cukup kebat-kebit juga takut terjadi sabotase dari pihak-pihak tertentu, tapi syukurlah sampai akhir acara tak ada suatu kejadian yang menggangu.

Pada Kamis 4 November, tim berkunjung ke rumah kepala desa Sibanggor Tonga, Sayuti Nasution. Tim disambut ramah oleh Kepala Desa Sayuti. Tim berjanji untuk berbuka puasa di rumah Sayuti pada Jumat sore, maka diputuskan memberikan sedikit dana untuk menyediakan hidangan berbuka.

Hari berikutnya, Jumat 5 November. Tim pergi ke Desa Sipogu dan Bangkelang. Sebelum ke Desa Sibanggor Tonga, tim terlebih dahulu mengunjungi desa Sipogu dan Bangkelang.
Tim terbagi menjadi dua: desa Sipogu dan Bangkelang. Tim ditemani dua orang ustadz dari MUI. Di Desa Sipogu, setelah shalat Jumat, diadakan ceramah oleh MUI tentang perda 5,6 dan 7. Setelah itu tim CII mengisi ceramah berupa materi tentang taman nasional.

Tampak konsep taman nasional ini memang belum dipahami oleh masyarakat, termasuk di desa Sipogu ini. Ada pertanyaan menarik bahwa taman nasional ini akan mempersempit ruang usaha masyarakat, karena sebagian wilayahnya masuk ke dalam taman nasional. Dijelaskan bahwa taman nasional tidak akan mempersempit usaha masyarakat karena jika ada kebun karet atau lainnya yang terletak di dalam taman nasional bukan berarti tidak dapat di masuki lagi oleh masyarakat.

Terjebak longsor
Sore harinya kami terbagi dua tim: yang pertama langsung menuju Desa Sibanggor dan yang kedua mengantar ulama pulang ke Panyabungan. Usai mengantar ulama, tim kedua segera kembali berangkat ke desa Sibanggor Tonga. Sialnya di tengah jalan, tim kedua dihadang bencana tanah longsor sehingga perjalanan menjadi terhambat dan kebetulan saat itu hujan turun dengan sangat derasnya.

Seluruh anggota tim kedua terpaksa buka puasa di jalan, karena jalan belum dapat terlewati. Buka puasa pun dengan menu ala kadarnya. Akhirnya dengan gotong royong (karena ada beberapa angkutan di belakang tim kedua ini) maka tanah longsor tersebut bisa diatasi. Begitu tiba di rumah kepala desa, tim pertama telah menunggu dengan perasaan cemas dan seluruh baju anggota tim kedua basah.

Lantaran hanya berbuka dengan menu seadanya, anggota tim kedua segera menyantap hidangan yang disuguhi keluarga Kepala Desa Sayuti . Usai bersantap malam, hujan tak kunjung reda. Itu sebabnya, tim memutuskan untuk menggagalkan pemutaran film, karena masyarakat juga enggan keluar rumah. Selain hawa dingin, kebetulan satu itu terjadi pemadaman listrik sehingga seluruh kampung gelap gulita. Setelah bercakap-cakap, tim kembali ke kantor CII.

Pada 6 November, Hamid dan tim menuju desa Pagar Gunung untuk memutar film, masyarakat sangat antusias sekali karena mereka memang butuh hiburan. Setelah banyak masyarakat yang berkumpul film pun disiapkan. Tunggu punya tunggu film tak nampak di layar. Ternyata, LCD yang biasa digunakan rusak. Akhirnya tak mau digagalkan, kepala desa pun berinisiatif menggunakan televisinya. Walhasil televisi 14 inchi itu dipelototi oleh ratusan mata yang ingin melihat jelas film yang diputar. Walaupun tak melihat secara jelas masyarakat masih mendengar jelas lewat pengeras suara dan sambutan masyarakatpun sangat luar biasa.

Itulah pengalaman kami di seputar acara Safari Ramadhan. Acara ini sudah membuat kami mengetahui sedikit potret desa yang akan menjadi “sasaran” tim awareness NSC. Selesainya acara ini bukan berarti selesai pekerjaan kami. Ibaratnya kami baru saja menapakkan kaki. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Semoga saja! (Diah Rahayuningsih S)

http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=36&tcatid=136&page=g_tropika.index

Wednesday, July 25, 2007

Pembangunan Taman Nasional Batang Gadis

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN
PEMBANGUNAN TAMAN NASIONAL BATANG GADIS DI PROVINSI SUMATERA UTARA


Oleh : Menteri Kehutanan

Yang terhormat Gubernur Sumatera Utara dan para pejabat pemerintah provinsi Sumatera Utara,Yang terhormat Bupati Mandailing Natal dan para pejabat pemerintah kabupaten Mandailing Natal,Yang terhormat para tokoh agama dan pemuka masyarakat Kabupaten Mandailing Natal,Hadirin undangan yang berbahagia,

Assalamualaikum Wr.Wb.

Salam sejahtera,

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Illahi, karena berkat rahmat dan karuniaNya, maka pada hari ini, kita bersama-sama dapat hadir untuk mengikuti peresmian pembangunan Taman Nasional Batang Gadis di Panyabungan ini.

Hadirin yang terhormat,

Sebagaimana saudara-saudara maklum bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kenanekaragaman hayati dan tingkat endemisme (keunikan) yang sangat tinggi sehingga dimasukkan ke dalam salah satu negara mega-biodiversity. Keanekaragaman hayati termasuk di dalamnya jenis-jenis satwa dan tumbuhan serta ekosistemnya, telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Namun demikian Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan laju pengurangan luas hutan alam yang terbesar di dunia. Data menunjukkan laju pengurangan luas hutan tersebut di pulau Sumatera mencapai 2 % per tahun, di pulau Jawa mencapai 0,42 % per tahun, di pulau Kalimantan mencapai 0,94 % per tahun, di pulau Sulawesi mencapai 1 % per tahun dan di Irian Jaya mencapai 0,7 % per tahun. Pengurangan luas hutan tersebut terjadi akibat proses laju penurunan mutu hutan (degradasi) dan penggundulan hutan (deforestasi). Beberapa studi menunjukkan laju degradasi dan deforestasi hutan di Indonesia mencapai rata-rata 1-1,5 juta hektar per tahunnya.

Terjadinya degradasi dan deforestasi hutan tersebut telah memberikan implikasi yang sangat luas dan mengkhawatirkan bagi kehidupan masa depan manusia. Fungsi-fungsi lingkungan yang sangat mendasar untuk mendukung kehidupan manusia terabaikan, beranekaragam kehidupan flora dan fauna yang membentuk mata rantai kehidupan yang bermanfaat bagi manusia menjadi rusak dan hilang dan yang terjadi saat ini adalah banjir di beberapa daerah serta kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap.

Selain itu masalah kehutanan di perparah dengan terjadinya penyelundupan dan pembalakan kayu ilegal di berbagai daerah. Hal ini merupakan keprihatinan nasional dan telah menjadi perhatian Presiden. Presiden telah menyampaikan sejumlah indikasi keterlibatan aparat pemerintah dalam kasus penyelundupan kayu di berbagai daerah dan telah memberikan instruksi kepada tim operasi gabungan yang diketuai oleh Kapolri RI agar dalam dua minggu ini tim operasi terpadu sudah harus melaporkan progress berkaitan dengan target memproses pihak-pihak yang terkait dalam permasalahn tersebut

Hadirin yang terhormat,

Melihat pentingnya kelestarian hutan, pemerintah Indonesia telah mempunyai komitmen untuk melindungi 10% area daratan, dan 20 juta Ha habitat pesisir dan laut sebagai kawasan konservasi. Selain itu berkaitan dengan konservasi, telah dimiliki berbagai peraturan perundangan dan telah pula diratifikasi konvensi internasional yaitu konvensi tentang konservasi keanekaragaman hayati sebagai konsensus nasional, telah disusun suatu Biodiversity Action Plan for Indonesia pada tahun 1993. yang sekarang telah diperbaharui menjadi Indonesian Biodiversity Strategy & Action Plan pada tahun 2003.

Secara garis besar konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dilakukan melalui kegiatan-kegiatan antara lain :

Konservasi in-situ pada kawasan konservasi (in-situ conservation in terresterial parks and protected areas).

Konservasi in-situ di luar kawasan konservasi (in-situ conservation outside parks and reserve), di areal produksi, HTI dan sebagainya.

Konservasi pesisir dan laut (coastal and marine conservation)

Konservasi ex-situ di kebun botani, kebun binatang dan sebagainya.

Pembangunan Taman Nasional merupakan salah satu model dalam menjalankan kebijaksanaan pembangunan kehutanan khususnya di bidang pelestarian konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya tersebut. Didasari oleh lajunya tingkat kerusakan hutan di pulau sumatera khususnya di provinsi sumatera Utara dan sekitarnya, masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal, telah memprakarsai pembentukan taman nasional Batang Gadis untuk tetap dapat melestarikan keanekaragaman hayati yang masih dimiliki di kawasan hutan tersebut, sehingga masyarakat di sekitarnya masih dapat menikmati air sungai yang bersih, udara yang sejuk yang saat ini sudah jarang dijumpai masyarakat perkotaan, disamping melestarikan flora dan fauna khas di wilayah ini. Untuk itu kami sangat menghargai dan mendukung program pembangunan Taman Nasional Batang Gadis yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal ini.

Hadirin yang kami hormati,

Pembangunan dan pengelolaan taman nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan serta saling terkait dan menunjang dengan kepentingan pembangunan wilayah di sekitarnya (Integrated Conservation and Development Programme), sehingga diharapkan mampu menjamin upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mengingat semakin meningkatnya kepedulian para pemangku kepentingan (stakeholder), maka kedepan untuk pengelolaan kawasan konservasi khususnya taman nasional berkembang adanya tuntutan untuk mengembangkan kolaborasi manajemen, untuk itu kami telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2004, untuk dijadikan pedoman dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Kolaboratif Pengelolaan merupakan suatu kebutuhan dalam rangka mengurangi atau menghilangkan konflik serta menampung berbagai aspirasi atau keinginan berbagai pihak untuk ikut berbagi peran, manfaat dan tanggungjawab dalam pengelolaan taman nasional. Keberhasilan pelaksanaan kolaboratif pengelolaan sangat ditentukan adanya komitmen dan kesepakatan para pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat, sehingga tidak terulang kasus perambahan kawasan Padang Lawas di Sumatra utara.

Penetapan Taman Nasional Batang Gadis bukan merupakan akhir dari perjalanan namun merupakan langkah awal yang penuh tantangan bagi para pihak yang berkepentingan untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan keutuhan ekosistem Taman Nasional Batang Gadis, agar dapat mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar taman nasional.

Akhir kata, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Pembangunan Taman Nasional Batang Gadis, kami nyatakan secara resmi dimulai.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Panyabungan, 24 Pebruari 2005
Menteri Kehutanan,
ttd.
M.S. KABAN



Disampaikan dalam rangka peresmian pembangunan Taman Nasional Batang Gadis di Kabupaten Mandailing Natal Tanggal 24 Pebruari 2005

Sunday, July 15, 2007

Sepuluh Hari Mencari Harimau


Sepuluh hari MENCARI HARIMAU

Seiring dengan adanya program monitoring keanekaragaman hayati khususnya spesies Harimau (Phantera tigris sumatrae) di Taman Nasional Batang Gadis, dilakukanlah kunjungan di beberapa program konservasi Harimau di Sumatera.

Oleh: Anton Ario
GGNP Biodiversity Research Coordinator
Sugesti
GIS Technical Assistant for NSC program



Kunjungan dilakukan di seluruh kegiatan beberapa lembaga yang meneliti harimau antara lain di Lampung yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society -Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (WCS-TNBBS), di Jambi: Zoological Society of London (ZSL-Asiatic Persada) dan di Riau: World Wide Fund For Nature (WWF-Tesso Nilo) yang menjadi target kunjungan.

Ombak di jalanan

Perjalanan dimulai dari Jakarta mengendarai mobil milik NSC program. Sesekali kaki kiri dengan reflek mencari pedal kopling di kendaraan tersebut, maklum belum terbiasanya kami menggunakan kendaraan yang tidak ada pedal koplingnya alias automatic transmition car. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, kendaraan dapat segera dikuasi dan dipacu dengan mulus menuju penyeberangan Merak, Banten.

Dua jam terombang lautan—Selat Jawa-- akhirnya roda kendaran mendarat mulus di tanah Sumatera. Kendaran dipacu menuju lokasi pertama yaitu program konservasi harimau WCS di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Dilanjutkan ke lokasi kedua yaitu program harimau ZSL di Asiatic Persada. Kemudian pada etape terakhir yaitu program harimau WWF di Taman Nasional Tesso Nilo.

Tidak disangka bahwa kondisi jalan lintas Sumatera saat ini mengalami kerusakan yang parah. Diputuskan untuk menempuh lintas timur. Tetapi apa lacur, jalan lintas timurpun mengalami hal serupa, rusak, bergelombang dan bolong-bolong. Akibatnya kendaraan yang kami kemudikan secara bergantian itu harus sering mengalami perhentian mendadak karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi. Tetapi dalam kondisi jalan seperti itu, kami masih diuntungkan dengan transmisi mobil yang automatic sehingga tidak menyebabkan kami kelelalahan dalam mengemudi.

Menjadi offroader

Dalam setiap kunjungan, kami sempatkan untuk turun ke lapangan. Artinya menyaksikan dan mengikuti kegiatan camera trapping yang dilakukan masing-masing program harimau.

Hampir setiap lokasi yang kami kunjugi ke lapangan, selalu melalui jalan-jalan yang dalam kondisi parah. Lumpur yang melompat-lompat hingga memasuki kabin mobil, selalu menemami kami setiap perjalanan ke lapangan. Tidak mengherankan dalam setiap kegiatan ini mereka menggunakan kendaraan-kendaraan Four-wheel drive untuk aktivitasnya. Sebut saja kendaraan double cabin Mistubhisi Strada dan Toyota Landcruiser keluaran tahun 1980 yang dipergunakan ZSL. Begitu juga di TNBBS dan Tesso Nilo, Kendaraan Taft Hi-Line menjadi tunggangan keseharian mereka dalam kelapangan.

Sunarto, koordinator program harimau WWF sengaja menunjukkan kepada kami kondisi mobil operasionalnya yang penuh lumpur tidak tercuci. “Sengaja gue nggak cuci tuh mobil ton..sampe elu dateng,”.. canda Sunarto dengan bangga.

Dilihat kondisi medannya memang sebagian besar merupakan jalan-jalan bekas HPH yang tentunya kondisinya parah seperti di Asiatic persada dan Tesson Nilo. Tetapi terdapat keunikan tersendiri mencoba track berlumpur, cocok untuk menguji ketangguhan berkendara di medan yang rusak berat. Pemandangan seperti ini seakan membawa kami menjadi offroader yang selalu bergelimang lumpur.

“Berburu” harimau

Kegiatan pertama kami lakukan di Lampung tepatnya di program WCS. Dengan panjang lebar Untung “Tiung”, koordinator program Harimau di WCS mejelaskan kepada kami tentang kegiatan penelitian harimau dengan camera trapping di TNBBS. Selain metodelogi, teknis operasional lapangan hingga pengembangan database kami dapatkan informasi tersebut. Program harimau di WCS tergolong sudah cukup lama berlangsung. Program di WCS ini, merupakan salah satu referensi untuk kegiatan serupa di Taman Nasional Batang Gadis nantinya.

Di program harimau ZSL di PT Asiatic Persada – Jambi, kami juga mendapatkan informasi dari Dolly Priatna, koordinator program Harimau ZSL. Dolly juga memberikan informasi dan masukan-masukan kepada kami tentang kegiatan harimau di Sumatera. Dia juga menjelaskan kegiatan harimau di lokasi yang merupakan perkebunan kelapa sawit dan berbatasan dengan HPH Asialog tersebut. Walaupun penelitian bukan dikawasan konservasi tetapi manajemen Asiatic Persada memiliki komitmen dalam kegiatan konservasi khususnya Harimau, Dolly menjelaskan.

Lain halnya di program harimau WWF-Tesso Nilo. Lokasi ini merupakan target lokasi terakhir kami. Sunarto menjelaskan dengan gamblang dan banyak membantu kami dalam memberikan masukan-masukan untuk kegiatan di Taman Nasional Batang Gadis. Karena kebetulan Sunarto juga pernah terlibat dalam perencanaan tersebut.

Penggunaan camera trap setiap lokasi berbeda-beda tipenya. WCS menggunakan tipe Camtrakker dalam operasionalnya, sedangkan ZSL menggunaakan tipe Photo Scout dan Camtrakker. Di WWF menggunakan jenis kamera tipe Deer Cam. Walaupun berbeda tipe, secara prinsip tidak ada perbedaan. Perbedaannya hanya pada komponen dan sedikit dalam pengoperasiannya.

Begitu juga dalam penggunaan metodelogi pada ketiga lokasi tersebut hampir sama, hanya saja dalam penetapan dan tekniknya yang mengalami pengembangan dalam teknis, datasheet maupun database-nya. Selain itu dalam pemilihan lokasi pemasangan di tiga lokasi juga ada yang berdasarkan sistem acak (random) dan ada juga yang berdasarkan dari lokasi potensial keberadaan harimau.

Tujuan dari penelitian harimau yang dilakukan pada masing-masing lokasi kunjungan tersebut, selain mengetahui estimasi populasi dan distribusi dan kelimpahan mangsa (prey), juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat melalui awareness / campaign dan pendidikan. Selain itu ada juga yang ingin mengetahui home range harimau dengan menggunakan radio collar seperti yang dilakukan di ZSL. Pemantauan melalui kegiatan anti poaching seperti yang dilakukan ZSL dan WWF tidak ketinggalan dilakukan untuk memonitor keberadaan dan ancaman terhadap satwa belang ini. Intinya dari kesemua aktivitas tesebut memiliki satu tujuan yaitu konservasi Harimau sumatra yang tingkat ancamannya tidak pernah berkurang. (Anton.doc)


HARIMAU SUMATRA (Panthera tigris sumatrae)
di Taman Nasional Batang Gadis

By:
Anton Ario
GGNP Biodiversity Research Coordinator

Taman Nasional Batang Gadis yang berada di kabupaten Mandailing Natal (Madina) propinsi Sumatera Utara, memiliki luasan lebih kurang 108.000 ha. Hasil kegiatan RAP (Rapid Assessment Program), buah kejasama antara CII, PHKA, Litbang Kehutanan dan LIPI, mengemukakan bahwa Taman Nasional Batang Gadis menyimpan potensi keanekaragamn hayati yang tergolong tinggi, termasuk Harimau sumatra (Panthera tigirs sumatrae).

Harimau Sumatera merupakan satu-satunya dari subspesies Harimau yang masih tersisa di Indonesia. Keberadaannya hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Kehilangan habitat dan mangsa (Bovidae dan Cervidae) menyebabkan satwa yang hidup di pulau sumatera ini semakin terancam keberadaannya. Saat ini diperkirakan berkisar 400-500 ekor yang masih tersisa di alam (Seidenstiker,1999). Keadaan yang mengkhawatirkan inilah yang menyebabkan Harimau sumatera berstatus critically endangered (IUCN 2004). Selain itu juga, dengan maraknya perburuan dan perdagangan menjadikan Harimau sumatera tergolong Appendix I (CITES) artinya satwa yang dilarang keras untuk diperdagangkan dengan alasan apapun.

Harimau merupakan satwa yang menempati posisi puncak dalam rantai makanan di hutan tropis. Peranannya sebagai top predator, menjadikan harimau menjadi salah satu satwa yang berperan penting dalam keseimbangan ekosistem. Kepunahan akan terjadi pada Harimau sumatera apabila ancaman terhadap kehidupan satwa ini terus berlangsung, seperti halnya yang terjadi pada Harimau bali (Pantera tigris balica) dan Harimau jawa (Pantera tigris sondaica) yang mengalami kepunahan sejak tahun 1940-an dan 1980-an.

Keberadaan harimau di Taman Nasional Batang Gadis, diketahui berdasarkan pemasangan perangkap kamera (Camera trap) di beberapa lokasi. Kegiatan ini telah dilakukan seiring penetapan kawasan tersebut menjadi Taman Nasional. Berdasarkan temuan keberadaan harimau tersebut, dilakukanlah program konservasi harimau untuk lebih memaksimalkan program konservasi di Taman Nasional Batang Gadis. Melalui program konservasi Harimau tersebut, sekiranya dapat menjadi salah satu program yang akan mendapatkan keluaran penting dalam konservasi spesies dan habitat dalam pengelolaan taman nasional Batang Gadis. Selain itu kegiatan pendidikan dan awareness, diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat di sekitar kawasan taman nasional terhadap Harimau.

Hingga saat ini telah dioperasikan tujuh camera trap (kemungkinan besar bertambah menjadi 20 kamera) yang tersebar di beberapa lokasi penempatan kamera yang selama ini dilakukan oleh NSC team. Selama pengoperasian Camera trap di dapat 2 individu harimau. Selain itu satwa lain yang juga terekam diantaranya burung Kuau (Argusianus argus), Tapir (Tapirus indicus), Kambing hutan (Naemorhedus sumatrae), Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing hutan ( Felis bengalensis), Kucing emas ( Catopuma temminckii), dan lain-lain (Anton).


http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=250&page=g_tropika.index

Kucing Emas (Golden Cat) Yang Hampir Terhapus Ditemui di TNBG


A camera installed by researchers once captured an extremely rare golden cat (Catopuma temminekii) in the forest. "It's a very rare and almost extinct cat species globally," said, Mandailing Natal forestry office Budi Ismoyo.
KUCING EMAS (Catopuma temminckii)

Tim peneliti Conservation International (CI) Indonesia berhasil mendokumentasikan keberadaan kucing emas lewat kamera perangkap. Kucing langka ini ditemukan di Taman Nasional Batang Gadis, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Binatang ini lebih mirip puma ketimbang spesies kucing yang hidup di hutan Asia. Golden cat punya perbedaan mendasar dibandingkan lima jenis kucing penghuni Taman Nasional Kerinci Seblat yang kulitnya polos. Selain berwarna kuning keemasan, kulit kucing emas ada pula yang berwarna cokelat tua atupun abu-abu. Warna yang paling langka ialah melanistic alias hitam tulen. Kucing emas yang satu ini kerap disangka macan kumbang oleh masyarakat Sumatera. Jejak kaki kucing domistik. Tentunya tanpa cakar seperti pada jari kaki anjing. Satwa yang panjang tubuhnya bisa mencapai 1,3 meter ini memiliki berat sekitar 15 kilogram. Ia biasa hidup di dataran rendah.


Animal Info - Asiatic Golden Cat
(Other Names: Asiatische Goldkatze, Chat de Temminck, Chat Doré d'Asie, Gato Dorado Asiatico, Golden Cat, Harimau Anjing, Hso Hpai, Huang Hu, Jin Mao, Kuching Mas, Kucing Emas, Kucing Tulap, Kya Min, Kyaung Min, Miao Thon, Shonali Biral, Sua Fai, Sua Meo, Sua Pa, Temminck's Cat, Zhi Ma Bao)
Catopuma temminckii (Felis t.)
Status: Vulnerable

--------------------------------------------------------------------------------

Contents
1. Profile (Picture)
2. Tidbits
3. Status and Trends (IUCN Status, Countries Where Currently Found, Taxonomy, Population Estimates, Distribution, Threats)
4. Data on Biology and Ecology (Size and Weight, Habitat, Age to Maturity, Gestation Period, Birth Season, Birth Rate, Maximum Age, Diet, Behavior (Activity, Movement, Denning, Hunting and Feeding), Social Organization, Range)
5. References


--------------------------------------------------------------------------------

Profile
Pictures: Asiatic Golden Cat #1 (24 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Asiatic Golden Cat #2 (21 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Asiatic Golden Cat #3 (31 Kb JPEG) (IUCN Cat Spec. Gr.); Asiatic Golden Cat #4 (48 Kb JPEG) (Cat Surv. Trust)

The Asiatic golden cat is about twice the size of a large house cat. Its head and body are up to 1 m (3.3') long and it weighs about 14 kg (30 lb). Its coat color is variable - it can be golden brown to dark brown, pale cinnamon, bright red, or gray. The fur is usually uniform in color, but it can also be marked with spots and stripes. The fur is moderately long, dense, and rather harsh to the touch. The Asiatic golden cat has short, rounded ears, and in all color phases its head is distinctly marked with white lines bordered with black running across each cheek and from the inner corner of each eye up to the crown.

The Asiatic golden cat usually inhabits tropical and subtropical evergreen lowland and dry deciduous forest. It has been recorded up to 3,050 m (10,000') in the Himalayas. The Asiatic golden cat does not adapt well to areas settled by humans. It has a wide ranging diet, composed mainly of small mammals (e.g. rats and mice), but also including birds, reptiles and larger mammals such as deer. In some areas the Asiatic golden cat is thought to be nocturnal, while in other areas it appears to be active during the day and at night. Young golden cats are raised in hollow trees, in rock hollows, and in holes in the ground. The Asiatic golden cat is primarily a terrestrial hunter, but it can climb trees when it needs to. Males and females often hunt in pairs, and the male is thought to play an active role in rearing the young.

The Asiatic golden cat is found from Tibet (China), Nepal, and Sikkim (India) through southern China, Myanmar, Thailand, and peninsular Malaysia and Sumatra (Indonesia). Areas of good habitat still exist in Bhutan, parts of northeastern India, and China. It is thought to be uncommon. The Asiatic golden cat is threatened primarily by habitat loss due to deforestation and loss of its prey due to illegal hunting. It is also hunted for its pelt, and its bones are used as a substitute for tiger bone in traditional Asian medicines.


--------------------------------------------------------------------------------

Tidbits
*** Cat Tidbit #2: It has been a mystery for years why domestic cats, along with big cats like lions, tigers, leopards and jaguars, don’t like sweet-tasting foods. This is unusual in mammals. Scientists have discovered why cats prefer eating meat and fish instead - they can’t taste sugary foods due to a defect in a key gene for tasting. Molecular analysis shows that big cats also have the faulty gene. (Cat News 2004) (See Cat Tidbit #3.)

*** In Thailand, the forest people believe that the Asiatic golden cat is extremely fierce, and that it's the master of all other cats. The Karen, a local tribe, believe that carrying a single hair of the Asiatic golden cat on your person will keep tigers away. (Sunquist & Sunquist 2002)

*** In China, the Asiatic golden cat is thought to be a kind of leopard and is known as the rock cat or yellow leopard. Different color phases have different names; those with dark fur are called inky leopards, and those with spotted coats are called sesame leopards. (Sunquist & Sunquist 2002)


--------------------------------------------------------------------------------

Status and Trends
IUCN Status:
[The IUCN (International Union for the Conservation of Nature; also called the World Conservation Union) is the world’s largest conservation organization. Its members include countries, government agencies, and non-governmental organizations. The IUCN determines the worldwide status of threatened animals and publishes the status in its Red List.]

1986 - 1994: Indeterminate
1996: Lower Risk/near threatened
2002 - 2005: Vulnerable; (Criteria: C2a(i)) (Population Trend: Decreasing) (IUCN 2005)
Countries Where the Asiatic Golden Cat Is Currently Found:
2005: Occurs in Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia (Sumatra), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, and Vietnam. (IUCN 2005).

Taxonomy:
Recent genetic analyses have lead to the proposal that all modern cats can be placed into eight lineages which originated between 6.2 - 10.8 million years ago. The Asiatic golden cat is placed in the "bay cat lineage," which diverged from its ancestors as a separate lineage 10.8 million years ago. The bay cat lineage also includes the bay cat and the marbled cat. (Johnson et al. 2006)

Population Estimates:
[Note: Figures given are for wild populations only.]

WORLD
The Asiatic golden cat’s total effective population size is estimated at below 10,000 mature breeding individuals (IUCN 2005).
Distribution:
The Asiatic golden cat is found from Tibet (China), Nepal, and Sikkim (India) through southern China, Myanmar, Thailand, and peninsular Malaysia and Sumatra (Indonesia). Areas of good habitat still exist in Bhutan, parts of northeastern India, and China. It is thought to be uncommon. (Sunquist & Sunquist 2002, IUCN 2005)

Distribution Map (2 Kb GIF) (Big Cats Online)

Threats:
The Asiatic golden cat is threatened primarily by habitat loss due to deforestation and loss of its prey due to illegal hunting. It is also hunted for its pelt, and its bones are used as a substitute for tiger bone in traditional Asian medicines (Grassman et al. 2005, IUCN 2005).


--------------------------------------------------------------------------------

Data on Biology and Ecology
Size and Weight:
Head and body length: 66 - 105 cm (26 - 41") (n = 15+); Weight: 12 - 16 kg (26 - 35 lb) (n = ?) except for 2 adult females that weighed 7.9 and 8.5 kg (17.4 and 18.7 lb) (Sunquist & Sunquist 2002, Grassman 2003).

Habitat:
The Asiatic golden cat inhabits tropical and subtropical evergreen lowland and dry deciduous forest. Less frequently it is found in more open habitats such as shrub and grasslands and sometimes in more open rocky areas. It has been recorded from lowlands up to 3,050 m (10,000') (Sikkim, India, in the Himalayas). Two radio-collared Asiatic golden cats in Thailand used habitat (95% - closed forest, and 5% - open forest-grassland) in proportion to occurrence, rather than favoring one type of habitat over the other, and locations were uniformly distributed. The Asiatic golden cat does not adapt well to or prefer areas settled by humans. (Humphrey & Bain 1990, Nowell & Jackson 1996, Holden 2001, Sunquist & Sunquist 2002, Grassman et al. 2005, IUCN 2005)

The Asiatic golden cat is found in both the Himalaya, Indo-Burma, Mountains of Southwest China, and Sundaland Biodiversity Hotspots (Cons. Intl. 2005) and the Kayah-Karan/Tenasserim Moist Forests and Peninsular Malaysian Lowland and Montane Forests Global 200 Ecoregions (Olson & Dinerstein 1998, Olson & Dinerstein 1999).

Age to Maturity:
The Asiatic golden cat attains sexual maturity by 18 - 24 months (Sunquist & Sunquist 2002).

Gestation Period:
Thought to be 78 - 80 days (Sunquist & Sunquist 2002).

Birth Season:
Litters are born throughout the year in captivity (Sunquist & Sunquist 2002). In the wild, a male and female pair was photographed with a small cub in late August in Sumatra, Indonesia (Holden 2001).

Birth Rate:
1 - 3 kittens are born (average = 1.11) (captivity) (Nowell & Jackson 1996). If a litter is lost, the mother may produce another litter within 4 months (Humphrey & Bain 1990).

Maximum Age:
Up to 20 years (n = 12) (captivity) (Nowell & Jackson 1996).

Diet:
The Asiatic golden cat has a wide ranging diet mainly composed of small mammals (e.g. rats, mice, voles, ground squirrels), but also probably including amphibians, insects, birds (e.g. pheasants), reptiles (e.g. grass snake) and small ungulates (e.g. muntjacs and chevrotains). It will kill domestic poultry as well as sheep, goats, and buffalo calves. (Humphrey & Bain 1990, Nowell & Jackson 1996, Sunquist & Sunquist 2002, Grassman et al. 2005, IUCN 2005)

Behavior:
Activity - Published information on the activity patterns of the Asiatic golden cat displays varying results. A number of authors state that the Asiatic golden cat is primarily nocturnal (Nowell & Jackson 1996, Sunquist & Sunquist 2002, IUCN 2005). However, a study using photo-trapping in Sumatra, Indonesia (Holden 2001) indicated that the Asiatic golden cat was cathemeral. Forty-seven percent of the photographs showed the golden cats moving during daylight hours, with no particular bias towards crepuscular activity, and 53% of the photographs showed them active during the night. Finally, in a study in Thailand that followed 2 radio-collared Asiatic golden cats (1 female and 1 male) for 12 - 16 months (Grassman et al. 2005), daily activity levels indicated that the cats exhibited arrhythmic activity dominated by crepuscular and diurnal patterns, with activity peaks occurring between 0801 - 1000 h and 1601 - 1800 h (average activity = 69 %). The greatest numbers of inactive periods were scattered throughout late night (0001 - 0200 h and 0401 - 0600 h, average activity = 40 %) time periods. Overall the two cats were active during 56% of activity readings.

Movement - A male and a female golden cat, which were radio-tracked in Thailand, traveled an average of 1,600 m/day (56 - 9,300 m/day) (5200 ft/day (180 - 30,500 ft/day)). The average daily movement of the male was 2,300 m/day (640 - 9,300 m/day) (7500 ft/day (2100 - 30,500 ft/day)), while for the female the average daily movement was 1,100 m/day (56 - 3000 m/day) (3600 ft/day (180 - 9800 ft/day)). (Grassman 2003)

Denning - The Asiatic golden cat raises its young in hollow trees, in rock hollows, and in holes in the ground (Humphrey & Bain 1990).

Hunting and Feeding - The Asiatic golden cat is primarily a terrestrial hunter, but it can climb trees when it needs to. In captivity, Asiatic golden cats kill small prey with a bite on the back of the neck, as is typical of small cat species generally. They also pluck birds larger than pigeons before beginning to feed. (Sunquist & Sunquist 2002)

Social Organization:
The Asiatic golden cat often hunts in pairs, and the male is said to play an active role in rearing the young (Nowak 1999).

In the study in Thailand mentioned above, where one male and one female Asiatic golden cat were radio-collared and radio-tracked. It was found that there was a significant overlap in the home ranges of the male and the female. Fifty-three percent of the range of the male encompassed 78% of the range of the female. (Grassman et al. 2005)

Range:
In the study of radio-tracked Asiatic golden cats mention above, the resulting estimates of home range sizes were: F - 33 sq km (13 sq mi) and M - 48 sq km (19 sq mi). Their movements were not clustered around small core areas and space use within the home ranges was relatively uniform. (Grassman 2003, Grassman et al. 2005)


--------------------------------------------------------------------------------

References
Big Cats Online, Cat News 2004, Cat Surv. Trust, Cons. Intl. 2005, Grassman 2003, Grassman et al. 2005, Holden 2001, Humphrey & Bain 1990, IUCN 2005, IUCN Cat Spec. Gr., Johnson et al. 2006, Nowell & Jackson 1996, Olson & Dinerstein 1998, Olson & Dinerstein 1999, Sunquist & Sunquist 2002

http://www.animalinfo.org/species/carnivor/catotemm.htm

A Trip Down Memory Lane in Papan, Perak


Members of the Perak Heritage Society visiting Rumah Besar Raja Bilah in Papan
Anggota Persatuan Warisan Perak mengunjungi Rumah Besar Raja Bilah di Papan

A trip down memory lane
By CHAN LI LEEN
Photos by SAIFUL BAHRI and CHAN LI LEEN
Saturday September 13, 2003

THE hosts of Papan, one of the oldest towns in the Kinta Valley, were revisited during the Papan Open Day organised by the Perak Heritage Society recently.

Hundreds of visitors travelled from near and far to this almost forgotten pioneer town to relive the times of the early Chinese and Mandailing settlers and to retrace events of the Japanese Occupation during World War II.

The open day was also organised to introduce the God of the Earth, the second book by former resident Ho Thean Fook, 83.

Since early morning, the main road of the town, which is located off the Lumut Highway, 16km from Ipoh, was packed with history buffs who had also come to visit Papan and the sites mentioned in Ho's book.

Visitors for Papan looking at articles and old pictures of the town at Sybil Kathigasu's old house.

Ho's book is a fictional and partly biographical novel set in Papan during the rise of the affluent tin and rubber industries in Perak at the beginning of the 20th century.

It was launched on Aug 22 by lawyer Pamela Ong during a dinner talk organised by the Perak Academy at the Syuen Hotel in Ipoh.

Former principal of SMK St Michael's Institution Ipoh Brother Vincent Corkery said: It's a wonder how much a story can do to bring a town back to life. Papan is no longer neglected or forgotten because of the beautiful stories Ho has brought to life in his book.

Kicking off the memorable open day in Papan on Aug 24 was a lion dance by a troupe from nearby Batu Gajah.

This was followed by a talk about the novel by retired teacher Ong Su-Ming and state librarian Mohd Taib Mohamed at the Hakka Tsen Lung Fui Kuon Association, where hordes of people clamoured around Ho to get their books autographed.

A foreign visitor, J. Vanderbilt-Sloane, was so impressed by the town's historical essence and ambience that he donated 62 copies of Ho's book to the teachers and students of Papan, hoping that they would learn their history and roots.

French tourist Jennifer Gay, 36, who was first introduced to Papan two years ago, said the open day was a good way of getting people to be aware of the town and hopefully to preserve it.

A former teacher, Ho taught at the Khai Meng Chinese School in 1940 and, a year later, at the Kinta School of Commerce when war broke out.

He was 21 when he was roped in to fight the Japanese by the Malayan People's Anti-Japanese Army agents who used nationalism and patriotism as their selling points.
During one of the meetings, he was asked to approach Sybil Kathigasu, a brave Eurasian woman reputedly known to be anti-Japanese, for medical aid for the resistance fighters.

She was caught and tortured by the Japanese and died from the injuries she sustained at the hands of her captors.

"She was a divine lady and until today, I have not met any other woman like her,"Ho recounted.

"People have commented that I am a brave man because of the experiences I have gone through but, given a chance, I would prefer to lead a quiet and uneventful life. I still get nightmares from the past," said Ho.

His exploits with the resistance fighters were recorded in his first book, Tainted Glory, published in 2001.

For those who turned up at Papan, an open day would not be complete without a heritage walk of the town.

Society members Chye Kooi Loong, Law Siak Hong, Chong Fong Loon and Cheah Chee Ming, guided visitors on the Ho Thean Fook Trail mapped out by Law, Chong and Ho.

Visitors were also taken to the backroom of Kathigasu's house where she risked her life to provide medical aid for the resistance fighters.

Kathigasu would let the injured fighters in through the back door of the house when Ho knocked three times.

"There are also two secret compartments in the house, one under the staircase and another in the backroom, where Kathigasu hid her transistor radios that were codenamed Josephine 1 and 2," said Chong.

The entourage also stopped by at Rumah Besar Raja Bilah, a century-old Mandailing double-storey mansion made of bricks and cengal timber with eight-sided columns to symbolise that the building was erected with the support of people from the eight directions of the compass.

The house was mostly used for ceremonies such as weddings, feasts and other receptions, rather than as a residence for the late local chieftain, Raja Bilah.
A few metres away, some young children tried to peep into the old 1888 Papan Mosque, believed to be the last remaining large-scale 19th century mosque of traditional Mandailing architecture found in the country and Sumatra, Indonesia.

Among those taking the trail was a group of 37 pupils from SMJK Ave Maria Convent in Ipoh.

Papan has not been mentioned in our history textbooks and I felt it would be beneficial for my pupils to expose themselves to the town, not just by reading but by experiencing the place first hand,?said teacher Tai Mei Kim.

By noon, many had retired from the walk while the more adventurous ones went on to view the former mansions of the rich in the town like Yap See, Hew Ng, Chang Sin Sang, Loke Wan Toh and Cheah Kooi Chun, who had lent a hand in giving Papan its illustrious background.

http://allmalaysia.info/news/story.asp?file=/2003/9/13/state/6253503&sec=mi_perak

Sisa Kerajaan Buddha di Tapanuli Selatan


Sisa Kerajaan Budha di Tapanuli Selatan

Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Tak tanggung, dari sekitar 728.799 ribu penduduknya, sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat, mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji.

Kebanyakan masyarakatnya, selalu menggunakan pakaian yang juga mencerminkan nilai-nilai Islam. Lelaki mengenakan peci, atau sekedar lebai saat duduk di warung-warung kopi, bahkan hingga ke Padang Sidempuan, ibukota Tapsel. Sementara kaum ibu mengenakan kebaya atau kain terusan berikut mengenakan selendang. Padahal, arus modrenisasi juga mendera salah satu dari 25 kabupaten dan kota di Sumut ini.

Di setiap sudut, gampang dijumpai bangunan musholla atau mesjid dengan air untuk wuduk yang berasal dari air pancuran gunung. Maklum saja, sebagian besar dari 11.677 kilometer persegi luas wilayah Tapsel merupakan dataran tinggi.

Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha! Tidak main-main, ada 16 candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak.

Candi Bahal I

Jangan membayangkan candi-candi itu seperti candi Prambanan atau Borobudur yang masih dipergunakan hingga sekarang. Candi-candi di Situs Padang Lawas masa kini hanya sebagai monumen sejarah dan sudah tidak dipergunakan lagi sebagai sarana beribadat. Misalnya Candi Bahal I.

Candi Bahal I yang berada di Desa Bahal, Kec. Padang Bolak, sekitar 450 kilometer barat daya Medan, ibukota Sumut, merupakan candi terbesar yang telah dipugar. Dikitari ilalang, Candi Bahal I terlihat bagai tugu batas desa. Beberapa pohon rimbun serta sebuah pos jaga di depannya sedikit menutupi papan nama candi di dekat gapura. Bangunan purbakala dari bata merah itu semakin memerah disengat matahari.

Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung.

Candi itu memang sepi pengunjung. Bisa dimaklumi sebab angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak - Desa Bahal, dengan jarak tempuh sekitar 12 jam.

"Candi ini hanya ramai saat Lebaran atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, biasanya dikutip Rp 2 ribu per orang. Kalau hari biasa, paling anak-anak muda sekitar kampung, pacaran. Pengunjung dalam sebulan paling banyak 20 orang saja. Kalau turis asing sudah lama tidak ada,” tutur Nashiruddin (28), seorang penduduk setempat.

Kendati merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar 50 meter di bawahnya.

Menghadap Tenggara

Berbeda dengan posisi menghadap barat pada candi-candi di Jawa Timur atau menghadap timur pada candi-candi di Jawa Tengah, Bahal I justru dibangun menghadap Tenggara dengan sudut 135 derajat. Tidak diketahui alasannya.

Selain kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi, di dalam masih ada pagar sepanjang 59 meter berupa susunan bata, mulai dari empat hingga 22 lapis. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat perwara-nya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar.

Perwara pertama luasnya 4,9 x 4,9 m dengan tinggi 1,5 m, berada enam meter sebelah timur laut bangunan induk. Perwara kedua merupakan perwara terluas, berada enam meter sebelah tenggara atau berhadapan dengan candi induk. Ukurannya 9,5 x 9,5 m dengan tinggi dua meter. Perwara ketiga terletak 2,20 m sebelah barat daya perwara kedua. Ukurannya 4,65 x 4,65 m dengan tinggi dua meter. Sedangkan perwara keempat ada di barat daya perwara ketiga, tinggi 1,5 meter dengan ukuran paling kecil, yakni 4 x 4 meter.

Sementara bangunan induk candi itu sendiri berdenah bujur sangkar. Di pintu masuk terdapat delapan anak selebar 2,25 meter. Sepasang arca singa terlihat mengapit tangga. Pada bagian tengah bangunan utama terdapat ruang kosong seluas 2,5 m x 2,5 m yang fungsi awalnya diperkirakan sebagai tempat pemujaan.

Kilasan Sejarah

Arkeolog asal Jerman F.M Schnitger yang berkunjung tahun 1935 menyimpulkan, candi itu peninggalan Kerajaan Pannai. Sumber sejarahnya berasal dari prasasti berbahasa Tamil berangka tahun 1025 dan 1030 Saka yang dibuat Raja Rajendra Cola I, di India Selatan. Rajendra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan beberapa kerajaan lainnya temasuk Kerajaan Pannai. Keberadaan Kerajaan Pannai tercatat dalam Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca tahun 1365 Saka.

Dari temuan sejumlah artefak, analisa konstruksi bangunan beserta materialnya yang dominan bata merah dengan ukuran beragam, batuan tuff (batuan sungai) untuk arca dan batuan kapur, memunculkan dugaan kuat bahwa candi ini berkaitan dengan agama Budha beraliran Wajrayana.

“Diperkirakan pembangunan Candi Bahal I beserta candi-candi di sekitarnya, sejaman dengan pembangunan Candi Muara Takus di Riau sekitar abad ke XII Masehi. Bahkan mungkin sama juga dengan sebuah Komplek Candi Mahligai dan Candi Putri Sangkar Bulan di Kab. Pariaman, Sumatera Barat yang sampai sekarang masih belum direnovasi,” kata Kepala Bidang Muskala, Kanwil Depdikbud Sumut, Syaiful A Tanjung.

Alasannya, kata Tanjung, karena proses pemugaran Candi Bahal masih mengikutsertakan arkeolog saja, sedangkan ahli sejarah tidak. Sehingga belum bisa disimpulkan kapan waktu berdirinya. Proses pemugaran masih berlangsung sampai sekarang.

Penulis yang sempat berkunjung ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, memang melihat ada kemiripan dari segi konstruksi maupun penggunaan batu bata sebagai bahan utama bangunan. Bata juga menjadi bahan bangunan dominan 61 candi di Komplek Situs Kepurbakalaan Muarajambi di Jambi.

Sebenarnya di Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) masih berdiri satu candi bata, yakni Candi Indrapuri. Candi Hindu ini berada di Indrapuri, sekitar 25 kilometer arah timur Banda Aceh, ibukota NAD. Setelah berubah jadi Masjid Jami’ Indrapuri, terjadi beberapa perubahan bentuk.

Tembok tebal pemagar masjid merupakan bagian asli candi yang masih tersisa. Candi Indrapuri awalnya merupakan sebuah candi khusus untuk peribadatan kaum wanita. Kerajaan Lamori membangun Candi Indrapuri sekitar abad XII bersama Candi Indrapatra dan Indrapurwa. Namun dua candi terakhir sudah tidak terlihat lagi.

Relief tak Utuh

Satu hal yang agak memprihatinkan mengenai Candi Bahal I adalah pemugarannya, karena tidak begitu berhasil menunjukkan bagaimana ujud candi itu sebelumnya. Misalnya renovasi terhadap relief Yaksa dalam posisi sedang menari, di sebelah kiri pipi tangga candi. Bagian kepalanya sudah hilang.

Batu bata baru terlihat dipasang rata seperti membangun rumah! Tak ada ukiran baru mengikuti garis kepala Yaksa yang telah hilang! Untungnya 3 relief Yaksa di pipi kanan tangga masih asli. Kendati ada sedikit perbedaan pada tatahannya, namun dapatlah menjadi bahan perbandingan.

Sebenarnya relief terdapat pada setiap sisi candi. Ada enam relief singa pada dinding-dinding candi. Namun kini hanya beberapa bagian saja yang masih terlihat. Selebihnya berupa susunan batu bata baru. Ketika diresmikan Gubernur Raja Inal Siregar pada 26 Desember 1991, pemugaran itu tidak berhasil meniru aslinya.

Pemugaran terlihat lebih baik pada bagian dalam atas (atap) candi. Bentuknya lapik tiga lapis berupa susunan 21 batu bata. Berdenah bujur sangkar pada beberapa puluh centimeter pertama dan mengkerucut di bagian dalam. Sedangkan dari luar, atap berbentuk lingkaran. Renovasi keempat perwara tampak lebih baik, mungkin karena tak ada relief yang harus direkonstruksi.

http://khairulid.multiply.com/journal/item/23

Saturday, July 14, 2007

Natal Duka Buat Orang Mandailing Kristian Pakatan


Mandailing Kristian di Pakantan

Korban Gempa
Natal Dibayangi Harap-harap Cemas

Kompas Minggu, 24 Desember 2006

Natal tinggal dua hari lagi. Namun, tak ada persiapan khusus yang dilakukan umat Kristen di Pakantan, Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
"Tak ada jamuan Natal tahun ini. Masuk gereja saja kami takut keruntuhan bangunan jika gempa terjadi," kata Tiroma boru Tupang (74), warga Dusun Huta Padang, Desa Pakantan.

Bangku-bangku gereja berjajar dalam tenda terpal biru di depan Gereja Kristen Protestan Angkola, Pakantan. Sudah sepekan terakhir puluhan warga tidur dalam tenda itu.

Gempa berkekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Muara Sipongi, Mandailing Natal, Senin lalu, membuat warga trauma. Hingga kini, lebih dari 6.000 warga Muara Sipongi mengungsi. Sementara 2.000 warga lainnya menumpang di rumah sanak famili.
Pada malam hari tak terhitung warga yang tinggal di tenda-tenda. Lebih dari 700 rumah rusak dan tak layak ditempati lagi. Meskipun frekuensinya menurun, gempa susulan masih terjadi, termasuk di Pakantan.

Pakantan terletak 12 kilometer dari pusat gempa. Baru hari Kamis lalu akses masuk ke Pakantan terbuka setelah jalan terkubur longsoran tebing. Bagi masyarakat Mandailing Natal, Pakantan dikenal karena tradisi Kristen-nya yang sudah tua, sejak tahun 1834.
Hal itu bermula dari kedatangan seorang misionaris Belanda bernama Verhuven di daerah itu untuk mendirikan gereja. Verhuven datang dari Padang setelah berlangsung Perang Paderi tahun 1822.

Menurut sejarawan Mandailing, Pangaduan Lubis, misionaris Belanda itu kemudian bekerja di Angkola, daerah Padang Sidempuan, lalu ke Sipirok dan Tarutung. Di tengah masyarakat Mandailing Natal yang sebagian beragama Islam, terselip sedikit pemeluk Kristen di Pakantan. Kehidupan gereja di Pakantan berlangsung baik dengan komunitas yang mencakup 15 keluarga.

"Tahun 1940-an, jumlah jemaat mencapai 300-an orang. Tapi kini tinggal sedikit karena banyak yang pergi," kata Saut Nauli Nasution (43), warga Pakantan. Kerukunan dengan warga Muslim sangat guyub sebab mereka masih satu garis keturunan. "Kalau ada tetangga yang hajatan, semua membantu ramai-ramai," kata Saut.

Kebanyakan penduduk hidup sebagai petani. Jika mereka membutuhkan uang, barulah beras simpanan dijual. Makan bersama adalah sesuatu yang lumrah. Jika satu orang punya beras, yang lain punya lauk, mereka makan bersama-sama. Namun, Natal kali ini makan bersama belum direncanakan. Semua masih waswas adanya gempa susulan.

Meskipun rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu tak berubah saat diguncang gempa, warga masih takut masuk rumah, apalagi masuk gereja yang merupakan bangunan permanen. Kecemasan terutama menghantui para ibu dan anak- anak. Jika gempa datang saat acara kebaktian, kekhidmatan bisa buyar.

"Belum ada orang yang tengok kami," kata Tiroma. Menurut warga, baru Kepala Desa Pakantan yang memberi satu dus mi instan. Dalam sekejap, makanan itu habis meski sekitar 60 warga belum kebagian.

Tahun ini mereka merayakan Natal di bawah ancaman bahaya. (WSI/MHD)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/24/Natal/3196496.htm

Gordang Sambilan Populer Hingga Eropah dan Amerika Syarikat


Gordang Sambilan Populer
Hingga Eropa Dan AS
WASPADA Online
20 Des 06 09:43 WIB

GORDANG SAMBILAN salah satu pesona wisata di Kab. Mandailing Natal (Madina), salah satu warisan budaya bangsa Indonesia. Bahkan diakui pakar etnomusikologi sebagai satu ensambel musik teristimewa di dunia.

Sebagai alat musik adat dan sakral, Gordang Sambilan terdiri dari sembilan gendang. Ukuran besar dan panjang ke sembilan gondang itu bertingkat, mulai paling besar sampai paling kecil.

Tabung resonator Gordang Sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi, dan salah satu ujung lobangnya ditutup dengan membran terbuat dari kulit lembu dan ditegangkan dengan rotan sebagai alat pengikat.

Untuk membunyikan alat kesenian itu digunakan pemu-kul terbuat dari kayu. Masing-masing gondang mempunyai nama sendiri. dan tidak sama di semua tempat di seluruh Madina, karena masyarakat Mandailing yang hidup dengan tradisi adat punya kebebasan untuk berbeda.

Instrumen musik tradisional ini dilengkapi dua buah ogung, satu doal dan tiga salem-pong atau mong-mongan. Juga dilengkapi alat tiup terbuat dari bambu dinamakan sarune atau saleot dan sepasang simbal kecil yang dinamakan tali sasayat.

Belakangan ini, Gordang Sambilan sudah ditempatkan sebagai alat musik kesenian yang merupakan salah satu warisan budaya tradisional Mandailing, serta sudah mulai populer di Indonesia bahkan di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Karena dalam beberapa lawatan kesenian tradisional Indonesia ke sejumlah negara, diperkenalkan Gordang Sambilan. Sedangkan orang Man-dailing yang banyak bermukim di Malaysia sudah mulai pula menggunakan Gordang Sam-bilan untuk berbagai upacara.

Dengan ditempatkannya Gordang Sambilan sebagai instrumen musik kesenian tradisional Mandailing, maka alat musik ini sudah digunakan untuk berbagai keperluan di luar konteks upacara adat Mandailing. Misalnya menyambut kedatangan tamu agung, pe-rayaan nasional dan acara pem-bukaan berbagai upacara besar serta haru raya Idul Fitri.

Bagi orang Mandailing, Gordang Sambilan merupakan adat sakral, bahkan dipandang berkekuatan gaib yang dapat mendatangkan roh nenek mo-yang untuk memberi pertolo-ngan melalui medium atau se-macam shaman yang dinama-kan Sibaso

Pada zaman animisme, Gordang Sambilan digunakan untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diper-lukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan Paturuan Sibaso (memanggil roh untuk menyurupi medium Sibaso).

Tujuannya meminta perto-longan roh nenek moyang, me-ngatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat, seperti penyakit menular. Juga digunakan untuk upacara meminta hujan atau menghentikan hujan yang turun terlalu lama dan menimbulkan kerusakan.
Selain itu dipergunakan pula untuk upacara perkawinan yang dinamakan Horja Godang Markaroan Boru dan untuk upacara kematian yang di-namakan Horja Mambulungi

Penggunaan Gordang Sambilan untuk kedua upacara tersebut, karena untuk kepentingan pri-badi harus terlebih dahulu men-dapat izin dari pemimpin tradisional dinamakan Namora Natoras dan Raja sebagai kepala pemerintahan.

Oleh karena itu pada masa lalu, di setiap kerajaan di Man-dailing harus ada satu ensambel Gordang Sambilan yang ditem-patkan di Sopo Godang (balai sidang adat dan pemerintahan kerajaan), atau disatu bangunan khusus terletak di dekat Bagas Godang (istana raja).

Permohonan izin itu dilaku-kan melalaui suatu musyawarah adat yang disebut Markobar Adat yang dihadiri tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja berserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara. Selain harus mendapat izin dari Namora Natoras dan Raja, untuk penggunaan Gordang Sambilan dalam kedua upacara harus disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa.

Jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka Gordang Sambilan tidak boleh diguna-kan untuk upacara kematian (Orja Mambulungi) hanya dua buah yang terbesar dari in-strumen Gordang Sambilan yang digunakan, yang dinama-kan Jangat. Tapi dalam konteks penyelenggaraan upacara ke-matian dinamakan Bombat.

Penggunaan Gordang Sam-bilan dalam upacara adat diser-tai peragaan benda-benda ke-besaran adat, seperti bendera adat yang dinamakan tonggol, payung kebesaran dinamakan Payung Raranagan dan berbagai jenis senjata seperti pedang dan tombak yang dinamakan Podang dan Tombak Sijabut.

Gordang Sambilan juga dapat digunakan mengiringi tari yang dinamakan Sarama Penyatarama (orang yang melakukan tari sarama), kadang-kadang mengalami kesurupan pada waktu menari karena di-masuki oleh roh nenek moyang.

* Munir Lubis
http://www.waspada.co.id/cetak/index.php?article_id=81258

Semangat Mandailing Sekental Gordang Sembilan


Gordang Sambilan diperdengarkan pada sambutan perayaan Merdeka 2005

SEMANGAT MANDAILING SEKENTAL GORDANG SEMBILAN

IRAMA (Gordang Sembilan, salah sau kesenian masyarakt Mandailing dari Tapanuli Selatan, sumatera, yang memenuhi setiap ruang auditoriam Memorial Tunku Abdul Rahman Putra al-Haj, menyimpan pelbagai rahsia tersirat suku kaum ini.

Paluan sembilan gendang panjang, sebuah sesayak, gong (dua), canang (1) dan cak lempong (3) oleh guru pelatih Institut Bahasa Melayu Malaysia (IBMM) perempuan dan lelaki di bawah pemimpinan Mohd. Sharifudin Yusof, yang begitu bersemangat, seolah-olah mewakili kekentalan hubungan sesama orang Mandailing.

Tidak sia-sia, IBMM, menjadikan Gordang Sembilan sebagai salah satu program angkat-nya kerana nyata persembahan guru pelatih IBMM itu memikat tetamu.

Daya tarikan tersendiri, Godang Sembilan ini sehingga berjaya memikat seorng kanak-kanak berusia sekitar dua tahun untuk sama tenggelam dalam irama yang penuh bertenaga manakala khalayak dewasa pula tidak kedekut dengan tepukan.

Persembahan pembuka majlis Pengkisahan Sejarah Masyarakat Mandailing di Malaysia, Sabtu lalu, membuka peluang kepada kalangan generasi muda suku kaum berkenaan untuk mengenali khazanah warisan budaya mereka.

Lalu tidak pelik apabila Kerajaan negeri Selangor Darul ehsan memilih Gordang Sembilan sebagai sebahagian daripada kesenian rasminya kerana ia turut membawa lambang perpaduan yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Mandailing. Salah seorang ahli panel majlis Pengkisahan sejarah Masyarakat Mandailing di Malaysia, Ashari Mohd Yakub, berkata hubungan sesama orang Mandailing begitu rapat biar di mana mereka berada.

"Orang Mandailing amat mementingkan hubungan sesama mereka dan tidak seperti orang Melayu yang akan bersifat seperti enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing," katanya.

Masyarakat Mandailing dikatan bertumpu ke Tanah Melayu kerana mereka adalah suku kaum yang suka merantau sama ada untuk mencari ilmu atau rezeki dan lazimnya mereka berpindah secara berkelompok berserta dengan pemimpinnya sekali.

Ramai juga orang Mandailing yang berpindah ke Tanah Melayu selepas tamat Perang Paderi (1816-1833M) kerana enggan berada di bawah telunjuk Belanda yang mahukan mereka mengusahakan ladang kopi.

"Mereka enggan menjual hasil tuaian kopi pada harga yang ditetapkan Belanda kerana dianggap merugikan dan kemelut itu memaksa sebahagian daripada masyarakat mandailing berpindah ke Klang," katanya.

Masyarakat Mandailing meskipun berasal daripada keluarga tani tetapi apabila berpindah ke Tanah Melayu turut muncul sebagai peniaga berjaya selain meneroka perlombongan bijih dan emas.

Ashari berkata, maklumat lisan yang beliau perolehi turut menunjukkan bahawa orang mandailing lebih dahulu menguasai bidang perlombongan bijih dan emas dan bukannya Yap Ah Loy.

"Yap ah Loy dikatakan merompak bijih milik orang Mandailing yang menjalankan kegiatan perlombongan di Perak ketika mereka membawa turun hasil dagangan ke Kuala Lumpur untuk dijual," katanya.

Seorang lagi ahli panel, Ahmad Mahidin Ulong Shaban, berkata Raja Alang dan Raja Asal adalah di antara pemimpin masyarakat Mandailing yang menguasai perlombongan bijih dan emas.

Taukeh bijih dan emas itu dikatakan mengambil Yap ah Loy bekerja dengan mereka bai memudahkan bekalan buruh pada harga yang murah diperolehi dari Tiongkok.

Ahmad Mahidin juga mendakwa masyarakat mandailing di awal perpindahan mereka di Tanah melayu, tidak berani mendedahkan jati diri suku kaumnya bagi menjamin peluang pendidikan di sekolah yang sama rata kepada anak masing-masing.

"Jika kami mengaku sebagai marga Mandailing, kami akan dilayan sebagai warga kelas kedua oleh penduduk tempatan dan tidak berpeluang untuk menghantar ana ke sekolah," ujarnya.

Seorang lagi ahli panel, Tengku salaturrahim Tengku alias dari Kampung kerangai, negeri Sembilan, pula berkata hubungan suku kaum mandailing yang begitu erat menyebabkan 'orang luar' tidak berani meminang anak-anak mereka.

Keadaan itu dikatakan berlaku diperingkat awal masyarakat mandailing bermukim di kampung terbabit dan mereka sendiri pula tidak akan meminang orng luar untu diterima sebagai ahli keluarga mereka.

"Bagaimanapun fenomena itu sudah berubah sekaran dan penduduk mandailing di Kampung Kerangai lebih kerap menerima menantu dari kalangan orang luar dan juga sebaliknya." Ujarnya.

Sungguhpun demikian, masyarakat Mandailing di kampung Kerangai sehingga hari ini masih mempertahan bahawa suku-kaum mereka dan menerima pendedahan bahasanya sejak dri tangisan pertma lagi.

Kanak-kanak mandailing di kampung terbabit hanya mula berkomunikasi secara meluas dalam bahasa melayu baku apabila mereka memulakan alam persekolahan dan peringkat awal akan dibantu oleh adik-beradik yang lebih dewasa.

Sementara itu, Ketua Pengarah Arkib negara, Datuk Habibah Zon, yang juba berasal dari marga Mandailing berkata sejarah suku kaum penting sebagai sumber pengetahuan, kefahaman dan mengingatkan asal usul sesuatu marga itu.

"Arkib Negara bersedia menerima mana-mana persatuan yang mahu menyumbang rekod mempunyai nilai sejarah tanpa mengira mereka dari suku kaum mana sekalipun," katanya ketika merasmikan pengkisahan berkenaan.

Majlis Pengkisahan Sejarah Masyarakat Mandailing di Malaysia anjuran arkib Negara dengan kerjasama Ikatan kebajikan Mandailing Malaysia (Iman Malaysia) itu bertujuan merekodkan maklumat tidak bertulis mengenai marga berkenaan.

Habibah yakin bahawa sejarah suku kaum boleh membantu sesuatu marga itu untuk membina kekuatan diri dan rasa bangga kepada apa yang mereka warisi sekalipun ketika berada dalam era siber.

"Rekod ini membolehkan berlangsungnya kesinambungan budaya dan bersifat kekal selain dapat membantu orang Melayu membina kekuatan jati diri sebagaimana yang dimanfaatkan bangsa lain.

Usaha memelihara warisan budaya bangsa perlu diperhebat memandangkan semakin ramai generasi muda yang tidak lagi mengenalinya, apalagi ketika budaya dari Barat begitu hebat melanda.

"Arkib negara kini sudah mempunyak koleksi Raja Bilah, salah seorang pemimpin masyarakat Mandailing yang berhijrah ke Tanah Melayu dan ia dipamerkan di pejabat kami, cawangan Papan," katanya.

Berita Harian 23 Mei, 2000

Kopi Mandheling


Mandheling

1945. Sebagai acara perpisahan, beberapa Tentara Jepang (TJ) mampir di kedai kopi pak Regar (PR).
TJ: Umai! (Enak) Kore doko kara? Dari, mana?
PR: (menyangka pak tentara menyebut Omae = kamu)
PR: Sahaja? Dari Mandailing, Tuan...
TJ: E? Nani? Mandeeringgu?
PR: Ya tuan. Mandailing tuan.
TJ: Ah, sou... (sambil manggut-manggut).

Sepuluh tahun kemudian, telepon luar negeri untuk Pwani, seorang makelar beken di tanah Sumatra, berdering di meja operator. Terjadilah transaksi mengapalkan 15 ton Kopi Arabika bermutu tinggi dari Sumatra ke Jepang, sebagai tonggak keberhasilan ekspor besar-besaran pertama, dengan label yang menginternasional sejak saat itu: Mandheling (yang sebenarnya bukan nama tempat, melainkan semata-mata plesetan nama kelompok etnik yang kebetulan paling terlibat dalam produksi kopi, Mandailing, yang saya masih penasaran apa hubungannya dengan Mandarin dan alat musik Mandolin).

Di Indonesia malah paling juga tahunya kopi Medan...
BTW: Ini hanya gosip dari Sumatra. Pada kenyataannya, jauh sebelum perang dunia II, dalam katalog grosir kodian Sears tahun 1903 tercatat "Java Mandailing" for sale. Saat itu, sudah umum untuk memanggil semua kopi Indonesia dengan Java-ini dan-anu (bukan berarti berasal dari Jawa).

... Terkenang sekaleng Mandheling,
mendukungku bergadang di lab saat-saat genting...
Sebagai makhluk yang
tak mampu membedakan Nescafe dengan Kapal Api,
ibarat menghadiahi mutiara kepada seekor sapi
(^-^; Belum paham apa enaknya...
Pahit gila! Tapi manjur lah...

There is a story, it might be myth or it might be true, about the origin of Mandheling coffee. It explains why if you are ever in Sumatra looking for these coffee fields on a map, you may never find them, because Mandheling is an ethnic group, not a town.

The story goes that during the Japanese occupation a soldier asked a shop owner what the excellent coffee was that he was being served. Misunderstanding the question and thinking he was being asked what HE was, the owner's reply was "Mandheling". After the war the soldier contacted a broker in Sumatra asking if the excellent coffee "Mandheling" was commercially available, and they shipped 15 tons of coffee to Japan that year. The rest, as they say, is history.

Of course Sumatra did not start producing coffee just because of this encounter. Coffee production began there in the 18th century under colonial domination in the northern region of Aceh before spreading to Lake Toba, Lintong, Nihuta, Sumbul and Takengon. The Mandheling are the Indonesian ethic group that is most involved in coffee production.

Over time Mandheling has gained a reputation for its consistent quality and its very specific cup qualities which include a desirable deep husky flavour.

Friday, July 13, 2007

Mandailing Natal Nikmati Sejuknya Atap Ijuk


Rumah Atap Ijok di Tamiang, Mandailing Julu

9 Juli 2007 Mandailing Natal, Sumut; Nikmati Sejuknya Atap Ijuk

Usia Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara memang baru seumur jagung. Namun sang ”bayi” punya cita-cita besar: menggali potensi ekowisata dari daerah seluas 662.070 hektare dan berpenduduk sekitar 370.000 jiwa ini. Ini sengaja dipilih karena pemkab Madina tak ingin memakai konsep pariwisata massal untuk mengelola obyek wisata daerah ini.

Bila kita melihat statistik mengenai lahan di wilayah Kabupaten Madina, sebagian besar memang masih berupa hutan. Rinciannya, hutan negara seluas 317.825 hektare (48 persen) yang hingga kini masih merupakan bagian terluas dari total lahan di daerah itu. Sisanya, yakni berupa hutan rakyat seluas 42.176 hektare atau hanya sekitar enam persen dari luas seluruh lahan, perkebunan sekitar 67.707 hektare, rawa-rawa 59.976 hektare, dan selebihnya merupakan areal persawahan, perladangan, tambak, permukiman, dan lain-lain.

Pengembangan ekowisata di daerah ini akan memanfaatkan zona penyangga dari Taman Nasional Batanggadis. Upaya ini diharapkan akan membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal/sekitar kawasan. Namun, proses paling penting adalah menghargai usaha mereka mempertahankan kearifan lokal.

Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung beratapkan ijuk.

Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak Gunung Sorik Marapi (2.142 mdpl).

Dengan ijuk semuanya akan terlihat alami dan sekaligus mendukung cita-cita ekowisata. Untuk itu, pemkab Madina juga akan mengembangkan penanaman pohon enau. Tentu saja akibat dikeluarkan aturan itu harga ijuk akan melonjak. Hunian ijuk nan sejuk itu dapat dikembangkan sebagai pendukung cita-cita ekowisata Madina. Pemandangan deretan rumah penduduk amat sedap dipandang dari puncak bukit. Ini akan memancing minat para wisatawan.

Bila pengelola daerah jeli, masyarakat dapat membuka homestay di rumah-rumah mereka. Tak perlu dilengkapi fasilitas mewah yang bergaya metropolis, macam pendingin ruangan, lemari es atau lainnya. Namun, kunci utama homestay ini justru pada prinsip sanitasi dan keasrian yang dijunjung tinggi.

Bila sanitasi dan keasrian sudah dikantungi, jangan lupakan pula persoalan tarif. Sebagai promosi, hitung-hitungan hunian jangan terburu-buru untuk mematok harga tinggi. Itu sebabnya riset ekonomi wajib dilakukan pihak pemerintah kabupaten. Langkah berikut, tinggal membina masyarakat agar terbiasa menerima kunjungan turis – terutama, turis berselera ekowisata.

Di wilayah Sibanggor, kita dapat menemukan sumber-sumber air panas alami. Air panas yang kaya dengan kandungan belerang itu sangat bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Penyakit kulit macam panu, kadas dan kurap kabarnya bisa diobati di sini.

Saat ini, tempat yang paling nyaman untuk menikmati air panas alami itu terletak di daerah Sibanggor Julu. Lokasinya ada di pinggir jalan. Di belakang sumber air panas menghampar pemandangan ”karpet hijau”. Dari sawah sampai rimba dan puncak Gunung Sorik Marapi. Bila cuaca mendukung, kita dapat memuaskan diri untuk memainkan kamera atau alat perekam gambar.

Di sini sudah terbangun beberapa fasilitas, seperti kolam pemandian, sarana mandi uap, WC umum, dan tempat ibadah. Sayang bangunan-bangunan ini tak mendapat perawatan khusus hingga kondisinya amat memprihatinkan, kecuali untuk tempat ibadah.
Saat ini kamar mandi uap dikelola oleh masyarakat sekitar. Tak ada retribusi khusus, tetapi cukup bayar sukarela kepada warga yang bertugas menjaga fasilitas ini.

Menurut Ilham Tanjung (43), fasilitas yang ada di tempat ini dibangun atas swadaya masyarakat dengan bantuan pemkab. Karena banyak yang berkunjung, masyarakat kedodoran untuk memelihara fasilitas yang ada.

Masalah sampah juga menjadi perhatian khusus. Di sekitar tempat berpotensi wisata ini tak tersedia tempat sampah. Jadi jangan kaget bila sisa buangan kegiatan manusia ini berceceran di tiap sudut. Paling kentara, ceceran plastik. Memang, sampah jenis ini butuh waktu yang lama untuk hancur. Mau tak mau supaya cita-cita ekowisata dapat terwujud, semua pihak harus turun tangan menangani masalah ini. Ekowisata boleh jadi cita-cita. Untuk mewujudkannya pekerjaan rumah telah menanti untuk diberesi. Bila serius cita-cita pun bisa tergapai dan paling penting punya nilai keberlanjutan tinggi. Selamat bekerja Madina. (rn)

http://www.perempuan.com/?ar_id=9078

Jelajahi Rimba Batang Gadis


Jelajahi Rimba Batanggadis
SH/bayu dwi mardana
Penentuan titik menarik di rimba Batanggadis.

BATANGGADIS – Rimba alami Batanggadis selalu menarik gairah petualangan siapa saja. Dengan bentang alam cukup lengkap—hutan hujan dataran rendah perbukitan, hutan pegunungan rendah dan hutan pegunungan tinggi—Batanggadis menyimpan keanekaragaman hayati cukup tinggi. Jadi penjelajahan pun dimulai dari sini.

”Stop! Stop, Bang!” seru Diah Rahayuningsih (26) memecah keheningan. Lengkingan suaranya jelas mengejutkan seisi mobil. Edi, supir perjalanan kami, segera memarkir mobil di tepi jalan. Seperti tak mau kehilangan waktu, Diah segera menyeruak keluar.
”Pelan-pelan, ya…. Coba itu lihat di pucuk dahan pohon buah,” bisik dara yang akrab disapa Sulis itu. Di sebelahnya, Ahmad Zulkani segera membidikkan kamera digital. Sedikit disimak lewat layar LCD, wartawan Kompas itu pun segera mengabadikan gambar. Tak lama ia tersenyum puas.

Ahmad pantas berbangga sebab posisi sepasang Rangkong di pucuk dahan tergolong langka. Apalagi sepasang burung rangkong (hornbill) yang sedang bercumbu itu cuma bertengger beberapa menit saja. Agaknya kedatangan membuat mereka merasa ”risih”. Maklum, karena jarang melihat kejadian ini kami sedikit ribut saat keluar dari dalam mobil.

”Di kawasan ini tercatat sembilan dari sepuluh jenis burung rangkong yang ada di Sumatera,” sebut Erwin Parbatakusuma dari Conservation International (CI) Indonesia yang ikut menemani penjelajahan ini. Ia cuma senyum-senyum saja melihat tingkah kami tadi. Rangkong memang menarik sebab ia punya paruh besar yang mirip tanduk. Di hutan alami kawasan Sumatera, burung-burung ini relatif mudah dijumpai – termasuk di kawasan Batanggadis.

Bakal Taman Nasional
Batanggadis adalah kawasan rimba alami yang berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Kabupaten ini berpusat pemerintahan di kota Panyabungan.
Rencananya, awal tahun ini Batanggadis ditunjuk sebagai taman nasional. ”Targetnya, Februari. Kami cukup optimis kok,” tegas Ismayadi Samsoedin, Northern Sumatra Corridor Project Manager CI Indonesia sebelum kami memulai penjelajahan.

Perjalanan menuju rimba Batanggadis amat mengasyikkan. Perbedaan kontur ketinggian dengan jalan aspal berliku mengingatkan kita pada kawasan wisata Puncak, Cianjur, Jawa Barat. Hanya saja bedanya, perjalanan ke Batanggadis terasa kental dengan nuansa petualangan. Apalagi bila menembusnya dengan kendaraan gardan ganda, macam Land Rover. Wuih, gairahnya terasa sampai ubun-ubun.

Betapa tidak, di kiri-kanan jalan masih dominasi tutupan vegetasi hijau. Walau ada yang terlihat bolong-bolong oleh konversi lahan dan illegal logging, rimba Batanggadis termasuk kawasan alami yang masih tetap terjaga.

Saat menjelajahi rimba Batanggadis, Sulis bercerita soal kepedulian masyarakat untuk memproteksi kawasan yang masih tersisa itu. Jadi tak perlu heran bila usulan kawasan Batanggadis sebagai taman nasional justru datang dari masyarakat. Menariknya, pemerintah kabupaten merespons dengan bagus.

”Itu cerita yang bagus sebetulnya. Di Indonesia, usulan sebuah kawasan sebagai taman nasional kebanyakan datang dari (pemerintah) pusat. Jadi nggak usah heran kalau sering terjadi konflik dengan masyarakat sekitar kawasan,” papar Sulis yang bekerja sebagai Communication Specialist CI Indonesia.

Sorik Marapi
Petualangan lainnya adalah mendaki gunung Sorik Marapi (2.145 mdpl). Gunung ini masih termasuk rangkaian Bukit Barisan. Menurut catatan, gunung ini terakhir meletus pada 1982. Dalam perjalanan ke Batanggadis, kami sempat singgah ke kawasan Sorik Marapi.

Kalau ingin melakukan pendakian, disarankan melapor pada petugas Badan Meteorologi dan Geofisika yang berkantor di Sibanggor Tonga. Selain untuk keamanan kita, para petugas akan memberikan petunjuk jalur dan lainnya. Jalur paling enak lewat Sibanggor Julu. Kawah akan tergapai dalam tempo tiga jam perjalanan.

Walau tak begitu tinggi, pendakian ke puncak Sorik Marapi akan memberikan pengalaman menarik bagi wisatawan. Terlebih pemandangan hutan di kaki gunung masih terpelihara dengan baik dan kaya dengan beragam jenis satwa liar.

Kekayaan satwa liar rimba Sorik Marapi pernah didata oleh Mistar (Fakultas Biologi Universitas Medan Area) dan Sri Eva Meyli (Yayasan Kanopi, Medan) pada awal 2003. Lewat sebuah survei di desa Sibanggor Julu, Kecamatan, Aek Nopan – terletak pada 0o42’ 29. LU, 99o 34’ 03. BT dan tinggi 920-1500 mdpl – mereka menemukan sejumlah reptilia dan amfibi. Jumlahnya ada 8 famili, 13 marga, 15 spesies, dari dua bangsa (ordo) yaitu amfibia dan reptilia.

Pada bangsa amfibi diperoleh lima jenis dari tiga famili: Bufonidae (Bufo asper, Pelophryne sp.), Ranidae; (Fejervaria limnocharis, Rana erythraea, Rana nicobariensis), Rhacophoridae (Polypedates leucomystax). Sedang reptilia lima famili: Agamidae (Bronchocella chrystatella, Aphaniotis fusca), Gekkonidae (Cyrtodactylus lateralis), kadal Scincidae (Mabuya multifasciata), Ular Colubridae (Ahaetulla prasina, Pareas laevis, Ular sp1), Elapidae (Maticora bivirgata), Viperidae (Trimeresurus popeorum).

Survei itu juga menemukan satwa liar lain, seperti simpai (Presbytis melalophos), ungko (Hylobates agilis), siamang (Hylobates syndactylus), bajing kebun (Callosciurus notatus), Babi alang-alang (Sus scrofa) dan kijang (Muntiacus muntjac).

Kabarnya, penduduk masih menjumpai harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan orangutan (Pongo abelii). Yang terakhir ini konon sudah 30 tahun tak pernah dijumpai lagi. Survei terakhir (Wich, Utami & Singleton, 2000) tak menjumpai tanda-tanda kehadiran orangutan di sekitar Sungai Batanggadis.
Djojoasmoro (2003) melaporkan bahwa orangutan masih dijumpai di Cagar Alam Dolok Sibualbuali dalam kondisi yang kritis karena mengalami tekanan habitat dari penebangan dan perburuan liar.

Burung-burung juga banyak dijumpai di antaranya beberapa jenis elang melintas terutama di sekitar puncak belerang (Ictinaetus malayensis, Spizaetus kienerii), satu jenis rangkong juga sering terlihat melintas. (Lihat Boks: Burung-burung di Gunung Sorik Marapi)

Kini, kawasan gunung Sorik Marapi sebelah timur bagian utara atau sebelah barat desa Sibanggor Julu mengalami tekanan untuk penanaman jeruk. Di daerah tersebut telah dibuka lebih dari 25 hektar. Ini dilakukan atas inisiatif dan kesepakatan antarpemuka adat desa. Pasalnya, kebun jeruk di sekitar permukiman desa Sibanggor Julu telah rusak dan lahan telah mencapai kritis hara.

Menurut Nasution, warga Sibanggor Julu, jeruk memang tak lagi jadi primadona. Beberapa tahun belakang, kualitas hasil panen dirasakan terus menurun. Ia sendiri mengaku menelantarkan kebun jeruk di bekalang rumahnya. ”Ya, saya hidup dari uang pensiun saja,” tukas veteran perang kemerdekaan RI ini, tersenyum.
(SH/bayu dwi mardana/ darma lubis)

http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0107/hob1.html

Sunday, July 8, 2007

Asal Usul Nagari Cubadak

ASAL USUL NAGARI CUBADAK
Oleh : Welina
Selasa, 13 Februari 07 - oleh : admin | x dibaca

NAGARI Cubadak Kecamatan Duo Koto adalah satu dari 32 Nagari di Kabupaten Pasaman. Nagari ini mempunyai luas wilayah 23.207 KM yang berbatasan dengan Nagari Simpang Tonang sebelah Utara, sebelah Selatan dengan Kecamatan Talamau Kab. Pasaman Barat, sebelah Timur dengan Kecamatan Panti dan Kecamatan Lubuk Sikaping, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Tuleh.

Nagari ini memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak dimiliki oleh nagari lain. Penduduknya mayoritas Mandahiling. Bahasa yang digunakan Bahasa Mandahiling pula dengan logat terkenalnya kanen. Sementara dalam adatnya mereka memakai adat Minang Kabau. Dalam sistem perkawinan memakai adat sumando.

Hal ini sejarahnya diawali dari Pemerintahan pertama Raja Sontang beserta kaumnya di koto tinggi terletak 1,5 Km dari Ulu Sontang sekarang.

Raja pertama bernama Raja Gunung Maleha di Koto Tinggi selanjutnya Raja Sipahutar, kemudian Raja Labiah dan barulah sejak itu bernama Raja Sontang.

Raja-raja ini beserta kaumnya berbahasa Mandahiling dan adat istiadatnya Manjujur yaitu mengambil garis keturunan dari Bapak. Kata Sontang berasal dari kata Ontang yang berarti yang dibawa bersama-sama dan kemudian berubah menjadi kata Sontang dan rajanya pada waktu itu disebut Raja Sontang atau Raja yang disamakan.

Raja Sontang disamakan dgn Raja Lelo di Sikaduduk dan berubah adat istiadat menjadi adat istiadat Minang yang disaksikan oleh utusan khusus Raja Pagaruyung yang sengaja diutus kedaerah itu. Dan merubah adat istiadat dari Manjujur keadat istiadat Minang yaitu Sumando sementara bahasanya tetap bahasa mandahiling dengan logat yang khas.

Perpindahan Raja Sontang ke Cubadak dimulai setelah mendapatkan daerah temuan baru oleh pegawai raja yang bernama Sigadumbang. Bukit Sontang yang kemudian bernama Cubadak seterusnya Simpang Tonang, Silalang, Lanai Sinuangon dan lainnya. Karena wilayah baru lebih luas dari wilayah Sontang maka Tengku Raja Sontang pindah ke Cubadak. Maka jadilan Cubadak sebagai perkampungan besar, saat ini dengan jumlah penduduk 14.357 jiwa. Namun demikian Raja Sontang tetap datang ke Sontang. Saat ini yang menjabat Raja Sontang bertempat tinggal di Pasar Cubadak.

Karena Cubadak merupakan daerah temuan, maka Sontang adalah daerah “Natoras” dalam bahasa Indonesia artinya yang tua.

Nagari Cubadak secara topografi merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 600 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 25 s/d 270c.

Dari 14.357 jiwa penduduk terdiri dari 6.756 jiwa laki-laki, dan 7.601 jiwa perempuan dengan jumlah Kepala keluarga 3.361 KK, umumnya bekerja sebagai petani sawah, ladang dan dagang.

Dari Lubuk Sikaping Ibu Kota Kabupaten Pasaman menuju daerah ini sepanjang 56 Km dapat dilalui dengan jalan darat, waktu tempuh + 1 jam dengan kendaran roda empat dan roda dua.

Kesejukan udara di nagari ini seakan membuat masyarakatnya hidup tenang berkorong berkampung. Nagari ini terkenal dengan keramah tamahan penduduknya, suka bergotong royong dan kekerabatan antara satu dengan yang lain selalu terjalin dengan baik.
Adat istiadat yang diwariskan para pendahulu nagari ini masih terus terlestarikan. Sebut saja bahasa, tetap menggunakan bahasa Mandailing dan adat perkawinan sistem Sumando.

Sementara jika dilihat dari kesenian masyarakat setempat yang cukup terkenal Ronggeng, Dikia Rapano dan Silat, masih ditampilkan dan terlestarikan. Kesenian Ronggeng, Silat selalu tampil setiap ada penutupan lebaran hari raya idul fitri.

Kesenian tradisional yang selalu terlestarikan juga berimbas pada tetap terpertahankannya generasi muda setempat akan bahaya narkoba dan jenis penyakit masyarakat lainnya. Sehingga kehidupan sosial, ekonomi masyarakat di Nagari Cubadak yang dipadukan adat Mandahiling dan Minang masih berjalan dengan baik.

(***)
http://www.pasaman.go.id/?pilih=lihat&id=215

Sejarah

Nama Kabupaten Pasaman diambil dari nama sebuah gunung yang terdapat di daerah ini, yaitu gunung Pasaman. Selain itu juga terdapat sebuah sungai yang diberi nama Batang Pasaman. Kata Pasaman sendiri berasal dari kata PASAMOAN yang berarti kesepakatan dan atau kesamaan pendapat antar golongan etnis penduduk yang mendiami wilayah Pasaman yaitu Minangkabau, Mandahiling dan Jawa (Merah Putih di persada Pasaman, Pemda Pasaman, Agustus 1955)

Sebenarnya secara kultural cukup banyak perbedaan antar suku Minangkabau dan suku Mandahiling yang mendiamai daerah Pasaman. Perbedaan ini dibidang adat istiadat, bahasa, sikap dan perilaku hidup. Namun dibalik perbedaan itu terdapat pula banyak kesamaan dalam visi dan persepsi sehingga mereka dapat hidup berdampingan dalam kerukunan dan kedamaian.

Pasaman dalam usia lebih setengah abad telah dimekarkan menjadi 2 Kabupaten yakni Kabupaten Pasaman (Kabupaten Induk) dan Kabupaten Pasaman Barat (Kabupaten Pemekaran) berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2003. Sebelum pemekaran 3 kabupaten dalam Propinsi Sumatera Barat, Pasaman merupakan Kabupaten terluas dari 16 Daerah Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Barat yakni dengan luas 7.835,4 Km2 atau sekitar 18,55 % dari luas Propinsi Sumatera Barat yang luasnya 42.229,64 Km2. Setelah pemekaran luas Kabupaten Pasaman menjadi 3.947,63 Km2 yang terdiri dari 12 Kecamatan, 32 Nagari dengan jumlah penduduk tahun 2004 sebanyak 243.451 jiwa (Pasaman Dalam AngkaTahun 2004).

http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_kabupaten&id=72&dt=sejarah&nama_kab=Kab.Pasaman