Monday, June 25, 2007

Sejarah Kota Natal

Hampir Tamat, Sejarah Perjalanan Kota Natal
AHMAD ARIF


NATAL, nama kota kecil daerah terpencil di pesisir pantai barat Sumatera Utara dengan sejarah besar. Dari sinilah agama Islam menyebar ke tanah Mandailing. Sejarah daerah ini cukup panjang, mulai berabad lalu ketika kapal-kapal asing berlabuh di sana mencari hasil bumi.

Daerah kecil ini juga menjadi salah satu inspirasi bagi Dowes Dekker untuk menulis sebuah buku berjudul Max Havelaar yang mengguncangkan pemerintah Hindia Belanda kala itu. Buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1860 itu berkisah tentang penderitaan masyarakat pribumi akibat ketidakadilan sistem perdagangan Belanda.

Dowes Dekker yang menggunakan tokoh alias Multatuli dalam romannya itu, pernah menghabiskan waktunya di daerah Natal saat menjadi kontelir Belanda pada tahun 1842 hingga 1843.

Di Natal pulalah, Dekker untuk pertama kalinya berhadap-hadapan langsung dengan penderitaan penduduk pribumi. Bagi Dekker, Natal menjadi pembuka cakrawala dan simpatinya terhadap kaum pribumi dalam perjalanan kariernya sebagai amtenar Belanda.

Pengalaman di Natal, juga menjadi bekalnya saat dia berperkara dengan Bupati Lebak, Banten, yang dinilai menindas kaum pribumi walaupun dalam versi sejumlah peneliti seperti Sartono Kartodirdjo dan Rob Nieuwenhuys, niat Multatuli untuk membela pribumi dalam kasus Lebak diragukan tetapi mereka menilai hal itu adalah persaingan pribadi antara Dekker dan Bupati Lebak untuk mengeksploitasi pribumi.

Dekker akhirnya dipecat sebagai kontelir Belanda di Natal pada bulan Juli 1843 karena tuduhan atas kesembronoannya dalam hal administrasi keuangan. Sebagian kalangan menilai, pemecatan itu terkait dengan surat-suratnya yang tajam kepada atasannya.

Walaupun keberadaan Dekker di Natal tak lama, warga setempat mengingatnya sebagai salah satu pahlawan meski mereka rata-rata tak tahu persis tentang sejarah Dekker ini. Hingga kini, rumah Dowes Dekker di Natal masih berdiri.

Namun, rumah itu sekarang lebih menyerupai kandang ayam. Bangunan itu telah porak-poranda, di dalamnya berisi sampah dan pakaian milik warga sekitar yang dijemur. Lantainya sudah lapuk, dinding dan atapnya sebagian koyak. Dan daun pintunya, entah ke mana. Rumah kayu itu, menunggu waktu rubuh!

Di belakang rumah kayu itu, sebuah sumur tua yang konon pernah dipakai Dekker direnovasi pemerintah setempat. Sebuah pompa menyedot air dalam sumur dan menyimpannya di tandon, persis di atas bibir sumur, sehingga sumber air itu tetap fungsional hingga kini. Entah mengapa, yang diperbaiki pemerintah justru hanya sumur. Sedangkan rumah kayu yang juga bernilai sejarah dibiarkan hancur, kata Maharuddin (38), Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Natal, yang gedung sekolahnya bersebelahan dengan rumah Multatuli. SDN 1 Natal sendiri adalah bangunan tua yang dibangun Belanda tahun 1911.

Minimnya perhatian terhadap kekayaan situs sejarah di Natal memang sangat terasa. Di Natal kini hanya ada sejumlah bangunan tua sisa kolonialisasi Belanda, seperti bekas-bekas benteng Belanda, bekas Kantor Tata Praja Belanda, dan bekas Kantor Residen Belanda.

Sisa peninggalan yang lebih tua dan jejak-jejak petualang besar dunia yang dikabarkan pernah singgah di Natal, semisal Marcopolo dan Eugene Dubois, tak bisa ditemui lagi.
Kota penting tiga abad silam

Dahulu, Natal adalah kota pelabuhan penting di muara Batang (Sungai) Natal, tempat berlabuh kapal-kapal besar. Gambaran itu dikisahkan William Marsden yang pernah tinggal di sana beberapa tahun, dalam bukunya The History of Sumatera yang terbit di London tahun 1788.

Marsden bertutur, Natal adalah basis yang nyaman untuk berdagang dengan Aceh, Riau, dan Minangkabau. Semua itu membuat Natal jadi kota yang padat dan makmur. Daerah ini juga memiliki emas yang sangat baik-hingga kini, sejumlah penambang emas tradisional masih bisa ditemui di Batang (Sungai) Natal maupun di kawasan hutan sekitar Natal.

Kini Natal hanya dilabuhi perahu-perahu tradisional kecil. Kota itu lebih mirip desa kecil yang sunyi. Kompas yang baru pertama kali ke Natal, 18 November malam, tak mengira daerah sunyi adalah kota bersejarah tersebut.

Hampir 10 kilometer Kompas melewati Natal tanpa menyadarinya dan baru paham setelah di sebuah desa kecil seorang warga menjelaskan, Kota Natal telah kami lewati. Di sepanjang perjalanan, kembali rasa penasaran tak pernah hilang, bukankah sedari tadi tak melewati keramaian?

Setiba di kota tujuan setelah bertanya sekali lagi pada warga untuk meyakinkan tujuan telah dicapai Kompas betul-betul ada di tempat yang sunyi.

Masih pukul 21.00, tetapi kota itu mirip kota mati. Tak ada kendaraan lalu lalang di jalan. Rumah-rumah warga gelap dan terkunci rapat. Hanya beberapa kios yang buka di dekat pasar. Satu-satunya warung makan yang buka hanya menawarkan nasi goreng dan mi Aceh.

Penginapan hanya dua, yaitu mes pemerintah provinsi dan kabupaten. Listrik juga acapkali padam di Natal. Bahkan, hampir tiap malam. Seperti malam itu, kami menginap di Natal dalam kondisi gelap gulita karena listrik padam. Hingga pagi harinya, ketika kami meninggalkan Natal, listrik masih padam. Menurut seorang petugas mes provinsi, jaringan kabel telepon pun belum menyentuh kota itu.]

Ditemukan saat Natal

Bagi warga Natal, sejarah kampung mereka sendiri sangatlah kabur. Sekelompok warga yang kami temui di kedai kopi di samping lapangan di pusat kota hanya bisa menunjukkan sejumlah bangunan tua sebagai bukti sejarah daerah mereka. Namun, tak satu pun yang bisa menerangkan dengan gamblang mengenai sejarah daerah mereka sendiri.

Sebagian menunjuk rumah Dowes Dekker sebagai bukti sejarah. Namun, warga tak tahu, siapa sesungguhnya Dekker. Mereka hanya tahu, Dekker adalah orang Belanda yang membela pribumi. Peninggalan lain dari masa yang lebih tua, bahkan tak mereka mengerti lagi.

Sejarah nama Natal, juga sangat kabur bagi warganya sendiri, yang mayoritas beragama Islam. Sebagian berpendapat, nama Natal diambil karena kedatangan tentara Portugis ke daerah itu untuk pertama kalinya berbarengan dengan jatuhnya hari raya Natal. Sebagian berpendapat, Natal berasal dari kata Natar, yang berarti tanah atau fondasi.

Sebagian warga kemudian menunjuk Paimudin atau Pak Hitam, warga desa yang bisa menerangkan sejarah Natal. Namun, saat kami ke rumahnya yang berada di tepi pantai, Pak Hitam yang usianya 80-an tahun itu tergeletak lemah dan tak bisa berkomunikasi lagi karena didera berbagai penyakit.

Sejarah nama Natal memang kontroversial sejak lama. Inggris mengklaim menemukan Natal pada tahun 1762. Sedangkan Potugis mengklaim bahwa merekalah yang memberikan nama pada daerah itu, ketika kedatangan mereka di sana untuk pertama kalinya, sekitar tahun 1492-1498 bersamaan dengan hari raya Natal.

Yang jelas, pada abad ke-8 di daerah sekitar Natal telah berdiri Kerajaan Rana Nata dengan salah satu rajanya bernama Rajo Putieh atau biasa dipanggil Ranah Nata. Disebut-sebut, dia adalah orang Persia yang menyebarkan agama Islam di sana.

Kini, Natal tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran Indonesia yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.

Dan yang tersisa di Natal hanyalah, warga sisa. Yang sukses atau yang berpendidikan enggan menetap di sana. Natal telah berhenti, tak ada dinamika, yang jika terus dibiarkan, pastilah menunggu waktu untuk hilang dari peredaran sejarah. (NAL/YNS)

http://kompas.com/kompas-cetak/0512/16/Lintimbar/2290348.htm

13 comments:

Nurul Nana said...

salam sejahtera pada penulis,

saya nana, amat berminat dgn penulisan encik mengenai asal usul Nata. Ibu saya pernah memberitahu bahawa saya merupakan keturunan kaum Nata dari Sumatera, Indonesia. Saya mmg tertarik utk mengetahui mengenai asal usul keturunan saya ini.
Namun begitu agak susah untuk saya mengenal pasti keturunan saya kerana tidak byk penulisan yang jelas mengenai asal usul kaum ini.
harap dapat berdiskusi dgn encik dengan lebih lanjut mengenainya. terima kasih.

romi citra asmara said...

sya tertarik pada

romi citra asmara said...

sya tertarik tentang sejarah natal karena ayah sy berasal dari natal hanya ayah meninggal waktu sy SD Kls I dan kami pindah ke Bandung suy ingin lebih banyak tau tentang sejarah natal yang diketahui dari cerita Buyut Sutan Anjun kakek Sutan Amansyah nenek Puteri Cahaya

admincrazy said...

Terima kasih pak atas informasinya.
Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang | Blog SEO | cah bagoes | oes tsetnoc

her said...

ass.saya adalah warga asli natalyg tinggal d jakarta kurang lebih 10th ini,kenyatan pahit yg d terima warga natal saat ini minimnya sarana dan prasarana penunjang untk kemajuan perputaran ekonomi.banyak perantauan yg berasal dr natal telah sukses d berbagai kota besar spt;jakarta,medan,padang,bandung,surabaya,aceh dan banyak lg kota2 besar lainnya.harapan saya sebagai generasi muda perantauan marialah bersama kita bangkitkan lagi kejayaan kota natal.pepatah;setinggi-tingginya bangau terbang pulangya ke kubangan jua,sejauh-jauh kita merantau ingatlah kampung asal sejarah keturunan kita.marilah kita tanamkan semangat cinta kampung halaman,natal kota kaya akan persudaraan,budaya dan pesona alam yg menabjubkan.

Irfan Muliawan said...

almarhum bapak saya orang natal lahir dan besar di sana.. sampai akhirnya almarhum berkuliah di UGM jogya.. saya juga masih takjub dan heran kenapa anak kampung dari daerah terpencil di sumatera utara bisa berkuliah di UGM.. akhirnya almarhum kembali k sumut namun berdomisili dan bekerja di medan..
ketika kecil kami anak2nya pernah bertanya kita ini orang apa? dengan tegas almarhum menjawab ya orang natal..dengan polosnya kami menjawab tapi kan kita islam.. dengan ringkas alm menjawab, kita orang natal dan kita beragama islam..
sampai saat itu dalam pikiran saya bergejolak dan penasaran dengan 'orang natal'.. kita ini suku apa sih?... sering kerabat/saudara alm papa maen k rumah dan berbincang-bincang dengan bahasa natal.. sehingga saya sangat familiar dengan bahasa tersebut namun sangat disayangkan saya tidak bisa berucap dengan bahasa natal..di sebabkan bahasa utama di lingkungan dan rumah menggunakan bahasa indonesia ala orang medan hehehehe..
saya tidak pernah "pulkam" ke natal sebab uci pun sudah tinggal di medan dan terakhir tinggal di jakarta dan meninggal disana...
rasa penasaran terhadap "orang/suku?kota natal" sampai sekarang pun sebenarnya belum terpuaskan.. "suku ini" seakan sebuah suku/orang yang terpisahkan dari orang mandailing dan juga tidak bisa juga di bilang bagian dari orang minang... saya tidak bermarga seperti orang maindailing lainnya.. saya juga mengerti bahasa minang, walau sekilas bahasa natal mirip dengan bahasa minang...
dalam pergaulan sehari hari ketika di tanya saya berasal darimana, selalu saya jawab orang medan.. marga apa.. gak punya marga.. oh kok bisa emang suku apa... suku natal.. nah pasti yang nanya langsung terbingung-ningung.
heheheheh oh natal riwayatmu kini

Bandar Dinata said...

Salam rindu semoga sejahtera buat warga Natal semuanya...........semoga Kabupaten baru yang diidam-idamkan masyarakat Natal, yakni Kabupaten Pantai Barat MAndailing segera terwujud demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kampung tercinta, Ranah Nata

Oki Ferianda said...

Kampung kita unik :) dgn bantuan teknologi kita bisa kembali mendekat ke tempat leluhur kita.. saat ini sarana komunikasi yg lengkap yaitu organisasi primordial Natal, yaitu PB. IKAPPENAS (Ikatan Keluarga, Pemuda, Pelajar Natal dan Sekitarnya).

YoGi Tikna PutRa said...

Salam kenal... Saya kecil di Natal, Sumatera Utara ini... Pengalaman saya datang kemari sudah dua kali... Kini, saya sedang kuliah di Medan... Saya memiliki pengalaman yang menarik disini... Kampung pesisir yang indah, elok rupa, ramah nan bersahabat. Namun, terpinggirkan seolah tak tersentuh oleh teknologi yang kian maju... Suatu saat nanti, insya اَللّهُ saya akan datang ke tempat ini lagi dan saya amat taragak dengan kampung ini. Wassalam...

aulia rasyid said...

keluarga saya berasal dr natal sang pembawa ajaran islam dan silat natar ke ujunggading daerah sumbar namanya pendekar kadin lama tinggal di pangautan kl dipasaman barat dia bergelar raja sordang.ada yg tau dg turunanya yg di natal? mohon infonya ke auliarasyid2.ar@gmail.com

aulia rasyid said...

keluarga saya berasal dr natal sang pembawa ajaran islam dan silat natar ke ujunggading daerah sumbar namanya pendekar kadin lama tinggal di pangautan kl dipasaman barat dia bergelar raja sordang.ada yg tau dg turunanya yg di natal? mohon infonya ke auliarasyid2.ar@gmail.com

aulia rasyid said...

keluarga saya berasal dr natal sang pembawa ajaran islam dan silat natar ke ujunggading daerah sumbar namanya pendekar kadin lama tinggal di pangautan kl dipasaman barat dia bergelar raja sordang.ada yg tau dg turunanya yg di natal? mohon infonya ke auliarasyid2.ar@gmail.com

Rang Tandjoeng said...

kalau menurut saya, mulai dari batahan, nata, siboga --- tapak tuan pada umumnya.. adalah koloni/peranakan bangsa minangkabau yang bermukim/berasal dari daerah pegunungan.. mereka memperkenalkan diri sebagai melayu/malayu/malaya (yg berarti pegunungan/orang gunung) di daerah perantauannya...