Tuesday, July 3, 2007

Lubuk Larangan dan Mata Air Kehidupan Warga Mandailing


Sungai Batang Gadis yang mengaliri kawasan Mandailing Natal
(Foto: Erwin A. Perbatakusuma/CI)


Lubuk Larangan dan Mata Air Kehidupan Warga Mandailing

Orang yang bermarga Lubis, tentu mengenal betul hikayat Namora Pande Bosi yang menasihatkan anaknya Silangkitang dan Sibaitang, ketika mereka harus meninggalkan kampung Hatongga, agar menyusuri Sungai Batang Gadis untuk membuka tempat pemukiman baru. Sebab itulah, kebanyakan perkampungan warga Mandailing hingga sekarang selalu didirikan berdekatan dengan sumber-sumber air.

Ada beberapa istilah yang diberikan pada sumber air di kawasan Mandailing: sungai disebut batang, anak sungai, aek, atau ranting sungai rura dan mata air yang disebut mual. Nama-nama sungai atau muaranya bahkan banyak dijadikan sebagai acuan nama pemukiman orang-orang Mandailing.

Pada masyarakat Mandailing, eksistensi air sungai maupun anak sungai yang ada di sekitar pemukiman mereka berperan multi-fungsi, sebagai air minum dan mandi cuci kakus (MCK), mengairi lahan pertanian, mendukung fungsi sosial budaya (misalnya dalam ritus patuaekkon boru), relijius (mendukung pelaksanaan ibadah), dan juga ekonomi (mencari emas/manggore, ikan, bahan bangunan berupa pasir, kerikil dan juga batu). Dengan kata lain, bagi orang Mandailing air merupakan "mata air kehidupan" yang sekaligus bertali-temali dengan institusi sosial, budaya, ekonomi dan ekologis.

Lubuk Larangan

Oleh karena banyak sekali kepentingan orang Mandailing terhadap sumber daya air, maka tidak heran, sejak tahun 1980-an bermunculan gagasan di 70 desa Kabupaten Mandailing Natal untuk menyelenggarakan sistem pengelolaan sungai dengan model lubuk larangan (river protected area).

Memang mayoritas desa di Mandailing berdekatan dengan aliran sungai. Keberadaan desa tersebut dapat ditelusuri mulai dari Kecamatan Muara Sipongi -- hulu Sungai Batang Gadis ke arah hilir Kecamatan Kotanopan hingga ke Kecamatan Penyambungan. Selain itu terdapat juga desa di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai yang ada di Kec. Batang Natal, serta sepanjang sungai Batang Selai sampai Danau Rinaete di Tapanuli Selatan.

Pada sebagian aliran sungai yang melintasi wilayah suatu desa-desa itulah, penduduk desa bersepakat untuk menetapkan sebuah wilayah yang terlarang untuk diambil hasil ikannya selama jangka waktu tertentu (berkisar 6-12 bulan). Kawasan terlarang itu disebut ‘lubuk larangan’. Hasil pengelolaan lubuk larangan tersebut akan digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa. Jadi konsep “larangan” yang ada dalam khasanah budaya Mandailing dan Angkola telah ditransformasikan ke dalam bentuk baru yang lebih rasional oleh komunitas-komunitas desa di sepanjang aliran sungai-sungai Batang Gadis, Batang Natal dan Batang Selai.

Paling tidak ada dua hal yang istimewa dari munculnya fenomena pengelolaan sungai dengan sistem lubuk larangan tersebut. Pertama, kemampuan komunitas setempat di kawasan Mandailing melakukan perubahan radikal dalam konsepsi penguasaan sumberdaya alam (sungai), dari yang semula dipahami sebagai sumberdaya yang bisa diakses secara bebas oleh siapapun menjadi sumberdaya yang dimiliki secara komunal (communally owned resources). Dengan perubahan konsepsi tersebut, maka kecenderungan eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya alam menjadi terkurangi, sehingga gejala "tragedi milik bersama" (tragedy of the common) dalam pengelolaan sumberdaya yang bersifat akses terbuka tidak terjadi, khususnya dalam konteks pengelolaan sumberdaya yang ada di sungai.

Kedua, komunitas-komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal mampu menanam dan mengembangkan investasi modal sosial (social capital) diantara mereka dalam pengelolaan sumberdaya 'milik bersama'. Komunitas desa pengelola lubuk larangan di Mandailing samapi batas-batas tertentu mampu menyiasati kondisi yang tidak sehat itu, yang terlihat dari tetap kukuhnya mereka membangun sistem pengelolaan lubuk larangan yang relatif terbebas dari 'campur tangan penguasa.

Hasilnya cukup mengagetkan, ketika setiap tahun pemerintah menyalurkan dana Bangdes ke desa-desa melalui jalur formal, kita sudah banyak mengetahui apa hasil pembangunan yang bisa dicapai di desa-desa itu; tetapi pengelolaan lubuk larangan yang dibangun dengan mengandalkan modal sosial (bukan modal material/finansial), mampu menghasilkan banyak hal di desa, misalnya mendirikan gedung madrasah (seperti di Desa Hutarimbaru dan desa Singengu, Kec.Kotanopan), masjid (di banyak desa di Kec. Muara Sipongi, Kotanopan dan Batang Natal), menggaji guru SD Negeri (di Batang Natal), menyantuni anak yatim dan fakir miskin ( di banyak desa Kec. Batang Natal), membangun titi/rambin dan jalan desa (di desa Koto Baringin, Kec. Muara Sipongi, desa Husor Tolang, Kotanopan ), dan banyak lagi contoh lainnya.

Ketika dana Bangdes dan dana-dana pembangunan lainnya masuk ke desa, yang sering terjadi adalah sikut-sikutan antar elit desa (bahkan konflik terbuka), dalam sistem pengelolaan dan pemanfaatan hasil lubuk larangan hal itu tidak ditemukan. (Erwin A. Perbatakusuma, Policy Analist, NSC Project)

Taman Nasional Batang Gadis Buat Anak Cucu Kita


The tranquil Batang Gadis National Park where man and nature co-exist harmoniously
Taman Nasional Batang Gadis, di mana manusia dan alam hidup bersama secara harmoni
Foto Arbain Rambey

Taman Nasional Batanggadis
Upaya Mewariskan Hutan bagi Anak-Cucu

Ada petuah lama berbunyi "Alam terkembang, jadikanlah guru." Maksudnya, alam pemberian Tuhan yang terhampar luas ini sepatutnya dijadikan guru. Petuah itu rasanya pantas direnungkan karena dari alam manusia bisa membaca isyarat dan berkaca diri.

Lihat saja berbagai bencana alam di Tanah Air akhir-akhir ini. Mulai kekeringan panjang di Jawa, banjir dan tanah longsor di mana-mana, serta terakhir paling aktual banjir bandang di Bukit Lawang Bohorok, Sumatera Utara, yang menelan lebih 150-an korban tewas. Itu merupakan wujud nyata betapa alam sudah marah atas ulah manusia.

Barangkali, berangkat dari kesadaran untuk berguru dari alam itulah yang menjadikan masyarakat Kabupaten Mandailing Natal, Sumut, sehingga mereka telah berbulat tekad untuk melestarikan kawasan hutan alam di daerahnya. Upaya ke arah pelestarian hutan itu melalui usulan ke pemerintah pusat agar kawasan hutan di kampung mereka hendaknya ditetapkan sebagai Taman Nasional Batanggadis.

Menariknya, usulan untuk mempertahankan keberadaan hutan alam tersebut, seperti diakui Bupati Madina Amru Daulay, bukan berasal dari Pemkab Madina, tetapi murni usulan dari bawah, yakni masyarakat adat daerah ini. Peran pemkab sendiri hanya mendukung dan memberikan rekomendasi, sebagai salah satu syarat formal dalam administrasi pemerintahan.

"Tidak ada rekayasa sedikit pun terkait dengan usulan penetapan kawasan hutan alam Batanggadis menjadi taman nasional. Ini betul-betul murni aspirasi masyarakat sekitar hutan, karena mereka sudah terlalu ngeri melihat bencana alam di mana-mana," ungkap Daulay. Ia menambahkan, usulan ini dianggap sangat logis dan tepat karena sekitar 70 persen penduduk Madina merupakan petani yang hidupnya sangat tergantung pada alam.

Di tengah maraknya aksi penjarahan hutan di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini, usulan penetapan TN Batanggadis mungkin terasa "aneh". Soalnya, yang ngotot menggarap hutan untuk dikonversi menjadi lahan perkebunan dan pertanian, biasanya kalau tidak masyarakat, justru pemerintah kabupaten sendiri.

Erwin Perbata Kusuma, dari Conservation International (CI) Indonesia di Medan, menyatakan, "Sejak April 2003, jauh sebelum bencana banjir bandang Bohorok meluluhlantakkan Bukit Lawang, masyarakat dan Pemkab Madina malah sudah memberi perhatian serius terhadap sumber daya hutan setempat. Langkah konkretnya adalah dengan mengusulkan hutan alam di Madina dijadikan kawasan pelestarian alam TN Batanggadis. Ini langkah terpuji dan sangat layak didukung semua pihak."

Erwin menambahkan, CI sebagai organisasi internasional nonprofit, yang menerapkan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan murni, ekonomi, serta kebijakan dan partisipasi masyarakat untuk melindungi wilayah dengan keanekaragaman hayatinya, ikut mendukung terwujudnya rencana Taman Nasional Batanggadis.

Dikatakan, kalau rencana TN Batanggadis ini berhasil direalisasi, maka pengelolaannya nanti akan sangat khas karena melibatkan masyarkat yang bermukim di sekitar hutan secara langsung. Pemkab Madina dan Pemprov Sumut pun akan ikut berperan sebagai salah satu komponen penting. Selama ini, kewenangan pengelolaan taman nasional di Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah pusat semata.

DAERAH Aliran Sungai (DAS) Batanggadis ini tercatat mencapai luas 386. 455 ha, atau sekitar 58,8 persen dari seluruh luas Kabupaten Madina. Kawasan yang diusulkan menjadi taman nasional dengan luas 108.000 ha, sepenuhnya berada di DAS Batanggadis.

"Bagi masyarakat Madina, keberadaan DAS Batanggadis bernilai sangat penting. Sebagai sumber air, DAS ini amat mendukung kelangsungan hidup masyarakat sejak dulu. Oleh karena itu, Pemkab Madina mendukung TN Batanggadis karena ada sebanyak 66 desa pada 13 kecamatan yang masyarakatnya bersentuhan langsung dengan keberadaan DAS dan calon TN Batanggadis," ungkap Bupati Amru Daulay.

Lembaga CI mencatat, sektor pertanian di kabupaten ini merupakan pilar utama karena lebih 35 persen dari total produk domestik regional bruto (PDRB) daerah ini ditopang sektor pertanian.

Kualitas dan kelancaran pasokan air menjadi faktor yang sangat menentukan bagi keperluan sehari-hari warga masyarakat dan areal persawahan seluas 34.500 ha serta ribuan hektar areal perkebunan rakyat setempat. Karena itu, dipandang penting untuk menjaga keutuhan fungsi hidrologis DAS Batanggadis.

Secara fisik, sekitar 36 persen dari luas wilayah Kabupaten Madina terdiri dari pegunungan hingga ketinggian 2.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jenis tanah sebagian besar rawan erosi dan longsor, curah hujan tinggi, serta dilalui patahan semangko. Dengan keadaan fisik seperti ini, Kabupaten Madina rawan bencana alam, seperti tanah longsor, banjir, maupun gempa. Ini terutama bila tutupan hutan alam di wilayah DAS Batanggadis berkurang.

Menurut Erwin Perbata, daerah Batanggadis mempunyai keragaman bentang alam yang cukup lengkap, dari hutan hujan dataran rendah perbukitan (300 mdpl), hutan pegunungan rendah dan hutan pegunungan tinggi di puncak Sorik Merapi (2.145 mdpl). Variasi tipe habitat yang tinggi tersebut mempunyai konsekuensi tingginya keanekaragaman hayati.

Berdasarkan riset biologi dan temuan beberapa peneliti, kawasan hutan alam Batanggadis memiliki nilai konservasi alam yang sangat tinggi dan bernilai global.

Di kawasan hutan ini ditemukan jenis mamalia langka yang dilindungi, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan tapir (Tapirus indicus). Jenis-jenis primata yang ditemukan di sini adalah siamang (Hylobates syndactylus), lutung kelabu (Presbytis cristata), owa ungko (Hylobates agilis), monyet beruk, dan monyet ekor panjang.

Nilai konservasi hutan alam Batanggadis makin lengkap karena di kawasan ini ditemukan sembilan dari 10 jenis burung rangkong yang mewakili seluruh marga yang ada di Sumatera. "Semua itu mengindikasikan kesesuaian habitat bagi satwa pemakan buah. Sebanyak 99 jenis burung pun telah tercatat menghuni kawasan hutan alam ini," papar Erwin.

Bagi Pemkab Madina, seperti diakui Bupati Madina Amru Daulay, DAS Batanggadis tak hanya sekadar mengandung nilai konservasi dan potensi alam yang besar. Akan tetapi, kawasan sekitar hutan alam ini pun memiliki potensi wisata, baik untuk wisata alam maupun petualangan.

Beberapa potensi wisata alam dan budaya yang bakal bisa dipasarkan, antara lain, gua-gua alam yang sangat memesona, sumber air panas alami, puncak gunung Sorik Merapi, dan Desa Sibangor yang menampilkan rumah khas tradisional beratap ijuk.

Kampung khas Mandailing ini persis terletak di kaki Sorik Merapi, dekat kawasan hutan alam, sekitar 20-an km dari kota kabupaten di Panyabungan yang mudah diakses lewat jalan negara lintas tengah Sumatera. (Ahmad Zulkani).

Dikutip dari Kompas Jan 6 2004

Menyingkap Tabir Kekayaan Bumi Mandailing Natal


Batang Gadis watershed, a well kept treasure
Daerah Aliran Batang Gadis, perbendahaan yang terpelihara baik
Foto Arbain Rambey

Menyingkap Tabir “Kekayaan” Bumi Mandailing Natal

Kawasanyang baru saja ditunjuk sebagai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), MandailingNatal (Madina), Sumatera Utara, seluas 108.000 Ha ternyata memiliki kekayaan hayati yang tinggi. Fakta ini terungkap lewat survei awal yang dilakukan Conservation International (CI) Indonesia bersama Lembaga Ilmu PengetahuanIndonesia (LIPI), Pusat Penelitian dan Pengembangan (PusLitBang) Hutan danKonservasi Alam-Departemen Kehutanan dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing-Natal. Survei ini dilakukan selama kurang lebih 6 minggu, dari 2 Februari hingga 20 Maret2004.

Survei terpadu ini berhasil memberikan gambaran yang dapat dijadikan sebagai masukan awal dalam menentukan model pengelolaan, cakupan wilayah, zonasi dan hal-hal terkait lainnya. “Kawasan Taman Nasional Batang Gadis inimerupakan harta yang paling berharga bagi masyarakat di sekitarnya. Selain dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti terjaminnya suplai air bersih, masyarakat juga terhindar dari bencana alam seperti yang belum lama ini terjadi di Bahorok,tetapi dengan catatan jika masyarakat Madina menjaga hutannya dengan baik,”tutur Dr. Endang Sukara, Deputi Ketua LIPI Bidang Ilmu PengetahuanHayati.

Berdasarkanhasil penelitian flora, dalam plot seluas 200 meter persegi terdapat 222 jenistumbuhan berpembuluh (vascular plant) atau sekitar 0,9% dari flora yang ada di Indonesia (terdapat sekitar 25.000 jenis tumbuhan berpembuluh diIndonesia). Sementara dalam plot seluas 1 Ha, terdapat 184 jenis pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm dengan jumlah pohon sebanyak 583. Survei ini juga berhasil menemukan bunga Padma (Raffesiasp.) jenis baru. Hingga kini, bunga tersebut belum diberi nama ilmiah dan masih diteliti oleh pakar di Herbarium Bogoriense, Pusat PenelitianBiologi-LIPI.

“KawasanTaman Nasional Batang Gadis ini ternyata mempunyai kekayaan hayati flora yangtinggi, sehingga harus tetap dijaga kelestariannya. Sebab, masih banyakjenis-jenis tumbuhan yang secara ilmiah belum dikenal serta belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia dan ini perlu dikaji lebih lanjut,” imbuh Dr.Kuswata Kartawinata, pakar hutan tropis yang juga adviser CIIndonesia.

Disisi lain, tim survei fauna mengidentifikasi berbagai jenis mamalia di daerahTNBG dan sekitarnya pada ketinggian 50-1350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melalui perangkap kamera, tim ini berhasil merekam gambar harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Naemorhedussumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopumatemminckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitisbinturong), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjac) dan landak (Hystix brachyura).

“Halini sangat luar biasa, hanya dalam enam minggu saja kami sudah berhasilmengidentifikasi beberapa satwa langka, padahal di lokasi lain butuh waktutahunan. Selain itu, kami juga mengidentifikasi adanya empat jenis primata dankeragaman jenis tikus hutan yang tinggi,“ jelas Dr. H. M. Bismark, Ahli PenelitiUtama (APU) Biologi Satwa Liar dan Konservasi dari PusLitBang Hutan dan Konservasi Alam-DepHut. Hal ini, lanjutnya, menandakan fungsi satwa sangat mendukung untuk proses regenerasi dan suksesi hutan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem.

Disisi lain, tim yang dipimpin Drs. Boeadi, pakar reptil dan amfibi LIPI berhasil menemukan amfibi tak berkaki (Ichtyopis glutinosa) -merupakan jenis satwapurba- dan katak bertanduk tiga (Megophyris nasuta) yang sudah langkahanya dapat dijumpai (endemik) di Sumatera.

Catatanjenis burung di kawasan ini juga bertambah dari 140 menjadi 242 jenis. Dari 242 jenis tersebut, 45 merupakan jenis burung yang dilindungi di Indonesia, 8 jenis secara global terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah. Ditemukan juga dua jenis burung yang selamaini dikategorikan sebagai ‘kekurangan data’ (data deficient) oleh IUCN karena sedikitnya catatan. Dari total jenis burung tersebut 13 jenis masuk kedalam kategori Burung Sebaran Terbatas yang berkontribusipada terbentuknya Daerah Burung Endemik dan Daerah Penting bagi Burung (DPB). “Ada satu jenis burung yang keberadaannya di Sumatera masih diragukan dan timkami menemukannya, bahkan dengan bukti foto, yaitu pedendang kaki sirip (Heliopais personata),” ujar Sunarto, ahli keanekaragaman hayati CI Indonesia. Tambahnya, kawasan ini merupakan salah satu lokasi transit burung-burung migran yang datang dari belahan bumi utara.

Selaintumbuhan dan hewan tingkat tinggi, CI Indonesia dan Bioteknologi-LIPI juga mencoba melakukan hal baru yaitu mengidentifikasi mikroba hidup dalam jaringan tumbuhan (endopyte) yang ada di hutan tropis Mandailing Natal, guna menyelamatkan jenis mikroba tersebut dari kepunahan. Konservasi mikroba dari hutan tropis Indonesia belum pernah dilakukan oleh lembaga mana pun. Hinggakini, tim survei telah berhasil mengumpulkan 1500 jenis mikroba yang terdiri dari bakteri, kapang dan jamur. Mikroba ini banyak memberikan manfaat antara lain sebagai sumber obat-obatan, pupuk organik, bio-insektisida ataupun bio-fungisida yang menunjang sektor pertanian maupun penghasil enzim dan hormon yang dibutuhkan oleh sektor industri. Sekali potensinya terkuak, Indonesia dapat membangun bioindustri bernilai tinggi tanpa harus mengorbankan kekayaan bumi Madina.

“Kamiberharap hasil penemuan awal ini menjadi sumber acuan bagi pengelolaan kawasan taman nasional yang dikelola secara kolaboratif berdasarkan keselarasan antara kepentingan pelestarian keanekaragaman hayati dan kepentingan masyarakat lokal, nasional dan global” tukas Dr. Jatna Supriatna, Regional Vice President CIIndonesia.

Keteranganlebih lanjut hubungi:

DiahR. Sulistiowati (Sulis)
CIIndonesia-Kantor Medan
Jl.Rajawali No. 38, Sei Sikambing B, Medan, Sumatera Utara,20122
Telp.061-8454534,08128078472
Email:sulis@conservation.or.id

AmaliaFirman
CIIndonesia-Kantor Jakarta
Jl.Pejaten Barat No. 16A
Jakarta12550
Telp.021-78838624, ext 114, Fax.021-7896723
Email:amalia@conservation.or.id

______________________________________________________
ConservationInternational (CI) adalah organisasi non-profit internasional yang menerapkan inovasi dalam bidang ilmupengetahuan murni, ekonomi, kebijakan dan partisipasi masyarakat untukmelindungi wilayah wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi di dunia. CIbekerja di lebih dari 30 negara. Untukinformasi lebih lanjut kunjungihttp://www.conservation.org/atauhttp://www.conservation.or.id/.

Pakantan, Wista Mandheling Coffee

Mandheling Coffee being grounded by a water wheel.
Kopi Mandheling dikisar oleh kincir air.
Foto Arbain Rambey


Pakantan, Wisata Kebun Kopi Tua Mandailing

Kebun kopi Mandailing berusia ratusan tahun, berpotensi sebagai kawasan ekowisata.
Abdul Hamid Damanik, Affan Surya dan Erikson Sinaga

Pakantan, pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas. Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942. Ini terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandailing waktu itu. Tetapi, julukan sebagai gunung mas kemudian berakhir seiring dengan masuknya Jepang pada tahun 1942.

Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabica-nya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya juga sangat tinggi. Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa. Banyak diantaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.

Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot. Secara adminisratif, ketujuh desa tersebut saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal. Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabica sampai Tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering. Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah Haji. Pada waktu itu, Ongkos Naik Haji hanya Rp 600.

Akan tetapi setelah Jepang kemudian menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Sutan Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula. Meskipun saat ini kebun kopi itu masih dikelola oleh beberapa pewarisnya namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektar per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5000 per kilogram. Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.

Sisa-sisa kebun kopi arabica yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane di wilayah bekas kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektar.

Objek Wisata

Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh. Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali. Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan. Hal itu penulis rasakan ketika berkesempatan berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu.

Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut. Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang. "Itu waktu yang sangat lama", kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam.

Menurut pengakuan seorang penggila minuman kopi asal Medan yang pernah dua kali berkunjung ke sana, melihat kebun kopi tua Pakantan sangatlah menarik. Sepanjang perjalanan dari desa ke kebun kopi banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Burung-burung yang beragam jenis, primata, kijang, rusa dan tumbuhan aneh kerap dapat dilihat selama perjalanan. Apalagi dalam setengah perjalanan yakni di Bukit Tincuk, kita disuguhi pemandangan alam yang menawan berupa hamparan sawah dan perkampungan tradisonal Pakantan, kata penggila minuman kopi ini. Penulis sendiri membuktikan hal itu. Bahkan, ketika berada di tengah kebun kopi tersebut penulis seakan terhipnotis dan merasa berada di dunia lain.

Sebagai kawasan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), menurut para pemerhati industri pariwisata, Pakantan memang layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Abu Hanifah Lubis, Field Coordinator Conservation International Indonesia (CII) untuk TNBG mendukung hal tersebut. Menurutnya, Pakantan memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan tujuan wisata minat khusus. Pendapat Abu cukup beralasan, sebab kampungnya Diana Nasution itu memang memiliki prospektif bagus karena objek daya tariknya. ***

Tropika, Hidup Harmonis Dengan Alam

http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=333&page=g_tropika.index

Petualangan di Taman Nasional Batang Gadis



Petualangan di Taman Nasional Batang Gadis
Menyapa Keramahan Bumi Mandailing

Panyabungan – Sumatera Utara masih menyisakan koridor hutan yang menarik dijelajahi. Coba saja pergi ke Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal ini menyuguhkan medan yang beragam, dari dataran rendah, bukit hingga puncak gunung berapi. Asyiknya, di beberapa titik terdapat rimba lebat, tempat hidup aneka satwa dan tumbuhan. Sayang, penebangan liar menjadi musuh utama kawasan ini.

”Silakan masuk. Ayo kita tunggu teman-teman di dalam saja,” ajak Sayuti Nasution, ramah. Kepala Desa Sibanggor Tonga ini tak sekadar basa-basi. Keramahan itu terus berlanjut dengan undangan buka puasa bersama keluarganya. Dengan senang hati, kami tak melewatkan undangan itu.

”Di sini, nebang-nebang kayu tidak ada. Dari dulu, masyarakat sudah tahu akibatnya. Mereka takut longsor, seperti daerah lain,” ujar Sayuti membuka obrolan. Bila ada yang nekat tebang pohon, sanksi hukum adat telah menunggu sang pelaku. Karena itu Sayuti bangga, hutan di sekitar wilayah Sibanggor Tonga masih terlihat hijau.

Sibanggor Tonga adalah salah satu daerah penyangga kawasan TNBG. Kawasan ini ditetapkan menjadi taman nasional ke-43 berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. 126/ Menhut-11/ 2004 pada 29 April 2004. Tak seberapa jauh dari daerah Sayuti terdapat sumber air panas dan belerang alami. Di belakang, Gunung Sorik Marapi berdiri gagah. Ini gunung berapi setinggi 2.145 mdpl.

”Sepengetahuan saya gunung ini terakhir kali meletus tahun 1986,” cerita Sayuti. Bapak 13 anak ini menjadi saksi atas peristiwa meletusnya gunung tersebut. Ledakan yang terjadi tak besar, hanya memuntahkan debu dan lahar panas mengalir ke daerah Kabupaten Pasaman.

Menurut literatur, Gunung Sorik Marapi juga telah diidentifikasi sebagai salah satu tempat yang memiliki panorama tercantik di dunia. Karena dekatnya dengan sistem magma, danau vulkanik juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkirakan terjadinya letusan gunung dengan cara yang unik. Sementara itu, menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2004) kawasan Sorik Marapi juga memiliki potensi sumber panas bumi total sebesar 400 megawat yang merupakan satu dari lima daerah berpotensi terbesar di Sumatera.

”Kalau ke puncaknya cuma 4 jam saja,” kata Sayuti, enteng. Secepat itu? Kami lantas tak percaya. Maklum, gunung ini miskin jalur ”bonus”, alias jalan datar. Seluruhnya jalur mendaki yang curam, mirip-mirip jalur Gunung Putri kalau kita mau naik Gunung Gede-Pangrango. Resep pendakian Sayuti terbongkar, ”Saya sering ke puncak untuk ngambil belerang untuk pabrik belerang di sini.” Lima tahun lalu, pabrik ini masih ada. Dari pekerjaan mengangkut belerang, Sayuti mendapat upah Rp 40.000. ”Sekali angkut bisa dapat 40 kg.”

Atap Ijuk

Usai menikmati keramahan Sibanggor Tonga, kami segera pergi ke beberapa sumber air panas. Salah satunya, berada di pinggir jalan raya wilayah Sibanggor. Di tempat ini, beberapa fasilitas sudah terbangun, seperti kolam pemandian air panas, kamar mandi dan musala. Sayang, fasilitas ini perlu perawatan lanjutan.

Kalau mau mendapat pengalaman yang lebih, ada beberapa sumber air panas yang letaknya di dalam hutan. Jalan setapak yang naik turun dan melintas sungai menjadi suguhan utama. Asyik kan?

Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung beratapkan ijuk. Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak Gunung Sorik Marapi.

Bicara rumah dengan atap ijuk, Bupati Madina Amru Daulay akan mengeluarkan keputusan yang mewajibkan penduduk untuk memakai ijuk sebagai atap rumah. ”Tahun ini kami akan mengeluarkan peraturan daerah yang melarang pembangunan atap rumah dari bahan seng,” tandas Amru.

Bunga Jenis Baru

Tim survei Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Museum Zoologi-LIPI, Peneliti Conservation International Indonesia, Dinas Kehutanan Madina — yang dilakukan pada 6 Februari - 20 Maret 2004 – berhasil menemukan jenis bunga padma (Rafflesia sp.) yang diduga sebagai jenis baru. Bunga tersebut ditemukan di daerah yang relatif datar di Gunung Sorik Mas Kecil (Anak Gunung Sorik Marapi), sekitar 3 km atau 2 jam jalan kaki dari Desa Sibangor Julu.

Lokasi tempat penemuan tergolong hutan primer yang tidak terganggu, memiliki tutupan kanopi yang rapat, sekitar 75 persen. Tanah di lokasi tersebut berwarna hitam dengan kondisi yang tampak lembab. Ditemukan banyak liana yang menjalar ke atas kanopi dan di atas tanah.

Bunga padma yang ditemukan tumbuh di liana pada elevasi sekitar 1.500 meter dpl. Berbeda dengan bunga padma pada umumnya yang berwarna kemerahan, bunga yang ditemukan berwarna hitam, meski dalam kondisi segar dan yang belum mekar.

Pada batang liana yang sama, terdapat bolep (bulb) lain berukuran sebesar jambu (diameter sekitar 5 cm) sudah mekar, yang kemungkinan berbeda jenis. Jenis yang lebih kecil ini memiliki warna kulit agak kecoklatan, dan bagian atas merah. Diameter lubang tengah sekitar 2 - 3 cm.

Menurut beberapa anggota masyarakat, di lokasi tersebut terdapat tiga macam bunga padma. Jenis yang ketiga memiliki warna merah muda, berukuran lebih besar dari yang pernah ditemukan. Dalam satu akar biasanya ditemukan enam hingga delapan bolep. Berdasar keterangan warga, bunga yang mekar biasanya dapat bertahan hingga tiga bulan.

Tak jauh dari Sopotinjak - sering disebut sebagai kawasan Puncak Mandailing Natal - masuk ke hutan kemudian naik sedikit sekitar 30 m terdapat danau yang sangat cantik. Masyarakat desa mengenalnya dengan danau setan, karena menurut masyarakat danau ini terkenal angker, tempat berkumpulnya para makhluk halus, sehingga jarang didatangi masyarakat.

Danau tersebut cantik sekali dan masih terdapat banyak satwa yang mampir untuk melepas dahaga di danau ini. ”Terbukti dari camera trap (kamera perangkap) yang dipasang tim fauna pada survei kehati di TNBG beberapa waktu lalu, hampir seperempatnya ditemukan di sini,” kata Sunarto, peneliti biologi dari Conservation International Indonesia.

Bagi penggemar petualangan alam bebas tempat ini cukup memberikan tantangan. Bukan saja medan yang beragam, pacet (binatang kecil penghisap darah)juga jadi ”musuh” bersama. Baru menapak saja, beragam jenis pacet sudah menghampiri, dari yang berwarna coklat sampai hijau, siap untuk menikmati setetes darah Anda.

TNBG seluas 108.000 ha keseluruhannya berada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina, Sumatera Utara). Kawasan itu memberikan jasa lingkungan yang besar, khususnya bagi masyarakat Madina dan Sumatera Utara umumnya. Sebagai daerah tangkapan air dan hulu dari beberapa sungai besar di Madina, kelestarian kawasan ini sangat penting untuk menjamin pasokan air. Terpenuhinya kebutuhan air sangat vital bagi kegiatan perekonomian masyarakat agraris di kawasan itu. (SH/bayu dwi mardana/darma lubis)

Sunday, July 1, 2007

Eduard Douwes Dekker @ Multatuli


Max Havelaar oleh Multatuli


Eduard Douwes Dekker (1820-1887), penulis roman kontroversial Max Havelaar yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah bertugas di Natal sebagai controleur kelas dua. Multatuli dalam bahasa Latin bererti "Aku telah banyak menderita". Douwes Dekker hanya berdinas satu tahun di Natal. Sewaktu dia sampai di Natal , Douwes Dekker masih muda, umarnya kira-kira 20 tahun. Dalam novelnya Max Havelaar, diceritakan kisah percintaannya dengan Upik Ketek yang waktu itu baru berusia 13 tahun, putri seorang datuk yang sering berurusan dengan Douwes Dekker.

Douwes Dekker bertemu dengan Upik Ketek pertama kali pada tahun 1842, ketika terjadi kecelakaan di laut di mana Douwes Dekker menyelamatkan gadis itu dari bahaya maut. Ketika itu dia baru saja menepati posnay di Natal. Di Tanjung Balai yang terletak di sebelah utara Natal terdapat perkebunan lada yang luas. Seperti kita ketahui, lada merupakan barang dagangan maha penting bagi Belanda dan Inggris pada masa itu. Sebenarnya dia tidak begitu senang dengan pekerjaannya, apalagi dia masih awam dalam masalah lada dan perkebunan. Tetapi tugas itu dilakukannya juga. Oleh karena itu dia sering meminta bantuan seorang datuk yang mengerti masalah lada dan perkebunan. Dalam melakukan tugasnay, datuk sering ditemani oleh putrinay, Upik Ketek. Melalui kehadiran Upik Ketek inilah hati Douwes Dekker yang gundah dapat terobati.

Di Natal, Douwes Dekker kerapkali menyaksikan bagaimana pemerintah Belanda menindas penduduk setempat. Perasaan keadilannya tersentuh sehingga dia ingin membela orang-orang yang tertindas tersebut. Di kemudian hari, pengalaman batin yang dialaminya itu yang didapat di berbagai tempat di Indonesia, dimulai dari Natal, Sulawesi Utara dan Jawa Barat, dituangkanya dalam buku Max Havelaar. Diceritakan pula tentang pelabuhan Natal yang tidak dapat “disinggahi” perahu pada bulan Juli, karena angin kencang. Dia beberapa kali mengusulkan kepada atasannya untuk membangun dinding penahan ombak atau membuat pelabuhan buatan di muara sungai Batang Natal agar perdagangan dapat berjalan lancar sepanjang tahun, sehingga setengah juta penduduk di pedalaman tetap dapat menjual hasil bumi mereka, walau musin badai tiba. Tentu saja atasannya tidak setuju, dengan maksud Douwes Dekker yang hendak memperbaiki taraf hidup penduduk. Dia dicaci maki.

Kadang kala, Douwes Dekker harus bepergian ke tempat-tempat yang jauh dari Natal, seperti ke Barus, Tapus dan Singkel di utara. Daerah-daerah tersebut belum lagi aman ketika baru dikuasai Belanda karena masih terpengaruh perang Padri, apalagi daerah kediaman orang Batak yang benar-benar kacau dan banyak menimbulkan dampak buruk bagi Natal. Kendaraan Douwes Dekker ketika itu hanyalah kuda, sehingga perjalanan menjadi sangat lambat. Selama dalam perjalanan, dia selalu tidur dengan pakaian lengkap agar selalu siap menghadapi keadaan darurat, lagi pula ketika itu terdengar desas-desus tentang adanya komplotan yang hendak membunuh pejabat Belanda dan semua bangsa Eropah di Mandailing. Konon, awal pergerakan tersebut terjadi di Natal karena di sana banyak tinggal orang-orang kulit putih. Apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi, tidaklah dapat dipastikan karena Douwes Dekker hanya membaca keterangan-keterangan tertulis dari saksi-saksi.

Karena adanya pengkhiantan, komplotan yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Mandailing terbongkar. Pemimpinnya ditangkap dibawa ke Padang dan dianggap sebagai penjahat yang bersalah terhadap Belanda. Anehnya, Yang Dipertuan Mandailing tidak diperiksa di sana, tetapi dibawa ke rumah pejabat tinggi Belanda dengan kereta kebesaran. Tak lama kemudian dia dikembalikan ke kampung halamannya.

Di antara pemuka-pemuka masyarakat di daerah Mandailing dan Natal sering terjadi perang dingin yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk kepentingannya. Douwes Dekker sering melihat proses peradilan yang curang dan kecurangan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah Belanda yang mencelakakan penduduk, sehingga dia semakin tidak suka menjalani sisa masa dinasnya. Sebagai contoh, dia menyebutkan kasus si Pamaga.

Si Pamaga, anak angkat Sutan Salim didakwa mencoba membunuh Tuanku Natal dan controleur Belanda di Natal. Menurut cerita, percobaan pembunuhan yang tidak berhasil itu terjadi di rumah Yang Dipertuan Mandailing. Tuanku Natal terlempar dari jendela sehingga terlepas dari bahaya maut. Si Pamaga melarikan diri dan bersembunyi di hutan, tetapi dia ditangkap polis Natal. Dalam pemeriksaan, Si Pamaga mengaku diupah oleh Sutan Adam. Hukuman berat lalu dijatuhkan kepada Si Pamaga. Dia dibuang ke Jawa atas perintah Residen Belanda. Kelak diketahu, Si Pamaga belum pernah bertemu, baik dengan Sutan Adam maupun dengan abang/kakaknya, Yang Dipertuan Mandailing. Dia jgua tidak pernah menyerang Tuanku Natal dan Tuanku Natal pun tidak pernah terlempar dari jendela untuk menghindari seorang pembunuh. Dia terpaksa membuat pengakuan ini oleh para pejabat Belanda.

Pada pertengahan tahun 1843, Douwes Dekker dipangil menghadap Jenderal Michiels, Gubernur Belanda saat itu, di peristirahatannya di Padang. Dia langsung dimarahi dan dicaci maki sebagai pegawai yang tidak setia karena menggelapkan uang dinas. Dia juga dituduh memeras beberapa orang Cina dan tokoh pribumi serta sejumlah serdadu Belanda di Natal. Selain itu Douwes Dekker dianggap congkak dan sering meninggalkan posnya pada saat diperlukan. Douwes Dekker tidak dapat membela diri karena Gubernur tidak berminat mendengarkan keterangannya. Dia juga tidak diinjinkan menghadirikan saksi-saki untuk membuktikan, bahwa tuduhan Gubernur tidak benar. Selanjutnya, dia diskors dan tidak diperbolehkan kembali ke Natal. Untuk sementara, dia diperbantukan kepada residen Padang. Kemudian dia dipindahkan lagi ke pegunungan sampai pemeriksaan perkaranya selesai. Yang lebih menyakitkan hatinya, gajinya hanya dibayar separuh. Pada bulan Ogos/Augustus tahun 1843, dia dikirim ke Batavia (Jakarta hari ini).

Kemudian, kepada Douwes Dekker yang masih mudah itu diserahi tanggungjawab yang besar dan berat. Dia harus mengatur dan menjaga keamanan di daerah jajahan yang belum lama diduduki oleh Belanda seperti Lebak, Rangkas Bitung di wilayah Jawa bahagian barat. Mengapa bisa terjadi demikian? Mungkin itulah yang dimaksud oleh Douwes Dekker sebagai “permainan tingkat atas.”

Puncak pengamatannya terhadi di Lebak. Dia melihat sendiri, bagaimana Belanda, Bupati dan sanak saudara mereka bersama-sama memeras rakyat. Sama seperti di Natal, dengan terus terang Douwes Dekker menentang kebijaksanaan atasannya. Akibatnya, pada tahun 1856, dia diberhentikan dari jabatannya. Dia lalu diajukan ke pengadilan dan kalah dalam perkara. Douwes Dekker lalu dipulangkan ke Eropah.

Di Eropah, Douwes Dekker tidak bisa “menutup mulut” terhadap ketimpangan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Dia menulis ketimpangan tersebut dalam sebuah novel yang berjudul Max Havelaar yang diterbitakan pada tahun 1860 dengan menggunakan nama samaran Multatuli. Novel karangannya sangat laris dan menggemparkan masyarakat tetapi tidak disukai oleh kalangan pemerintah di sana. Walaupun Douwes Dekker menjadi terkenal karena buku-bukunya, dia hidup dalam kemiskinan dan mati tersia-sia di negerinya sendiri.

Novel Max Havelaar telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Karya tulis tersebut sangat populer di kalangan cendekiawan dan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia sebelum perang dunia kedua. Anehnya, terjemahan dalam bahasa Indonesia baru terbit pada tahun 1972 yang dialih-bahasa oelh H. B. Jassin.

Tapak Gedung Pusat Kesehatan Masyarakat di Natal pernah menjadi tempat kediaman Douwes Dekker sewaktu dia menjadi controleur (pegawai pemerintah Belanda tertinggi) di daerah itu. Sangat disayangkan gedung aslinya telah dibongkar semata-mata karena bangunannya sudah tua dan di atas tanah kosong tersebut didirikan gedung yang baru. Kalau gedung itu masih ada, ia bisa dijadikan tarikan pariwisata di Natal.

Natal, Alam dan Tokohnya

Natal, Alam dan Tokohnya.

School children pose in front of a English or Dutch cannon at Natal.
Anak-anak sekolah bergambar bersama meriam Inggeris atau Belanda di Natal.
Foto Arbain Rambey

Sebenarnya kata Natal bukanlah istilah daerah yang asli… Dalam percakapan sehari-hari lebih dikenal dan dibiasakan dengan kata NATAR. Sehingga orangnya pun disebut “HALAK BATANG NATAR”, atau orang Batang Natar. Dan yang mula-mula dikatakan Natal itu adalah “KAMPUNG BUKIT”. Kemudian setelah Perang Padri, maka pidah ke tepi pantai, itulah Natal yang disebut sekarang.

Kerajaan di pantai ini dipimpin oleh Tengku Sintan. Inilah Raja yang berjumpa dengan Company Inggris. Dan inilah yang menjadi Tengku Besar atau Raja Besar. Kerajaan ini berbatas dengan Raja Lingga Bayu, yang menjadi Tengku Sembah di Tapus. Batas daerahnya disebut “PINANG BABARIH”. Perjanjing daerah dan kuasa kerajaan ini, diadakan di BATU GAJAH, di tepi sungai Batang Natal, di kampong Lancat sekarang. Batu Gajah ialah suatu penjelmaan yang terjadi, seekor gajah besar dan beberapa anaknya, dan seekor harimau yang sedang minum bersama-sama menjadi hantu.

Di Natal rumah kerajaan disebut “UJUNG GAJAH MAHARAM”. Daerah ini alamnya indah, dan kekayaannya membuat Natal cukup terkenal pada masa lalu. Adat istiadat pembawaan rakyat terutama anak-anak gadis, cukup mengasikkan orang-orang yang berkunjung ke daerah itu. Pernah seorang Belanda, terpikat dan jatuh cinta kepada gadis Natal; orang Belanda tersebut bernama Dowaes[1] Dekker atau Multatuli. Cuma kekayaan alam ini belum diolah. Watak rakyatnya pintar-pintar, cuma mereka jauh dari tempat pendidikan, bagi yang berkesempatan merantau meluaskan pandangan hidupnya, tidak sedikit menjadi orang penting, ahli politik, militer, sastrawan, dan hartawan di seluruh pelosok tanah air. Mengenai silsilah kerajaan Natal, di sini diuraikan sedikit:

Tengku Sintan
Tengku Muhammad Natal
Tengku Raja Hidayat
Tengku Muhammad Arrif
Tengku Haji Sutan Sri Dewa

Di daerah Natal sepanjang pantai, banyak suku-suku lain yang berdatangan ke sana. Seperti di Teluk Sikara-kara, penduduknya berasal dari Aceh Melabuh, begitu di Jambur Aceh. Kedatangan Inggris dan Belanda sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalannya seperti meriam, gudang tempat penukaran uang (bank) Inggris, penyimpanan mesiu pada masa company, dan sebua sumur, yang disebut SUMUR MULTATULI.

Di samping kekayaan dan keindahan alam, ala lagi kekayaan yang paling besar pada masa dahulu, yaitu seorang Ulama Islam terbesar pada masa itu, yang tidak sedikit jasanya mengajarkan ajaran Islam sampai ke Mandailing, Angkola Sipirok, Pargarutan, Padangansidempuan, Batangtoru, Marancar, sampai ke perbatasan Tapanuli Utara dan Padanglawas. Ulama Besar tersebut bernama Syekh Abdul Malik gelar BALEO NATAR. Murid dari Guru Besar – Ulama terbesar Syekh Abdul Fatah dari Surau Tambak. Boleh dikatakan yang berjasa dan secara diplomat tanpa pertumpahan darah dan pengrusakan harta, beliau inilah yang memantapkan Agama Islam di seluruh Tapanuli Selatan. Beliau adalah seorang Ulama Ahli Fikih dan Tarikat Nakasabandiyah.[2]

Menurut sejarah yang dituturkan kekluarganya Syekh Abdul Malik, bersasal dari Muara Mais Kotanopan. Beliau datang ke Natal, belajar di Surau Tambak kepada Syekh Abdul Fatah Ulama Besar pada masa itu. Beliau ini belajar bersama-sama dengan kawan-kawan beliau yang semuanya jadi ulama terkenal juga seperti Tuan Tamang dan Tuan Benteng. Syekh Abdul Malik ditugaskan oleh guru beliau Syekh Abdul Fatah, untuk mengajarkan Agama Islam keseluruhan Tapanuli Selatan. Setelah Syekh Abdul Fatah meninggal, hari Ahad 12 Rabiul Awal 1282 H, maka Syekh Abdul Malik menetap di Surau Tambak sekarang, untuk melanjutkan pengajaran Agama Islam. Kemudian beliau berpulang pada pada hari Jum’at 12 Romadon 1320 H…

Daerah Natal satu-satunya yang menganut sistem matrilineal, menurut hukum keibuan, dengan perkawinan semenda atau menjapui. Berbeda dengan daerah Batang Natal, di sana yang utama adalah Adat dan bahasa Mandailing. Dan garis darah menurut keturunan ayah (patrilineal). Daerah Batang Natal juga kaya dengan emas sepanjang sungai Batang Natal. Usaha rakyat banyak juga yang mendulang emas. Udaranya sejuk, penduduknya ramah-ramah, terutama gadis-gadisnya cantik dan bersih-bersih karena perkempungan mereka boleh dikatakan di sepanjang pinggir sungai Batang Natal. Pemandangan di Singgah Sejenak cukup mengharukan, rumah Makan di Sopo Tinjak cukup terkenal, setiap penumpang bus tidak dapat melewatkannya untuk singgah makan di sana. Di pinggir sungai Aek Guo, ada batu berlobang.

Menurut cerita lobang batu itu sangat panjang, berpuluh-puluh kilo meter, yaitu dari Aek Guo sampai ke Roburan Mandaling. Menurut keyakinan di dalam lobang itu, ada orang halus atau jin penunggu. Dari beberapa desa dari Batang Natal ini, telah banyak mempunyai putra-putri yang maju dan berpendidikan tinggi, serta memegang peranan penting dalam negara kita ini, seperti dari Muara Soma, Aek Nangali, Rao-rao, Kase dan lain-lain. Keempat daerah ini, Angkola, Padanglawas, Mandailing dan Pesisir Natal-Batang Natal di Tapanuli Selatan, mayoritas penduduknya beragama Islam.

G. Siregar Baumi glr. Ch. Sutan Tinggibarani Perkasa Alam, Surat Tumbaga Holing, Adat Batak Angkola-Sipirok-Padangbolak-Barumun-Mandailing-Batang Natal-Natal, Padangsidimpuan, 1984, hlm. 33-37.

[1] Sebetulnya Douwes. Nama penuhnya ialah Eduard Douwes Dekker.
[2] Nakshabandiah.