Monday, June 25, 2007

Kedatangan Portugis ke Natal

Believed to be Portuguese Fort amidst shops and housing at the Natal port
Dipercayai Benteng Portugis di tengah-tengah pertokoan dan perumahan di pelabuhan Natal
Foto Arbain Rambey


Kedatangan Portugis ke Natal

Pada akhir abad ke-15, orang-orang Portugis mulai mengembara mencari daerah baru dipicu oleh roh pengembanan agama Kristian dan untuk merebut perdagangan rempah-rempah dari tangan orang Arab dan Turki. Ketika itu bangsa Portugis bermusuhan dengan bangsa-bangsa dari Timur Tengah yang terlebih dahulu menguasai jalur pelayaran ke negeri-negeri penghasil rempah-rempah. Dalam upaya mencari jalur perjalanan alternatif untuk bersaing dengan bangsa Timur Tengah, pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar Portugis pergi sampai ke Afrika Selatan, India, Melaka, Sumatra, Jawa, Maluku, Tiongkok bahkan Jepun.

Rempah-rempah seperti lada, kayu manis, cengkeh, pala dan lain-lain sememangnya dicari oleh orang asing di kepulauan Nusantara untuk kemudian diekspot ke Eropah sebagai barang komoditi. Rempah-rempah ini sangat diperlukan di benua atas angin itu, terutama pada musim dingin. Sementara barang dagangan yang dibawa oleh Portugis termasuklah garam dan besi.

Setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, pada bulan Disember tahun yang sama, Afonso de Albuquerque menghantar ekspedisi mencari pulau rempah-ratus. Perburuan itu dilengkapi tiga kapal bersama 120 awak-awak Portugis, melewati pulau Sumatra, Jawa, Bali, Lombok Sumbawa dan Flores sebelum sampai ke Ambon pada pertengahan 1512.[i]

Warisan dari petualangan Portugis tersebut meninggalkan nama Natal di Afrika Selatan dan di pulau Sumatra. Ada dilaporkan bahawa bangsa Potugis-lah yang memberikan nama pada pemukiman mereka di pesisir pantai barat pulau Sumatra, ketika kedatangan mereka di sana untuk pertama kalinya, sekitar tahun 1492-1498 bersamaan dengan hari raya Natal.[ii]

Bagaimanapun, menurut keterangan lisan, kapal-kapal layar Portugis mulai singgah di pelabuhan Natal pada masa pemerintahan Tuanku Besar Si Intan, raja ketujuh kerajaan Natal. Tuanku tersebut dikatakan mangkat pada tanggal 12 Mei 1823.[iii]

Di daerah pelabuhan Natal yang kini merangkap pasar, sebenarnya terdapat beberapa benteng yang telah dibongkar kerana rosak dek di makan zaman atau terkena banjir sungai Batang Natal. Sekarang di atas tanah bekas benteng tersebut telah dibangun pertokoan dan perumahan.

Peninggalan-peninggalan bersejarah ini terbiar dan terbengkalai kerana selain biaya perawatannya yang besar, orang tidak mengerti akan manfaatnya dari segi pelancungan/pariwisata. Di negera-negara maju, peninggalan-peninggalan sejarah yang mempunyai nilai tinggi biasanya dilestarikan dan dijadikan sumber penghasilan negara.

[i] Antonio Pinto Da France, Portuguese Influence in Indonesia, Lisbon: Calouste Gulbenkian Foundation, 1985: 7.
[ii] Kompas 16 Desember 2005. Pentarikhan ini tidak benar karena Portugis sampai di India pada 1498, dan mereka menguasai Malaka pada tahun 1511.
[iii] Puti Balkis Alisjahbana, Natal Ranah Nan Data, Kisah Perjalanan, Jakarta: Dian Rakyat, 1996: 54.